March 31, 2011
Dexter Illumenated
Dexter season 4 was the best, obviously. But I kinda like season 5 too. I just like the idea of Dexter & Lumen.
March 29, 2011
The Twilight Confession #2
Ada alasannya mengapa saya membuat tulisan soal buku-buku Twilight setelah sekian lama mereka diterbitkan. Karena saya hendak menulis tentang film-nya. Soal buku saya hanya bisa menulis sebatas yang saya ingat saja berhubung sudah cukup lama dan tidak tuntas pula dibacanya, tapi soal film-nya saya ingat cukup banyak.
Ya, mungkin saya lebih bodoh dari keledai, karena dengan sukarela dua kali jatuh ke dalam lubang yang sama. Saya menonton film layar lebar Twilight, di bioskop. Awalnya begitu saya dengar Robert Pattinson akan memerankan Edward, saya pikir ini pasti film yang oke-oke saja, mengingat Pattinson yang memerankan Cedric Diggory di film Harry Potter & The Goblet of Fire, dan ya, dia sesuai memerankan Cedric yang ceritanya tampan & pandai. Maka pergilah saya ke bioskop untuk menonton Twilight bersama hubby.
Seperti juga bukunya, film Twilight juga biasa-biasa saja. Another love story, seperti yang sudah saya tau. Tapi yang saya tidak tau adalah bahwa ketika disebutkan vampir memiliki 'kulit yang pucat', Catherine Hardwicke sang sutradara akan mengartikannya sebagai 'kulit putih seperti habis tertimpa sebaskom tepung'. Yes, saya bahkan tak bisa menahan tawa waktu Carlisle Cullen pertama kali muncul dengan make-up super putih dan rambut yang seperti habis disemprot pewarna rambut murahan. Dan mana saya tau kalau si vampir Rosalie yang di buku digambarkan sebagai mahluk paling cantik sedunia nyatanya berpantat besar dan wajahnya biasa-biasa saja, plus memiliki selera berpakaian yang pas-pasan. Kaus kaki panjang garis-garis hitam putih untuk main baseball? Ya ampun. Mana saya tau kalau kalau vampir yang 'sparkling under the sun light' itu maksudnya berkulit glittery seperti drag queen? Seharusnya Summit Entertainment sebagai produsen film mengeluarkan budget lebih banyak untuk membayar make-up artist dan wardrobe yang lebih layak, mengingat film ini sudah pasti akan sukses hanya berdasarkan jumlah penggemar bukunya, atau (yang ternyata) disebut twihard.
Untuk soal akting, dengan sopan saya akan menyebut akting pemainnya biasa-biasa saja. Walaupun sebagai gadis yang sedang jatuh cinta Bella tidak pernah sekali juga terlihat bahagia. Apa Edward ternyata bau seperti orang tua? Mengingat umurnya yang sudah 100 tahun, mungkin saja kan? Tapi kesalahan terbesar saya adalah menonton film ini di bioskop pada awal-awal masa penayangannya. Dimana bioskop masih dipenuhi ABG twihard yang akan mendesah setiap kali Edward muncul di layar atau mengatakan maupun melakukan adegan yang romantis. Keluar dari bioskop hubby terlihat cukup tersiksa, sementara saya merasa tua sekali. Entah saya yang memang sudah gak mempan dikasih adegan romantis, atau memang film tadi yang terlalu cheesy.
Setelah menonton Twilight, saya, Syarin, & Ade beberapa kali membahas (dan mentertawakan) film ini dan hal-hal yang kami anggap bodoh di dalamnya. Akhirnya, diputuskan kalau kami akan menonton seri-seri berikutnya bersama-sama, karena toh hubby juga sudah berpesan supaya saya cari teman nonton lain saja kalau masih ingin nonton New Moon, Eclipse, & Breaking Dawn. Tentu saja saya (dan Syarin, Ade kami paksa ikut) mau nonton, kami ingin tahu hal apa lagi yang bisa kami tertawakan di film-film berikutnya. Jadi saya sudah lebih siap (baca: menurunkan ekspektasi) ketika pergi ke bioskop untuk menonton New Moon bersama Syarin & Arian. Ade absen.
Kami sengaja menonton belakangan, demi menghindari gerombolan twihard. Tapi ternyata saya tidak selamat, tepat di sebelah saya ada seorang ibu yang menonton bersama anak laki-lakinya yang kira-kira berusia 8-9 tahun. Pertama, menurut saya film ini tidak layak untuk anak seusia itu, kedua, si anak terus bertanya pada ibunya sepanjang film, ketiga, si ibu sibuk membuka bungkus camilan dan mengunyah dengan suara berisik plus ber-bbm-an dari awal sampai akhir film. Ya ampun.
Nah, untuk filmnya, secara kualitas gambar dan efek memang sudah lebih baik dari yang pertama, tapi sisa-nya sama saja. Wig Jacob masih seperti wig di film silat cina, bahkan waktu pertama kali ia muncul, wig-nya miring. Serius! Bella masih memperlihatkan ekspresi wajah yang sama sepanjang film, apakah itu sedang senang, sedih, marah, atau jatuh cinta. Dan Edward masih mengucapkan kata-kata romantis cheesy berulang ulang. Maksud saya kalimat seperti, "Bella, the only thing that can hurt me is you," atau "I couldn't live in the world where you don't exist," atau "You're everything to me." Gaah!
Belum lagi adegan paling konyol dimana Bella jatuh dari motor dan melukai kepalanya, lalu Jacob berlari menghampiri. Apa yang dilakukan Jacob ketika melihat dahi Bella berdarah-darah? Dia buka baju dan memperlihatkan abs-nya. Iya, buka baju untuk melap darah Bella dengan bajunya. Emang gak bisa pinjem baju Bella saja (Bella pakai baru rangkap dua) apa? Terdengar helaan napas beberapa twihard yang ada di bioskop, sementara kami bertiga mendengus menahan tawa. Juga adegan Edward bertelanjang dada di siang bolong. Mungkin bukan salah si pembuat film, karena Stephenie Meyer yang menuliskannya demikian. Tapi masa Edward tidak bisa cari cara yang lebih keren untuk menarik perhatian Volturi supaya ia bisa mati? Seperti menyerang manusia di depan umum misalnya? Apa sajalah, asal bukan memperlihatkan ke seluruh dunia kalau ia berbadan glittery seperti Barbie. Setidaknya beri Edward sedikit harga diri sebelum ia mati.
Yang pasti, entah mengapa menonton New Moon rasanya melelahkan sekali. Syarin bahkan menobatkan Bella Swan sebagai perempuan paling menyusahkan di dunia. Syarin mengutarakan kalau nanti menonton Eclipse, Ade harus ikut juga, agar setelah itu kami bisa membahasnya lagi bersama-sama, yang mendapat komentar dari Arian, "Apa? Masih mau nonton lagi?"
Hubby sudah menyerah di Twilight, dan Arian berhenti di New Moon, tapi saya, Syarin, dan Ade melangkah pasti ke bioskop untuk menonton Eclipse. Kali ini kami juga nonton belakangan, sudah tidak banyak anak ABG, tapi kami duduk di tengah-tengah, diapit serombongan ibu-ibu atau tante-tante yang tampak bersemangat sekali untuk melihat kisah cinta Edward-Bella-Jacob. Dan kemudian terbukti, mereka sama parahnya dengan anak ABG. Mereka mendesah tiap melihat Edward, dan kesenangan melihat Jacob bertelanjang dada. Sekali lagi, ya ampun.
Ada cerita apa di Eclipse? Pada dasarnya Eclipse adalah film yang menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang dimaksud dengan Ababil atau ABG labil. Bella Swan adalah the ultimate definition of that phase. Bingung memilih antara dua laki-laki, seperti tidak ada urusan yang lebih penting di dunia. Sayangnya juga Edward menjadi vampire di usia 17 tahun, yang berarti menjadikannya the eternal ababil. Walaupun bagus juga Bella akhirnya memilih Edward, karena ternyata Edward masih lebih pintar dari Jacob. Kenapa? Di satu adagan, ketika tangan Bella berdarah-darah, Edward cukup pintar untuk tidak membuka bajunya seperti Jacob, tetapi hanya merobek bagian bawah baju luaran Bella untuk membersihkan darah tadi. Di film ini juga, Bella Swan si gadis paling menyusahkan sedunia masih menyusahkan semua orang, seperti di film-film pendahulunya. Bella juga masih hanya punya satu ekspresi saja, Jacob masih terlalu banyak omong seperti perempuan dan kemana-mana bertelanjang dada, sementara Edward masih selalu terlihat seperti sedang sembelit. Ini siapa yang salah, saya juga tidak tau, karena Robert Pattinson di film Remember Me menurut saya aktingnya lumayan. Apalagi yang bisa kita ketahui dari Eclipse? Vampire dan rombongan werewolf suka berdiri berjejer-jejer. Tiap the Cullens atau para werewolf berwujud manusia muncul, mereka akan membuat formasi berdiri berjejer. Oh, dan satu lagi, laki-laki di film ini suka curhat seperti perempuan. Lihat saja adegan percakapan Edward-Jacob di dalam tenda.
Pastinya, kami bertiga terhibur oleh film ini, kalau definisi terhibur adalah berapa kali kami tertawa di sepanjang film. Sampai-sampai para ibu dan tante melirik sebal ke arah kami, dan kami harus menahan tawa hingga yang terdengar hanya dengusan keras. Atau menggeleng-geleng keras menahan diri untuk tidak garuk-garuk layar bioskop. Sampai dengan adegan dimana Jacob hendak menghangatkan tubuh Bella dan ditolak Edward dan kemudian Jacob berkata, "Let's face it, I'm hotter that you." Dan dengusan pun meledak menjadi tawa. Mungkin kalimat itu menjadi puncak dari kalimat-kalimat cheesy nan corny yang harus kami dengar di sepanjang film, sehingga bagi kami, entah kenapa satu kalimat itu bisa membuat kami tertawa keras.
Seperti yang saya bilang di awal, apa kami sudah terlalu tua untuk Twilight Saga? Tapi bukankah para ibu dan tante di samping kami menelan kalimat-kalimat romantis dengan desahan dan wajah menerawang membayangkan mereka yang menjadi Bella? Atau memang kami yang terlalu sarkastis? Yang pasti, kami akan kembali lagi ke bioskop, untuk Breaking Dawn, untuk menyiksa diri, untuk tertawa-tawa, entahlah. Mungkin pada saat itu kami akhirnya bisa memahami kenapa cerita Stephenie Meyer ini bisa begitu digila-gilai. Mungkin.
Setelah menonton Twilight, saya, Syarin, & Ade beberapa kali membahas (dan mentertawakan) film ini dan hal-hal yang kami anggap bodoh di dalamnya. Akhirnya, diputuskan kalau kami akan menonton seri-seri berikutnya bersama-sama, karena toh hubby juga sudah berpesan supaya saya cari teman nonton lain saja kalau masih ingin nonton New Moon, Eclipse, & Breaking Dawn. Tentu saja saya (dan Syarin, Ade kami paksa ikut) mau nonton, kami ingin tahu hal apa lagi yang bisa kami tertawakan di film-film berikutnya. Jadi saya sudah lebih siap (baca: menurunkan ekspektasi) ketika pergi ke bioskop untuk menonton New Moon bersama Syarin & Arian. Ade absen.
Kami sengaja menonton belakangan, demi menghindari gerombolan twihard. Tapi ternyata saya tidak selamat, tepat di sebelah saya ada seorang ibu yang menonton bersama anak laki-lakinya yang kira-kira berusia 8-9 tahun. Pertama, menurut saya film ini tidak layak untuk anak seusia itu, kedua, si anak terus bertanya pada ibunya sepanjang film, ketiga, si ibu sibuk membuka bungkus camilan dan mengunyah dengan suara berisik plus ber-bbm-an dari awal sampai akhir film. Ya ampun.
Nah, untuk filmnya, secara kualitas gambar dan efek memang sudah lebih baik dari yang pertama, tapi sisa-nya sama saja. Wig Jacob masih seperti wig di film silat cina, bahkan waktu pertama kali ia muncul, wig-nya miring. Serius! Bella masih memperlihatkan ekspresi wajah yang sama sepanjang film, apakah itu sedang senang, sedih, marah, atau jatuh cinta. Dan Edward masih mengucapkan kata-kata romantis cheesy berulang ulang. Maksud saya kalimat seperti, "Bella, the only thing that can hurt me is you," atau "I couldn't live in the world where you don't exist," atau "You're everything to me." Gaah!
Belum lagi adegan paling konyol dimana Bella jatuh dari motor dan melukai kepalanya, lalu Jacob berlari menghampiri. Apa yang dilakukan Jacob ketika melihat dahi Bella berdarah-darah? Dia buka baju dan memperlihatkan abs-nya. Iya, buka baju untuk melap darah Bella dengan bajunya. Emang gak bisa pinjem baju Bella saja (Bella pakai baru rangkap dua) apa? Terdengar helaan napas beberapa twihard yang ada di bioskop, sementara kami bertiga mendengus menahan tawa. Juga adegan Edward bertelanjang dada di siang bolong. Mungkin bukan salah si pembuat film, karena Stephenie Meyer yang menuliskannya demikian. Tapi masa Edward tidak bisa cari cara yang lebih keren untuk menarik perhatian Volturi supaya ia bisa mati? Seperti menyerang manusia di depan umum misalnya? Apa sajalah, asal bukan memperlihatkan ke seluruh dunia kalau ia berbadan glittery seperti Barbie. Setidaknya beri Edward sedikit harga diri sebelum ia mati.
Yang pasti, entah mengapa menonton New Moon rasanya melelahkan sekali. Syarin bahkan menobatkan Bella Swan sebagai perempuan paling menyusahkan di dunia. Syarin mengutarakan kalau nanti menonton Eclipse, Ade harus ikut juga, agar setelah itu kami bisa membahasnya lagi bersama-sama, yang mendapat komentar dari Arian, "Apa? Masih mau nonton lagi?"
Hubby sudah menyerah di Twilight, dan Arian berhenti di New Moon, tapi saya, Syarin, dan Ade melangkah pasti ke bioskop untuk menonton Eclipse. Kali ini kami juga nonton belakangan, sudah tidak banyak anak ABG, tapi kami duduk di tengah-tengah, diapit serombongan ibu-ibu atau tante-tante yang tampak bersemangat sekali untuk melihat kisah cinta Edward-Bella-Jacob. Dan kemudian terbukti, mereka sama parahnya dengan anak ABG. Mereka mendesah tiap melihat Edward, dan kesenangan melihat Jacob bertelanjang dada. Sekali lagi, ya ampun.
Ada cerita apa di Eclipse? Pada dasarnya Eclipse adalah film yang menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang dimaksud dengan Ababil atau ABG labil. Bella Swan adalah the ultimate definition of that phase. Bingung memilih antara dua laki-laki, seperti tidak ada urusan yang lebih penting di dunia. Sayangnya juga Edward menjadi vampire di usia 17 tahun, yang berarti menjadikannya the eternal ababil. Walaupun bagus juga Bella akhirnya memilih Edward, karena ternyata Edward masih lebih pintar dari Jacob. Kenapa? Di satu adagan, ketika tangan Bella berdarah-darah, Edward cukup pintar untuk tidak membuka bajunya seperti Jacob, tetapi hanya merobek bagian bawah baju luaran Bella untuk membersihkan darah tadi. Di film ini juga, Bella Swan si gadis paling menyusahkan sedunia masih menyusahkan semua orang, seperti di film-film pendahulunya. Bella juga masih hanya punya satu ekspresi saja, Jacob masih terlalu banyak omong seperti perempuan dan kemana-mana bertelanjang dada, sementara Edward masih selalu terlihat seperti sedang sembelit. Ini siapa yang salah, saya juga tidak tau, karena Robert Pattinson di film Remember Me menurut saya aktingnya lumayan. Apalagi yang bisa kita ketahui dari Eclipse? Vampire dan rombongan werewolf suka berdiri berjejer-jejer. Tiap the Cullens atau para werewolf berwujud manusia muncul, mereka akan membuat formasi berdiri berjejer. Oh, dan satu lagi, laki-laki di film ini suka curhat seperti perempuan. Lihat saja adegan percakapan Edward-Jacob di dalam tenda.
Pastinya, kami bertiga terhibur oleh film ini, kalau definisi terhibur adalah berapa kali kami tertawa di sepanjang film. Sampai-sampai para ibu dan tante melirik sebal ke arah kami, dan kami harus menahan tawa hingga yang terdengar hanya dengusan keras. Atau menggeleng-geleng keras menahan diri untuk tidak garuk-garuk layar bioskop. Sampai dengan adegan dimana Jacob hendak menghangatkan tubuh Bella dan ditolak Edward dan kemudian Jacob berkata, "Let's face it, I'm hotter that you." Dan dengusan pun meledak menjadi tawa. Mungkin kalimat itu menjadi puncak dari kalimat-kalimat cheesy nan corny yang harus kami dengar di sepanjang film, sehingga bagi kami, entah kenapa satu kalimat itu bisa membuat kami tertawa keras.
Seperti yang saya bilang di awal, apa kami sudah terlalu tua untuk Twilight Saga? Tapi bukankah para ibu dan tante di samping kami menelan kalimat-kalimat romantis dengan desahan dan wajah menerawang membayangkan mereka yang menjadi Bella? Atau memang kami yang terlalu sarkastis? Yang pasti, kami akan kembali lagi ke bioskop, untuk Breaking Dawn, untuk menyiksa diri, untuk tertawa-tawa, entahlah. Mungkin pada saat itu kami akhirnya bisa memahami kenapa cerita Stephenie Meyer ini bisa begitu digila-gilai. Mungkin.
March 26, 2011
The Twilight Confession #1
Hari ini saya akan buat pengakuan. Mungkin sudah basi topiknya, tapi biar saja. Saya membaca Twilight. Ya, Twilight yang ceritanya tentang gadis bernama Bella Swan yang jatuh cinta pada Edward Cullen si vampir yang konon berwujud dan bersuara bak malaikat, yang kemudian ditaksir oleh (Bella maksudnya, bukan Edward) serigala jadi-jadian bernama Jacob Black. Iya, Twilight yang konon akan menyingkirkan serial Harry Potter-nya J.K. Rowling.
Jadi begini, saya punya 2 kelemahan kalau soal buku. Pertama, saya mudah tergoda cover buku yang menarik, dan saya suka sekali sama cover buku Twilight, those pale hands holding a shiny red apple, just pretty. Kedua, ada masanya saya ingin membaca, tapi malas, jadi saya akan memilih buku-buku yang ringan dan menghibur. Nah, waktu itu, tahun 2008, diumur 28 tahun dan sudah punya 2 anak, saya terkena cacar air. Ini berarti 2 minggu di karantina di dalam rumah, lebih spesifik lagi: di kamar kakak Aira, tidak boleh ketemu siapa-siapa. Jadi hiburan saya hanya buku dan koneksi internet. Hubby berbaik hati membelikan buku titipan saya, dan pilihan saya jatuh ke Twilight. Kenapa? Karena saya ingin bacaan yang ringan dan mengibur & cover buku ini terlihat menarik di deretan buku yang ada di situs Goodreads. Maksud saya, di situs tersebut Twilight masuk dalam kelompok best book ever, best young adult books, best book of the decade, dan seterusnya. Walaupun setelah itu baru saya perhatikan kalau Twilight dan seri-seri berikutnya juga masuk dalam kelompok the worst books of all time, books I regret reading, & popular books that annoy you.
Jadilah saya membaca Twilight. Terus terang saya tidak bisa bilang kalau saya tidak terhibur oleh buku ini, walaupun saya juga tidak bisa bilang kalau ceritanya brilian. Buat saya Twilight hanya another love story. Maka karena itu saya kaget juga begitu tau ternyata buku ini dianggap fenomenal di dunia, khususnya Amerika dan bahkan di sampul belakang buku Breaking Dawn yang merupakan seri terakhir dari Twilight Saga ada quotes dari USA Today yang bunyinya, "Move over, Harry Potter," Lalu, terutama setelah film-nya keluar, bagi saya Twilight jadi semakin overrated. Terutama soal dibanding-bandingkan dengan Harry Potter. Seriously, people? Apa yang mau dibandingin?
Ada satu review Twilight di Goodreads yang menurut saya cukup tepat untuk menggambarkan isi buku ini:
Save your time: here's the entirety of Twilight in 20 dialogue snippets & wiggedy-wack intermission.
First 200 pages:
"I like you, Edward!"
"You shouldn't! I'm dangerous!"
"I like you, Edward!"
"But I'm dangerous!"
Next 50 pages:
"I'm a vampire!"
"I like you, Edward!"
"But I'm a vampire! I'm a dangerous!"
"I like you, Edward!"
Next 100 pages:
"I like you, Edward!"
"You smell good, Bella. I'm dangerous!"
"I like you, Edward!"
"Damn, you smell good."
"I like you, Edward!"
"Also, I glow in sunlight."
Next 50 pages:
A. VAMPIRE. BASEBALL. GAME.
(I wish I was kidding)
Last 100 pages:
"Help me, Edward! I',m being chased!"
"I'll save you!"
"Help me, Edward! I'm scared!"
"I'll save you!"
"Oh, Edward!"
"You smell good."
Yah, begitu kira-kira inti dari Twilight. Pertama kali wujud Edward dilukiskan sebagai angelic atau godlike, mungkin masih terdengar romantis, tapi tidak lagi ketika diulang-ulang terus di sepanjang buku. Seperti juga perdebatan soal siapa yang lebih cinta pada siapa. Gah. Buku selanjutnya juga gak jauh-jauh dari ini, bahkan (in my opinion) semakin mengada-ada. Entah itu dalam hal alur cerita maupun fakta-fakta mengenai vampire dan werewolf. Jika di beberapa bagian buku pertama bisa ditemukan hal-hal ajaib, seperti soal vampir yang berkilau jika terkena sinar matahari, maka di buku-buku berikutnya, New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn, akan semakin banyak bermunculan hal-hal yang membuat saya mengernyit ketika membacanya. Iya, saya membaca New Moon, pembelaan saya adalah saya masih terkarantina akibat cacar dan berharap New Moon juga akan menghibur saya (sebagai love story, bukan sebagai epic saga). Iya, saya masih menyiksa diri dengan membaca Eclipse, yang baru selesai dibaca 6 bulan kemudian karena saya mulai bosan dan prosesnya disela dengan membaca buku lain. Tapi saya benar-benar tidak mampu membaca Breaking Dawn. Saya berhenti di bab kedua. Review yang kurang lebih sesuai dengan pendapat saya ada disini. Vampir bisa punya anak? Saya ulang, seriously, people? Seriously, Stephenie Meyer? Sudah cukup vampir dibuat sparkling di siang bolong, tak bertaring, dan bermata emas, tapi bisa punya anak juga? Tampaknya Stephenie Meyer ingin Bella mendapatkan semuanya, mulai dari mas vampir yang ganteng sampai si bayi vampir, tapi juga tidak kehilangan Jacob si serigala jadi-jadian. Dan ternyata Bella juga punya kekuatan super yang bisa mengalahkan kelompok vampir yang seharusnya paling kuat sedunia. Senang sekali jadi Bella.
Mungkin saya tidak akan terlalu memperhatikan kekonyolan Twilight dan sekuel-sekuelnya kalau saja orang-orang tidak membanding-bandingkannya dengan Harry Potter (Yes, I'm a die hard Potter fan). Dan lagi, vampir adalah salah satu karakter fantasi supernatural yang sejak kecil saya gemari ceritanya. Oh, how I miss the old melt in the sun, stake to the heart, sleeping in the coffin kind of Vampire. The old Anne Rice's Interview With The Vampire, the classic Bram Stoker's Dracula. Vampires are supposed to be all dark & bad-ass, not a sparkling glittery guy.
Subscribe to:
Posts (Atom)





