March 20, 2020

Aimlessly Around London Town

Note: this is an overdue post about our UK trip back in 2016


People said that winter arrives with style in London each year. After the British summer experience we had the year before, this time around we were lucky enough to be able to experience the winter wonderland. Christmas itself was a magical time around the nation, but London came full swing with festivities during this time of the year. Christmas decoration basically everywhere, giant Christmas trees, ice rinks, Christmas lights, Hyde Park Winter Wonderland, we saw it all during our time there. The only thing that was missing was the cold freezing weather.

Karena di prakiraan cuaca untuk musim dingin di London menyebutkan bahwa musim dingin kali ini bisa lebih dingin dari tahun lalu, dan di akhir November si oom yang tinggal di sana udah bilang kalau suhu mulai turun drastis, maka mau gak mau saya pun memenuhi koper kami dengan jaket tebal, syal, kaus dalam thermal, dan boots. Gak mau sok tahan dingin, orang waktu summer aja saya tetep jaketan di sana. Ternyata oh ternyata, winter kali ini adalah winter terhangat di Inggris sejak abad 17. Jadi, selama kami di sana, kecuali langit yang memang cepat gelap, suhunya hanya sedikit lebih dingin dari suhu paling rendah waktu summer lalu. Kami bahkan sempat merasakan langit biru cerah selama beberapa hari.

Anak-anak emang agak kecewa gak berhasil liat salju walau udah nyari sampai ke Snowdonia. Tapi selain itu (dan kenyataan sia-sia bawa koper berat isi baju ekstra tebal), winter di Inggris jadi lebih menyenangkan. Bisa menikmati lampu-lampu natal dan keriaan musim dingin lainnya tanpa harus menderita kedinginan. Keliling London jadi makin pol karena gak tertahan udara menggigit. At the end of the day, it really was the season to be jolly after all. Fa la la la la. :)

Obviously, when I said warm I didn't mean that we could go out without any jacket or have a picnic at the park. It was still pretty cold, but more windy cold than freezing cold. Nothing a jacket and a shawl couldn't handle. Most days we just woke up when we want and decided what we were going to do that very day over breakfast. Yes, we did got a list of places that we would love to visit, but no particular itinerary. Like the day we decided to finally paid a proper visit to the Natural History Museum.

Ketika keluar dari tunnel, ternyata di depan museum ada ice rink besar. Pas banget mau mulai sesi baru. Jadi kami 'nyangkut' dulu 1 jam di sama, nurutin Aira Aidan yang pengen ice skating di ice rink yang bukan di dalam mall, lengkap dengan pohon natal besar di tengahnya dan lampu-lampu. Bagian depan museum yang kece banget jadi background-nya. Tsakep, lah! Kalau pakai itinerary kan rasanya jadi dikejar-kejar waktu dan gak bisa impulsif melakukan sesuatu kayak gitu. Jalan-jalan 'asal' rasanya lebih pas untuk kami.








Setelah sesi skating selesai baru kami masuk ke dalam museum. Ini museum yang pas banget untuk bawa anak segala umur. Seru, menarik, keren. Walau soal tampilan diorama, Museum Satwa di Batu Malang juga sama kece, menurut saya. Tapi ya itu, yang ini lebih informatif dan interaktif buat anak-anak. Luangkan waktu agak lama kalau mau mengunjungi Natural History Museum ini. Karena tempatnya besaaaar dan sambung-menyambung. Yang dulu sempat saya intip sama Aira rupanya hanya sebagian kecil dari wing belakang museum.










Dari sana kami menyusuri jalan saja, sampai akhirnya ketemu Harrod's yang kemudian kami masuki karena Aidan pengen lihat mainan. Disambung dengan mampir makan Wok to Walk di Oxford Street kemudian menyapa Carnaby Street yang selalu menyenangkan. Kali ini dekorasinya makin seru dengan Christmas bulbs raksasa dimana-mana. Sebelum pulang kami mampir di Amorino Gelato, karena gak peduli panas atau dingin, anak-anak happy kalau dikasih gelato.







Di hari lainnya kami sedang di dalam bis yang ternyata lewat di depan Sherlock Holmes Museum. Tentunya kami langsung turun di halte dekat situ dan mampir sebentar. Padahal tujuan utamanya adalah HMV di Oxford Street. Sherlock Holmes Museum ini gak besar, tapi untuk penggemar buku, film, atau serialnya, boleh lah mampir ke sini. Alamatnya tentu saja di 221b Baker Street, the world's most famous addressad. Kalaupun gak mau masuk ke museumnya yang ada di lantai bawah, bisa lihat-lihat toko souvenir di lantai dasar saja. Tepat di sebelah 'rumah' Sherlock Holmes ini ada tokonya Mrs. Hudson, Hudson's Old English Restaurant. Ada mbak-mbak dengan baju maid yang bulak-balik dari toko sebelah ke museum shop dan selalu in character, semacam gimmick gitu.




Suatu hari lainnya tujuan kami hanya ingin melihat London Bridge, yang ternyata berbeda dengan Tower Bridge. Tower Bridge adalah jembatan dengan dua menara di sisi kiri dan kanan, yang bisa diangkat ketika ada kapal besar mau lewat. Letaknnya di dekat Tower of London. Sementara London Bridge beda lagi, gak ada menaranya dan wujudnya biasa saja. Jadi kami ganti tujuan ke Tower Bridge dulu baru kemudian lihat London Bridge (demi karena ada lagunya.. hahaha) dari kapal.








Langit abu-abu dan gerimis kecil selama kami di area Tower Bridge. London banget, lah. Kami memutuskan untuk naik kapal menyusuri River Thames, yang gak kesampaian dilakukan saat trip summer karena Aidan memilih untuk naik London Eye. Ternyata memang kalau mau lihat-lihat daerah di sepanjang River Thames lebih menarik naik kapal saja, bukan dari London Eye. Lebih murah pula. Kapal yang kami naiki berhenti di London Eye kemudian akan kembali lagi ke Tower Bridge. Kami memutuskan untuk tidak turun di sana sehingga kapal membawa kami kembali ke arah kami datang dan lalu kami turun di Millennium Bridge. Tentu saja kami harus menyebrangi Millennium Bridge, bukan? Jembatan yang sering banget dihancurkan di film-film, termasuk oleh Death Eaters di film Harry Potter and the Half-Blood Prince.

Pas banget, dermaga yang paling dekat dengan Millennium Bridge ada di depan Shakespeare's Globe, tapi tentu sedang tidak ada pertunjukkn saat itu. Jadi kami cuma intip-intip sebentar saja. Tepat di tepi Millenium Bridge, di depan Tate Modern, sedang ada Christmas Market. Jadi kami keliling dulu di situ, beli suvenir, jajan cinnamon rolls dan hot cider. Ada macam-macam pedagang di sana, termasuk pedagang chestnut panggang yang mengingatkan saya pada cerita Enid Blyton atau Erich Kastner. Oh tentunya juga ingat si Aweng, yang suka  banget makan chestnut. 










Lalu kami mengebrangi Millennium Bridge, yang view-nya cakep banget. Kebayang kalau langit cerah St. Paul's Cathedral yang ada di sisi utara jembatan pasti kelihatan makin keren. Dari sana karena kami gak ada tujuan pasti, akhirnya kami memutuskan untuk menutup hari di Covent Garden, yang memang belum pernah kami kunjungi. Covent Garden di musim natal tentunya penuh dekorasi. Favorit saya adalah mistletoe raksasa yang menghiasi langit-langit Covent Garden Market. 

Kendala jalan-jalan di musim dingin memang langit yang lama terangnya di pagi hari dan cepat gelap di sore hari. Akibatnya kami jadi berangkat keluar rumah lebih siang dan kembali lebih cepat, karena mood yang kalau sudah gelap jadi pengen buru-buru pulang. Tapi setiap belokan tak terencana yang kami ambil selama menjelajah London selalu menawarkan hal-hal menarik, meski langit sudah gelap. Seven Dials yang gak sengaja dikunjungi, toko buku di Soho yang bulak-balik sengaja dikunjungi, Camden Town & Notting Hill yang direncanakan dan Hyde Park Winter Wonderland yang tak terencana. Dingin sekaligus hangat. ;)


August 12, 2016

Return to Platform 9 3/4


Saya punya utang sama Aidan, janji yang harus ditepati. Waktu terakhir kali kami meninggalkan London menuju Leeds dari Kings Cross, Aidan gagal foto di Platform 9 3/4 karena di tengah-tengah antrian yang panjang kami sudah harus naik ke kereta kami. Jadi saya janji kalau kami dapat rejeki berkunjung ke London lagi, kami akan kembali ke Kings Cross khusus mengunjungi Platform 9 3/4 dan sepanjang apapun antriannya kami tetap akan mengantri supaya Aidan bisa berfoto di sana.

If you're a fan of Harry Potter, I don't need to explain what is Platform 9 3/4 and how important it is for a young wizard to pick a house scarf and pretend they're about to start a magical school year at Hogwarts by pushing their way across that red bricked wall. But if you're a clueless muggle (that's what we call people with no magical ability, so that you know) here's a quick explanation: Di Kings Cross penggemar Harry Potter bisa mengunjungi Platform 9 3/4, dimana kita bisa foto sambil pura-pura mendorong troli berisi koper dan perlengkapan sihir, pakai props segala, dan gratis. Bahkan petugas yang menjaganya akan membantu 'melempar' scarf Hogwarts yang kita pakai supaya ada efek melayang saat kita pura-pura berlari menembus dinding platform. Ada petugas yang memotret juga, walau kita juga boleh mengambil foto sendiri. Kita baru perlu membayar kalau mau mengambil foto yang dia potret di toko Harry Pottter yang ada di sana.

Jadi setelah kunjungan ke Neverland dan Wonderland kami makan siang di Kings Cross sambil menunggu Aidan dan Pakted tiba dari Liverpool. Si anak laki kemudian muncul dengan wajah sumringah dan jersey baru, semangat cerita pengalaman nonton di Anfield sambil langsung ngajak antri di Platform. Kali ini, mungkin karena belum musim libur, antrian gak begitu panjang. Meski begitu, kita tetap harus sabar menunggu setiap orang memilih scarf yang akan dipakai, memilih props dan gaya, kemudian beraksi beberapa kali dengan pose yang berbeda-beda. Ada petugas yang membantu mengenakan props (dia juga yang nanti akan 'melempar' scarf yang kita pakai) dan ada petugas foto yang membantu mengarahkan gaya. Semua orang yang berfoto gak diburu-buru sama petugas-petugas ini. Mereka ramah dan ngerti banget betapa pentingnya pengalaman mengunjungi Platform 9 3/4 bagi para pembaca Harry Potter.



Kebanyakan  pengunjung memang memilih scarf Griffindor, tapi Aira tentu pilih Ravenclaw. Aidan juga ternyata pilih Ravenclaw, dan mereka dapat komentar, "Good choice! You smart people sure need to team up in Ravenclaw!" dari si mbak penjaga props. Saya? Griffindor pride tetunya (walau kemudian di Pottermore ternyata saya masuk Ravenclaw.. haha). Setelah pose maksimal, kami menuju toko Harry Potter di dekat situ. Lihat-lihat saja dan ngecek hasil foto bagus apa enggak, karena toh kami akan mengunjungi Harry Potter Warner Studio Tour, jadi bisa beli merchandise di sana saja.




Hasil foto di hape Pakted ternyata cuma bagus yang kami pose saja, yang sambil lompat atau bergerak kebanyakan goyang. Jadi saya pikir kalau hasi foto petugas waktu kami lompat kami bagus, boleh lah dibeli saja, supaya anak-anak senang juga. Ternyata hasilnya cukup bagus, terutama foto Aidan lompat. Dia ternyata lompat tinggi sekali, sampai dapat komentar dari petugas yang melayani cetak foto, "Wow, you're a great jumper!" Dan waktu Aidan ketawa kaget pas lihat hasil fotonya, "You didn't even know you could jump that high, didn't you?". Aidan the jumper girang banget dengan status barunya. Di Jakarta dia sibuk pamer fotonya lengkap dengan cerita dia dibilang great jumper. x)

Oke, Aira Aidan, janji ke Platform 9 3/4 yang beneran di Kings Cross udah dipenuhi yaaa.. Tinggal mengunjungi studio Harry Potter nanti. 


Us Girls Around London pt.2

Memulai hari liburan di musim dingin itu sungguh dilema. Apalagi di apartemen kami yang ternyata nyaman banget di Fulham. Lain halnya dengan musim panas yang waktu tidur langit masih terang dan pas bangun langit udah terang lagi, kali ini langit gelap melulu. Bangun jam 8 kayak kebiasaan liburan kami yang lalu jadi susah banget. Langit dan selimut ngajak meringkel di tempat tidur terus, tapi di saat yang bersamaan gak mau rugi waktu dan pengen buru-buru keluyuran karena tau nanti jam 4 sore udah gelap lagi.


Saat hanya berdua sama Aira gini kegiatan siap-siap pagi hari gak terlalu sulit, sih. Hanya perlu nyiapin sarapan dan antri mandi untuk dua orang, kemudian kami siap berangkat. Tujuannya Victoria & Albert Museum, mencari Peter Pan Statue di Kensington Gardens, mengunjungi British Library, lalu janjian ketemu Pakted dan Aidan yang akan kembali dari Liverpoo hari itu di stasiun Kings Cross.

August 08, 2016

Us Girls Around London pt.1



Pada hari kedua kami di London Pak Teddy dan Aidan pergi ke Liverpool mengejar matchday. Mereka menginap semalam di sana, jadi saya dan Aira punya waktu 2 hari untuk jalan-jalan berdua. Berhubung aman, nih, gak ada Aidan yang mudah bosan, sengaja saya pilih tempat-tempat tujuan yang kurang diminati Aidan.

Setelah Aidan & Pak Teddy berangkat, saya dan Aira santai-santai dulu di apartemen. Langit abu-abu dan gerimis di luar emang agak bikin mager. Kemudian Rendy, yang hari itu berulang tahun, ngajak kami makan bagel dulu di Shoreditch. Pas banget lah, bagel untuk lunch, baru kemudian jalan-jalan.

May 26, 2016

The Beigel Quest


Known as one of the oldest & the best bagel shop in London, Beigel Bake has become an institution of London's  Brick Lane. So one wet Sunday, we took a trip to Shoreditch on a quest of what supposed to be London's best bagel.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...