December 28, 2011

Cardboard Kitchen Set

Sebenarnya sudah cukup lama kami berencana membuat kompor & cucian piring dari kardus bekas sebagai weekend project. Aidan yang sudah dijanjikan berulang-ulang menanyakan kapan si kompor akan dibuat, tapi tertunda terus, sampai akhirnya kejadian juga, walaupun akhirnya sebagai holiday project saja. :p

Aidan senang main masak-masakan. Tiap mampir ke ELC, dia akan anteng bermain dengan kitchen set mainan yang ada disana, bahkan kakak Aira juga masih suka ikutan main. Sekali waktu, dekor di TKAI berupa dapur-dapuran yang dibuat dari kardus bekas dan styrofoam. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat yang serupa, bukan bentuknya, tapi kitchen set dari kardus bekas maksudnya. Apalagi setelah berhasil membuat mesin cuci dari kardus, saya pede akan berhasil juga membuat kitchen set. Maka saya mulai browsing, ketemu kitchen set semacam ini, oke saya gak sejagoan & se-crafty itu, jadi walaupun memang kece sekali, akhirnya saya lupakan saja kitchen set yang itu. Kemudian ketemu lagi yang ini, mendekati yang ada bayangan saya, tapi sepertinya harus memakai kardus bekas lemari es untuk membuatnya & prosesnya lumayan rumit. Lalu saya ketemu yang ini, yang paling mendekati bayangan saya, walau kemudian saya sederhanakan lagi bentuknya. :)

Ini yang diperlukan:
- 2 kardus bekas (saya pakai 2 kardus bekas water heater)
- 1 baskom plastik, sesuai ukuran kardus
- 1 keran plastik
- cat akrilik warna-warni dan kuas
- cutter, lakban, dan lem yang kuat


Kami membuat kitchen set kardus ini dalam 2 hari. Hari pertama Aira dan Aidan, dibantu Gaia - tetangga kami, mencat kedua kardus dengan cat akrilik. Oh ya, sebelum di cat penutup di sisi bawah saya potong, karena potongannya akan dipakai juga nanti, sementara penutup bagian atas ditutup dengan lakban. Setelah dicat kardus dijemur sampai cat kering.




Hari kedua proses pembuatan di mulai dengan tugas saya, membuat lubang berbentuk lingkaran di bagian atas salah satu kardus seukuran baskom. Lalu memotong semacam pintu untuk bukaan oven di kardus yang lainnya. Juga membuat lingkaran-lingkaran dari potongan bagian bawah kardus yang kemarin sudah dipotong, untuk jadi kompornya. Dan beberapa detil lain yang perlu acara potong-potong plus tempel-tempel dengan lem yang kuat. Termasuk bagian untuk dipasangkan keran plastik dan meja kecil di sisi kompor, juga tombol-tombol di kompor. Semuanya memanfaatkan sisa-sisa potongan kardus dan beberapa tutup botol untuk tombol. Kakak Aira sudah bisa membantu menempel-nempel, tapi urusan dengan cutter masih saya yang mengerjakan sendiri.

Lalu Aira dan Aidan melakukan finishing, seperti mencat bagian atas dan menggambar pintu lemari dan pintu oven. Mereka juga, dengan ide mereka sendiri, mengubah botol plastik dan tabung bekas coklat sebagai bumbu dapur dan perlengkapan cuci piring. Setelah kitchen set kami sudah selesai, mereka sibuk main masak-masakan berdua. Lihat saja, kece kan kitchen set buatan kami? :D




December 26, 2011

Guide books to traveling with your kids



Siapa yang senang traveling? Saya! Siapa yang senang traveling bersama anak-anak? Saya! Iya, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat kalau punya anak kecil berarti tidak bisa jalan-jalan lagi. "Enak ya anaknya sudah besar-besar, ayah-bunda nya jadi bisa jalan-jalan lagi." Pernah dengar komentar semacam ini? Saya tidak setuju, anak-nya masih kecil pun kita bisa jalan-jalan kok, syaratnya ya si anak dibawa. :)

Sepertinya Donna Widjajanto & Rully Larasati juga punya pemikiran yang sama seperti saya. Coba baca deh, buku mereka, Traveling with Kids, isinya lengkap banget untuk membantu kita bisa jalan-jalan seru dan menyenangkan bersama anak-anak. Mereka menyatakan bahwa sebenarnya anak usia SD (6-12 tahun) adalah usia yang paling 'enak' untuk mengajak anak jalan-jalan. Di usia ini anak sudah cukup mandiri, tapi juga masih cukup patuh.

Memang harus diakui, jalan-jalan bersama anak pasti dobel repotnya. Karena kita juga yang harus menyiapkan segala keperluan anak. Mulai dari surat-surat dan dokumen apabila hendak ke luar negri, sampai akomodasi dan itinerary kegiatan dan tempat tujuan selama bepergian. Hal-hal seperti in yang terkadang membuat acara jalan-jalan yang seharusnya menyenangkan malah menjadi 'neraka' bagi orangtua maupun si anak.

Nah, dalam buku Traveling with Kids, Donna & Rully menjabarkan berbagai hal yang perlu disiapkan, mulai dari  persiapan sebelum berangkat seperti menetapkan tempat tujuan, menyiapkan penginapan dan kendaraan, mempersiapkan kesehatan anak, panduan lengkap menyiapkan dokumen untuk ke luar negeri, dan isi koper & ransel anak.

Yang serunya lagi, di buku ini juga terdapat berbagai ide tempat tujuan dan berbagai hal yang bisa dilakukan disana plus tips-tips untuk sepanjang perjalanan. Selain itu juga dilengkapi dengan berbagai masalah yang mungkin timbul selama perjalanan dan bagaimana mengatasinya. Sudah? Belum! Masih ada lagi kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan setelah pulang kembali ke rumah, seperti bagaimana mengatasi jetlag dan menyusun foto-foto selama perjalanan untuk kenang-kenangan.

Untuk ibu-ibu dengan anak usia balita, jangan khawatir, ada juga buku Traveling with Tots yang ditulis Donna Widjajanto (http://ajarfullofhoney.blogspot.com/), membuktikan bahwa jalan-jalan bersama anak balita bukan lah sesuatu yang mustahil. Mbak Donna sendiri yang anaknya masih usia balita, sering jalan-jalan mengajak si anak, jadi tentunya isi buku ini sudah terbukti ya. ;)

Pastinya ada banyak 'catatan' ketika membawa anak yang masih balita, banyak yang harus disesuaikan.  Dalam buku ini ada banyak contekannya, seperti menyusun itinerary yang tots friendly, kemana pun tujuannya, memilih penginapan dan penerbangan yang sesuai, keperluan-keperluan si kecil, kesehatan anak dan orangtua, back up plan jika si kecil ngambek, dan bagaimana memaksimalkan perjalanan sehingga menyenangkan dan juga membuat anak terasah kecerdasan sosialnya.

Saya termasuk orang yang senang browsing dan membaca tentang tempat yang akan saya tuju. Saya tidak senang clueless ketika dalam perjalanan. Biasanya saya akan membuat daftar tempat yang bisa dituju, jam buka, dan harga tiket masuk jika ada, pilihan transportasi selama di tempat tujuan, dan makan yang mudah untuk anak-anak. Menyusun itinerary penting buat saya, terutama ketika tempat seperjalanan kita adalah anak-anak. Nah, ketika menemukan kedua buku ini pastinya saya senang sekali, buku ini menjadi semacam pegangan saya dalam memyiapkan perjalanan liburan bersama anak-anak. Sarat informasi, bahkan untuk hal-hal kecil yang mungkin akan luput dari perhatian kita. Di buku Traveling with Tots malah dilengkapi dengan bonus lirik-lirik lagu anak-anak dan resep praktis untuk bekal dalan perjalanan. Bahasa dalam buku ini juga ringan dan familiar. Punya saya sudah mulai lecek sekarang, keseringan di bulak-balik, daaaan... sudah ditempeli post it di berbagai tempat. Hehehe..

December 16, 2011

Dexter is a chair

I started to think that the Dexter & Deb Morgan characters in the TV series was based on the Dexter & Dee Dee in Dexter's Lab. Wavy kinda red hair & lab coat for both Dexter? Thin long legs & somewhat annoyingly talkative personality for Dee Dee & Deb? And the D initials for both brother & sister? And now both Dexters were being referred as a chair by their sisters. See? x)







December 11, 2011

A Day of Great Books

Last Thursday was a day of great books for me, for that day I stumbled across some great children books. I went to Periplus that day, looking for a birthday present for Aidan's friend. They happened to have piles of children books on sale. I never could resist piles of children books, especially when they're on sale. And there they are, 2 books that instantly caught my eyes. One was called My Heart Is Like a Zoo by Michael Hall (for only Rp. 35.000,-) and the other called It's a Book by Lane Smith (for only Rp. 45.000,-).


I really like My Heart Is Like a Zoo for it's bright colors, simple illustration, & simple words. The book tells us about what our heart feels, illustrated by various animal at the zoo. Kids sure could learn a lot of new vocabularies while reading it.

The other one, It's a Book, instantly became Aidan's favorite. It's about a conversation between a Jackass (whose holding a laptop) and a monkey (whose holding a book). The Jackass didn't know what a book was, because he was so used to doing things with his laptop, including reading e-books. Aidan would laugh uncontrollably every time I read this book to him. This book really captured what I feels about little kids whose being introduced to e-books without knowing what a real books looks like.


After I bought those to books, and another one for Aidan's friend, I went to a book launching event. But first thing first, I had to tell you about Tulisan. I stumbled about this brand Tulisan more than a year ago, at Brightspot market. They design & sell various items, like bags, pouches, wallets, cushion cover, tea towel, to cards & tunics. I fell in love with they graphic prints at first sight. The designer name is Melissa Sunjaya, and her works just simply marvelous (there are also other designer in Tulisan later on). What makes me love her works even more that there's always a story behind each series she created. You could read them at their site http://www.mytulisan.com/.


When I found out that they're going to launch a book in celebration of their 2nd anniversary, I just had to come and get myself a copy. So I went to their oh-so-lovely store, bought myself a copy (collector's edition, one of the premiere edition of 500 copies) of The Butterflies of Victor, and get it signed by Virginie Kasse the author, and of course, Melissa Sunjaya the illustrator. They released the book in 3 edition, France, English, & Indonesian. I bought the English one.

I won't tell you what it's about, I won't spoiled it for you. The only thing I'll tell you is that it was beautifully written & illustrated. The writing & the illustration really compliment each other. I love this book, and so did Aira & Aidan. How I wish they would make a book out of Pepe and The Flying Balloon too. :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...