August 27, 2012

32

Oh happy day. Got some special things this year. Two special gifts from kakak Aira, cause she bought one of them with her own money, and made the other one by herself. Aidan & Ayah got me something special two. The little guy was a perfect gentleman. He got three things on his mind as birthday gift option. Told the Dad, forced the Dad to go to the mall with him, & ensured the Dad that he got enough money to buy it himself. Of course his money (from his piggy bank) was not enough, but he still wanted to chip in. So the Dad let him. He went to the mall with the kids, and let them drove him crazy while they bickered about which model or which color. And I love him for that.

Aidan tried to woke Pak Teddy at 4 in the morning, to give me my gift. Pak Teddy managed to force him back to sleep & wait for another 2 hours. So at 6 in the morning we had our birthday-gift-in-bed ritual. And then at night we dressed up abit & had a family dinner at Toscana. Thank you for the special day, you guys. I love you so much. :)






August 25, 2012

The Rest of The Bandung Trip














Meet The Siregars

Anyway, tulisan saya yang sebelum ini agak ngalor-ngidul sebenernya. Haha. Awalnya hanya mau berbagi momen lebaran di Bandung tahun ini. Tapi tiba-tiba jadi ingin bercerita tentang keluarga Batak anomali saya. Akhirnya jadi ke tradisi lebaran yang saya ceritakan tadi. x)

Oma saya meninggal tahun lalu. Perlu satu tulisan sendiri untuk bercerita tentang Oma saya. Untuk saat ini cukup sebagai informasi bahwa Oma saya meninggal tahun lalu. Tahun lalu kami masih berlebaran di rumah Oma di Cijerokaso, walaupun terus terang buat saya sedih sekali berlebaran disana tanpa Oma. Karena rumah yang di Cijerokaso itu identik dengan Oma, sementara rumah Setiabudi lain lagi ceritanya (soal kedua rumah ini juga one day akan saya ceritakan). Nah, tahun ini ada yang baru saat lebaran, kami berkumpul di rumah kakak tertua Aweng, Wak Sandi, di daerah Ciumbuleuit. Untungnya di hari ketiga, saya bisa lebih santai karena urusan di keluarga Cicalengka Pak Teddy sudah beres.




Dan hari itu rasanya benar-benar santai. Kami berkumpul (atau bertebaran) di ruang tengah, leyeh-leyeh di karpet, di teras belakang, dan di halaman belakang. Makanan yang lebih berat disajikan di ruang tengah, sementara minuman, siomay, dan sushi di meja-meja yang dipasang di halaman belakang. Iya, ada sushi. Bou Mei, tante saya demo membuat sushi dan siapa saja boleh ikutan membuat. Aira makan sushi tak henti-henti, saya dan Pak Teddy makan semuanya tak henti-henti.













Oh, dan kami bernyanyi. Iya, serius, kami bernyanyi. Harap diingat, kami keluarga Batak anomali yang tidak bisa bernyanyi. Bermain musik iya, tapi tidak bernyanyi. Tapi hari itu Luthfan sepupu saya memainkan keyboard, dan kami bernyanyi - seperti Aira dan sushi, tak henti-henti. Kang Agus, yang kemudian mengunggah foto-foto di Facebook, menggambarkan suasana bernyanyi bersama ini dengan sangat tepat. 

Medley lagu Lemon Tree-Hey Jude-Bintang Kecil-Selamat Ulang Tahun-Obladi Oblada dan sekitar 1407 lagu lainnya. Masih medley, penonton ikut sing-a-long, lagu ke 1299. 

Masih masih medley, penonton masih semagat, pemain keyboard sudah tambah jari 2 buah, lagu ke 1374.

Lalu setelah benar-benar kehabisan lagu (Garuda Pancasila, 17 Agustus juga sudah dinyanyikan), sushi shudah tandas, mulai lah acara foto-foto bersama. Mulai dari sepupus The Siregars (beneran) lalu yang versi plus-plus, plus wajah-wajah Jawa dan Sunda. Yang versi kece dan yang versi kurang kece.








Kemudian versi ninis & akis. Alias yang sudah (lebih) senior, kalau tidak mau dikatakan sepuh. Tapi versi yang manapun, ada satu kesamaan, sepeda. Entah kenapa si sepeda diikutsertakan, padahal menambah nilai estetis pun tidak. Haha.




Tapi ada satu cerita tentang sepeda. Waktu Bou Mei dan Bou Vivi berfoto boncengan dengan si sepeda, (ceritanya) bernostalgia jaman dulu boncengan berdua ke sekolah di Madiun, ternyata ada ceritanya. Dan saya tertawa sejadinya waktu dengar cerita ini. Ini dia cerita Bou Vivi, in her own words: pada suatu hari dimasa lalu ketika remaja, aku pernah dibonceng sepeda olehnya di Madiun, lalu aku turun ngebenerin baju ketika lampu merah, dan dia teru melaju meninggalkanku sendirian. xD


Lalu tiba waktunya sebagian kami pulang. Tapi belum puas foto-foto tampaknya. Akhirnya acara foto pindah ke pagar depan rumah, dengan tripod dan timer agar semua bisa ikut foto.Gaya manis, gara cherrybelle,  gaya tegap lurus, gaya miring, dan gaya-kaget-motor-lewat-di-depan-kamera-pas-timer-nyala. Ternyata bukan hanya sushi dan nyanyi yang tak henti-henti, foto-foto pun tak kunjung usai. x)





Meett the Siregars, keluarga saya yang riang gembira. :)


Pictures courtesy of Kang Agus Soeriaatmadja, Mama Ella, & my phone.
Pictures & captions of sing-a-long session courtesy of Kang Agus.
Story of the bicycle incident courtesy of Bou Vivera Siregar http://ikutikatahatimu.blogspot.com/

Talk The Talk

Bagi yang belum tau, iya, saya orang Batak. Dari pihak ayah, atau sebagaimana saya memanggilnya, dari pihak Aweng (more about this Aweng term later). Tapi keluarga kami bukan Batak biasa. Ayah saya, si Aweng ini, dan semua kakak-adiknya, lahir dan tumbuh besar di Madiun. Kemudian pindah ke Bandung, terus sampai kuliah. Tiga diantaranya kemudian pindah ke Jakarta setelah menikah atau bekerja, yang lain tetap di Bandung.

Jadi kalau lebaran saya mudiknya ke Bandung. Di acara keluarga kami yang terdengar adalah bahasa Sunda. Atau Jawa. Aweng fasih bicara bahasa Jawa, termasuk Jawa halus, dan Sunda pastinya. Kakaknya, Wak Sandi saya memanggilnya, yang istrinya orang Sunda (harap ingat, ini berarti pasangan Batak-Sunda) akan sering terdengar berbicara dengan bahasa Jawa. Sisanya Sunda. Dalam keluarga Batak anomali ini juga hampir tidak ada yang bicara meletup-letup macam orang Batak pada umumnya. Haha. Tapi ada satu kebiasaan atau tradisi yang diterapkan Opa saya, yang mendorong kita untuk  mengutarakan apa yang kita pikirkan atau membagi apa yang kita rasakan dan alami.

Tahu adat Batak dalam upacara menyambut pernikahan, dimana setiap anggota keluarga boleh memberikan semacam wejangan atau nasihat atau doa untuk orang yang akan menikah? Yang mengingat orang Batak senang sekali berbicara, acara ini bisa makan waktu berjam-jam. Nah, di keluarga kami, setiap hari raya Idul Fitri sebelum bersalam-salaman, kami akan duduk bersama, melingkar di karpet, dan setiap anggota keluarga dimulai dari yang paling kecil (ini berarti adik bungsu Aweng dan keluarganya), akan mengucapkan selamat hari raya dan berbicara. Maksudnya bukan hanya mohon maaf lahir batin, tapi boleh bicara apa saja. Misalnya achievement yang dicapai, keinginan, kejadian berkesan, dam sebagainya. Terus sampai yang paling tua.

Waktu saya kecil, acara ini tidak begitu berkesan untuk saya. Anak-anak biasanya boleh tidak bicara, atau hanya sekedar mengucapkan selamat lebaran. Tambah besar saya suka panik menghadapi acara ini, berhubung saya paling gak bisa ngomong, apalagi di depan orang banyak. Jadi saya lebih sering hanya mengucapkan selamat dari raya dan mohon maaf. Tapi saya selalu senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh anggota keluarga yang lain, yang terkadang membuat terharu atau bahkan tertawa. Setelah dewasa saya baru menyadari bahwa saya beruntung di keluarga saya ada tradisi seperti ini, bukan sekedar sungkeman dengan wejangan dari yang tua dibisikkan di telinga kita. Dengan tradisi seperti ini kita bisa tahu lebih banyak tentang apa yang dialami saudara yang jarang bertemu. Walaupun setelah menikah saya jarang bisa hadir bertepatan dengan acara ini, karena harus berbagi jadwal dengan keluarga Pak Teddy di Cicalengka. Tapi bisa bertemu saja, mengobrol hal-hal gak penting sambil makan  santai sudah sangat saya syukuri. :)



August 19, 2012

Eid Mubarak.



Eid Mubarak everyone.
From us, the happy three and one grumpy kid. 
:)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...