January 14, 2010

Home for My Books

originally posted on facebook, July 18, 2009

‘Need more shelves’, ini pernah saya tulis di status saya sewaktu saya merasa semakin banyak buku-buku menumpuk gak karuan di rumah. Bukan hanya buku saya sih, punya si Ayah & Kakak Aira juga, ditambah buku-buku yang mulai saya belikan buat Aidan. Di meja rias ada tumpukan buku, di meja belajar, di lantai di sudut kamar, di dalam boks Aidan yang mulai jarang dipakai tidur, di samping telepon, di meja tamu, bahkan diatas toilet kamar mandi saya. Saya memang juga pernah menyatakan kalau saya senang melihat tumpukan buku, tapi yaaa.. gak dimana-mana juga kayak gitu sih. Akhirnya saya memutuskan untuk memasang rak buku peninggalan Opa saya, yang memang sudah saya jadikan hak milik sejak saya menikah tapi tidak kunjung saya pasang di rumah yang sekarang. Ditambah sebuah lagi rak berbentuk rumah milik saya sejak saya kecil, dulunya adalah rak boneka & maian tapi sekarang saya ubah fungsinya menjadi rak buku untuk di kamar si kakak yang bukunya terus bertambah.

Setelah si rak dipasang di dinding, di atas rak yang sebelumnya sudah ada, buku-buku novel saya pindah ke atas, jauh dari jangkauan si Ribut Kecil, dan buku-buku yang ada di penjuru rumah mendapatkan tempat masing-masing yang lebih layak. Ternyata masih ada sisa tempat di rak lama. Untuk apa ya, begitu pikir saya. Maka keputusan kedua pun dibuat, saya akan membuka koper tempat saya menyimpan buku-buku ‘vintage’ alias buku-buku saya sewaktu kecil. Saya akan memperkenalkan penulis-penulis hebat yang membuat masa kecil saya begitu menyenangkan kepada si Ribut Besar.

Maka, pada suatu hari yang penuh debu & keringat, saya membuka koper motif bunga-bunga itu (yup! bunga-bunga! just ask my mom), dan keluarlah Darrel Rivers, Secret Seven, si kembar O’Sullivan, Pippi Langstrump, Madita, Emil, Lotte & Luise, Rudi si drakula cilik, juga Anton temannya, Amy Adams & Hawkeye Collins, Tini, Mathilda, Willy Wonka dan teman-teman masa kecil saya lainnya. Hallo Enid Blyton! Apa kabar Astrid Lindgren? Hey there Erich Kastner! Roald Dahl, aku rindu! xD


Sambil menyapa teman-teman lama, saya menyusun mereka di rak. Melihat siapa yang masih ada, siapa yang hilang. Kemudian selama beberapa hari saya terobsesi menjelajahi google mencari si buku-buku hilang & mengunjungi toko buku mencari cetakan baru atau edisi bahasa inggrisnya. Walaupun harganya berkali-kali lipat dari harga yang kadang masih tertera di buku lama saya (750-an untuk buku Tini, 1500-3000 untuk novel-novel), saya senang sekali kalau berhasil mengembalikan si buku hilang ke dalam koleksi saya. Sekarang buka lama & buku baru sudah berjajar di atas rak. Senangnya. Kemudian saya pergi ke garasi, mau menyimpan si koper bunga-bunga sebelum dikirim kembali ke rumah ibu saya. Eh, kotak apa itu di sudut sana? Itu, yang ada dua, ditumpuk di sudut. Ayo buka dulu.

Saya menarik turun salah satu kardus dan membukanya. Dear God. Buka kardus yang satunya lagi. Oh boy. Buku-buku bahasa Jepang saya, buku-buku si Ayah, & more novels. Seseorang mengetuk pintu depan rumah saya. Siapa itu? Saya mengintip, ya ampun. Pesanan Ensiklopedi untuk Aira & Aidan sudah datang. Sigh. I need more shelves.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...