Pages

November 28, 2010

Bali, June 2010.

Here's what we did in Bali, back in June. We stayed at this pretty hotel by the cliff, we swam at the pool, and strolled around the hotel. And then we found out about this secluded beach called the Kubu beach. The thing about Kubu beach, you have to go down more than 160 flights of stairs to get there. The hotel staff took us there to check the beach out, and then we could decide if we would like to go down there or not. But once we saw the beach, we were hooked. It was pretty and.. almost empty! I just couldn't resist it. So the staff gave us two bottles of cold mineral water, for supply, he said. The trip down and back up was an exercise, but I would go there a hundred times if I had the chance. It was just like your own private beach. Just us, sandy beach, and the sound of the wave. Heaven.

We also met some friends and ate lost of good food.  Barbecue seafood platter at Echo beach, super brunch at the Corner Shop, and the most delicious Mexican food at Mojo's Flying Burritos, just to name a few. My bestie Ade lived in Bali, so she took us around to all these places with great food. She (planned) to took us to this place called Echo beach for sunset, but we got so lost that we ended up having dinner there. We had to get through small roads in the middle of paddi fields with no lights in Canggu area, but the food was great and we had fun. Then there was also this great place called Mojo's Flying Buritos in Petitenget. I was smitten with the bright colors of the place, and when the food came, oh I fell in love. Thank you miss Ade for taking us around, the get lost part while we were looking for Echo beach was so worthed. Ah, I miss Bali already. :)

Us, by the cliff.


Us, by the sea.


Us, accompanied by good friends & good food.

9 years & 2 kids later.

We never had a honeymoon trip. The only trip that could be considered as a honeymoon was our trip to Novotel Bogor. The place was nice and pretty romantic, but I was 8 month pregnant with Aira. So once again, We never had a honeymoon trip. I had mommy vacation, twice, but not a honeymoon trip. This year that fact has changed. 9 years & 2 kids later, we finally had our some-kinda-honeymoon. It was a short trip, some might call it a weekend getaway, but I stubbornly decided to call it honeymoon, and it was sweet & fun. We met some friends during the trip, but we also had a lot of 'us' moments. I love you hubby, & I love us. :)




Kubu Beach, June 5th 2010

November 25, 2010

The Pads Euphoria

Oke, tulisan yang ini benar-benar untuk perempuan. Perempuan yang lumayan open-minded khususnya. Otherwise, you would go all "EEWWW" and "YUCK". Ini soal feminine pads, atau menstrual pads, not the disposable one.

Saya emang luar biasa parno soal genetalia interna perempuan. Pertama - karena rasanya kita benar-benar gak tau apa yang terjadi disana, kedua - karena kangker serviks adalah pembunuh wanita nomer 1, ketiga - saya ada histori kesehatan soal alat reproduksi ini yang bikin makin deg-deg-an. Sekali waktu saya pernah di-'prospek' soal penggunaan menstrual pads (disposable) yang ada kandungan khususnya, katanya baik untuk kesehatan. Sampai sekarang saya tidak menggunakan pembalut yang dimaksud, tapi presentasi soal pembalut tersebut cukup membuat saya berpikir umtuk mencari alternatif lain selain pembalut yang menggunakan gel, yang selama ini saya pakai. Ditambah lagi perempuan di negara tropis seperti Indonesia yang udaranya lembab tentu tidak asing menggunakan panty liner sehari-hari. Saya juga.

Nah, suatu hari, kemarin tepatnya, saya sedang buka-buka forum The Urban Mama dan menemukan thread tentang reusable menstrual products. Salah satu yang dibahas adalah penggunaan cloth feminine (menstrual) pads, atau singkatnya cloth pads. Yang satu ini menarik sekali. Saya baca thread tersebut dari awal sampai akhir, ada beberapa pilihan produk lain, tapi yang paling saya minati hanya cloth pads ini, yang lain rasanya terlalu hardcore buat saya. Hehehe..

Setelah selesai membaca thread, saya lanjut browsing soal cloth pads, cari-cari review mereka yang sudah pakai. Memang disebutkan kelebihannya adalah environment friendly karena bahannya menggunakan cotton, hemp, bamboo yang semuanya mudah ditanam kembali & tidak perlu pestisida, bisa digunakan bertahun-tahun selama tidak robek, kalupun sudah tidak digunakan akan terurai dalam 1-5 tahun. Secara ekonomi, memang harganya lebih mahal, tapi jadi semacam investasi karena nantinya tidak ada pembelian pembalut bulanan, atau setidaknya akan berkurang. Pastinya juga (katanya) lebih sehat, asal diikuti yang benar cara pencuciannya. Terakhir (katanya) nyaman digunakan juga. Semua ini baru katanya ya, soalnya saya kan baru browsing saja, belum menggunakan langsung. Ternyata salah satu teman dekat saya ada yang sudah pakai cloth pads ini, sedah 3 tahun. Waktu saya protes kenapa dia gak pernah cerita, dia bilang biasanya reaksi orang yang pertama adalah "Eeeeww" dan "Yuck". Bener juga sih, karena memang harus dicuci sendiri.

Dulu teman saya ini beli di Etsy, karena di Indonesia belum ada, jadi harganya lumayan mahal. Sekarang di Indonesia sudah ada, kebanyakan dijual di online shop. Ada yang impor, dan ada juga merk lokal yang sudah bagus. Beberapa yang banyak disebut untuk merk impor adalah Swaddlebees Organic atau Pink Daisy, Fuzzibunz, dan Happy Heinys. Ada juga merk lain seperti Momiji, Charlie Banana, dan Imse Vimse Organic. Untuk merk lokal yang paling kondang ada ZigieZag dan GG Menstrual Pads. Memang kebanyakan adalah merk yang sama dengan merk yang memproduksi cloth diaper untuk bayi, karena memang prinsipnya kurang lebih sama.

Saya cukup menggila waktu browsing produk berlangsung. Biarpun ini menstrual pads tetap saja dilihat-lihat untuk kemudian dibeli, yang berarti window shopping continued with the real purchasing dan saya perempuan. Ini menyenangkan sekali, terutama karena ada tameng 'untuk kesehatan' dibalik kegiatan belanja ini. Ditambah ternyata motihnya lucu-lucu. Ini berkaitan lagi soal insting perempuan, padahal si motif itu nantinya ada di bagian yang gak keliatan, tapi tetep penting untuk memilih motif yang bagus. Hehehe...

Jadi ini dia pilihan saya untuk percobaan pertama: Momiji size medium 1 pad, normal liner 2 pads, Charlie Banana box of 3 (regular pads, pouch included), GG 1 menstrual pad, dan ZigieZag 1 menstrual pad, 2 liner pads.

Momiji Natural




Charlie Banana Feminine Pads





GG Menstrual Pads



ZigieZag Menstrual Pads



Menurut perhitungan saya, saya masih perlu tambahan regular menstrual pads, dan lebih banyak panty liner pads, tapi untuk saat ini cukup dulu. Sekarang saya tinggal menunggu pesanan datang dan mencoba, mencoba untuk lebih ramah terhadap tubuh, lingkungan, dan juga kantong. Nanti saya laporkan lagi gimana hasilnya. :)

Why use reusable pads? http://clothpads.wikidot.com/


November 18, 2010

Cars 2: Official Trailer


Lightning McQueen & Tow Mater are back. 
Aidan would go KUH-RAAA-ZEEEH! x)

November 16, 2010

The Tale 0f Wednesday & Sunday



Take a peek into their closet of bizzare pretty things,
now on Shamrock. See you there! :)

November 12, 2010

Spider Monkeys on Bandung Treetop



Bandung lagi. Iya yang ini adanya juga di sekitar Bandung, tujuan liburan paling dekat dan murah meriah dari Jakarta. Memang sih, setiap liburan Idul Fitri kami sekeluarga pasti ke Bandung, karena Oma saya dan banyak keluarga si Ayah ada di Bandung. Tapi tahun ini, due to Ayah & Aidan being hospitalized episodes, kami gak ke Bandung pada hari kedua lebaran. Kunjungan ke Bandung diundur jadi kira-kira seminggu setelah lebaran.Dan ternyata, keluarga tetangga sebelah juga ke Bandung pada tanggal yang sama, plus kebetulan juga menginap di hotel yang sama. Jadilah kami liburan beramai-ramai dadakan. Berhubung anak-anak rumah sebelah emang geng main Aira, jadi rombongan kecil ini senangnya bukan main. Dari rumah C1 ada Aira dan Aidan, sementara dari rumah B1 ada Aldo, Alee, dan Gaia.

Janjian pergi sama-sama di sana, itu sudah pasti. Persoalannya mau dibawa kemana anak-anak. Tentunya preferably ke tempat yang mereka belum pernah, tapi mengingat semua memang sering ke Bandung, options-nya menjadi terbatas. Setelah melihat billboard di jalan tol dan browsing sedikit, ditemukanlah tempat yang akan dikunjungi: Bandung Treetop Adventure Park. Tempat untuk outbond diantara pohon-pohon pinus. Letaknya tidak sulit dicari, di bumi perkemahan Cikole, Lembang, bersebrangan dengan pintu masuk ke Tangguban Perahu.










Jadi, setelah sarapan di hotel, mobil Trajet pun diisi Bunda Puan, Ayah Teddy, Bunda Santi, Aira, Aidan, Aldo, Alee, dan Gaia. Sementara Abi Temi harus mengantar tante-tante wisata outlet dan kuliner. Sampai di Bandung Treetop kesan pertama yang muncul adalah bersih dan sejuk. Semua peralatan benar-benar dipasang diantara satu pohon pinus ke pohon pinus yang lainnya. Desainnya dibuat natural dengan menggunakan kayu-kayu, sesuai dengan letaknya yang dipegunungan. Setelah membayar harga 95 ribu rupiah per-anak untuk bermain selama 150 menit, anak-anak dipakaikan alat-alat pengaman dan diajarkan cara menggunakannya, karena mereka sendiri yang nantinya akan mengaitkan alat-alat tersebut. Anak-anak bisa juga mulai dari area demo, untuk berlatih menggunakan peralatan yang ada. Ada baiknya mereka menggunakan sarung tangan, agar tidak cepat sakit atau lecet. Kalau tidak bawa, disana juga dijual berbagai sarung tangan.








Ada 8 tingkatan sirkuit disana, dari mini circuit yang palin mudah untuk anak mulai umur 4 tahun sampai black circuit yang paling sulit, untuk orang dewasa. Srkuit-sirkuit ini ditandai dengan warna, dan untuk dapat mencoba suatu sirkuit ada tinggi badan yang menjadi acuannya, atau jangkauan tangan anak, karena semakin sulit sirkuitnya biasanya semakin tinggi jangkauan tangan anak diperlukan untuk memasang pengait, atau beberapa bagian akan sulit dilalui kalau kaki anak tidak cukup panjang. Gaia, karena paling kecil hanya bisa bermain di mini circuit, yellow & green circuit. Aira, Alee, & Aldo bermain di Discovery (green circuit) dan Dancing With Trees (blue circuit). Di blue circuit ini sebenarnya tinggi Aira pas-pasan, makanya di beberapa tempat ia harus dibantu Alee atau pengawas memasang pengait dan di satu rintangan (yang saya sendiri sebenernya gak yakin kalau saya berani juga disuruh melewatinya) Aira sempat menangis, walaupun akhirnya lewat juga. Aldo dan Alee melanjutkan ke purple circuit dan red circuit, sementara Aira yang kali ini benar-benar belum bisa ikut, bermain bersama Gaia di yellow circuit dan green circuit biasa. Di dua sirkuit terakhir yang diikuti Alee & Aldo, rintangannya semakin tinggi dan bikin bunda yang nonton dari bawah deg-deg-serr.
















Untuk anak-anak yang memang aktif dan senang kegiatan outbond, Bandung Treetop benar-benar bisa bikin mereka puas. Waktu yang 150 menit itu juga ideal untuk anak-anak bermain. Kami sudah berancana kalau lain kali kesana lagi, mau bawa bekal nasi dan lauk-nya, karena ada saung-saung yang disewakan. Sekalian outbond juga piknik. Terbukti hari itu selesai main anak-anak kelaparan semua. Udara sejuk + aktivitas outdoor = lapar! :)





for more pics please click here.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...