Pages

Showing posts with label art and craft. Show all posts
Showing posts with label art and craft. Show all posts

November 20, 2013

Star Wars Birthday Party, Behind The Scene

Lagi-lagi tahun ini ulang tahun Aidan jatuh di bulan puasa. Pastinya jadi gak bisa bikin 'pesta' yang seru-seruan, seperti tahun lalu sekedar buka puasa dan main-main saja tanpa mengundang teman-teman. Tapi tahun ini kepingin bikin yang seru untuk Aidan, apalagi ini jadi tahun terakhir dia bersama teman-teman di TKAI sebelum mereka masuk SD yang berbeda-beda. Akhirnya setelah diskusi dengan Aidan, kami setuju untuk merayakan ulang tahunnya setelah lebaran saja.

Tentunya tema yang jadi pilihan Aidan adalah Star Wars. Untungnya lagi Aidan cuma mau undang teman-teman laki-laki yang dekat saja. Jadi saya bisa lebih 'berkreatifitas' dengan budget yang ada. Akhirnya bisa merencanakan dessert table, aktifitas dan goody bag yang seru. Saya minta bantuan Rahmi yang mega kreatif untuk mempersiapkan semuanya. Karena Rahmi juga senang Star Wars, jadi dia ikuta seru mencari ide. Kadang-kadang keseruan malah. Hahaha..

Setelah browsing-browsing mengumpulkan ide dari pesta-pesta Star Wars yang ketemu di internet, ketemulah konsep yang saya inginkan. Memang akhirnya gak semuanya bisa kejadian, tapi 90% sih kejadian. Termasuk meja yang gak terlalu banyak printing apalagi background digital print, dan persiapan aktifitas dan goody bag yang lebih crafty. All in all, saya puas, Aidan senang.

Terima kasih khusus untuk Rahmi yang udah pusing dan ribet membantu persiapannya, the Jedi Master of our Star Wars Party. :)







for more info about custom dessert table, goody bags, and party favor by Bu Rahmi 
please visit instagram pesta_party



May 08, 2013

Workshop In A Box : Photo Display



We joined another session of Workshop In A Box. By 'we' I mean Aira, my cousin Anti, and myself. The theme was photo display, which could be very practical. We made a photo snow globe, accordion photo book, and a french photo display. My favorite was the french photo display, since I always wanted to have one. Now I can just make it myself. :)
















February 17, 2013

It's another gift wrap!



Sebelumnya saya sudah pernah post tentang membuat gift wrap sendiri dari kertas koran. Kali ini, di suatu akhir pekan yang membosankan, saya bersama Aira dan Aidan kembali membuat pembungkus kado. Bukan dari kertas koran lagi, tapi dari amplop coklat besar yang sudah tidak terpakai. 

Ada banyak amplop besar semacam ini di rumah, biasanya bekas dokumen si Ayah. Amplop besar ini kemudian saya potong sehingga bisa dibuka menjadi satu lembar kertas coklat besar, atau dibagi dua menjadi dua lembar kertas coklat ukuran sedang. Kemudian saya biarkan Aira dan Aidan berkreasi dengan cat air atau cat akrilik yang diencerkan diatas kertas coklat tadi. Kami mencoba beberapa cara. Salah satunya dengan menggunakan sikat gigi yang dicelup ke cat dan kemudian digesekkan ke sisir sehingga menimbulkan bercak-bercak cat. Kemudian kami coba cara lain, dengan meneteskan cat keatas kertas dan kemudian ditiup dengan sedotan hingga menyebar. Cara kedua ini ternyata yang lebih disenangi Aira dan Aidan. Gak lama mereka sudah asik meniup-niup cat warna warni diatas kertas coklat. Setelah selesai, kertas coklat tinggal dijemur dan kemudian bisa digunakan untuk membungkus kado.









Ide lain yang bisa dilakukan untuk membungkus kado adalah dengan memanfaatkan amplop coklat, baik yang sudah dihias cat maupun yang polos, kemudian tambahkan kertas doily sebagai aksen yang juga bisa ditulisi ucapan, kemudian ikat dengan benang. :)


December 17, 2012

Nostalgia Pasar Seni

Dulu, waktu saya masih kecil, saya ikrib banget sama Pasar Seni Ancol. Mulai dari berbacai acara lomba anak-anak yang diadakan disana, sampai yang sekedar jalan-jalan saja di akhir pekan sama Mama dan Aweng. Memang dulu itu kayaknya hits banget bikin acara anak-anak di Pasar Seni, yang paling sering sih yang diadakan oleh sanggar yang saya ikuti, Sanggar Kreatifitas Bobo. Tapi diluar acara-acara tadi, Pasar Seni juga jadi tempat tujuan (rutin) keluarga kami. Dulu ada beberapa teman Aweng yang punya kios disana, salah satu yang saya (mudah-mudahan gak salah) inget adalah kios keramik milik Oom Indros. Waktu itu kan belum kayak sekarang ini dimana kelas art & craft banyak dimana-mana, sementara saya senang sekali membentuk-bentuk tanah liat. Jadilah kalau kami ke Pasar Seni, saya hampir selalu ditinggal di kios keramik tadi, dengan seonggok tanah liat yang bebas saya bentuk-bentuk, sementara Mama dan Aweng jalan-jalan. Nanti hasil karya saya ditinggal disana untuk dibakar, lalu kami ambil lagi saat kunjungan berikutnya. Saya senang sekali. Saya selalu menikmati kunjungan-kunjungan kami ke Pasar Seni Ancol, tampat tersebut selalu berkesan teduh dan santai di ingatan saya. Lalu Ancol bertambah padat, begitupula jalanan Jakarta yang semakin tidak ramah. Maka kunjungan ke Pasar Seni pun semakin berkurang, sampai akhirnya belum tentu dalam 2-3 tahun kami kesana.

Nah, tahun lalu, Creative Art Studio tempat Aira menggambar, ikut serta dalam Ancol Artfest. Setiap anggota Studio boleh ikut memamerkan karyanya. Aira, Alee, dan Gaia ikut memamerkan karya mereka. Setiap karya diberi judul dan boleh diberi harga jika memang ingin dijual. Maka di hari Minggu saat Artfest masih berlangsung keluarga B1 dan C1 pun berkunjung ke Pasar Seni Ancol. Waktu kami sampai sana masih belum terlalu siang dan Pasar Seni masih lengang. Kami pun langsung mengunjungi kios yang digunakan oleh Creative Art Studio dan melihat-lihat. Children's art always always always fascinated me. Saya senang sekali melihat warna-warni dan imajinasi yang memenuhi setiap sudut kios tadi. Sementara Aira foto-foto dengan bangga di samping karyanya dan melihat-lihat karya anak-anak lain, Mister Aidan kenalan dengan beruang-beruang recycle karya Kak Nasya. x)

















Tentunya kami tidak lalu langsung pulang, kami berkeliling Pasar Seni dulu. Sebenarnya memang ada yang saya cari, seniman silhouette Pak Priadji. Saya punya silhouette saya kecil karya Pak Priadji dan saya ingin membuat untuk Aira dan Aidan, tapi saya tidak ingat lokasi kios beliau. Untungnya ternyata kios Pak Priadji lokasinya mudah, kami melewatinya ketika kami mulai berkeliling. Langsung saya meminta beliau membuatkan silhouette Aira dan Aidan. Agak lupa berapa biayanya, sekitar 100-125 ribu sebuah kalau tidak salah, sudah diberi bingkai. Aira bisa duduk manis selama Pak Priadji menggunting kertas hitam menjadi siluet, sementara Aidan harus dipangku saya dan diumpani dengan games di tablet. Hahaha.. Pastinya mereka terkagum-kagum melihat hasil akhir siluet karya Pak Priadji.









Gaia, Alee, dan Aldo pun tertarik, tapi hanya Gaia yang dibuat siluet-nya, sementara Alee dan Aldo minta dibuatkan gambar karikatur mereka. Kami jadi lama duduk-duduk di kios Pak Priadji, sementara hari mulai tambah siang. Beruntung ternyata sedang ada festival kuliner Jogja juga disana. Akhirnya sambil  menunggu kami makan siang kuliner Jogja, mencicipi sate klathak khas Imogiri yang ditusuk dengan jeruji besi. Enak luar biasa. Anak-anak yang kemudian sudah selesai berpose untuk Pak Priadji dan selesai makan siang pun mulai gak bisa diem. Saat kami masih bolak-balik mencoba berbagai kuliner Jogja yang lain, mereka mulai lari-larian di area kosong di tengah Pasar Seni, lalu main petak umpet, padahal di bagian tengah itu kan tidak ada pohonnya dan gak perduli matahari yang tambah kinclong. 







Setelah semua kenyang, puas lari-larian dan membawa karya Pak Priadji, kami pun perlahan berjalan menuju parkiran, sambil tetap melihat-lihat kios-kios atau pameran yang kami lalui. Setelah entah berapa tahun gak ke Taman Seni, ternyata saya tetap menikmati kunjungan ke tempat itu. Walau matahari terik, pohon-pohon yang rindang tetap membuat Pasar Seni terasa teduh dan suasana disana rasanya tetap sama seperti dulu, tidak banyak yang berubah, santai. :)







LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...