January 29, 2012

The Little Museum I Fell in Love With




Namanya Museum Anak Kolong Tangga, dan lokasinya banar-benar di kolong tangga. Kalau sudah pernah mengunjugi Taman Pintar, museum kecil yang satu ini letaknya di jalan samping Taman Pintar, di dalam areal Taman Budaya Jogjakarta. Di Taman Budaya ada gedung pertunjukan di lantai 2 bangunan, nah Museum Anak Kolong Tangga mengisi ruang kecil sepanjang kolong dua tangga menuju ruang pertunjukan. Kecil, tapi baru lihat pintu masuknya saja saya sudah jatuh cinta.







Setelah puas bermain dan belajar di Taman Pintar, kami langsung mengunjungi Museum Anak Kolong Tangga yang memang walking distance dari Taman Pintar. Adik Aidan dan Ayah saja yang tidak ikut. Berhubung Aidan bangun jam pagi sekali, maka siang itu dia ngantuk berat. Ayah menemani Aidan tidur di mobil. Tadinya saya kira 'Kolong Tangga' hanya sekedar nama, based on what - nya saya tidak kebayang. Ternyata karena lokasinya yang memang di kolong tangga.




Museum ini berisi mainan tradisional anak-anak, bukan hanya dari Indonesia tetapi juga dari seluruh dunia. Yang menggagas adala seorang seniman berkebangsaan Belgia yang sudah tinggal di Jogja sejak tahun 1991, namanya Rudi Corens. Belia menilai anak-anak Indonesia sudah mulai melupakan tradisi dan budaya sendiri, termasuk mainan dan permainannya. Beliau lalu bekerjasama dengan Taman Budaya Jogjakarta mendirikan Museum Anak ini sekaligus menyumbangkan seluruh koleksi pribadinya, kurang lebih 900 items. Mainan yang dipamerkan disini mulai dari mainan tanah liat jaman Majapahit, mainan buatan pabrik jaman dulu seperti mobil-mobilan yang masih terbuat dari kaleng, marionet kayu, boneka kuno dan buku-buku anak jaman dulu, dari berbagai penjuru dunia.







Museum ini didekorasi dengan mural warna-warni dengan desain anak-anak, mulai dari pintu-pintunya, dinding, sampai langit-langitnya yang miring di beberapa tempat karena lokasi yang di bawah tangga itu. Selain itu juga ada kios kecil yang menjual mainan-mainan tradisional jaman kecil dulu dan di hall bagian luar juga ada mainan-mainan yang bebas digunakan anak-anak, seperti congklak, egrang, dan lompat karet.





Segala sesuatu tentang museum ini membuat saya jatuh cinta, mulai dari konsepnya, lokasinya yang nyempil, ukurannya yang mungil, dekorasinya yang cerah ceria, dan tentunya segala benda di dalamnya yang membuat saya merasa terlempar ke dunia imajinasi masa kecil dulu.. Aira dan teman-teman juga menikmati kunjungan ke kolong tangga ini. Mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk melihat-lihat di dalam, dan kemudian bermain egrang dan lompat karet, sebelum akhirnya kami keluar untuk makan siang, dengan masing-masing anak membawa oleh-oleh kecil yang dibeli di kios mainan Museum Anak Kolong Tangga. :)






"In my eyes children are innocent & unspoiled, and can always make me laugh. What a pity that today they can't get a good education. Traditional games has scientific and educational values, and moral massages which to this day have been recognized by European people. But how sad that in the past 10 years one plaything has been lost every year" - Rudi Corens (The Jakarta Post : Rudi Corens, Putting Traditional Back in Games)

Museum Anak Kolong Tangga
Taman Budaya
Jl. Sriwedani no. 1
Jogjakarta - 55122
0271- 523512
Tiket: Dewasa Rp. 25.000,- / Anak-anak (sampai usia 15th) gratis

more infos click here and here
more pics click here

January 28, 2012

Taman yang Pintar




Masih jam 10 pagi ketika kami sampai ke Jogja. Gak mau rugi waktu, saya dan si Ayah memutuskan untuk langsung jalan-jalan saja, toh kami baru bisa check in setelah jam 12 siang. Sesampainya di Jogja, kami langsung menuju Taman Pintar dengan mobil sewaan. Disana kami janjian bertemu keluarga B1 yang sudah lebih dulu ada di Jogja. Jadilah kunjungan perdana rombangan dua keluarga ini adalah Taman Pintar Jogja. Sebagai perkenalan rombongan kami, di keluarga C1 ada saya (Bunda Puan), Pak Teddy (Ayah), Aira, dan Aidan. Di keluarga B1 ada Santi (Bunda Santi), Temi (Abi), Alee, Aldo, dan Gaia.










Taman Pintar ini serupa dengan Museum Iptek di TMII, hanya saja lebih menarik, walau belum sampai level Singapore Science Center. Di beberapa bagian memang terlihat kalau sponsor merupakan bagian penting dalam pelaksanaan Taman Pintar ini, tapi setting-nya masih oke, semacam sponsor-sponsor di Kidzania saja.

Taman Pintar dibagi menjadi beberapa bagian, Playground, Gedung Memorabilia, Gedung Oval-Kotak, Gedung PAUD Barat, dan Gedung PAUD Timur. Sepertinya sekarang ini mereka sedang membangun gedung Planetarium. Kalau sekedar ke area Playground saja pengunjung tidak harus membayar. Pengunjung baru perlu membayar tiket jika masuk ke dalam gedung, Rp. 15.000,- untuk dewasa dan Rp. 8.000,- untuk anak (Gedung Memorabilia + Gedung Oval-Kotak). Dan berhubung ini adalah Taman Pintar, yang dianggap anak adalah sampai kelas 2 SMA. ;D





Pertama kita akan diminta memasuki Gedung Memorabilia yang berisi memorabilia Keraton Jogja dan Presiden Indonesia, kemudian baru memasuki Gedung Oval-Kotak yang isinya wahana dan alat peraga berbasis sains. Nah di dalam gedung ini nih anak-anak mulai berlarian kesana kemari, melihat dan mencoba berbagai alat peraga. Akhirnya kami yang besar-besar berbagi mengawasi anak-anak, karena si kakak-kakak dan si adik-adik tentu minat yang ingin dilihat dan dicoba berbeda-beda. Kami janjian bertemu lagi di Playground luar, karena rute di dalam gedung akan 'memaksa' pengunjung untuk melewati setiap bagian gedung dan akhirnya kembali lagi ke area Playground di luar.








Di beberapa bagian Taman Pintar memang terlihat kurang baik perawatannya. Tidak sampai buruk, tapi kalau lebih terjaga perawatannya pasti Taman Pintar akan lebih keren lagi. Anak Indonesia harus pintar dalam segala hal, termasuk pintar menjaga kebersihan dan pintar dalam menggunakan fasilitas umum. Overall, kunjungan kami ke Taman Pintar seru dan menyenangkan. :)

Taman Pintar
Jl. Penambahan Senopati 1-3
Jogjakarta 55122
Indonesia

Another Trip to Jogja



Kami jarang sekali jalan-jalan saat liburan akhir tahun. Mungkin karena hujan yang biasanya terus-menerus turun di penghujung tahun, sehingga kata 'jalan-jalan' jadi terdengar kurang appealing. Tapi tahun ini kami jalan-jalan. Di awal tahun lebih tepatnya. Akibat godaan keluarga tetangga B1 yang akan pergi ke Jogja dan tiket murah yang kami dapat di Garuda Travel Fair. Daaan.. karena sudah lewat tahun baru kami juga dapat harga harga yang oke sekali di Melia Purosani Jogja. Maka pergilah kami (dan keluarga B1) ke Jogja. Yayness!

Kami di Jogja selama 4 hari dan ternyata 4 hari di Jogja tidak cukup. Padahal karena sebelumnya kami sudah pernah kesana, beberapa tempat tujuan yang dulu sudah kami kunjungi tidak kami kunjungi lagi. Keraton, misalnya. Tapi toh ternyata masih banyak sekali tempat yang belum sempat dikunjungi, karena saya dan Santi yang ditugasi menyusun itinerary harus mengkombinasikan acara jalan-jalan dan acara main dan berenang di hotel yang pastinya dinikmati anak-anak. Jadilah hasil kompromi tadi adalah kunjungan ke Taman Pintar, Museum Anak Kolong Tangga, Candi Borobudur, Magelang, Gunung Merapi, Parangtritis, dan Toko Coklat Monggo di Kota Gede. Tentunya dilengkapi dengan belanja kaos di Dagadu untuk kakak-kakak, jalan-jalan di sepanjang Malioboro, dan makan-makan makanan khas Jogja yang enak-enak nan murah.

Bisa dipastikan kami akan kembalui lagi ke Jogja. Karena masih ada Candi Prambanan, Candi Mendut, Istana Ratu Boko, Pantai Sundak, Pantai Indrayanti, Museum Ullen Sentalu dan berbagai museum yang belum sempat kami kunjungi. Percaya deh, kalau berkunjung ke Jogja gak akan kehabisan tempat tujuan. I heeaarrrtt Jogja. :D






LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...