February 01, 2010

Lunch with Mister Aidan

Dulu, waktu baru ada Aira, saya sering jalan-jalan berdua dengan Aira. Berdua saja, tanpa suami saya, tanpa baby-sitter. Semakin Aira besar, semakin mudah acara jalan-jalan berdua. Tidak perlu stroller dan bawaan juga semakin sedikit. Tapi setelah Aira masuk SD dan pulangnya tambah siang, kegiatan jalan-jalan ini agak berkurang.

Kemudian datang Aidan. Dengan Aidan, saya lebih nekad lagi. Berhubung anak kedua, jadi sudah lebih pede. Jalan-jalan berdua sudah mulai sejak Aidan usia beberapa bulan. Kadang hanya dengan baby carrier di dada yang berati belanjaan cuma bisa sebatas benda-benda yang tidak dikenakan, kecuali sepatu tentunya. Baju sudah tidak mungkin, karena Aidan mau ditaro dimana waktu ibunya nyoba baju? Hehe.. Makanya saya memilih stroller yang ringan dan bisa dilipat dengan 1 tangan saja, untuk memudahkan acara jalan-jalan ini. Untuk urusan makan, saya beberapa kali memilih untuk beli take away dan makan di nursery room pim 2 setelah beres nyusuin Aidan. PIM jadi pilihan tujuan jalan2 berdua karena paling baby friendly, nursery room-nya ada ruang bersekat yang lengkap dengan sofa dan meja kecil. ;D

Nah, beberapa bulan belakangan ini saya jarang sekali jalan2 berdua Aidan. Alasan pertama, kejar target kuliah, alasan kedua berat badan Aidan. Saya gak sanggup kalo dia tiba-tiba mogok naik stroller dan minta gendong. Aidan yang lumayan berat ditambah saya yang terlalu kurus sepertinya. Tapi hari Jumat yang lalu, saya berdua Aidan pergi school shopping ke TKAI, Cipete. Pulangnya saya memutuskan untuk mampir ke Citos, salah satu tempat yang menurut saya tempat paling tidak baby friendly se-Jakarta Selatan. Berdua saja, tanpa bawa stroller. Karena tidak bawa stroller tadi, saya memutuskan untuk meninggalkan tas Aidan di mobil, karena repot sekali kalau nanti ternyata harus menggendong Aidan.

Jalan-jalan di Matahari berlangsung aman, sampai Aidan melihat display matchbox dan hotweels. Perlu usaha ekstra dari saya untuk mengajak Aidan beranjak dari benda kesukaannya, yaitu dengan iming-iming hal kesukaannya yang kedua, makan. Meskipun setuju, Aidan meninggalkan Matahari masih dengan gerutuan mau lihat mobil. Jadilah saya dan Aidan makan siang di Malay Village, dengan pertimbangan tempat itu pasti menyediakan nasi dan tidak terlalu crowded. Tadinya Aidan menolak makan, mau makan di rumah saja, katanya. Tapi setelah melihat pesanan roti prata & kari saya datang, akhirnya dia menyerah dan minta nasi putih. Sambil menunggu nasi hainam-nya datang, roti prata saya pun jadi korban Aidan. Tapi roti prata langsung dilupakan begitu nasi hainam datang. Aidan makan sendiri sambil diselingi gumaman, "Enaaak," atau "Sedaaaap," disela-sela tiap suap. x)

Makan siang juga berlangsung aman sampai pada saat Aidan tiba-tiba turun dari kursi, membungkuk, dan bilang, "Bunda, aku mau pup." Ooooooh nooooooo....! Saya cuma bisa merayu Aidan untuk tahan sebentar, buru-buru menghabiskan sisa nasi Aidan yang tinggal sedikit, minta bon, dan diantaranya berusaha menjelaskan kepada Aidan yang protes mau melanjukan makan setelah pup (karena melihat nasi-nya saya habiskan) bahwa kita gak bisa meneruskan makan karena gak ada yang jagain meja kita selama di toilet. Lalu 'oooooh noooo...!' yang kedua muncul di kepala saya, tas Aidan ditinggal di mobil. Shoot! Akhirnya setengah berlari bersama Aidan, yang sesekali berhenti di tengah jalan dan jongkok (tau kan, dia ngapain??) saya mampir ke Century, beli pampers dan sabun. Entah si mbak-mbak Century hidungnya lagi mampet atau dia memang sopan sekali, yang pasti dia gak menunjukkan tanda-tanda mencium 'wewangian' yang berasal dari Aidan. Sementara Aidan sibuk pilih-pilih pampers, saya cuma bisa tahan napas. Tapi secara umum acara makan siang berdua Aidan menyengkan sekali, walaupun pas sampai di rumah Aidan minta nasi lagi. Ayo kita jalan-jalan lagi Mister Aidan! :D

Akhirnya datang jugaa..!

Roti prata apa? Ini lebih enak!

Nyam.. nyam.. nyam.. sedaaaapp..

Udah makan, sekarang pup. x)

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...