January 13, 2013

Easy-made Cheesecake Bars



It was a gloomy morning that welcomed me when I woke up on Saturday. By default I knew that it was going to be a lazy day, but I craved for something sweet and slutty, like a cake or something. It was a breezy day, a good day to do some baking. So I browsed for a simple recipe, since I don't like complication when it comes to cooking or baking, and I found this perfect recipe of Slutty Cheesecake Bars on Baker Royale. Here's my version of the recipe, there's some alteration that I did on the ingredients due to availability & the measurement since I used larger pan. I love the result, just perfect for a lazy gloomy day at home. :)



Ingredients:
- 1 pack of ready-made cookie dough (of course I was too lazy to make my own, so I used the ready-made from Betty Crocker)
- 1 egg + butter if you used Betty Crocker cookie dough like me
- 16 Oreos
- 500 gr cream cheese
- 1 cup sugar
- 1 egg
- 1,5 teaspoon vanilla extract

Topping:
- 2 bags of Chic-choc chocolate
- 6-8 Oreos

How:
  1. Heat oven(I only used the bottom heat & low top heat), line pan with a foil sling, grease lightly with butter
  2. Prepared the cookie dough, roll out in the pan using your fingers approximately 1 cm thick, bake until crisp
  3. Place the 16 Oreos on top of the cookie crust
  4. To make the cheese filling: place cream cheese, sugar, egg & vanilla, in a bowl, beat until blended. Pour the mixture over Oreos.
  5. Sprinkle chopped Oreos and Chic-choc on top. Bake for about 30-40 minutes
  6. Remove from oven, cool completely & put into freezer for a couple of hours before cutting.




There's a reason these are called Slutty Cheesecake Bars. Hello, look at the piling going on: chocolate chip cookie crust, cheesecake filling stuffed with Oreos and then topped with more Oreos and crushed Whoppers. So, yeah, we are pretty much looking at a bar that contains, 2 type of cookies, cheesecake and candy - slutty for sure. ~ Bakers Royale


January 07, 2013

Killer Breakfast, Dexter Style.



In my opinion, Dexter opening sequences is one of the best ever, the song included. And I had been obsessed with Dexter's kind of breakfast for a while now. A couple of days ago Pak Teddy and I finally prepared our breakfast Dexter style. Of course there was some alteration, since we don't eat pork and bloody orange, the kind of orange used by Dexter, couldn't be found in Jakarta. I figured that the meat on the scene was either pork chop or ham, so we used thin cut of beef sirloin steak instead. Bloody orange replaced by sunkist orange, and we used the only kind of coffee that available at home, grinded Italian. I used a press pot to make the coffee, of course. The easiest part had to be the egg. Add some sauce, and  there you go, a killer breakfast, Dexter style.

              










January 06, 2013

Puan Sepeda



Bagi yang belum tau, saya (dahulu) mahasiswa. Iya, dahulu. Berhubung sejak tanggal 4 Januari 2013 saya alhamdulillah sudah dinyatakan lulus *cepetan kerjain refisi atuh*. Bukan proses yang cepat memang. Masuk tahun 2005, lulus tahun 2013. Kalau dihitung kira-kira 7 tahun sampai akhirnya bisa mendapatkan gelar S.Pd di belakang nama saya, walaupun pastinya tidak akan saya pajang itu gelar. Bukan apa-apa, hanya rasanya tidak perlu, bagi saya pribadi memasang gelar di belakang nama itu tanggung jawab. Lagian,  tanpa dipajang pun nama saya memang sudah ada S.Pd.-nya: S(i).P(uan)d(inar). See? x) 

Jadi begini, setelah lulus SMA, saya yakin seyakin-yakinnya kalau saya mau kuliah Sastra Jepang. Saya daftar UMPTN dengan pilihan pertama Sastra Jepang UI dan pilihan kedua Sastra Jepang UNPAD, plus D3 Sastra Jepang UI, yang sebenarnya adalah yang paling saya inginkan. Yang mau menampung saya rupanya D3 Sastra Jepang UI, yang saya yakin sekali sekarang bahwa sole purpose saya berkuliah disana selama 3 tahun adalah untuk mempertemukan saya dengan sahabat-sahabat Japonica saya, termasuk Syarin dan Ade. Karena saya struggling untuk dapat menguasai Bahasa Jepang, dan nilai saya selalu pas-pasan. Gak pernah sampe gak lulus satu mata kuliah memang, tapi gak membanggakan juga. Sementara untuk mata kuliah paket yang kami dapat jika berkuliah di D3 Sastra (yang jadi pilihan saya paket periklanan), nilai saya cukup baik, antara A dan B. Jelas ini salah jurusan. Tapi saya lulus, diwisuda di Balairung UI, foto dengan latar belakang gedung rektorat UI. Sah lah pokoknya. Tapi apa kemudian ilmunya dipakai bekerja? Jawabannya tidak. Saya sadar sesadar-sadarnya saya bukan tipe orang yang bisa kerja kantoran. Apalagi setelah itu saya punya Aira, komitmen saya adalah untuk tidak kerja 9 to 5, dan Pak Teddy tidak keberatan. Saya menikmati mengurus Aira di rumah, tidak ada tekanan atau minder apa pun menjadi ibu rumah tangga di usia yang muda, sementara beberapa teman memulai karir mereka.

Kemudian Aira masuk TK, sudah tidak ditunggui lagi. Saya mulai blingsatan, gak ada kerjaan. Tapi tetep gak mau kerja kantoran. Kemudian setelah proses berpikir cukup lama, saya sadar kalau yang saya inginkan adalah belajar lagi. Dan dunia anak-anak maupun parenthood menarik perhatian saya. Saya sempat berpikir untuk belajar di PGTK, tapi kemudian saya dapat info mengenai jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, atau versi kece-nya: Early Childhood Education, di Universitas Al-Azhar Indonesia. Setelah diskusi dengan Pak Teddy, dan didukung sepenuhnya, saya pun mendaftar kesana. Ternyata eh ternyata, sebagai alumni Al-Azhar saya dapat diskon lumayan untuk uang pangkal. Iya, saya keluaran Al-Azhar dari TK sampai SMA. TK dan SD di Al-Azhar Kemang, SMP dan SMA di Al-Azhar 2 Pejaten. Mampir di UI selama 3 tahun, lalu kembali lagi ke asal, Kuliah S1 di Universitas Al-Azhar. x)

Itu tahun 2005. Saya benar-benar menikmati proses kuliah saya di UAI. Sepertinya kali ini saya ambil jurusan yang benar. Lalu saya hamil Aidan, jadi lagi-lagi saya kuliah sambil hamil. Saya baru cuti setelah melahirkan Aidan, Pas banget, Aidan lahir setelah saya selesai final test, saya libur 1 semester jadi ASI eksklusif bisa mudah, kemudian baru kuliah lagi. Resikonya memang harus bisa belajar atau ngerjain tugas sambil ngurus anak, kadang-kadang malah satu tangan gendong Aidan untuk disusui, satu lagi ngetik paper. Akibat lainnya saya jadi banyak kuliah dengan angkatan 2006, dan akhirnya akrab dengan mereka. Kuliahnya tambah seru lagi, mata kuliah kesenian dan permainan termasuk diantaranya. Bayangin aja ngerjain tugas bikin board games, atau ngarang tarian. Paper tentang manfaat bermain, ujian bikin kolase atau ujian suling. Kuliah selalu dengan gembira ria, kan tujuannya mendalami dunia anak usia dini. Lalu masa kuliah diakhiri dengan praktek mengajar di TK dan SD Al-Azhar. Saya dan dua orang teman, Rika dan Feby, memilih untuk melaksanakan praktek kami di Al-Azhar Bintaro (soal ini ada ceritanya sendiri). Praktek selesai maka waktunya mengerjakan skripsi.

Skripsi ini musuh bagi saya. Kalau dilihat lagi ke atas, ada alasannya kenapa saya ingin kuliah D3, khususnya sastra. Karena tidak ada skripsi. Selesai PKL, ujian lulus, selesai. Dan saya tidak mau mengerjakan skripsi karena saya tidak mau sidang. Saya tidak mau sidang karena saya tidak bisa bicara di depan orang banyak. Karena itu saya sendiri agak terkejut ketika saya memutuskan untuk ambil S1, tapi waktu itu saya pikir ya sudahlah, skripsi dan sidang dipikirkan nanti saja ketika waktunya tiba. Dan waktunya akhirnya tiba juga. Bagaimanapun saya mau berdalih bahwa yang saya inginkan adalah ilmunya, bukan gelarnya, tapi kuliah ini harus diselesaikan, karena ini komitmen yang saya ambil ketika saya memutuskan untuk kuliah lagi. Rasanya saya berhutang pada Pak Teddy, Aira, dan Aidan yang waktu saya bersama mereka harus dibagi dengan waktu untuk kuliah dan tugas-tugas. Dan saya merasa harus menunjukkan ke anak-anak saya bahwa ketika sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, berarti kita harus bertanggung jawab terhadap segala komitmen yang menyertainya. Jadi, si skripsi harus dikerjakan, sidang harus dihadapi.

Saya perlu waktu lama untuk memilih topik yang memang saya inginkan dan menyusunnya. Ditambah terlalu banyak distraction yang saya pilih untuk tidak saya hindari. Hahaha. Iya, jujur memang saya yang memilih untuk ter-distracted. Dan sepertinya saya tidak suka menulis yang disuruh-suruh, yang kayak gini senengnya mepet deadline. Kalo belom kepentok belom dikerjain. 2 tahun, 4 semester. 1 semster 1 bab. Serius. Jadi sebenarnya bukan masalah saya tidak bisa mengerjakannya, karena setelah akhirnya saya bisa fokus, si skripsh*t ini akhirnya selesai hanya dalam waktu 4 bulan. Dan saya tidak asal-asalan mengerjakannya, saya tahu persis apa yang saya tulis. Tidak canggih luar biasa memang isi penelitiannya, tapi dekat dengan kehidupan dan hati saya, dan ke-4 responden saya dengan cara mereka masing-masing menginspirasi saya.


Jadi, tanggal 4 Januari kemarin saya akhirnya sidang, diantar Pak Teddy yang sengaja cuti. Mules macam mau melahirkan sudah bukaan 8, yang ternyata tanpa alasan. Meski pembimbing 2 saya tidak bisa hadir karena sakit, Pak Dekan sang pembimbing 1 ada, ditambah 2 orang penguji yang memberi banyak masukan demi pebaikan skripsi saya. Dan saya pun lulus, alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk Pak Fides dan Bu Erika untuk bimbingannya dalam proses pengerjaan skripsi saya, terima kasih untuk kesabarannya menghadapi saya yang kadang ada kadang hilang dari kampus, terlalu banyak hibernasinya. Terima kasih untuk Pak Teddy yang mendukung saya untuk kuliah lagi, yang tidak (terlalu) banyak komentar karena kita sama-sama kuliah 7 tahun. Terima kasih untuk Aira dan Aidan, yang sering ditinggal-tinggal kuliah dan gak ditemani main karena Bunda harus ngerjain tugas. Terima kasih Bu Ade dan Neng Syarin yang kupingnya sering dipinjam untuk mendengarkan keluh kesah saya. Terima kasih untuk Mama dan Aweng untuk doa-doanya, khususnya Mama yang skripsi ini terselesaikan karena hendak dipersembahkan untuknya.

Lalu, selama 1 hari saya menikmati dan pamer S.Pd yang ada di belakang nama saya. Kemudian si gelar saya simpan, simpan di hati saya. Bagi saya gelar bukan sekedar untuk dipajang di belakang nama, dalam undangan pernikahan misalnya, tapi untuk mengingatkan saya atas apa yang sudah saya capai. Dan saya bangga dengan apa yang (akhirnya) saya capai. Alhamdulillah tahun 2013 diawali dengan baik. Nah, sekarang, ada yang perlu jasa penulis freelance? Artikel tentang anak atau keluarga? Atau art and craft mungkin? Atau ada yang mau dibantu menyiapkan program pendidikan AUD? Atau ada yang mau pesan bento box? Sila hubungi saya. :)

Regards,
Puan Dinar Aifa, Sepeda.

January 01, 2013

Typical NYE

New year's eve never really excite me. I mean, I never gone for the big celebration. I always prefer to spend my new year's eve at home. Most of the time just barbecued with the neighbors out on our street, while the kids ran around, burned some fireworks and enjoyed the free fireworks show courtesy of the people of Pangkalan Jati and around.

This year wasn't so different. Another round of fun barbecue, but this time spent at my cousin's place. So this is the highlight of my new year's eve: food, kids, babies, and cousins. Oh and spidermen too. Happy new year everyone. Have a great year ahead. :)










LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...