Pages

Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

November 04, 2012

Tentang Belajar Membaca, part deux.



Beda dengan Aira, kelas TK A akhir Aidan sudah mulai lancar membaca. Saya yang ngajarin? Antara iya dan tidak. I sure can't take all the credits about this reading thing. Aidan sekolah di sekolah yang ideal, menurut saya. Dari awal sekolah ini menyatakan bahwa mereka tidak akan memaksa anak untuk belajar membaca, jika masa pekanya belum muncul. Belajar membaca itu tidak apa-apa, asal cara dan waktunya tepat. Pastinya anak tidak boleh dipaksa. Jadi yang pertama dilakukan adalah menstimulus agar masa peka anak untuk belajar membaca muncul. Dengan apa? Kegiatan bercerita. Setiap hari 1 anak kebagian jadwal cerita, boleh dari buku, foto, gambar. Kebanyakan tentunya dari buku. Mereka biasanya udah dibacain dulu sama ibunya di rumah, untuk latihan. Anak-anak ini awalnya pasti hanya 'baca gambar' karena belum bisa baca, yang penting adalah membuat anak suka buku dan bercerita dulu. Selain itu anak diperkenalkan sama tulisan namanya dulu. Mulai dari absen kelas, kantong perlengkapan mereka, dan barang-barang di kelas, semua diberi label dengan nama mereka. Di rumah saya juga memperkenalkan huruf-huruf nama Aidan. Tapi gak pernah lebih jauh dari situ. Sampai suatu hari Aidan keukeuh minta dibelikan buku belajar baca kayak di sekolah. Ternyata sudah mulai dikenalkan untuk belajar membaca di kelas, tapi karena takut terulang tragedi belajar baca sampai nangis macam Aira, saya abaikan saja. Saat ambil rapor semester pun saya ditunjukkan oleh bu guru, sampai halaman mana Aidan membaca di kelas. Saya nganga, anak saya udah mulai bisa baca, dan saya gak ngeh. Haha. Jadi, rupanya anak yang sudah tertarik dibolehkan mulai belajar, yang belum mau ya gak papa. Di halaman-halaman buku belajar itu ada nama tiap anak, menandakan ia sudah sampai mana. Tentunya beda-beda, karena masa peka tiap anak pasti beda. Bu guru bilang, kalau Aidan sudah minta, yang diajarkan saja di rumah, pakai buku yang sama. Jadi di rumah tinggal nerusin yang di sekolah, begitu seterusnya. Sebentar saja setiap kali belajar, jangan lama-lama. Kalau lagi gak mau ya sudah.





Jadi, saya beli lah buku yang sama seperti di sekolah, disebutnya buku abacaga. Ternyata buku itu mudah sekali dipakai belajar membaca, atau memang Aidannya yang sudah berminat jadi proses belajar jadi mudah. Tiap malam saya tanya di sekolah sudah sampai mana, lalu kita lanjutkan halaman berikutnya. Gak pernah lebih dari 2 halaman. Ini pun seringnya Aidan yang minta, bawa-bawa buku abacaga sebelum tidur, kadang-kadang saya yang suka malas (ibu pemalas, jangan ditiru). Sampai pertengahan semester berikutnya, bu guru bilang boleh coba langsung ke buku cerita aja, gak usah nunggu buku abacaga tamat, karena dasarnya Aidan sudah bisa, belajar 'ng' atau 'ny' sekalian langsung di buku cerita saja. Saya coba baca buku cerita anak-anak, tapi kebanyakan terlalu panjang, Aidan udah bosen duluan. Akhirnya saya beli buku cerita Gafa. Saya tidak ikut les baca di Gafa, hanya beli buku-buku ceritanya saja, karena memang enak sekali dipakai belajar membaca. Mulai dari yang kosa katanya mudah dan kalimatnya pendek, terus terus sampai makin sulit. Aidan senang sekali, berasa sudah bisa baca 1 buku sendiri, padahal emang pendek banget. Yang penting si anak bangga, tambah seneng belajar baca.


Jadi begitu lah, di awal TK B Aidan sudah tinggal ngelancarin aja dalam membaca, dan dia senang belajar membaca. Kesimpulan saya tetap sama, membaca itu gak perlu les. Jangan khawatir kalau anak lain sudah lancar baca di TK sementara anak kita belum. Karena masa peka tiap anak berbeda, pada waktunya anak pasti bisa baca. Jangan dipaksa, nanti dia malah gak suka baca. Saya bisa nangis guling-guling kalau anak saya gak suka baca, padahal suka baca itu amat membantu dalam proses mereka belajar nantinya. Buat saya yang penting bukan seberapa dini anak bisa membaca, tapi apakah dia suka membaca atau tidak. :)

Untuk membaca Tentang Belajar Membaca, part uno. klik disini

Tentang Belajar Membaca, part uno.



Saya selalu percaya kalau belajar membaca itu tidak perlu diburu-buru, kalau masa peka anak sudah tiba, pasti akan mudah belajar membaca. Okay, that was a lie. Waktu Aira kecil, saya pernah membaca di satu buku yang mengaitkan soal golden age anak dengan belajar membaca, yang disimpulkan dengan kalimat: jadi cepat, sebelum anak anda berusia 5 tahun, ajari ia baca segera! Jadi saya, si ibu pemula yang over-eager, langsung belanja berbagai buku belajar membaca untuk anak balita, dan mulai ngajarin Aira yang waktu itu umur 4 tahun untuk belajar membaca. Gimana hasilnya? Total failure. Aira gak tertarik sama sekali, harus dibujuk setengah dipaksa. Saya yang memang dasarnya gak sabaran jadi kesal, ujungnya marah. Jadi beberapa sesi belajar membaca yang kami lakukan biasanya diakhiri dengan tangisan. Jadi saya berhenti. Saya ingat jaman saya kecil belajar membaca sama Mama saya, saya bawaannya stress, jadi bukannya bisa, malah tambah salah yang dibaca. Rasanya gak enak, jadi pasti Aira juga ngerasa gak enak.

Untungnya saya memang orang yang selalu merasa gak perlu untuk ngikutin anak les baca. Aira pun akhirnya gak belajar membaca sepanjang TK A itu. Hanya saja saya memang selalu membelikan buku cerita dan membacakan untuk Aira. Saya lebih sering membelikan Aira buku cerita dibanding mainan. Jalan-jalan ke toko buku selalu jadi salah satu rekreasi kami. Saya 'pelit' membelikan mainan (bukannya gak dibelikan sama sekali loh), tapi gak begitu soal buku. Waktu itu saya gak mencari tahu lebih banyak soal mengajari anak membaca, saya hanya keukeuh soal gak ikut les baca dikala teman-teman disekolahnya diikutkan les membaca sama orangtuanya. Nah, di kelas TK B akhir disekolah Aira mulai diberi pengenalan membaca, untuk persiapan masuk SD, pertimbangannya sekolah gak bisa tutup mata soal banyaknya SD yang menuntut anak sudah bisa membaca ketika masuk SD. Dibanding teman-temannya, apalagi yang ikut les membaca, Aira memang termasuk yang ketinggalan soal bisa membaca. Tapi saya yakin anak pasti bisa membaca kok, jadi saya gak terlalu khawatir. Di kelas tiap anak punya list buku yang sudah dibaca, dipasang di dinding. Yang sudah lancar membaca pasti panjang daftar buku di list-nya. Punya Aira sampai mendekati akhir tahun ajaran masih pendek, hanya beberapa judul buku. Ya sudahlah ya, memang masih belajar kok anaknya.

Lalu, entah mulai kapan, Aira bisa membaca. Anak ini memang outopilot. Di SD Aira gak mengalami kesulitan sama sekali. Nilainya bagus.Saya gak perlu men-drill atau dikte soal-soal ketika ia mau ulangan, Aira baca sendiri bahan-bahannya di buku. Tidak ada pressure ketika belajar, tambah tinggi tingkat kelasnya, tambah baik nilai Aira. Aira suka membaca, ini yang memudahkan dia dalam belajar. Dia gak keberatan atau kesulitan ketika membaca buku cetak atau catatan, atau mengerjakan tugas.



Iya, anak saya ini, yang ketinggalan belajar membacanya dibanding anak lain, suka membaca. Suka sekali. Mulai dari buku cerita anak-anak yang tipis, diikuti dengan novel-novel fairy bahasa Inggris yang tipis-tipis dan mudah bahasanya, terus tambah tebal, dan terus tambah kompleks kosa-kata dan ceritanya. Dan Aira itu rapid reader, dia bisa membaca dengan cepat, paham isi bacaannya. Dari buku-buku bahasa Inggris ini juga Aira jadi mudah sekali belajar bahasa Inggris. Sekarang ini Aira gak nyaman membaca buku terjemahan. Maksudnya, jika penulis buku itu memang orang Indonesia, maka buku bahasa Indonesia ya gak papa, tapi jika aslinya bahasa Inggris, dia lebih senang membaca versi aslinya dibanding terjemahan. Harry Potter paling tebal dalam bahasa Inggris bisa selesai dibaca dalam 3-4 hari. Kalau lihat tebalnya buku bacaan Aira rasanya udah pusing duluan. Ensiklopedia anak-anak dan umum juga dia baca, begitu juga buku-buku National Geographic.Beli buku di Periplus, belum sampai rumah sudah habis dibaca setengahnya. Untungnya dia suka membaca ulang buku-bukunya. Untuk mensiasati, perpustakaan jadi alternatif yang tepat untuk memenuhi reading-appetite Aira. Sementara saya dan si ayah bahagia luar biasa melihat si Little Ace dengan buku-bukunya.


Jika dilihat, saya tidak menyamaratakan ya, beberapa temannya yang dulu lebih dulu bisa baca atau yang diikutkan les membaca, tidak sampai seperti Aira kesenangannya dalam membaca. Ada satu yang malah tidak senang membaca dan ibunya selalu kesulitan mempersiapkan si anak ketika mau ulangan. Jadi, kesimpulan sememntara saya, lebih dini anak bisa membaca gak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan mereka. Saya merasa membuat keputusan yang tepat untuk gak memaksa Aira belajar membaca. Walaupun memang tidak disengaja, sepertinya stimulus yang diberikan ke Aira melalui buku-buku pada waktu itu cukup tepat. Memang kemudian setelah saya banyak diskusi dan mendengar dari yang ahli soal perkembangan anak, mengajari anak membaca itu gak salah, yang penting caranya sesuai, dan masa peka anak sudah muncul. Tentunya si masa peka ini bisa distimulus agar muncul, lagi-lagi caranya harus sesuai. Jika masa peka sudah muncul, maka belajar membaca bagi anak adalah hal yang mudah karena si anak memang sudah siap. Ini kemudian saya buktikan pada Aidan.

Untuk membaca Tentang Belajar Membaca, part deux. klik disini.

March 12, 2012

The Little Library We Fell in Love With



We drive passed this house with the signage almost everyday, always interested but never really made a stop. The signage read 'Rimba Baca' and it supposed to be a children's library. Then I met mbak Niken from http://www.liburananak.com/ who has visited Rimba Baca. Her description and excitement (while describing the place) was enough to finally made me drop by the library the week after. The place lived up to my expectation, a small piece of book heaven for my kids.




Kunjungan pertama kami kesana hanya saya dan Aidan, sepulang Aidan sekolah. Aidan senang sekali, sementara saya langsung jatuh cinta. Perpustakaan yang ideal untuk anak-anak, menurut saya. Deretan buku-buku di rak yang dikelompokkan sesuai umur (0-3 tahun, 4-8 tahun, 9-12tahun), sofa-sofa kecil, bantal-bantal dan boneka-boneka yang bertebaran, dan meja serta kursi-kursi warna warni. Aidan langsung pilih-pilih buku dan minta dibacakan. Hari itu kami hampir 2 jam berada di Rimba Baca, tapi tidak meminjam karena belum jadi member.

Kunjungan kedua, masih dalam minggu yang sama, tentunya bersama kakak Aira yang iri luar biasa waktu tau Aidan sudah kesana lebih dulu. Aira seperti juga saya, langsung kegirangan ketika masuk kesana. Satu buku novel tipis langsung habis dibaca, lalu berhubung hari itu kami mendaftar jadi member, kami langsung meminjam buku, 2 buku Aidan dan 2 buku Aira.





Rimba Baca buka setiap hari dari jam 10 pagi sampai 5 sore. Untuk menjadi member biayanya 350 ribu rupiah per tahun, sudah bisa meminjam 5 buku untuk seminggu masa pinjam. Jika buku sudah dikembalikan, bisa meminjam 5 buku lainnya. Member juga bisa ikut acara yang diadakan di Rimba Baca pada akhir minggu dengan gratis/diskon, seperti acara musical story telling atau art and craft misalnya. Selain itu di lantai 2 Rimba Baca tersedia buku-buku untuk orang dewasa, mulai dari novel, buku masak, desain & interior, traveling, dan sebagainya. Jika belum menjadi member, dikenakan biaya 25 ribu rupiah per-visit dan tentunya belum boleh meminjam buku.


Saya selalu senang berkunjung ke perpustakaan sejak saya kecil. Aira juga begitu, sering kali dia menghabiskan waktu istirahat di sekolah dengan mengunjungi perpustakaan. Dan perpustakaan yang satu ini tempatnya nyaman sekali dan koleksi buku anak-anaknya super keren. Kebanyakan memang buku-buku bahasa Inggris. Ini sangat membantu saya dalam memenuhi appetite membaca Aira yang sudah merasa tidak nyaman membaca buku terjemahan, dan mengingat kecepatan dia membaca plus harga buku impor yang sedikit lebih mahal, kunjungan ke perpustakaan menjadi solusi yang tepat dan menyenangkan. Selain itu, menurut saya meminjam buku di perpustakaan juga bisa membantu Aira dan Aidan belajar bertanggung jawab, untuk tidak merusakkan dan menghilangkan buku yang mereka pinjam. Juga tentunya untuk mengembalikan tepat waktu jika tidak ingin didenda. 

So book lovers, give them a visit & you'll see what I'm fussing about. Rows of books. Love. Nuff said. :)

Rimba Baca
Jl. RSPP No. 21B
Jakarta Selatan
021-7664517

December 26, 2011

Guide books to traveling with your kids



Siapa yang senang traveling? Saya! Siapa yang senang traveling bersama anak-anak? Saya! Iya, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat kalau punya anak kecil berarti tidak bisa jalan-jalan lagi. "Enak ya anaknya sudah besar-besar, ayah-bunda nya jadi bisa jalan-jalan lagi." Pernah dengar komentar semacam ini? Saya tidak setuju, anak-nya masih kecil pun kita bisa jalan-jalan kok, syaratnya ya si anak dibawa. :)

Sepertinya Donna Widjajanto & Rully Larasati juga punya pemikiran yang sama seperti saya. Coba baca deh, buku mereka, Traveling with Kids, isinya lengkap banget untuk membantu kita bisa jalan-jalan seru dan menyenangkan bersama anak-anak. Mereka menyatakan bahwa sebenarnya anak usia SD (6-12 tahun) adalah usia yang paling 'enak' untuk mengajak anak jalan-jalan. Di usia ini anak sudah cukup mandiri, tapi juga masih cukup patuh.

Memang harus diakui, jalan-jalan bersama anak pasti dobel repotnya. Karena kita juga yang harus menyiapkan segala keperluan anak. Mulai dari surat-surat dan dokumen apabila hendak ke luar negri, sampai akomodasi dan itinerary kegiatan dan tempat tujuan selama bepergian. Hal-hal seperti in yang terkadang membuat acara jalan-jalan yang seharusnya menyenangkan malah menjadi 'neraka' bagi orangtua maupun si anak.

Nah, dalam buku Traveling with Kids, Donna & Rully menjabarkan berbagai hal yang perlu disiapkan, mulai dari  persiapan sebelum berangkat seperti menetapkan tempat tujuan, menyiapkan penginapan dan kendaraan, mempersiapkan kesehatan anak, panduan lengkap menyiapkan dokumen untuk ke luar negeri, dan isi koper & ransel anak.

Yang serunya lagi, di buku ini juga terdapat berbagai ide tempat tujuan dan berbagai hal yang bisa dilakukan disana plus tips-tips untuk sepanjang perjalanan. Selain itu juga dilengkapi dengan berbagai masalah yang mungkin timbul selama perjalanan dan bagaimana mengatasinya. Sudah? Belum! Masih ada lagi kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan setelah pulang kembali ke rumah, seperti bagaimana mengatasi jetlag dan menyusun foto-foto selama perjalanan untuk kenang-kenangan.

Untuk ibu-ibu dengan anak usia balita, jangan khawatir, ada juga buku Traveling with Tots yang ditulis Donna Widjajanto (http://ajarfullofhoney.blogspot.com/), membuktikan bahwa jalan-jalan bersama anak balita bukan lah sesuatu yang mustahil. Mbak Donna sendiri yang anaknya masih usia balita, sering jalan-jalan mengajak si anak, jadi tentunya isi buku ini sudah terbukti ya. ;)

Pastinya ada banyak 'catatan' ketika membawa anak yang masih balita, banyak yang harus disesuaikan.  Dalam buku ini ada banyak contekannya, seperti menyusun itinerary yang tots friendly, kemana pun tujuannya, memilih penginapan dan penerbangan yang sesuai, keperluan-keperluan si kecil, kesehatan anak dan orangtua, back up plan jika si kecil ngambek, dan bagaimana memaksimalkan perjalanan sehingga menyenangkan dan juga membuat anak terasah kecerdasan sosialnya.

Saya termasuk orang yang senang browsing dan membaca tentang tempat yang akan saya tuju. Saya tidak senang clueless ketika dalam perjalanan. Biasanya saya akan membuat daftar tempat yang bisa dituju, jam buka, dan harga tiket masuk jika ada, pilihan transportasi selama di tempat tujuan, dan makan yang mudah untuk anak-anak. Menyusun itinerary penting buat saya, terutama ketika tempat seperjalanan kita adalah anak-anak. Nah, ketika menemukan kedua buku ini pastinya saya senang sekali, buku ini menjadi semacam pegangan saya dalam memyiapkan perjalanan liburan bersama anak-anak. Sarat informasi, bahkan untuk hal-hal kecil yang mungkin akan luput dari perhatian kita. Di buku Traveling with Tots malah dilengkapi dengan bonus lirik-lirik lagu anak-anak dan resep praktis untuk bekal dalan perjalanan. Bahasa dalam buku ini juga ringan dan familiar. Punya saya sudah mulai lecek sekarang, keseringan di bulak-balik, daaaan... sudah ditempeli post it di berbagai tempat. Hehehe..

December 11, 2011

A Day of Great Books

Last Thursday was a day of great books for me, for that day I stumbled across some great children books. I went to Periplus that day, looking for a birthday present for Aidan's friend. They happened to have piles of children books on sale. I never could resist piles of children books, especially when they're on sale. And there they are, 2 books that instantly caught my eyes. One was called My Heart Is Like a Zoo by Michael Hall (for only Rp. 35.000,-) and the other called It's a Book by Lane Smith (for only Rp. 45.000,-).


I really like My Heart Is Like a Zoo for it's bright colors, simple illustration, & simple words. The book tells us about what our heart feels, illustrated by various animal at the zoo. Kids sure could learn a lot of new vocabularies while reading it.

The other one, It's a Book, instantly became Aidan's favorite. It's about a conversation between a Jackass (whose holding a laptop) and a monkey (whose holding a book). The Jackass didn't know what a book was, because he was so used to doing things with his laptop, including reading e-books. Aidan would laugh uncontrollably every time I read this book to him. This book really captured what I feels about little kids whose being introduced to e-books without knowing what a real books looks like.


After I bought those to books, and another one for Aidan's friend, I went to a book launching event. But first thing first, I had to tell you about Tulisan. I stumbled about this brand Tulisan more than a year ago, at Brightspot market. They design & sell various items, like bags, pouches, wallets, cushion cover, tea towel, to cards & tunics. I fell in love with they graphic prints at first sight. The designer name is Melissa Sunjaya, and her works just simply marvelous (there are also other designer in Tulisan later on). What makes me love her works even more that there's always a story behind each series she created. You could read them at their site http://www.mytulisan.com/.


When I found out that they're going to launch a book in celebration of their 2nd anniversary, I just had to come and get myself a copy. So I went to their oh-so-lovely store, bought myself a copy (collector's edition, one of the premiere edition of 500 copies) of The Butterflies of Victor, and get it signed by Virginie Kasse the author, and of course, Melissa Sunjaya the illustrator. They released the book in 3 edition, France, English, & Indonesian. I bought the English one.

I won't tell you what it's about, I won't spoiled it for you. The only thing I'll tell you is that it was beautifully written & illustrated. The writing & the illustration really compliment each other. I love this book, and so did Aira & Aidan. How I wish they would make a book out of Pepe and The Flying Balloon too. :)


September 13, 2011

Yes, kids can cook!

Tanggal 27 Agustus yang lalu, saat saya berulang tahun, saya dapat email dari Periplus, menginformasikan bahwa  due to my birthday I was entitled to a 15% discount on all books & magazine. Yayness!

Saya pun mengunjungi Periplus, 1 hari setelah ulang tahun saya, bersama Aira yang pastinya senang sekali diperbolehkan ikut menikmati diskon ulang tahun Bunda. Tapi ternyata novel-novel belum ada yang baru au menarik buat Aira, akhirnya dia memilih membeli buku yang berbeda sama sekali. Buku masak, buku masak untuk anak-anak tentunya. Buku 'You Can Cook' yang disusun oleh Annabel Karmel.


Tadinya saya pikir buku ini akan menjadi salah satu buku masak yang pada akhirnya hanya akan berfungsi sebagai pajangan di rak buku, alias gak pernah dicoba resepnya. Hehe.. Tapi ternyata keesokan harinya Aira langsung semangat mencoba memasak dari buku resep barunya. Cuma masakan sederhana sih, omelette & scramble eggs, dan masih dibantu tentunya, tapi si kakak bangga sekali dengan hasil masakannya. 3 hari berikutnya pun kami disuguhi scramble eggs atau omelette terus untuk sarapan. 

Setiap hari buku resep itu dibolak-balik sama Aira, sambil membuat catatan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat masakan yang ingin ia coba. Setelah berbelanja bahan-bahan, kami pun mencoba resep yang lainnya, muffins dan cupcakes. Saya sebenernya agak alergi sama urusan bikin kue, karena menurut saya membuat kue itu seperti kimia, kalau takarannya salah, atau urutan pengerjaannya salah, langsung bubar jalan itu kue. Tapi ternyata resep muffin dan cupcake Annabel Karmel cukup mudah dan sederhana sehingga Aira bisa mudah membuatnya hanya dibantu saya, si bunda yang cemen kalau urusan masak-masak apalagi kue-kue.


Annabel Karmel memang sudah terkenal sebagai penulis buku masak-memasak untuk bayi dan anak-anak. Jadi selain mudah pembuatannya, rasa dari hasil masakannya pun enak, dan bisa dipastikan baik kandungan nutrisinya. Bahan-bahan yang tertera di dalam buku masak ini juga mudah dicari di Indonesia, tidak ada bahan yang terlalu aneh atau sulit.  

Hal lain yang saya sukai lagi, buku ini berisi banyak foto. Step-by-step pembuatan makanan dijelaskan sejelas-jelasnya melalui tulisan dan foto. Memudahkan dan menarik. Plus dilengkapi dengan foto-foto kitchen equipment, buah-buahan, sayuran, dan tehnik memasak, semacam picture dictionary soal masak-memasak. Jadi selain bisa belajar memasak, buku ini juga memperkaya kosa-kata bahasa Inggris anak-anak. Buku You Can Cook dibagi menjadi beberapa bagian, First Step, Light Bites, Main Meals, Sweet Treats, dan Techniques. Di bagian awal juga dilengkapi dengan penjelasan mengenai healthy eating.

Seperti buku ini akan berguna sekali untuk mengisi akhir minggu atau liburan dengan memasak. :)
For more recipes & fun stuff click  http://www.annabelkarmel.com/.

July 18, 2011

For the love of books.

Saya bisa nangis guling-guling kalau sampai anak saya gak suka baca buku. Serius. Bukan berarti saya ingin anak saya jadi kutu buku, baca buku-buku ilmiah dan buku sastra yang berat-berat. Saya cuma ingin anak saya suka membaca. Apa saja, asal yang baik.

Saya besar dengan buku. Mama saya rajin sekali membelikan saya buku cerita sejak saya kecil, bahkan sejak saya belum bisa membaca. Semua buku yang tipis-tipis itu diberi label nama saya, dikumpulkan sesuai serinya dan dijilid rapih. Banyak diantaranya yang selamat dari proses pindahan rumah yang masih ada sampai sekarang dan saya wariskan ke Aira, buku Tini diantaranya. Kalaupun ada yang sudah tidak ada bukan karena dibuang atau dijual atau diberikan ke orang lain. Biasanya dipinjam salah satu sepupu saya dan akhirnya tidak kembali lagi.

Si mama akan membacakan buku-buku itu ke saya, sebelum tidur biasanya. Atau adik mama saya yang dulu tinggal serumah dengan kami, Mama Ina saya memanggilnya, yang membacakan buku untuk saya. Tante-tante saya juga rajin memberi buku ke saya. Yang saya ingat betul sering memberi buku adalah Mama Ina dan adik ayah saya, Bou Mei. Bou Mei akan menuliskan pesan di halaman depan buku yang diberikannya kepada saya. Beberapa buku seri Mallory Towers karya Enid Blyton dan seri Pippi Si Kaus Kaki Panjang karya Astrid Lindgrend diantara buku-buku pemberian Bou Mei.

Terus terang dulu saya merasa tersiksa waktu belajar membaca. Mama saya galak ngajarinnya, rasanya semua huruf jadi lompat-lompat dan huruf yang seharusnya saya tau jadi lupa lagi. Tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi kesukaan saya terhadap buku. Begitu saya bisa membaca, saya semakin jatuh cinta terhadap buku, buku cerita khususnya. Kelas 1 SD saya berkenalan dengan Enid Blyton lewat buku-buku kecil seri Si Babi Ungu yang penuh petuah dan nasihat. Kelas 2 saya membaca 'novel' pertama saya, Semester Pertama di Mallory Towers, yang dilanjutkan dengan seri-seri lainnya. Hampir seluruh buku Blyton yang diterbitkan di Indonesia saya baca. Ketika Enid Blyton terasa terlalu 'righteous' saya berkenalan dengan karakter-karakter yang lebih nakal dari dunianya Astrid Lindgrend, Pippi, Lotta, Madita, Lisbet, Emil, dan lainnya. Pastinya saya juga membaca dan memecahkan kasus dua detektif cilik Amy Adams dan Hawkeye Collins, dengan kunci jawaban yang harus dibaca di kaca karena dicetak  terbalik. Entah kenapa saya selalu tertarik dengan karya penulis buku anak-anak dari Eropa, macam Erich Kastner dari Jerman dan Editih Unnerstad dari Swedia. 

Satu lagi yang membuat saya jatuh hati adalah Roald Dahl. Saya berkenalan dengan Roald Dahl melalui buku Matilda, lalu non stop saya mengumpulkan buku-buku karyanya. Pada saat itu bahasa Inggris saya sudah semakin baik, jadi saya tidak lagi tergantung pada buku-buku edisi terjemahan. Jika kebetulan berlibur ke luar negeri, koper saya akan dipenuhi buku-buku. Saat itulah saya mengenal Judy Blume, Anne Fine, dan Terry Pratchett. Duh sepertinya banyak penulis yang imajinasinya menemani saya sehari-hari sejak kecil yang masih terlewat. Laura Ingalls Wilder! Frances Hodgson Burnett! Tuh kan masih banyak. Belum lagi yang saya kenal kemudian, seperti seri Harry Potter yang mega terkenal karya J.K. Rowling, The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis, dan The Lord of The Rings karya J.R.R. Tolkien. Plus penulis buku lainnya yang tidak melulu tentang fantasi atau ber-genre anak-anak.

Saya masih membaca buku cerita sampai sekarang. Terus terang saya adalah pembaca buku cerita, yang sesekali membaca buku yang lebih berat. Berat dalam arti buku-buku yang kalau di toko buku ada di rak dengan papan nama 'Sastra', bukan 'Fiksi'. Selain membeli saya juga mengoleksi buku, saya tidak bisa hanya membaca buku, saya harus punya. Apalagi untuk penulis-penulis yang saya sukai. Juga untuk buku yang sampulnya bagus, yang akan terlihat bagus kalau berjejer di rak buku saya. Hehehe.

Begitu punya anak saya semakin menggila mengumpulkan buku. I like all books, but my true love will always be children books. Buku cerita maupun buku pengetahuan. Apalagi buku-buku impor semakin bertebaran dan buku-buku anak-anak terbitan lokal juga semakin bagus-bagus, sebut saja buku anak-anak karya Clara Ng. Kalau dulu buku anak-anak lokal pasti jauh berbeda kualitas cetakan dan ilustrasinya, sekarang sudah tidak ada bedanya dengan buku-buku karya penulis luar. Buku impor yang diterjemahkan juga semakin banyak. 

Terus terang saya lebih sering membelikan anak-anak saya buku daripada mainan. Saya lebih sering mengajak anak-anak saya mampir ke toko buku daripada ke toko mainan. Mungkin karena dulu waktu kecil saya juga begitu. Kunjungan ke toko buku adalah harus. Kalau ibu saya belanja di supermarket Metro di Melawai Plaza, saya akan ditinggal dan menunggu dengan tenang di toko buku-nya satu lantai di bawah supermarket. Hadiah uang 10 ribu kalau ulang tahun waktu kecil berarti setumpuk buku cerita baru. Kunjungan ke toko buku bersama Mama, berati dibelikan 1 atau 2 buku. Kunjungan ke toko buku bersama Aweng (ayah saya, FYI) berati boleh memilih buku berapapun dan pasti akan dibelikan. Sekarang pun saya akan mikir 10 kali (dan belum tentu jadi membeli) jika melihat high heels atau perlengkapan make-up yang sebetulnya saya butuhkan. Tapi tidak akan pikir lama-lama untuk membeli buku impor dengan darga yang sama, yang sebenernya bisa dibeli nanti-nanti. Saya bisa melotot kalau Aira minta, let's say, Barbie seharga 200rb tapi akan dengan senang hati membelikan jika ia minta novel Artemis Fowl dengan harga yang sama.

Membaca, tidak perlu saya bahas panjang lebar karena sudah banyak dibahas oleh mereka yang lebih kompeten untuk membahasnya, tentunya memiliki banyak manfaat positif. Buat saya membaca, atau buku, bukan hanya sumber informasi, tapi juga sumber imajinasi dan hiburan. Karenanya, senang sekali rasanya suka membaca. Senang sekali rasanya bisa masuk ke imajinasi penulis dan menggabungkannya dengan imajinasi saya sendiri. Senang sekali melihat tumpukan dan deretan buku di rak. Senang sekali rasanya mencium bau buku baru. Senang sekali rasanya melihat Aira mambawa-bawa  buku kemana, dan bisa membaca buku di suasana seperti apapun. Senang sekali rasanya melihat Aidan duduk manis dipangku Ayah dibacakan buku, sambil sesekali mengucapkan kalimat dalam bukunya yang ia sudah hapal luar kepala. Jadi, kebayang kan gimana saya gak nangis guling-guling kalau sampai anak saya tidak suka membaca?



Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere."
~Albert Einstein~

Where is human nature so weak as in the bookstore?
~Henry Ward Beecher~


April 11, 2011

Just read Sarah Dessen.



I believe I've written about my weakness in buying books based on their cover, especially young adults books. Buying Twilight was one of the downside of this cover fetish thing of mine, but fortunately that wasn't the case with Sarah Dessen's Along For The Ride. I like it, which then brought me to read This Lullaby, Lock and Key, Just listen, and The Truth About Forever. 

I love reading young adults books they're often simple yet entertaining. And I found Sarah Dessen's writing was exceptionally fine for this genre, especially when it comes to character. Her forte is always her characters, the characterization is what so special about Dessen's books. They're almost always coming-of-age girl, you need to care about their character and how they grow up through out the book in order to enjoy the story. Every one of them, from the 5 books that I've read, had their own distinct personality, that you eventually will feel like you know them for ages, you can pictured their expression & gesture in your head.

Other thing about Sarah Dessen, she doesn't write about some fantasy and supernatural things. Her story & the setting was always pretty realistic, that you can relate to. They had just enough romance, but not too sappy or cheesy. And you can always learn something, especial if you are a young adult. Great books to read on vacation, by the pool or beach. Here's the 5 books that I've read, in order of which I like most.






"I am coming to terms with the fact that loving someone requires a leap of faith, and that a soft landing is never guaranteed." — Sarah Dessen

"Music is a total constant. That's why we have such a strong visceral connection to it, you know? Because a song can take you back instantly to a moment, or a place, or even a person. No matter what else has changed in your or the world, that one song says the same, just like that moment." — Sarah Dessen

"It's a lot easier to be lost than found. It's the reason we're always searching and rarely discovered--so many locks not enough keys." — Sarah Dessen

"I don't know. Just because someone's pretty doesn't mean she's decent. Or vice versa. I'm not into appearances. I like flaws, I think they made things interesting. — Sarah Dessen

March 26, 2011

The Twilight Confession #1

Hari ini saya akan buat pengakuan. Mungkin sudah basi topiknya, tapi biar saja. Saya membaca Twilight. Ya, Twilight yang ceritanya tentang gadis bernama Bella Swan yang jatuh cinta pada Edward Cullen si vampir yang konon berwujud dan bersuara bak malaikat, yang kemudian ditaksir oleh (Bella maksudnya, bukan Edward) serigala jadi-jadian bernama Jacob Black. Iya, Twilight yang konon akan menyingkirkan serial Harry Potter-nya J.K. Rowling.

Jadi begini, saya punya 2 kelemahan kalau soal buku. Pertama, saya mudah tergoda cover buku yang menarik, dan saya suka sekali sama cover buku Twilight, those pale hands holding a shiny red apple, just pretty. Kedua, ada masanya saya ingin membaca, tapi malas, jadi saya akan memilih buku-buku yang ringan dan menghibur. Nah, waktu itu, tahun 2008, diumur 28 tahun dan sudah punya 2 anak, saya terkena cacar air. Ini berarti 2 minggu di karantina di dalam rumah, lebih spesifik lagi: di kamar kakak Aira, tidak boleh ketemu siapa-siapa. Jadi hiburan saya hanya buku dan koneksi internet. Hubby berbaik hati membelikan buku titipan saya, dan pilihan saya jatuh ke Twilight. Kenapa? Karena saya ingin bacaan yang ringan dan mengibur & cover buku ini terlihat menarik di deretan buku yang ada di situs Goodreads. Maksud saya, di situs tersebut Twilight masuk dalam kelompok best book ever, best young adult books, best book of the decade, dan seterusnya. Walaupun setelah itu baru saya perhatikan kalau Twilight dan seri-seri berikutnya juga masuk dalam kelompok the worst books of all time, books I regret reading, & popular books that annoy you. 

Jadilah saya membaca Twilight. Terus terang saya tidak bisa bilang kalau saya tidak terhibur oleh buku ini, walaupun saya juga tidak bisa bilang kalau ceritanya brilian. Buat saya Twilight hanya another love story. Maka karena itu saya kaget juga begitu tau ternyata buku ini dianggap fenomenal di dunia, khususnya Amerika dan bahkan di sampul belakang buku Breaking Dawn yang merupakan seri terakhir dari Twilight Saga ada quotes dari USA Today yang bunyinya, "Move over, Harry Potter," Lalu, terutama setelah film-nya keluar, bagi saya Twilight jadi semakin overrated. Terutama soal dibanding-bandingkan dengan Harry Potter. Seriously, people? Apa yang mau dibandingin? 

Ada satu review Twilight di Goodreads yang menurut saya cukup tepat untuk menggambarkan isi buku ini:

Save your time: here's the entirety of Twilight in 20 dialogue snippets & wiggedy-wack intermission.

First 200 pages:
"I like you, Edward!"
"You shouldn't! I'm dangerous!"
"I like you, Edward!"
"But I'm dangerous!"

Next 50 pages:
"I'm a vampire!"
"I like you, Edward!"
"But I'm a vampire! I'm a dangerous!"
"I like you, Edward!"

Next 100 pages:
"I like you, Edward!"
"You smell good, Bella. I'm dangerous!"
"I like you, Edward!"
"Damn, you smell good."
"I like you, Edward!"
"Also, I glow in sunlight."

Next 50 pages:
A. VAMPIRE. BASEBALL. GAME.
(I wish I was kidding)

Last 100 pages:
"Help me, Edward! I',m being chased!"
"I'll save you!"
"Help me, Edward! I'm scared!"
"I'll save you!"
"Oh, Edward!"
"You smell good."

Yah, begitu kira-kira inti dari Twilight. Pertama kali wujud Edward dilukiskan sebagai angelic atau godlike, mungkin masih terdengar romantis, tapi tidak lagi ketika diulang-ulang terus di sepanjang buku. Seperti juga perdebatan soal siapa yang lebih cinta pada siapa. Gah. Buku selanjutnya juga gak jauh-jauh dari ini, bahkan (in my opinion) semakin mengada-ada. Entah itu dalam hal alur cerita maupun fakta-fakta mengenai vampire dan werewolf. Jika di beberapa bagian buku pertama bisa ditemukan hal-hal ajaib, seperti soal vampir yang berkilau jika terkena sinar matahari, maka di buku-buku berikutnya, New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn, akan semakin banyak bermunculan hal-hal yang membuat saya mengernyit ketika membacanya. Iya, saya membaca New Moon, pembelaan saya adalah saya masih terkarantina akibat cacar dan berharap New Moon juga akan menghibur saya (sebagai love story, bukan sebagai epic saga). Iya, saya masih menyiksa diri dengan membaca Eclipse, yang baru selesai dibaca 6 bulan kemudian karena saya mulai bosan dan prosesnya disela dengan membaca buku lain. Tapi saya benar-benar tidak mampu membaca Breaking Dawn. Saya berhenti di bab kedua. Review yang kurang lebih sesuai dengan pendapat saya ada disini. Vampir bisa punya anak? Saya ulang, seriously, people? Seriously, Stephenie Meyer? Sudah cukup vampir dibuat sparkling di siang bolong, tak bertaring, dan bermata emas, tapi bisa punya anak juga? Tampaknya Stephenie Meyer ingin Bella mendapatkan semuanya, mulai dari mas vampir yang ganteng sampai si bayi vampir, tapi juga tidak kehilangan Jacob si serigala jadi-jadian. Dan ternyata Bella juga punya kekuatan super yang bisa mengalahkan kelompok vampir yang seharusnya paling kuat sedunia. Senang sekali jadi Bella.

Mungkin saya tidak akan terlalu memperhatikan kekonyolan Twilight dan sekuel-sekuelnya kalau saja orang-orang tidak membanding-bandingkannya dengan Harry Potter (Yes, I'm a die hard Potter fan). Dan lagi, vampir adalah salah satu karakter fantasi supernatural yang sejak kecil saya gemari ceritanya. Oh, how I miss the old melt in the sun, stake to the heart, sleeping in the coffin kind of Vampire. The old Anne Rice's Interview With The Vampire, the classic Bram Stoker's Dracula. Vampires are supposed to be all dark & bad-ass, not a sparkling glittery guy.


October 24, 2010

Wit & Wisdom of Sir Terry Pratchett : pt. 3


"No! Please! I'll tell you whatever you want to know!" the man yelled.

"Really?" said Vimes. "What's the orbital velocity of the moon?"

"What?"

"Oh, you'd like something simpler?"


~Night Watch~




















March 02, 2010

Currently Reading in March


















On-The-Go Book Club


Love books and wants to talk about books you've read
but get caught in tight schedule? Join Onthego Book Club and discuss your favorite books in the fun way.

Saya dan teman saya, Ade Banani, mempunyai kesenangan terhadap buku yang lumayan mirip, walaupun terus terang saja, bacaan ringan saya komposisinya masih lebih banyak daripada Ade. Berawal dari obrolan kami tentang buku-buku yang kami baca, dan akibat menonton film Jane Austen Book Club, sempat terucap keinginan untuk membentuk klub buku.

Akhirnya 2 hari yang lalu kami sepakat untuk membuat group di Facebook, yang diberi namaOnthego Book Club, alias on the go book club. Kenapa on the go? Maksudnya klub buku ini diperuntukkan orang-orang yang membaca di waktu luangnya, yang mungkin diselipkan diantara kesibukan sehari-hari. Buku yang dipilih basically a little bit of everything. Diskusi dilakukan online di discussion board dalam group, kalau memungkinkan dilakukan langsung sambil ngopi-ngopi. Ah, senangnya punya banyak teman membaca :)

A book club that can be squeezed in between your busy schedule.





January 28, 2010

I really really wanna read these..

I'm all mushy at the moment & that makes me really really wanna read these books..





January 19, 2010

Vintage Reading, pt.2 : Marcel Marlier's Tini

originally posted on facebook August 5, 2009

Sebelum saya mengenal novel, ini adalah buku pertama sejauh ingatan masa kecil saya. Seri Pestaka Cerita dari Gramedia. Tokohnya macem-macem dan penulisnya pun ada banyak. Tapi yang paling berkesan buat saya adalah tokoh yang diciptakan penulis dan ilustrator Belgia bernama Marcel Marlier. Namanya Tini. Dia punya kakak bernama Yan, Adik bernama Andi, anjing kecil coklat bernama Pupi dan anak kucing hitam bernama Mimi. Hidup Tini menyenangkan sekali. Dia tinggal di Eropa di rumah yang dikelilingi berbagai pohon dan tanaman yang kelihatannya nyaman sekali, dia belajar menunggang kuda, dia menari ballet, dia bisa berkebun, naik pesawat untuk liburan ke Paris, dia bisa memasak dan mengurus adik, ikut dalam sirkus, berulang tahun dengan pesta yang indah, ikut pesta bunga, dan masih banyak lagi hal lain yang bisa membuat anak manapun iri padanya.

Entah ada berapa banyak buku tentang Tini yang ditulis Marlier, yang pasti rasanya masa kecil saya sering kali bersinggungan dengan tokoh Tini ini. Buku Tini Merawat Adik membuat saya merengek minta adik pada ibu saya. Tini Naik Kuda salah satu favorit saya karna waktu kecil saya senang sekali naik kuda. Hampir semua resep di buku Tini Belajar Memasak pernah saya praktekkan waktu kecil, bahkan resep roti goreng yang ada dalam buku tersebut masih saya buat sampai sekarang. Saya membuat herbarium (mengeringkan bunga dan daun) meniru apa yang dilakukan Tini di buku Tini di Rumah Bibi Lusi. Bahkan menurut ibu saya, waktu kecil saya senang sekali sama gambar cover buku Tini dan Burung Gereja, sampai diantara semua buku Tini yang rapih dijilid ibu saya, buku Tini dan Burung Gereja adalah satu dari beberapa buku yang tidak berhasil diselamatkan karena keadaan yang terlalu emprihatinkan akibat seringnya dibuka-buka dan dibawa keana-mana. Satu lagi, gambar di halaman pertama buku Tini merawat Adik kemungkinan adalah sebab awal saya terobsesi pada jendela, yang dibuka kesamping dan tidak berteralis ;)


Selain ceritanya, yang sangat menarik dari buku-buku Tini adalah ilustrasinya. Ilustrasi adalah bagian yang dominan dalam buku-buku Marcel Marlier dan ilustrasi hasil karya Marlier buat saya tidak ada yang menyamai indahnya. Sampai sekarang saya masih bisa membuka buku-buku Marlier seharian hanya untuk memandangi ilustrasinya. Buku Tini ini sempat diterbitkan lagi oleh Gramedia beberapa tahun yang lalu, dan Gramedia bukan hanya menerbitkan buku-buku yang sudah ada dari saya kecil, tetapi juga hasil karya Marlier yang lebih baru. Ceritanya menjadi lebih kekinian (misalnya, Tini pindah ke kota besar dan tinggal di gedung apartemen), begitu juga ilustrasinya. Ini jelas terlihat dari pakaian tokoh-tokohnya yang lebih modern. Meskipun begitu, tetap khas Marlier.

Tentunya bisa dipastikan kalau nama asli anak perempuan kesukaan saya ini bukan Tini, tapi Martine (atau Debbie atau Tiny atau Claudine di beberapa terjemahan lainnya). Di buku cetakan baru Gramedia banyak tokoh yang menggunakan nama aslinya, tapi pastinya Tini tetap Tini. Begitu juga Yan, Andi, Pupi, dan Mimi. Ada tokoh-tokoh lain selain Tini yang diciptakan oleh Marlier dalam seri Pustaka Cerita, seperti Robbi dan Susi yang cerita-ceritanya lebih bernuansa petualangan. Tapi tidak ada yang mengalahkan Tini di hati saya. Hehehe :D

Sewaktu buku ini dicetak ulang saya sempat kembali mengumpulkan untuk Aira. Harganya dari Rp. 1000,- waktu saya kecil, sekarang Rp. 15.000,-. Saya pilih yang dulu saya punya tapi sudah hilang dan yang belum pernah saya baca sama sekali. Sayangnya sebelum lengkap buku-buku ini sudah tidak ada di pasaran lagi. Nyari di toko buku online maupun loakan susahnya minta ampun. Sempat ketemu yang vesri bahasa Inggris, tapi hanya ada beberapa judul yang kebetulan Aira sudah punya semua. Jadi buat yang masih punya dan berminat menjual atau yang tau dimana masih dijual atau yang punya pengaruh luar biasa terhadap Gramedia dan bisa membuat buku ini dicetak lagi, mohon bantuannya! Saya dan Tini akan sangat berterima kasih x)

Tini & Marcel Marlier

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...