March 24, 2015

From Lime Street to Euston


Yang pasti, kami menyesal hanya menginap semalam di Liverpool, karena ternyata banyak banget yang bisa dilihat disana dan tempat menginap kami juga menyenangkan sekali, baik lokasi maupun apartemennya. Kereta kami ke London pun jadwalnya sebelum tengah hari, jadi pagi itu kami juga gak seempet kemana-mana lagi. Why oh why kami gak book kereta yang sore saja. Ya setidaknya ini jadi motivass untuk kembali lagi ke Liverpool suatu saat nanti *menghibur diri*.


Anyway, pemilihan lokasi apartemen yang sukses berat memungkinkan kami sarapan dan jalan-jalan di Liverpool One dulu sebelum jalan ke Lime Street Station. Jadi selesai mandi, saya dan Aira langsung kabur ke Primark. Iya, sejak sampai ke Inggris saya belum sempat ke Primark. Untung Primark ini termasuk toko yang paling cepat buka dan paling terakhir tutup. Kemudian Pakted dan Aidan, yang sekali lagi memakai jersey Aidan 70 kebanggaannya, nyusul untuk ketemu sarapan di McDonald's, berhubung si Aidun ini senang sekali menu breakfast McDonald's dan pilihan minuman Fruit Shoot yang ada di sana, yang lain terpaksa ngalah. Ahuhuhu.









Selesai sarapan, saya dan Aira jalan-jalan lagi menyusuri Liverpool One, gak mau rugi, sementara Aidan dan Pakted melesat ke... ya kemana lagi kalau bukan ke LFC Store yang ternyata juga ada di Liverpool One. Tujuan saya sebenarnya mau cari Disney Store, apa daya sebelum sampai kesana, saya ketemu HMV besar. Dan koleksi Blur-nya tentu lengkap, baik CD maupun DVD. Dan saya gak bisa menahan diri, dong pastinya. Dan kasirnya sampe komentar, "Wow, you're a big fan, aren't you?" Yes, Sir, yes, I am. :))

Setelah sebisa-bisanya keliling Liverpool One, kami pun kembali ke apartment,  memasukkan belanjaan terakhir ke koper, dan melesat menuju Lime Street. Yah, gak melesat juga sih, karena harus jalan kaki sambil menarik koper dan sempet agak panik karena waktunya mepet. Tapi Alhamdulillah begitu kami sampai di Lime Street Station, kereta kami masih dibersihkan dan penumpang belum bisa naik juga.







Lime Street Station adalah station paling besar di Liverpool, masih menggunakan rangka besi dan glass roofs dari tahun 1880an. I somehow found the place fascinating and wonderful. Meanwhile for Aidan, the Virgin train that would took us to London was super awesome. The train was wrapped in X-Men: Days of Future Past images. Each cars has different X-Men characters on it. Dan buat anak laki-laki kan sudah pasti ini seru sekali, walaupun dalemnya sih ya kereta biasa aja.

Perjalanan dari Lime Street menuju Euston, stasiun pemberhentian kami London, sekitar 2 jam, yang diisi dengan makan camilan, membaca, tidur, dan memandang keluar jendela. Aidan makan camilan, Aira baca komik yang baru beli di HMV, Pakted tidur, dan saya memandang keluar jendela. Rasanya seperti gak mau rugi, melewatkan apapun yang bisa saya lihat di sepanjang jalan menuju ke London.



Kami akan dijemput oleh Santi, teman saya yang baru pindah ke London 3 bulan sebelumnya, di Euston Station dan kami akan menginap di rumah Santi selama di London. Euston Station sama sekali berbeda dengan Lime Street Station. No nonsense station that was so busy and crowded with people. Begitu keluar dari peron kereta antar kota dan masuk ke hall utama yang dipenuhi manusia, yang tercetus di kepala saya adalah, "So, this is London," tapi ternyata kalimat tersebut akan muncul lagi di kepala saya beberapa kali, dengan tone yang sama sekali berbeda, sebelum hari itu berakhir.

Karena Santi sudah kasih kabar bahw ia akan terlambat karena harus jemput anak-anaknya di sekolah dulu, maka kami memutuskan untuk mencari tempat makan sambil menunggu. Kami pun melangkah keluar stasiun dan langsung disambut oleh langit biru dan sinar matahari. Ternyata yang merasa senang disambut matahari bukan hanya kami, tapi juga banyak orang London yang ada di sekitas situ. Mereka duduk-duduk atau sekedar berdiri mengobrol di depan stasiun, jelas-jelas sengaja berdiri di tempat-tempat yang terkena sinar matahari. Beberapa bahkan menggulung lengan baju atau celananya, atau duduk sambil menengadahkan kepala, literally soaking up the sun.

Tapi kami butuh makan, dan yang terlihat di depan mata adalah Nando's! Kesukaan saya dan Pakted yang udah gak ada lagi di Jakarta. Jadilah kami makan Nando's, dengan peri-peri sauce yang bisa ambil semaunya. Nyam nyam! Aidan pilih kids meal karena dapet dessert berupa lollies. Saya tau dia kebayangnya akan dapet lollipop, jadi mukanya lucu banget waktu lihat yang dia dapat ternyata popsicle. Setelah debat panjang soal apa yang dimaksud dengn lollies di Inggris, Aidan pun makan popsicle dengan muka berbinar. x)






Kemudian Santi kasih kabar bahwa baru akan sampai 30 menit lagi. Jadi kami pun bergabung sama manusia London di sekitar Euston Station menikmati sunny London. Sungguh kasihan mereka, jarang-jarang ketemu matahari. Ahahaha. Lalu dari kejauhan Santi muncul, bersama Ziyi dan Ruyi. Yay! Ketemu juga kami sama Keluarga Ikhlas di London, yang sudah ikhlas kami tebengin selama empat hari. C'mon London, show us what you got! :))


March 19, 2015

Cinderelly, Cinderelly!



So, Disney has finally done justice to it's own classic fairy tales. After that disastrous Meh-leficent (yes, I havent forgive them for what they did to Aurora dan PRINCE PHILLIP), I honestly don't expect much from Cinderella.

But then I go and watch the movie, and I looooove it from the very first scene. I love that they put extra character in (otherwise boring) Cinderella, made her stronger but still stay true to the story. I love that they took some scenes from the classic animation. I love that the prince not merely charming, but actually has a name, and a strong character that goes with it. I love the sets and the decor, meaning the country house, the palace, the garden, even the step sisters messy bedroom. i love that they being thorough and thoughtful on the details. And I love the costumes. OH THE COSTUMES! Especially Cate Blanchett's costume. I adore every single one of them. Still don't dig the glass slippers, thou, and the ball gown is pretty similar to Belle's gown minus the draperies, but the wedding gown is fabulous, I literally gasped. I just love how the movie is simple and extravagant at the same time.




Yes, yes, I do take my disney classic tales seriously.

Now this is the part where I get on a bit 'conspiracy-theory-mode': I would like to think that they regret they decision on Aurora & Phillip, how they wasted such beautiful chemistry between the two in the classic animation, and try to make amend on this one. Witty conversation and not telling who you really are in the wood? Pretending not being a prince? Seems familiar? The pink gown turning into blue? Seen it before? I knoooow, rite? Rite?

Anyway, Cinderella, my inner disney princess agree with you. :))



December 03, 2014

An Afternoon at Albert Dock

Setelah meninggalkan Anfield, kami langsung menuju apartemen kami. Tidak banyak waktu yang tersisa hari itu, karena kami memang sengaja tidak membatasi waktu untuk dihabiskan di Anfield. Jadi, setelah ganti baju (Aidan dengan jersey keeper barunya), kami pun jalan-jalan melewati Liverpool One menuju Alber Dock.









Liverpool adalah sebuah kota pelabuhan dan Albert Dock dulunya merupakan pelabuhan untuk kapal layar dan kumpulan gudang-gudang. Kini, Albert Dock menjadi lokasi berbagai museum, tempat makan, dan pertokoan unik yang tetap mempertahankan arsitektur lama yang kokoh dan cantik. 





Ada banyak museum di Albert Dock, yang paling besar dan modern adalah Museum of Liverpool di sisi utara Albert Dock. Lalu ada juga International Slavery Museum dan Merseyside Maritime Museum. Jangan lupa juga disini ada Beatles Story, museumnya The Beatles band legendaris yang memang berasal dari Liverpool.










Memang langit masih terang benderang karena musim panas, tetapi kami tidak bisa memasuki museum-museum tadi karena kebayakan tutup pukul 4 sore. Tetapi Albert Dock tetap menyenangkan untuk disusuri. Kami pun menghabiskan sore itu dengan berjalan-jalan menyusuri Albert Dock dan duduk-duduk memandangi kapal layar yang tertambat disana sambal menikmati fish and chips di Docklands, yang konon paling terkenal di Liverpool. 




















Oke, jadi sudah pasti kami harus kembali ke Liverpool. Dan menginap paling tidak 2 malam. Ini alasannya kenapa kami segitu kepenginnya kembali ke sana: Satu, kota ini amat sangat menyenangkan. Kalau kalian punya bayangan kota pelabuhan yang rough, Liverpool tidak begitu lagi. Kota ini sangat cultural dan menyenangkan. Kami masih ingin kembali untuk bisa keluar masuk berbagai museum dan tempat-tempat menyenagkan disini, atau sekedar menghabiskan waktu lebih lama lagi di Albert Dock dan menyusuri Mersey River. Dua, orang-orang yang kami temui disini sangat ramah. Mulai dari resepsionis aparthotel, si mbak yang mengantar kami masuk ke apartemen, supir taksi, petugas museum Anfield, tour guide, petugas keamanan Anfield, pelayan di restoran. Tiga, kami dapat tempat menginap yang benar-benar value for money, lokasi dekat Liverpool One, harga yang murah, ukuran apartemen yang luas beserta perlengkapannya yang komplit banget. Gak perlu cari tempat menginap lain kalau kembali kesini. Empat, kota ini rumahnya Liverpool FC, dimana keluarga berjalan-jalan dengan jersey lengkap sampai ke bayi di stroller juga bisa dilihat dimana-mana. Pak Teddy bisa membicarakan LFC dengan siapa saja, bahkan kepada yang ternyata pendukung Everton. Pak Teddy dan Aidan masih ingin ke Melwood, tidak keberatan tour ke Anfield lagi, dan tentunya Pak Teddy masih harus merasakan nonton pertandingan di Anfield. Harus, begitu katanya. So yeah, we'll be back :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...