July 22, 2012

Happy Birthday Mister Aidan!



Happy 5th birthday Mister Aidan! Be brave, be smart, be great. But don't forget to stay silly & quirky. And please please please don't grow up too fast.

Enjoy the Hot Wheels galore, birthday boy! I love you to the moon and back, and to the moon again, and back again. In short, I love you heaps!

July 21, 2012

My Tips on Visiting Belitung Islands

  1. Kalau booking pesawat unruk ke Belitung, pilih kota tujuan Tanjung Pandan. Jangan cari kota Belitung, gak akan ketemu.
  2. Siapkan spare waktu ketika menyusun itinerary. Hanya ada 2 airlines yang melayani penerbangan ke Tanjung Pandan: Sriwijaya & Batavia. Kemungkinan besar jadwal akan delay.
  3. Ketika hendak mendarat di Tanjung Pandan, jangan kaget kalau pesawat seperti bis ngerem mendadak, landasan disana pendek. Tips dari warga Tanjung Pandan yang duduk di sebelah saya di pesawat, ketika mendara ada baiknya tangan menyangga ke kursi depan.
  4. Jangan takut dibilang gak adventurous. Untuk first timer sangat praktis jika menggunakan tour selama di sana.Terutama jika membawa anak-anak. Yang perlu dicermati hanya pemilihan tour-nya saja, pilih yang fleksibel itinerary-nya. Sebaiknya jangan bergabung dengan grup lain.
  5. Kunjungan ke Belitung Timur tidak seseru island hopping, tapi kalau baru pertama kali ke Belitung tidak ada salahnya dilakukan, untuk memperkaya pengetahuan & pengalaman anak-anak.
  6. Jika membawa anak-anak yang gila laut macam kami kemarin itu, luangkan 2 hari untuk island hopping. Hari pertama untuk melihat pulau-pulau yang ada, hari yang kedua pilih saja paling tidak 2 pulau untuk dikunjungi dan main sepuasnya disana.
  7. Alat snorkle untuk anak-anak sebaiknya bawa sendiri, karena kebanyakan snorkle yang disediakan tour ukuran dewasa yang akan kemasukan air jika dikenakan anak-anak.
  8. Terutama untuk balita sebaiknya bawa life vest sendiri yang desain dan ukurannya benar-benar pas untuk anak, sehingga lebih nyaman dikenakan dalam air.
  9. Siapkan banyak air putih dan camilan. Anak-anak harus banyak minum air putih karena matahari yang terik dan aktivitas sepanjang hari. Cemilan pasti dicari anak-anak, habis berenang pasti lapar.
  10. Bawa baju berenang kemana-mana. Bahkan di Belitung Timur pasti akan mengunjungi pantai. Khusus untuk island hopping pakai saja baju renang dari hotel.
  11. Pakai sunblock. Matahari 1 hari di Belitung sama dengan 3 hari di Bali. Relakan anak-anak jadi keling pulang dari sana.
  12. Sabar-sabar menunggu, karena anak-anak lihat pantai sedikit saja pasti akan langsung nyemplung dan berenang.
  13. Jika alergi seafood beritahu tour sejak awal, agar disiapkan ayam untuk lauk anda. Atau paling tidak tempe dan tahu.
  14. Bawa air mineral jika ke toilet. You'll know why when you get there. Tinggalkan uang di kotak iuran di depan toilet, mudah-mudahan uang anda akan membantu perbaikan kualitas toilet di pulau-pulau.
  15. Jika bepergian bersama anak-anak, apalagi dalam jumlah banyak, buat kesepakan 'no iPad policy' dari awal, dan beberapa peraturan essential lainnya. iPad selagi liburan bikin banyak masalah. Percaya deh. 
  16. Jadi wisatawan yang mandiri. Bawa kembali semua sampah, masukkan saja ke dalam kapal atau bawa plastik khusus. Jangan meninggalkan sampah di pulau apalagi dibuang ke laut.


Beach hoppers in action, again!



Another sunny day on the island of Belitung and we were so ready for another beach hopping day. Ritualnya sama, sarapan sambil sudah memakai baju renang dan memakai sunblock, lalu menuju Tanjung Kelayang. Hanya saja hari ini kami hanya akan mendatangi 3 pulau untuk bermain sepuas-puasnya di tiap pulau. Atau tepatnya bermain sepuasnya di 2 pulau, sementara yang 1 lagi karena belum sempat kami datangi sebelumnya. Tujuan kami hari itu adalah Pulau Pasir, Pulau Lengkuas, dan Pulau Kepayang, sambil kembali snorkling di dekat Pulau Lengkuas. Karena pagi tadi Aki dan Ani sudah duluan kembali ke Jakarta, kali ini kami hanya menggunakan 1 kapal ukuran besar.


Hari itu karena hari Sabtu pulau-pulau lebih ramai dari sebelumnya. Kami harus berbagi Pulau Pasir yang kecil dengan beberapa rombongan lain. Untungnya anak-anak lebih tertarik berenang-renang di sekitar pulau, sementara rombongan lain kebanyakan foto-foto di pulau saja.

Sebelum kami ke Pulau Lengkuas pastinya kami berhenti dahulu untuk snorkling. Kali ini saya dan Aidan tidak ikut turun, hanya menunggu di kapal, yang ternyata bukan keputusan yang tepat. Buat Aidan sih gak masalah, dia sibuk cemal-cemil dan minum susu. Tapi hari itu laut lebih berombak dari sebelumnya, jadi kapal yang terombang-ambing ombak rasanya cihuy sekali. Untuk pertama kalinya saya ada gambaran gimana rasanya mabuk laut itu. Hehehe. :p





Di Pulau Lengkuas sedang ramai sekali, banyak rombongan yang menjadikan pulau tersebut sebagai spot utnuk makan siang, termasuk rombongan kami. Setelah tikar digelar di tempat yang teduh, Cikgu menyiapkan makan siang kami. Sambil menunggu makan siang siap, anak-anak pun bebas main di pantai dan laut.








Kami juga mencoba naik ke mercusuar. Untuk naik mercusuar, kita perlu membayar 5000 rupiah perorang, tidak lupa mencuci kaki dulu, agar mercusuar tidak dipenuhi pasir. Untuk naik sampai ke puncak, kita harus melalui 18 tingkat, dengan tangga. Tadinya saya hanya berniat naik sampai setengahnya, karena toh di tiap tingkat ada jendela untuk melihat keluar. Tapi Aira teruuuus naik sampai atas, akhirnya sambil mengatur napas ala pilates (maklum napas anak 11 tahun sama napas ibu-ibu diatas 30 tahun kan beda yaaa..) saya sampai juga diatas. Dan melihat pemandangan dari luar. The view was so worth the 18 stories climb. Aidan kemudian juga menyusul naik ke atas bersama anak-anak kecil yang lain ditemana Tante Yuli dan Bunda Santi. Anak-anak kecil ini lebih gak ada beban lagi naik ke atas. Cuma saya yang agak panikan ketika Aidan ikut keluar, karena gamang tingginya dan anginnya yang kencang. Waktu foto-foto pakai iPhone saja si telpon pintar saya genggam erat-erat, karena seperti mau terbang terbawa angin. Ternyata yang panik memang hanya ibunya saja, Aira dan Aidan super happy berjalan-jalan mengelilingi balkon luar mercusuar, menikmati pemandangan 360 derajat dari Pulau Lengkuas.










Makan siang ikan dan udang bakar plus tumis genjer seperti biasa terasa nikmat, dimakan di tepi laut macam itu. Anak-anak membawa piring mereka ke pantai dan makan sambil duduk diatas batang pohon yang ada disana. Setelah itu langsung kabur lagi untuk main. Kami sengaja membiarkan anak-anak berlama-lama main, karena memang hari itu sengaja tidak mengejar banyak pulau agar mereka puas main.

Hari sudah mulai sore sewaktu kami kemudian menuju Pulau Kepayang untuk melihat konservasi penyu. Aidan dan Fino yang ingin ikut kakak-kakak duduk di bagian belakang kapal tertidur sambil bersandar ke abang Alee. Sesampainya di Pulau Kepayang, anak-anak besar langsung melesat menuju konservasi penyu, sementara anak-anak kecil tertidur di kapal.






Kami tidak terlalu berlama-lama di Pulau Kepayang. Aida yang kemudian bangun menyusul kakak-kakak melihat penyu, lalu kembali ke kapal. Sementara itu kakak-kakak kemudian snorkling di dekat pantai. Karena dangkal mereka bisa snorkling tanpa mengenakan life vest. Aira sibuk mengumpulkan kerang untuk dibawa pulang. Sebelum matahari terbenam kami pun naik ke kapal untuk segera kembali ke Tanjung Kelayang.




Tampaknya anak-anak berat sekali mau berpisah sama pantai dan laut. Di Tanjung Kelayang tidak ada satupun dari mereka yang ikutan kami menikmati kopi tau teh panas dengan pisang goreng. Semua turun kapal langsung masuk ke laut. Main sepuas-puasnya sebelum besok harus kembali ke Jakarta. Perlu extra effort untuk mengajak mereka keluar dari laut, bersih-bersih dan masuk ke elf. Kali ini kami benar-benar sudah harus mengucapkan selamat tinggal ke pulau-pulau Belitung. Bye-bye islands, please please please stay clean and pretty. Please please please people, keep them clean and pretty. We will see you again. Yes, we will.  :D




all pics courtesy of Keluarga B1, C1, C3.

Warung Kopi dan Belitung Timur



Hari ketiga, tujuan kami adalah Belitung Timur. Kota Manggar tepatnya. Hari ini juga Pak Teddy akan pulang duluan ke Jakarta setelah makan siang karena ada meeting. Seperti biasa pagi itu anak-anak kami jejali sarapan dulu di hotel. Lalu kami menuju pemberhentian pertama masih di Tanjung Pandan, sebelum kemudian menuju Manggar. Kami mengunjungu warung kopi Ake.

Manggar memang disebut-sebut sebagai kota 1001 warung kopi, tapi sepertinya akan sulit mengajak anak-anak mampir ke warung kopi siang nanti, maka warung kopi Ake yang sudah dijalani oleh 3 generasi ini menjadi pilihan kami. Iya, warung kopi ini sudah tua, konin yang tertua di Tanjung Pandan. Bangunannya sendiri sudah berdiri sejak 1922, kalau saya tidak salah ingat obrolan dengan pak pemilik warung. Bahkan si ketel yang digunakan sudah berumur 100 tahun. Di warung kopi ini waktu rasanya seperti berhenti. Bangku-bangku dan meja tua yang tidak seragam, tentara dan warga lokal yang duduk bercampur di satu meja, menikmati segelas kopi panas atau telur setengah matang, sambil mengobrol dengan santai. Yang sedihnya, ada kabar bahwa bangunan tua tempat warung kopi ini akan dihancurkan tahun depan, untuk pelebaran jalan. Mudah-mudahan tidak sampai terjadi.









Pagi itu saya memesan kopi, yang seperti juga di daerah dengan latar budaya melayu berarti by default kopi saya datang dengan dicampur susu kental manis. Saya juga memesan telur setengah matang. Enaknya. Pak Teddy, Abi Temi, dan Aki memesan Kopi O, atau kopi hitam. Sementara sisanya termasuk anak-anak memesan teh susu. Setelah puas mengobrol dengan Pak Ake yang ramah dan perut sudah terisi minuman hangat, kami pun memulai perjalanan 1,5 jam menuju Manggar.

Perjalanan di elf menuju Manggar ini salah satu yang paling membosankan bagi anak-anak. Anak-anak yang besar memang bisa duduk dengan tenang sambil mendengarkan musik dari iPod, atau kemudian tertidur. Anak-anak yang lebih kecil ini yang perlu dihibur, supaya mereka tidak bosan dan rewel. Untungnya setelah 1 jam akhirnya kebanyakan dari mereka pun ikut tidur. Di sepanjang perjalanan kami banyak melihat sisa-sisa tambang terbuka yang dibiarkan begitu saja, membentuk lubang-lubang raksasa atau gundukan-gundukan, atau terisi air hujan menjadi danau kecil.  Berbeda dengan pantai indah yang kami lihat kemarin, sisi lain dari Belitung ini terlihat terbengkalai begitu saja.

Tujuan pertama kami adalah Vihara Dewi Kwan Im di daerah Burung Mandi. Lalu kami mengintip pantai Burung Mandi. Pantai ini selayaknya pantai-pantai yang umumnya kita kenal, berombak. Tapi tentunya dalam versi yang belum tercemar, pasir putih dan laut biru. Dengan beralasan ombak yang sedang tinggi dan angin yang kuat, kami berhasil mencegah anak-anak berenang di laut. Jadi mereka hanya bermain-main saja di sekitar pantai. Setelah itu baru kami memasuki pusat kota Manggar untuk makan siang. Ternyata memang tepat jika Manggar disebut sebagai kota 1001 warung kopi. Disini warung kopi bertebaran di sepanjang jalan.















Setelah kami makan siang Cikgu mengantar Pak Teddy kembali ke Airport Tanjung Pandan untuk kembali ke Jakarta. Sementara itu sisa rombongan melanjutkan perjalanan melihat Bukit Samak dan replika SD Laskar Pelangi. Dari atas Bukit Samak yang tinggi kita bisa melihat langsung ke laut yang ada di bawahnya, yang kemudian kami singgahi sejenak sebelum menuju replika SD Laskar Pelangi.

Berkah dari tetralogi novel karya Andrea Hirtata terutama buku yang pertama, Laskar Pelangi, adalah banyak orang yang diperkenalkan kepada Belitung melalui buku-buku tersebut. Apalagi setelah buku Laskar Pelangi dijadikan film dan kemudian juga pertunjukan musikal. Replik SD Muhammadiyah Gantong atau SD Laskar Pelangi ini dibangun untuk keperluan pembuatan film Laskar Pelangi. Letaknya yang diatas bukit berpasir dengan pohon-pohon di sisi-sisinya dan langit biru berawan sebagai latar belakang memang membuatnya menjadi tempat yang ideal untuk foto-foto.





Anak-anak senang berkunjung ke replika SD yang terkenal ini, terutama mereka yang sudah membaca bukunya, menonton film dan musikalnya, seperti Aira, Aldo, Alee. Mereka asik berpura-pura menjadi Laskar Pelangi duduk di dalam kelas, menebak-nebak apakah sepeda rusak yang ada disana ceritanya milik Pak Harfan, pohon yang mana yang merupakan 'pohonnya Mahar'. Sementara anak-anak yang lebih kecil sibuk menelitikakus bohongan yang ada di bagian belakang bangunan. x)








Sekembalinya kami ke hotel rasanya lelah sekali. Tapi malam itu, seperti mlam-malam lainnya, kami dijemput untuk makan malam. Dan tentunya seperti malam-malam lainnya menunya seafood, hanya saja malam ini agak istimewa, rajungan yang dimasak khas Belitung. Siapa yang bisa menolak? Jadi perjalan kami mengunjungi warung kopi, kota manggar, dan SD Laskar Pelangi ditutup dengan berpiring-piring rajungan dan otak-otak ala Belitung.


all pics courtesy og Keluarga B1, C1, C3.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...