July 26, 2015

199 Steps Up The Melancholy Hill


Up on melancholy hill
There's a plastic tree
Are you here with me?
Just looking out on the day
Of another dream

Well you can't get what you want
But you can get me
'Cause you are my medicine
When you're close to me
When you're close to me

So call in the submarine
'round the world we'll go
Does anybody know, love
If we're looking out on the day
Of another dream

If you can't get what you want
Then you come with me

Up on melancholy hill
Sits a manatee
Just looking out on the day
When you're close to me
When you're close to me

When you're close to me


Pemberhentian kedua kami dalam perjalanan menuju Edinburgh adalah sebuah kota nelayan kecil bernama Whitby. Saya tumbuhbesar dengan membaca buku-buku Enid Blyton dan Roald Dahl, dan pengarang cerita anak-anak asal Inggris lainnya. Karena itu kota-kota kecil di Inggris benar-benar membuat saya jatuh cinta. Begitu juga halnya dengan Whitby. 

Pagi hari setelah menginap semalam dan sebelum kembali melanjutkan perjalanan, kami menjelajah kota kecil ini. Kami berjalan kaki menyeberangi jembatan ke sisi Timur sungai Esk yang membelah Whitby. Jalan-jalan di sini serupa di York, kecil dan dipenuhi toko mungil yang menjual berbagai souvenir seperti perhiasan dengan Whitby Jet, batu khas Whitby yang berwarna hitam mengkilap, sabun handmade, kemudian diikuti kedai-kedai kopi, permen, dan tentunya yang jadi favorit Aidan, es krim. Walupun sama-sama kota turis, jalan-jalan Whitby yang memiliki lebih sedikit kelokan juga tidak seramai di York. Tampaknya yang banyak mengunjungi Whitby adalah turis lokal. 







Jalanan yang kami lalui menanjak menuju Whitby Abbey di puncak bukit. Whitby Abbey ini adalah yang menginspirasi Bram Stoker untuk menulis kisah Dracula saat ia berlibur di kota ini pada tahun 1897. Kami pun mendaki 199 steps, tangga menuju pemakaman di pekarangan Whitby Abbey. Dan jangan pikirkan letihnya, karena pemandangan dari atas sana sungguh cantik. Kami bisa melihat seluruh Whitby dan laut lepas di satu sisi dan pemakaman kuno serta Whitby Abbey di sisi lainnya. Whitby memang dikenal sebagai kota gothic. Bahkan setiap tahun pada musim gugur di kota ini selalu diadakan Goth Weekend, dimana orang-orang akan berkunjung ke sini dengan kostum serba gothic. Dan tentunya pemakaman ini jadi pusatnya. Sementara Aidan duduk-duduk di bangku yang berderet menghadap laut lepas bersama kakek nenek (sambil manyun karena es krimnya jatoh). Aira jalan-jalan sendiri berkeliling pemakaman. Di siang hari nisan-nisan tua yang bertebaran di sana sama sekali tidak terasa creepy, hanya melankolis.
















Aidan sempat menolak naik saat melihat tangga yang tinggi tadi, tapi akhirnya dengan berbekal es krim di tangan, Aidan mau juga naik ke atas. Tapi kemudian saat kami sampai es krim Aidan jatuh tepat di gigitan terakhir, hasilnya si anak gembul pun sempat ngambek, duduk di tengah-tengah tangga dengan wajah sedih. Kalau liat foto-foto kami selama di atas bukit, pasti Aidan mukanya manyun atau malah gak mau liat kamera. Bahkan waktu mau turun ke bawah lagi, si Aidun yang lagi pundung sempet duduk di tangga dan tengkurep di bangku menolak turun. Saat seperti ini waktunya saya kompromi, kami sepakat untuk beli es krim lagi di kedai kecil tepat di dasar 199 steps. Akhirnya bukan hanya Aidan, tapi kami semua keluar dari kedai sambal menikmati es krim masing-masing. Sampe sekarang tiap liat foto Aidan pundung di atas 199 steps saya bawaannya mau ketawa melulu.













Setelah dapat amunisi es krim, kami menuruni jalanan yang tadi kami lalui, menuju jembatan yang memisahkan kedua sisi Whitby. Tentunya sambil keluar masuk toko. Setelah puas menyusuri toko-toko kecil di sisi Timur Whitby, sambil menikmati es krim seharga £1.80 tadi, kami kembali menyeberang ke sisi Barat. Ternyata, ada tur menggunakan kapal menyusuri pesisir Whitby. Setelah membayar masing-masing £1, kakek, nenek, Aira dan Aidan pun naik kapal. Anak-anak senang sekali meski si nenek katanya sempet was-was karena semakin ke tengah laut ombak juga semakin besar. Ahahahaha.. Tapi, meski dari jauh, mereka jadi bisa melihat sisi lain dari Whitby yang tidak sempat kami kunjungi. 









Sementara Aira Aidan naik kapal, saya dan Pak Teddy menyunjungi Magpie Cafe untuk mencicipi fish and chips. Katanya, fish and chips di berbagai kota di Inggris beda-beda rasanya, apalagi di kota yang di tepi laut, dan ada banyak tempat yang menyajikannya di Whitby. Kami memutuskan mencicipi yang di Magpie CafĂ©, karena katanya menyandang predikat ‘World’s Best Fish and Chips' tahun ini. Dan benar, rasa ikannya segar dan lezat, karena rupanya ikan-ikan di kota-kota di utara Inggris didatangkan salah satunya dari Whitby ini. Kami membeli fish and chips seharga £4.95 seporsi dari konter take away, karena selain waiting list, harga di restoran pun lebih mahal. Ada pilihan ikan cod atau herring, dan kami membeli masing-masing satu. Kami menyantapnya di tepi dermaga dan setelah mencoba, Aira lebih suka ikan herring sementara Aidan suka dua-duanya. Nikmatnya duduk di pinggir dermaga sambal menikmati fish and chips hangat di udara dingin. Tapi, sebaiknya berhati-hati jika menikmati fish and chips di tepi laut, karena banyak pencuri yang mengincar ikan di situ, mereka adalah burung-burung seagull yang lalu lalang beterbangan di sana.








Kios kecil yang menjual camilan hasil laut menggoda Pak Teddy yang langsung antri dan beli beberapa macam, termasuk udang, kerang, dan cray fish. Semuanya disajikan dingin, berbentuk potongan kecil, dengan mayonnaise di dalam cup kecil. Enak juga. Setelah sarapan tadi di apartemen, kemudian diganjel fish and chip, kami siap melanjutkan perjalanan. Up north to Scotland!



*Melancholy Hill - Gorillaz
*Action cam pics courtesy of Oom Rendy

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...