May 26, 2016

The Beigel Quest


Known as one of the oldest & the best bagel shop in London, Beigel Bake has become an institution of London's  Brick Lane. So one wet Sunday, we took a trip to Shoreditch on a quest of what supposed to be London's best bagel.

It was our second day in London and Rendy's birthday. Pak Teddy & Aidan were on their way to Liverpool, having another quest of their own. Rendy pick Aira & me up at Fulham and bundled in our coat off we went to the eastern side of London.



I love it that one step outside the tube station you can immediately feel, see & smell how the triangle of influences has made Shoreditch, once notoriously known as the neighborhood where Jack the Ripper done his action, into this distinct & unusual area. It's a place with a mix culture throwing exotic & colorful images in every direction. Curry restaurants & mosque on one side, vinyl market & bars on the other. People wearing thawb & hijab alongside people with the most hipster clothing you could possibly imagine. Murals & grafitti covering brick walls just one corner away from the modern glass buildings on Liverpool Street. 








That weekend Brick Lane was extraordinarily crowded. More than usual, Rendy said. The street was filled with food stalls, antiques, boxes of used vinyl, vintage clothing, and other random items. But no matter how tempting the food stalls looked, we were on a quest. The only queue line we  were going to be in was the one in front of the small shop with white sign on it. The one where you can see the smoke and stacks of salt beef behind the glass window. The one where people were milling around holding hot bagel in their hand and happy smile on their face with every bite they took.







Rendy offered to queue for us, while Aira & I stood outside absorbing the scenery of crowded Brick Lane near Christmas time. The birthday boy got us the famous salt beef bagel and the cream cheese & lox bagel. They looked promising, but after one bite I got my proof, it is the best bagel I have ever tasted. Well, I haven't tasted that many, to be honest, but I assure you that I'm not exaggerating when I said that the soft doughy bagel and tender beef will 'melt in your mouth'. I was so tempted to buy more for later, but we still got some places to visit afterwards. So I will make sure that the next time I'm lucky enough to be in London, I'm gonna go there again to buy a salt beef bagel or a cream cheese & lox bagel. Or maybe both. Yes, they tastes that good!





If you find yourself in London, do yourself a favor and make your way down to Brick Lane for a bagel. And whatever you do, just don't leave there without some salt beef. 
- Huffington Post


Although the street is known for its ubiquitous curry houses - few worth sampling, many worth actively avoiding - and vintage-clothes hunters, it's the bagels that keeps us wending back to Brick Lane.
- Monocle 

December 02, 2015

Soapy Mess, Happy Mess

Di sekolah Aidan saya banyak berkenalan dengan banyak ibu yang kreatif. Salah satu yang truly inspiring bagi saya adalah Ibu Anti (https://www.instagram.com/sabun_ti_anti/). Mulai dari segala home cooking yang serba sehat, organik, bahkan raw, Bu Anti bisa bikin sendiri. Ternyata gak berhenti di menu yang tak hanya sehat tapi juga tampak kece, Anti mulai mengerjakan sesuatu yang waktu itu tampak gak mungkin bagi saya: handmade all natural soap. Tiap liat foto-foto sabun buatan Anti, rasanya pengen saya gigit.

Nah, kemudian suatu hari Aira dapat project sekolah untuk membuat paper mengenai produk yang bisa membantu melestarikan lingkungan. Di dalam paper harus dibahas 5 produk, dan salah satunya harus dibuat beneran. Supaya gak biasa, maka saya mengusulkan ke Aira untuk bikin sabun saja sama Ibu Anti. Pertimbangannya kenapa sabun ini bisa bermanfaat untuk melestarikan lingkungan adalah bahan-bahan yang digunakan natural sehingga limbahnya lebih tidak berbahaya, busanya lebih mudah larut, tidak menggunakan deterjen dan tidak menggunakan minyak kelapa sawit. Cetakan yang digunakan pun bisa dari barang-barang bekas.

Di hari Aira berkunjung ke rumah Ibu Anti sekaligus pertama kalinya Anti ngajarin orang lain untuk bikin sabun dipenuhi momen-momen seru. Mulai dari wadah plastik yang gak tahan panas, stok bahan siap pakai yang muncul dari balik meja secara ajaib, sampai tingkah ibu guru yang pecicilan sementara si murid kalem-kalem aja. x)




Anyway, tugas paper Aira dan presentasi tentang handmade soap sukses berat. Sampai-sampai salah satu sabun dibawa oleh gurunya dan ditunjukkan di kelas-kelas lain. Happy banget juga si Kakak. Nah, saya pun iri, pengen ikutan bisa bikin sabun. Lalu Anti buka kelas Soap Making for Begginers bareng Kutakatik Art Class, punya Raya (https://www.instagram.com/mymisspiggybox/) dan Kyra. 2 kali kelas sabun diadain, saya gagal ikutan terus. Akhirnya yang ketiga kalinya saya berhasil ikutan. Pesertanya saya, Anti sepupu saya, dan Mine teman SMA saya. FYI, dulu saya dan Mine ini kerjaannya dengerin Fugazi, Sex Pistols, Rancid bersama. Sekarang kami bikin sabun bersama.










Di kelas sabun beginner ini saya bikin sabun pertama saya. Kemudian sempet lama gak bikin-bikin dengan alasan mau ngumpulin perlengkapannya dulu. Segala timbangan digital, hand blender, aneka oil, dan sebagainya. Akhirnya saya baru mulai bikin sendiri hampir dua bulan setelah ikut workshop. Tapi kemudian gak bisa berhenti. Saya suka sekali. Maksudnya, saya sempat ikut workshop weaving juga, dan senang, tapi berapa banyak sih hasil weaving yang bisa saya gantung di rumah. Nah, kalau sabun kan bisa dipakai terus. Satu lagi, sabun kalau gagal masih bisa diaklin. Paling jadi gak cantik aja, tapi tetep bisa dipakai. Hehehe..

Kemudian saya ikut kelas intermediate, sama Anti juga, di Kutakatik juga. Kali ini belajar main warna dan beberapa metode swirling. Juga belajar pakai soap calculator. Dan kalau biasanya meja bikin sabu udah awut-awutan, kalau main warna tambah berarakan lagi. Tapi si anak visual ini seneng banget liat sabun dengan warna-warna kece.









Saya juga punya hobi baru, browsing website soap making dan nontonin video orang bikin sabun. Kalau lagi nonton rasanya layar laptop pengen diendus-endus. Iya, saya seneng banget bikin sabun. Saat ini bikin sabun adalah kegiatan therapeutic saya. Pusing deadline? Bikin sabun aja! Pusingnya nanti lagi aja. Paling nambah. Alasan saya bikin sabun ternyata gak heroik macam isi tugas melestarikan lingkungan Aira. Alasannya karena saya senang. Dan karena ternyata sabunnya lebih natural dan aman, tentu tambah bikin saya senang.





Jadi so far saya sudah mengalami sabun gak tracing, rebatch-ing sabun yang gagal, trace yang terlalu cepat, sabun gak keras-keras, over heat, crack, gelling, warna gak sesuai keinginan, fragrance oil tumplek, sabun keluar minyak, dan segala macem momen "yah.. yaah.. yaaaaaah..." lainnya. Tapi tentu ada moment rewarding-nya juga, saat motong sabun dan ngeliat warna yang sesuai dengan yang saya mau, lalu endus-endus sabun yang udah keras (entering the chocolate peppermint soap, my pride and joy). Kemudian setelah si sabun dipandang-pandang, difoto-foto, disusun di keranjang, lalu ditaro di rak. Buat apa? Buat nunggu curing 4 minggu sebelum akhirnya bisa dipakai. Lama ajaaaa.... xD





Ditulis kheuseus untuk teman-teman sepersabunan yang hobi dikejar trace. Untuk Anti yang sudah menginspirasi dan sabun-sabunnya selalu pengen saya curi, nuhun pisaaan! Soap on, people! :))

November 30, 2015

Review: Apartment in Whitby & Edinburgh

Di perjalanan dari Leeds menuju Edinburgh kami menginap semalam di kota kecil bernama Whitby. Rencana awalnya kami akan menginap di Castleton, tetapi terpaksa batal karena pada tanggal kunjungan kami penginapan (yang jumlahnya gak banyak juga) penuh semua. Whitby, selain kota kecil, sama halnya seperti Castleton, bukan tujuan utama turis mancanegara. Tidak seperti York yang jadi salah satu tujuan rombongan-rombongan tour dan banyak terdapat hotel chains.

Setelah sempat cari-cari di Airbnb juga, akhirnya kami dapat apartemen yang sesuai dari booking.com. Baru dengar namanya saja, Teesdale Rooms, saya udah naksir. Memang salah satu kriteria pemilihan adalah saya pengen ngerasain nginep di apartemen yang kerasa 'Inggris'-nya. Setelah menginap di Roomzzz di Leeds yang settingannya ya, kayak hotel aja, dan Signature Living di Liverpool yang serba modern cenderung posh, saya langsung naksir banget sama interior-nya Teesdale Rooms. Karena lokasinya yang juga oke, dan harganya yang sekitar 75 pounds semalam, akhirnya sambil berdoa si apartemen akan sesuai sama tampilannya di foto, akhirnya kami book Teesdale Rooms.



Meski booking dilakukan melalui booking.com, tapi proses 'check in' di Teesdale Rooms dan pembayarannya serupa dengan jika kita menyewa akomodasi dari Airbnb. Sejak di perjalanan menuju Whitby Pakted udah sms-an sama si pemilik. Nah, begitu sampai kami agak kesulitan menemukan lokasi apartemen. Mengikuti alamat dan petunjuk GPS, di lokasi yang disebutkan gak ada tanda-tanda tempat parkir. Padahal seharusnya Teesdale Rooms punya private parking space. Akhirnya kami memarkir mobil di lokasi parkir dekat dermaga lalu Pakted dan saya berjalan kaki mencari si apartemen sambil terus berusaha menghubungi si pemiliki yang tau-tau gak membalas sms lagi. Rupanya kami dari tadi sudah bulak-balik di depan Teesdale Rooms. Hanya saja seharusnya kami masuk melalui jalan belakang. Jadi dari tadi kami sudah melewati bagian depan bangunan tempat apartemen berada.


Gak lama si pemiliki, yang rumahnya ternyata dekat dari situ muncul, anggaplah namanya Michael (saya lupa namanya, tapi nama biasa gitu lah). Michael, yang ramah dan sangat informatif langsung mengantar kami masuk ke apartemen yang berada di lantai 2 dan menunjukkan setiap ruangan lalu menjelaskan segala sesuatu tentang perangkat yang ada di apartemen. Dia juga menjelaskan kalau ketika kami meninggalkan apartemen besok, kami tinggal meninggalkan kunci di dalam apartemen, digantung di pengait yang ada di dekat pintu dan menutup pintu. Pembayaran juga diberikan tunai langsung kepada Michael saat itu. Cukup praktis.




Apartemen yang kami sewa berada di bangunan Gregorian yang sudah berdiri sejak tahun 1700-an (untung saya batu tau setelah kami mau meninggalkan Whitby, maklum saya anaknya imajinasi tinggi.. haha), dan memiliki 2 kamar tidur. Kamar utama menghadap Walker Street tempat kami masuk dan memarkir mobil, berjendela besar, dan terdapat double bed juga perapian. 



Kamar lainnya lebih kecil dengan jendela menghadap Bagdale (jalan utama yang tadi kami lewati), dengan bunkbed. Selain itu juga terdapat meja makan yang bisa dilipat jadi meja mungil di lorong apartemen. 





Ruang tengahnya luas, dengan perapian besar, sofabed, sofa two seaters, televisi, dan dua jendela besar. Dapur di sisi kanan ruang tengah mungil tapi lengkap, berikut lemari es dan mesin cuci. Lagi-lagi dengan meja yang bisa dilipat jika tak digunakan dan jendela yang menghadap taman di samping bangunan apartemen. Apartemen juga dilengkapi dengan 1 kamar mandi dan water heater. Pengaturan ruang dan perabot di apartemen membuat apartemen ini tetap terasa leluasa meski diisi banyak orang. Apalagi dengan jendela besar yang terdapat di tiap ruangan. 






Secara keseluruhan apartemen ini memuaskan, baik dari segi lokasi, walaupun Whitby emang gak besar-besar amat, maupun dari kenyamanan apartemennya sendiri. Ruang-ruang di Teesdale Rooms terang dan juga nyaman, interior pun sangat sesuai dengan nuansa kota Whitby yang quaint dan picturesque. Pengalaman mengunjungi Whitby jadi lengkap karena kami mendapat apartemen yang sesuai.

Teesdale Rooms
12 Bagdale, Whitby



Di Edinburgh kami menginap 2 malam di apartemen yang dideskripsikan pemilikinya di Airbnb sebagai 'Huge Flat Old Town with Parking' dengan rate sekitar 89 poundsterling semalam. Seperti waktu di Whitby, begitu masuk Edinburgh dan menemukan lokasi 'kira-kira' si apartemen, mobil diparkir gak jauh dari situ dan saya menemani Pakted mencari si apartemen. Bedanya, kali ini kami tidak bertemu langsung dengan Sam, pemiliknya. Pembayaran sudah diselesaikan melalui Airbnb dan Pakted berhubungan dengan Sam via email, telepon, dan sms. Sam memberitahu dimana ia meletakkan kunci dan bagaimana cara masuk ke dalam apartemen. Saat menemukan pintu gedung apartemen, saya langsung deg-degan. Karena pintu hitam agak dekil tanpa tanda apa-apa yang nyempil diantara toko-toko yang gak terlalu laku itu sungguh tampak gak meyakinkan. Di samping pintu terdapat semacam kotak surat dengan panel angka seperti gembok koper. Pakted memasukkan kombinasi angka yang diberikan Sam, dan mengambil kunci apartemen di dalam kotak tadi. Ada dua kunci, satu untuk membuka si pintu hitam, satu lagi untuk membuka pintu apartemen.



Saat pintu terbuka, kami disambut lorong yang agak gelap. Makin deg-degan lah saya. Lorong dan tangga yang kami naiki juga gak bersih-bersih amat. Saya mulai merasa ada di film-film spy, lagi mau masuk ke apartemen tempat bersembunyi. 

Tapi setelah menaiki tangga dan membuka pintu apartemen, kami disambut oleh ruangan yang terang, lapang, dan bersih. Persis sesuai dengan foto yang terdapat di apartemen. Malahan jauh lebih luas dari bayangan kami. Ada 3 kamar tidur dengan double bed di masing-masing kamar. Kamar utamanya sangat luas menghadap jalan depan dengan perapian, kakek dan nenek akan tidur di kamar itu. Kamar yang akan ditempati anak-anak dan Oom Rendy ada di tengah, dekat living room. Sementara kamar yang saya tempati bersama Pakted menghadap belakang gedung, tempat area parkir berada. Di sini juga terdapat perapian kecil. Dari jendea kami bisa melihat atap gedung-gedung tua di sekitar kami. 








Dapurnya pun lega banget, dan sangat lengkap. Si Nenek langsung asik masak-masak di sini, karena semuanya ada dan perabotnya juga dengan kualitas yang baik. Di dapur terdapat meja makan dengan 4 kursi. Bayangin aja, dengan kitchen set lengkap, lemari es besar, kompor oven besar, dishwasher, mesin cuci, kabinet, serta meja makan ruangan ini masih terasa lega.


Nah, kemudian ada living room yang juga luas. Sofanya bentuk L dan besar sekali, bisa dipakai tidur 2 orang lagi kalau perlu. Televisi terdapat di atas perapian, dan juga terdapat meja makan besar dengan 6 kursi makan. Yang paling ajaib sih lukisan besar yang terdapat di dinding belakang sofa. Dan yang saya maksud dengan besar adalah beeesaaaaar. Lukisannya karya seniman lokal menggambarkan versi modern kisah antara Aphrodite, Ares, dan Hephaestus. Pokoknya semua di apartemen ini, kecuali kamar mandi yang agak mungil, serba besar. Termasuk ruang tengah begitu kita memasuki pintu apartemen.






Satu lagi yang saya senang dari apartemen ini adalah jendelanya yang besar dan tinggi. Di pagi hari dari jendela kita bisa menikmati langit abu-abu khas Edinburgh yang menjadi latar belakang bangunan-bangunan tua.



Soal lokasi, apartemen ini juga cukup strategis. Cukup berjalan sebentar kita sudah sampai di Old Town. Dari lokasi apartemen kita bisa dengan mudah jalan kemana-mana. Dibanding dengan yang kami bayarkan di Leeds, Liverpool, maupun Whitby apartemen ini memang yang paling mahal. Tetapi sungguh gak mengecewakan. :)

Huge Flat Old Town EH1 with Parking


*some pictures courtesy of Rendy

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...