May 29, 2015

Up In the Eyes


Another day with almost no plan in London. Hari itu kami benar-benar jalan sendiri tanpa Santi, plus gak bisa pulang cepet-cepet karena Santi ada acara sekeluarga sampai malam. Setelah sarapan, kami langsung berangkat menuju London Eye yang jadi tujuan pertama kami dengan tiket yag sudah dibeli sehari sebelumnya secara online.

Kami naik tube sampai Waterloo dan jalan kaki menuju tepian River Thames tempat London Eye berada. Cuaca yang gak secerah kemarin bikin saya sedikit deg-degan, So far kami belum berjumpa dengan hujan London yang terkenal itu, tapi saya tetep siap-siap dengan jas hujan dan payung kecil. Kami duduk-duduk sambil nunggu Pak Teddy mengambil tiket kami. Kemudian berjalan menuju bianglala raksasa berwarna putih itu. Antrian kelihatanya cukup panjang, walau gak sepanjang yang kami lihat kemarin. Tapi jangan pernah terintimidasi sama antrian di Inggris, karena semua bekerja dengan efisien jadi antrian pasti gak akan selama yang kita bayangkan.



Kami masuk ke dalam capsule bersama pengunjung lain. Capsule lonjong itu rupanya luas di bagian dalamnya, dan jumlah orang yang dibatasi untuk masuk ke dalam satu capsule membuat kita jadi bisa bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bangku terletak di bagian tengah dan kaca menutup capsule tadi, sehingga pemandangan yang bisa dilihat memang benar-benar 360 derajat. Juga terdapat monitor touch screen yang akan menunjukkan dan memberi informasi tentang lokasi atau gedung-gedung yang kita lihat dari atas sana.

Aidan being Aidan, langsung duduk di bangku begitu masuk capsule. Sepertinya dia terintimidasi sama lantai yang transparan. Padahal dia yang keukeuh mau naik London Eye. Untung kemudian dia mau mendekat ke railing dan lama-lama mau jalan berkeliling dan enjoying the view of London from above. Kalo enggak sih rasanya pengen saya jitak mengingat harga tiketnya. x)







Satu rotasi London Eye kira-kira selama 30 menit. Harga tiket jika membeli di loket untuk Adult (diatas 16 tahun) £21.50 Children £15.50 (4-15 tahun) dan tiket Family (2 Adults + 2 Children) £74. Kalau beli online kita bisa menghemat 10%, jadi kami membayar tiket Family sebesar £66.60. Again, menurut saya gak murah dan pengalamannya hanya sebatas bisa melihat pemandangan London dari atas secara 360. 

Mungkin saya akan lebih enjoy kalau kami naik River Cruise saja, you know, water splashing, wind on your face, the actual outdoor sound, and all that. River Cruise lamanya 40 menit dan harganya setengahnya London Eye. I would personally recommend to take the cruise instead. But hey, we agreed to take the children wishes and opinion into consideration in deciding what to do, and they sure did had a lot of fun on the London Eye. So that was enough for me. :)







May 13, 2015

From Exhibition Road to Oxford Circus

Tujuan utama kami adalah Science Museum. Mungkin Natural History Museum, jika sempat. Kenapa jika sempat, karena saya tau banget Aira itu penikmat museum, apalagi science. Jadi saya gak mau memburu-buru dia demi bisa berkunjung ke banyak museum.

Untuk menuju Science Museum yang ada di Exhibition Road, kami naik tube dari Waterloo ke South Kensington. Di jembatan menuju Waterloo Station ada pengamen memainkan musik reggae, dan Aidun pun mulai goyang-goyang. Sampai ada pejalan kaki yang tertawa dan berkomentar "The boy got groove," x)



Anyway, kami turun di South Kensington dan berjalan melalui pedestrian tunnel yang menghubungi South Kensington station dengan beragam cultural & art spots, termasuk Science Museum, Natural History Museum, Victoria & Albert Museum, dan Royal Albert Hall. Untuk sampai ke Science Museum kami harus jalan sampai ke ujung tunnel yang sejuk dan keluar tepat di samping entrance door Science Museum.

Seperti kebanyakan museum lainnya di Inggris, gak ada entrance fee untuk masuk ke Science Museum, hanya donasi sukarela, kecuali untuk IMAX, simulation, dan exhibition khusus. Begitu kami masuk Aira langsung berbinar-binar, sementara Aidan kecapean abis jalan di tunnel tadi. Jadi saya dan Pak Teddy bagi tugas, saya ngeladenin Aira, sementara Pak Teddy nemenin Aidan. Jadilah saya turun sampai ke basement, naik lagi ke atas, keliling-keliling ngikutin Aira sepuasnya exploring disana. Kalau Science Center Singapur rasanya udah besar, nah ini lebih besar lagi dan benar-benar mencakup segala hal yang berhubungan dengan science, termasuk sejarahnya.








Waktu saya sedang ngaso di section mathematics & computing smbil nunggu Aira, Pak Teddy ngirim foto kegiatan Aidan: liat-liat mainan science di toko museum. Sama-sama science siiiih... Tapi kaaan yaaa... xD Dan akhirnya jam setengah 4 sore Pak Teddy nelpon, katanya Aidan udah liat-liat di lantai dasar dan sudah mendekati waktu janjian dengan Imelda, teman kantor Pak Teddy jaman dulu, di Oxford Street. Tapi Pak Teddy juga gak mau memburu-buru Aira, jadi dia dan Aidan akan duluan ke Oxford Street supaya Aira bisa santai-santai aja di museum.








Jam 4 kurang akhirnya Aira selesai. Kami keluar kembali ke Exhibition Road dan memutuskan untuk jalan kaki menuju South Kensington Station lewat jalan atas saja. Saat melewati entrance ke Natural History Museum, saya gak kuasa untuk gak bertanya ke petugas apakah kami masih boleh masuk. Ternyata bisa, saya pun mengajak Aira untuk 'ngintip' sebentar. Memang gak akan maksimal, karena kami harus segera menyusul Pak Teddy dan Aidan, tapi gak papa lah.

Natural History Museum ini besar sekali. Main entrance ada di sisi sebaliknya dari tempat kami. Jika masuk dari entrance Exhibition Road, seperti yang kami lakukan, maka kita akan langsung masuk ke Earth Hall di area museum yang disebut Red Zone. Disana terdapat fosil Stegosaurus dan eskalator panjang yang menjulang menembus globe raksasa dari metal terus sampai ke lantai 2. Sisi ini dipenuhi gambaran dramatis mengenai planet, perbintangan, batuan dan sebagainya.






Di lantai dua dipenuhi fakta dan informasi mengenai volcanoes dan gempa bumi, juga bahwa bumi ini adalah 'restless surface'. Termasuk informasi mengenai letusan gunung terbesar di sejarah dunia, diantaranya Tambora, Krakatau, dan Merapi di Indonesia. Dari lantai 2 ini saya dan Aira turun ke bawah melewati galeri-galeri lainnya di Red Zone, yang dengan sedih hati jadi satu-satunya zona yang sempat kami lihat. Next time kami akan lihat semuanya, insyaAllah. :)

Tanpa Aira sesungguhnya saya bakalan nyasar di London. Untuk bisa mencapai Oxford Street, saya sepenuhnya menggantungkan nasib saya ke Aira, yang dengan cepat membaca peta tube dan memutuskan tube mana yang perlu kami naiki dan turun dimana. Iya, saya payah banget urusan beginian. Hehehe.




Di Oxford Street kami menyusul Pak Teddy dan Aidan, yang sudah bersama Imelda, atau yang dipanggil Aidan dengan Auntie Mel. Imelda ini waktu bekersa sekantor sama Teddy di Internews datang ke pernikahan kami dan upacara cukuran Aira. Sekarang dia sudah pensiun dari BBC dan kembali menetap di London. Rupanya tadi Pak Teddy dan Aidan sempat diajak Imelda masuk ke studio BBC, bahkan sampai ke News Room-nya. Pak Teddy being Pak Teddy, gak inget untuk foto-foto Aidan di dalam, padahal ada mesin waktunya Dr. Who di dalam sana. Yang tersisa adalah beberapa foto yang sempat diambil Imelda di luar. Oh, well.




Setelah berpisah dengan Imelda, saya menepati janji kemarin untuk mengajak Aidan ke Hemley's. Tentu dengan limit pembelian mainan 2 buah saja. Hemley's itu gak murah, kakaaaak.... Tapi seneng aja liat muka Aidan yang takjub melihat bangunan 5 lantai dipenuhi mainan. Yang penting keluar dari sana Aidan nenteng kantong Hemley's dengan muka bahagia.





Langit masih terang, kami belum mau kembali ke Colindale. Jadi kami memutuskan untuk melipir ke Carnaby. Kakak Aira masih mau berburu sepatu. Sayangnya begitu kami sampai Carnaby, toko Vans yang jadi Aidan baru saja tutup, jadi kami harus kembali lagi besok. Walau tentunya kami gak keberatan juga kembali ke sana. Saya suka sekali jalan-jalan di Carnaby yang dipenuhi toko dan pub kece, dan karena lokasinya yang gak di pinggir jalan raya, Aidan bisa seenaknya lari-lari.











Aidan kemudian kelaparan, jadi kami mencari tempat makan dulu sebelum pulang. Maklum numpang, mesti tau diri juga dong ya, pulang dengan perut kenyang biar gak makin ngerepotin. Hahaha.. Jadi, kami berhenti dulu di Wok To Walk, Chinese Food stall di Argyll Street. Semua serba cepat di Wok to Walk, kita antri, pesan, tunggu makanan di masak, ambil makanan dalam kemasan kardus take away, kemudian makan sambil berdiri atau sambil duduk jika beruntung dapat bangku yang jumlahnya sangat terbatas. Jika kita makan sambil duduk, begitu selesai kita harus segera gantian dengan orang lain. Tapi rasa masakannya enak, jadi orang tampaknya gak keberatan juga harus makan sambil berdiri. Staff-nya kebanyakan orang Italy. Salah satu kokinya memasak dibalik jendela kaca sambil berkali-kali membuat muka aneh ke Aidan yang tentu tertawa-tawa. Kemudian dia khusus memberikan pesanan Aidan langsung ke Aidan, lengkap dengan box extra supaya bisa langsung dipisah untuk saya dan Aidan.



Sudah makan malam, perut kenyang, langit masih cerah, kami pun pulang ke Colindale. Menyusuri jalan sepi di kompleks apartemen Colindale dalam cuaca yang menyenangkan dengan hati senang. Okay, London, we'll see you tomorrow. :)

P.S: Doaku setiap malam di Colindale: semoga pak Teddy gak ngorok. Karena aku tak tau seberapa tebal dinding apartemen Santi.. x)






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...