February 27, 2012

The Ketupat Story



This one is kinda a late post. Di rumah kami, kami hanya membuat ketupat sendiri saat hari raya Idul Adha. Berhubung kalau Idul Fitri biasanya si mbak sudah mudik sejak 3 hari sebelum lebaran, dan saya terlalu malas membayangkan kekacauan yang akan terjadi kalau saya coba-coba bikin ketupat sendiri tanpa bantuan mbak. Jadi saya memilih untuk minta suplai ketupat dari rumah Mama saya saja.

Nah, kalau Idul Adha, saat si mbak gak mudik, adalah waktu yang tepat untuk membuat ketupat sendiri. Begitu juga Idul Adha yang lalu. Dan seperti biasa Aira ikut membantu mengisi ketupat, plus kali ini Aidan juga sudah bisa ikut mengisi sendiri juga. It was a simple activity, but the kids sure did enjoy it. The making part and of course the eating part. :D




February 23, 2012

On Melacholy Hill


On Melancholy Hill ~ Gorillaz






Up on melancholy hill
There's a plastic tree
Are you here with me?
Just looking out on the day
Of another dream

Well you can't get what you want
But you can get me
'Cause you are my medicine
When you're close to me
When you're close to me

So call in the submarine
'round the world we'll go
Does anybody know, love
If we're looking out on the day
Of another dream

If you can't get what you want
Then you come with me

Up on melancholy hill
Sits a manatee
Just looking out on the day
When you're close to me
When you're close to me

When you're close to me

February 22, 2012

No picture, please.

In general, Aidan got no problem with people (read: me) taking his pictures. But sometimes, just sometimes, he would refuse this picture taking thing with no particular reason. And when he said no picture, he really mean it.





I. SAID. NO. PICTURE.







Chocolate, and then home.

So this is what we managed to do on our last day in Jogja. Anak-anak sempat berenang di hotel sepagian. Lalu saya dan Aira naik becak ke Malioboro, yang sebenernya walking distance dari hotel kami. Tapi masak ke Jogja gak naik becak?

Semalam Aira sudah sempat ke Malioboro bersama keluarga B1. Karena Aidan sudah letih sekali, saya menemani Aidan tidur di hotel, Ayah Teddy menemui temannya sewaktu dulu bekerja di Jogja di lobby, sementara Aira ikut Tante Santi dll ke Malioboro, jalan-jalan dan belanja pernak-pernik. Lalu kembali ke hotel naik delman. Pagi itu saya dan Aira hanya ke Mirota sebenarnya, beli beberapa oleh-oleh. Tapi sebelum kembali ke hotel, kami minta pak becak berhenti sebentar di depan benteng dan di seberang Bank Indonesia, untuk foto-foto. Kunjungan kali ini kami tidak sempat masuk ke benteng Vredeburg, jadi hanya foto di depannya saja. Mudah-mudahan lain kali bisa masuk.





Setelah check out dan memasukkan barang-barang ke mobil, kami makan siang gudeg Yuk Djum yang mega enak itu. Rombongannya hanya keluarga kami, keluarga B1 baru akan pulang besok dan ada acara keluarga hari ini. Setelah itu kami menuju Kota Gede, mencari pabrik dan toko Coklat Monggo.

Senang sekali berkunjung ke Coklat Monggo. Tokonya tidak besar, agak nyempil di jalan dekat makam raja-raja. Ruangan di dalam juga tidak terlalu besar, tetapi homey. Di etalase kaca di-display berbagai produk Coklat Monggo. Juga disediakan tester potongan-potongan berbagai rasa coklat yang tidak pernah habis. Kalau tester yang tersaji tinggal sedikit, mbak ramah yang melayani pembeli akan segera mengganti dengan nampan yang masih penuh. Si mbak ini juga fasih sekali menjelaskan dan menjawab berbagai pertanyaan tentang produk Coklat Monggo.






Kami asik coba-coba coklat, saya dan si ayah suka rasanya Coklat Monggo. Kakao-nya kualitas baik dan diolahnya juga benar, tidak terlalu manis atau nempel di tenggorokan dan bikin batuk seperti kebanyakan coklat produksi lokal. Kesukaan saya coklat yang diisi praline, dark chocolate 84% dengan orange peel, dan dark chocolate 58% dengan ginger. Si Ayah juga suka praline dan dark chocolate 58% dengan macadamia.

Yang paling semangat coba-coba tentunya Mister Aidan. Dan si mbak ramah dengan senang hati membiarkan Aidan dan Aira bolak-balik mencomot tester. Sampai Aidan tiba-tiba kepedesan. Ternyata dia habis melahap potongan coklat di mangkuk kertas warna merah, yang ternyata dark chocolate dengan cabai. Untung disana disediakan kendi dan gelas-gelas kecil untuk pengunjung. Dan setelah minum Aidan kembali melanjutkan acara icip-icipnya. Tapi kali ini gak lupa bertanya dulu coklat apa itu yang mau dia ambil. :p



Di bagian dalam toko ada pintu kecil menuju ruang pembuatan coklat. Tetapi pengunjung hanya bisa melihat dari balik kaca. Aira dan Aidan senang sekali melihat mbak-mbak di dalam sana yang sibuk menuang coklat ke cetakan dan di ruangan lainnya dimana para mbak membungkus coklat-coklat. Katanya, kita bisa membuat appointment untuk datang dengan group, mereka akan menyiapkan semacam program kunjungan, jadi kita bisa jalan-jalan berkeliling ke dalam.




Dengan menenteng kantong kertas penuh berisi coklat kami pun meninggalkan Kota Gede menuju airport untuk pulang ke Jakarta. Ternyata buaaanyaaak sekali tempat yang bisa didatangi dan hal yang bisa dilakukan di Jogja. Kami sudah 2 kali liburan keluarga ke Jogja, tapi tetap masih banyak yang belum sempat dilakukan. Masih ada candi-candi dan pantai yang belum disinggahi, juga museum-museum, dan pastinya makanan-makanan enak yang belum sempat dicoba. Jadi seperti Jogja akan selalu masuk daftar tempat kunjungan liburan kami. We'll be back. :)


for more pics please click here.

February 21, 2012

The Mountain & The Sea

Hari ketiga di Jogja, kami berencana pergi ke Merapi dan mengunjungi Museum Ullen Sentalu di Kaliurang. Tapi karena hujan deras sekali sewaktu kami di Merapi, akhirnya rencana diubah, dari gunung kami akan turun ke laut, ke Parangtritis.



Hari ini Aidan tidak serewel kemarin, karena udara dingin di dataran tinggi. Walaupun tingkahnya masih tetap aneh-aneh kalau diajak berfoto. Silahkan dilihat saja hasil fotonya diatas. Di Merapi mobil bisa naik hanya sampai batas tertentu, lalu harus diparkir. Untuk naik lebih jauh bisa dengan berjalan kaki atau naik ojek yang banyak ada disana. Kami memilih naik ojek. Beberapa supir ojek akan dengan sukarela bercerita tentang musibah meletusnya gunung Merapi yang lalu. Kunjungan ke Merapi menurut saya pengalaman yang 'memperkaya' untuk anak-anak, terutama untuk belajar berempati.









Tepat setelah kami turun dari atas, hujan mulai turun rintik-rintik. Kami sempat jajan tempe bacem di kios kecil disana, semua jajanan terlihat menggiurkan di udara dingin semacam itu. Ketika kami berjalan kembali ke mobil, hujan turun deras sekali. Karena hari itu adalah hari Jum'at dan adzan Dzuhur sudah terdengar, akhirnya para ayah-ayah dan anak laki-laki sholat Jum'at dulu di mesjid kecil dekat tempat parkir. Sementara bunda-bunda dan anak perempuan menunggu di mobil di tengah hujan deras sambil nyemil tempe bacem.



Setelah membatalkan rencana ke Ullen Sentalu, kami berhenti makan siang dulu di Kaliurang. Ternyata selama kami makan siang mobil keluarga B1 lupa dimatikan lampunya yang di dalam. Aki pun soak, dan mobil mogok. Setelah menghubungi tempat kami menyewa mobil dan menitipkan mobil ke petugas parkir, perjalanan menuju Parangtritis dilanjutkan dengan menggunakan satu mobil, yang dipenuhi dengan 2 keluarga. :D

Perjalanan Kota-Gunung-Laut-Kota hari ini lagi-lagi amat dibantu oleh GPS. Kami sampai ke Parangtritis tanpa nyasar dan saat itu walau sudah sore, tetapi hujan sudah berhenti sama sekali. Disana saya dan Aira naik bendi, sementara Ayah dan Aidan naik ATV. Alee dan Aldo berkeliling naik motor kecil. Semuanya tarifnya jelas dan seragam, jadi kami tidak perlu repot-repot menawar. Setelah itu anak-anak bermain di tepian laut. Awalnya sih janji hanya kaki yang basah, tapi akhirnya Alee dan Gaia basah kuyup juga. Kami menunggu matahari turun di Parangtritis. Memang tidak bisa melihat matahari bulat kemerahan yang turun menghilang, karena langit yang mendung. Tapi warna langit yang kemerahan juga sama indahnya. Setelah langit gelap dan pantai semakin kosong, baru kami kembali ke Jogja.
















Makan malam kami hari itu menunya ala angkringan, tapi tidak di pinggir jalan. Mengingat rombongan kami banyak anak-anaknya, kami makan menu angkringan ini di bagian belakang Keraton, tempat abdi dalam katanya. Semua makan dengan lahap (atau kalap) dan semua senang hari itu. :D

for more pics please click here.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...