July 13, 2010

The Jakarta Explorer


Like I mentioned before, we're on staycation. Yang berarti ada waktu 4 minggu yang harus saya isi agar si kakak Aira gak guling-guling karena bosen di rumah. Minggu pertama saya terselamatkan Goelali Festival. Aira ikut 4 workshop disana. Plus minggu pertama itu Aira sempet janjian berenang dengan teman-temannya & si ayah ngajak nonton Toy Story 3. Minggu kedua, saya terselamatkan oleh kedua nenek yang rebutan ingin rumahnya diinapi si cucu. Nah minggu ketiga ini Aira mulai guling-gulingan (baca: bosan). Mengingat kemampuan membaca-nya yang tergolong cepat, ke-4 novel hadiah dari Ayah sudah selesai dibaca, dibaca ulang, dan dibaca ulang sekali lagi. DS tidak lagi menarik, tetangga teman main lagi pergi berlibur semua.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengajak Aira 'melihat' Jakarta. Kenapa? Saya punya impian membawa anak-anak saya melihat berbagai tempat di Indonesia & di dunia, tapi masak tempat-tempat yang di Jakarta aja belom pernah? Apalagi waktu kecil, saya cukup beruntung si mama & aweng sering mengajak saya keliling Jakarta, dan saya juga sering ikut aweng motret di beberapa tempat di Jakarta (in case you were wondering, Aweng is how I call my dad). Jadi saya sudah familiar dengan Taman Ismail Marzuki, Museum Nasional, Fatahillah, dan beberapa museum tua lainnya, bahkan museum bahari yang ada di tengah-tengah pasar ikan. Saya pernah ikut aweng naik ke menara Masjid Istiqlal, ke pelabuhan Sunda Kelapa, dan daerah kota tua Jakarta. Saya juga sempat merasakan naik bis tingkat.

Start: Transjakarta Shelter, Ragunan
Akhirnya pada suatu hari yang (untungnya) berawan, saya & Aira pun pergi meng-eksplor Jakarta. Perjalanan kami dimulai dari shelter transjakarta di Ragunan. Berangkat dari rumah jam 9 pagi dan shelter Ragunan sudah kosong dari orang-orang yang mau pergi ke kantor, tidak sampai 1 jam kami udah sampai di tujuan, halte Ratu Halhari. Aira duduk manis sambil mendengarkan i-pod, yang waktu saya intip memutar lagi Belle of the Buelevard-nya Dashboard Confessioanal. Oh man, anak saya hampir ABG. :p







1st Stop: 40 Years Journey of Senirupa IKJ ExplorARTion
Tujuan pertama, Taman Ismail Marzuki. Waktu tempuh, tidak sampai 10 menik naik ojek dari halte Ratu Halhari. Rencana awalnya adalah melihat pertunjukan di Planetarium, yang gagal dilakukan karena ternyata pada hari kerja khusus diibuka hanyak untuk group. Pengunjung perorangan baru bisa menonton pada jam setengah 5 sore atau sepanjang hari di akhir minggu. Untungnya saya sudah diberitau guru gambar Aira kalau minggu itu di TIM ada berbagai exhibition para pengajar IKJ dan mahasiswa dalam rangka ultah IKJ yang ke-40. Awalnya Aira gak begitu tertarik, karena agak pundung gak jadi nonton di Planetarium, tapi akhirnya dia senang juga lihat-lihat semua yang di pamerkan di halaman gedung & di dalam Galeri Cipta 3. Turis lokal pun beraksi foto-foto, lengkap dengan topi, ransel, & kamera di tangan. x)













Ini hasil jepretan Aira, beberapa hal yang caught her eyes. :)





Lalu tiba-tiba hujan turun lumayan deras waktu saya & Aira sedang menuju gedung Galeri Cipta 2 untuk melihat hasil karya mahasiswa IKJ. Disana ternyata juga sedang diadakan workshop komik & ilustrasi serta workshop melukis. Sebenernya diperuntukkan murid SMU dan masyarakat umum di usia SMU keatas, tapi ternyata Aira boleh ikut & mahasiswa yang memberi arahan juga ramah sekali. Tadinya Aira gak mau, sepertinya gak pede karena yang lain sudah besar-besar, tapi akhirnya dia mau juga setelah dijelaskan dia cukup perlu menggambar seperti biasanya, tidak perlu 'ala' orang dewasa. Jadilah sambil menunggu hujan reda Aira ikut workshop, tidak dipungut biaya, dapat alat gambar yang boleh dibawa pulang, dan dapat konsumsi. :D






Setelah hujan reda & Aira sudah kenyang, sekarang giliran bunda yang makan. Soto betawi H. Ma'ruf. Masih enak, tapi rasanya tidak seistimewa dulu waktu saya masih kecil. Mungkin karena semakin besar semakin banyak juga soto betawi enak yang pernah saya coba.



3rd Stop: Masjid Istiqlal
Karena masih gerimis, taksi menjadi pilihan transportasi untuk menuju pemberhentian berikutnya. Masjid Istiqlal. Sampai disini, bunda baru sadar kalau lupa nge-charge batre kamera. Kamera die, dan tugasnya dilanjutkan oleh blackberry. Harap maklum untuk penurunan kwalitas gambar, blackberry saya gak ada blitz-nya, mesjid Istiqlal agak gelap, & tidak ada matahari diluar.

Saya memang sudah merencanakan untuk sholat dzuhur di Istiqlal, makanya sudah bawa mukena dari rumah. Saya & Aira masuk dari gerbang yang tepat di seberang gereja Katedral. Menitipkan sendal & sepatu, ambil air wudhu, lalu naik keatas. Pelataran luar di tingkat atas masih basah karena hujan, kami lalu sholat di hall utama di depan mimbar. Saya sudah bertahun-tahun gak pernah ke istiqlal, Aira malah belum pernah. Saya lupa betapa besarnya masjid Istiqlal. Kami seperti turis beneran, setelah sholat sibuk foto-foto dan keliling-keliling. Tapi lantai ke-4 & seterusnya dikunci, jadi hanya bisa naik sampai lantai3. Saya berusaha menjelaskan sejarah masjid itu ke Aira sebisa-bisanya, intinya masjid Istiqlal salah satu yang terbesar di asia tenggara & arsiteknya adalah orang Nasrani plus letaknya yang bersebrangan dengan Katedral kurang lebih merupakan inti pelajaran PMP (jaman saya SD dulu) atau Sosial (jaman Aira sekarang SD), yaitu kerukunan umat beragama. Di masjid Istiqlal orang Nasrani boleh masuk, kami melihat 2 turis asing keliling ditemani petugas masjid, mereka memang diminta memakai gamis yang disediakan disana, tapi tetap diizinkan masuk dan diberi berbagai penjelasan.













4th Stop: Kantor Pos Pusat
Setelah masjid Istiqlal, sebenarnya saya tidak ada tujuan lain, sebelum menuju pemberhentian terakhir dan kemudian pulang. Tapi kemudian saya ingat ada Kantor Pos Pusat yang (harusnya) ada di dekat Istiqlal. Maklum, saya buta arah kalau di daerah pusat. Akhirnya saya tanya petugas di pintu keluar masjid & diberi penjelasan: "keluar, belok kanan, nyebrang, ikutin pinggir gereja, nah adanya di belakang gereja,". Oke, jadi saya & Aira keluar, jalan kaki ke kanan sedikit, foto-foto di depan gereja, menunggu Aira mengagumi arsitektur luar gereja, menyebrang jalan sambil menjerit-jerit kecil (karena gak ada zebra cross di sekitar situ & jalanan super ramai) menyusuri pinggir gereja, melewati sekolah Santa Ursula (bener kan, itu Santa Ursula?) dan sampai di Kantor Pos Pusat.





Aira pertama kali itu melihat yang namanya bis surat. Selama ini dia kira kotak yang ada di pinggir jalan itu namanya kotak surat dan mobil pos keliling adalah bis surat. Dia juga kelihatan skeptis waktu saya terangkan kita tinggal masukkan surat ke dalam bis surat, nanti petugas pos akan mengambil. Dia sepertinya gak yakin surat yang masuk kedalam situ bisa selamat sampai tujuan. ;D

Di dalam kantor pos sekarang sudah ber-AC, lumayan buat mendinginkan badan sebentar. Aira mau mengirim kartu pos, tapi ternyata sudah beberapa lama pos & giro tidak menerbitkan kartu pos lagi. Jadi saya membeli kartu pos di kios tukang jualan minuman yang ada di dalam, walaupun tulisannya 'BALI' tapi Aira cukup senang. Dia tujukan buat adik Aidan di rumah. Isinya apa saya tidak tau, karena ditutupin tangan sama Aira. Saya beri Aira Rp. 2000,- dan saya suruh ke loket untuk membeli perangko. Sekali lagi dia keliatan skeptis, "Emang cukup segini uangnya?". Mbak petugas di loket ketawa dengernya, memanggil Aira & meminta memperlihatkan tujuan kartu pos-nya, menerima uang dari Aira, memberikan perangko adan kembalian Rp. 500,- lalu menunjukkan kotak untuk memasukkan surat. Pengalaman pertama buat Aira yang mungkin taunya hanya e-mail, hari itu Aira diperkenalkan dengan snail-mail, menempelkan perangko dan memasukkan kartu pos-nya ke dalam kotak bertuliskan 'Jakarta Selatan'. Masih kedengaran dia bergumam, "Sampe gak ya?" x)

Satu lagi yang menarik di kantor pos pusat adalah Perangko Pribadi. Saya pernah membaca entah dimana kalau kita bisa mencetak perangko dengan foto kita. Ternyata memang benar, di kantor pos pusat ada layanan tersebut. Saya mendatangi satpam, bertanya & dan ditunjukkan ke konter untuk mempuat perangko pribadi. Saya pikir ini menyenangkan sekali untuk anak-anak, selain diperkenalkan dengan kantor pos, memiliki perangko dengan foto mereka sama serunya dengan foto di photo-box. Tapi disini kita harus bawa foto sendiri untuk di-scan petugas. Untung di dompet saya ada pas foto Aira yang bisa dipakai. Nanti foto tersebut akan di cetak diatas kertas perangko yang sudah ada template-nya. Perangko ini nantinya bisa benar-benar dipakai. Harganya mulai dari 20 ribu sampai 45 ribu, tergantung ukuran & nominal perangko. Aira senang sekali dengan perangko pribadinya. Saya juga senang, karena kantor pos ternyata seru juga & petugasnya sangat membantu serta ramah.







5th Stop: Ragusa Es Italia
Setelah transjakarta, ojek, taksi, & berjalan kaki, sekarang giliran saya & Aira naik bajaj ke Ragusa. Iya, Ragusa, es krim itali jaman dulu yang gak ada matinya. Sudah hampir jam 4 sore dan di hari kerja, Ragusa gak begitu ramai seperti kalau akhir minggu. Saya tergoda asinan juhi & otak-otak yang nangkring di luar, tapi perut masih terisi soto betawi. Akhirnya saya hanya memesan es krim Nougat (saya gak pernah ganti menu sejak kecil) dan Aira es krim coklat. Pak pelayan yang tua masih ada, kasir tua masih ada, foto-foto lama masih ada, wadah es krim dari stenliss, dan air putih gratis. Baskin Robbins? Siapa itu? Ragusa rules! :D




Finish: Transjakarta Shelter, Ragunan
Tadinya saya mau ajak Aira ke Taman Surapati, tapi sudah terlalu sore. Semakin sore transjakarta penuhnya semakin gak bersahabat. Akhirnya saya memutuskan sudah waktunya pulang. Tapi gimana ya, dari Ragusa saya bener-bener buta arah. Yang paling aman adalah naik taksi lagi, ke halte transjakarta dukuh atas, lalu naik ke arah Ragunan. 30 menit sudah sampai Ragunan. Saya & Aira lihat kiri-kanan, si penjemput belum tiba. Akhirnya ada pemberhentian bayangan sambil nunggu dijemput, mobil pick-up penjuat tempe mendoan super enak di pinggir gerbang pembatas busway Ragunan. Aira baru tau kalau tempe yang wujudnya seperti belum mateng itu ternyata enak sekali. Foto-foto lagi, satu-satunya foto yang ada bunda-nya. Lalu si A 80 SS tiba. Kami naik ke mobil & si Ayah bertanya, "How was your day, Kakak?" yang dijawab Aira dengan, "No planetarium, but everything else was super fun! Thanks Bunda." Hidung bunda kembang kempis. :)

Masih banyak tempat di Jakarta yang saya ingin Aira & Aidan lihat. Tapi hari ini saya puas dengan berbagai 'first time' & 'baru tau' yang dialami Aira. I love you little Ace.

Minggu ketiga liburan: aman.



Dan waktu saya menulis entry ini, 6 hari setelah menelusuri Jakarta, kartu pos untuk adik Aidan masih belum sampai ke rumah. ;D

3 comments:

putri said...

Awesome!! Keep exploring and do write bout it yaa..will b my guidance to take my kids experiencing the friendly jakarta someday.. :)) superlike!!

puan dinar said...

always a pleasure to share good things :D

Isabella Angelita Jaya said...

Serunya Aira. Seneng banget pasti punya mama yang suka ngajak jalan-jalan gitu. Aku juga harus jadi mama kayak mamamu nanti ya Aira.
Salam, penulis cerita jalan-jalan dari Surabaya.

http://www.suroboyoku-pek.blogspot.com/

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...