Pages

Showing posts with label home. Show all posts
Showing posts with label home. Show all posts

November 09, 2013

One Pan Pasta & Homemade Patty

This one pan pasta has become our favorite lately. Got the recipe from my friend Kyra, who got it from Martha Stewart's website. The original recipe was so simple and lite, no use of meat in any kind. But then Pak Teddy got back from Papua and brought a whole lot of those big, fresh, sweet Papuan shrimps, so that one weekend I decided to add some into the pan. The result was oh so marvelous. Love it even more! Oh, and because of this particular recipe, I had a new found love of cherry tomatoes. ;)






When there's no linguine around, I just simply used spaghetti. And I also like to replace the salt-pepper with some peperoncino herb, so I get the salty taste from the parmesan cheese. 

That weekend, after I made one pan pasta for breakfast (yes, for breakfast!), I really in the mood for cooking, so I decided to try another recipe, Patty Burger from Annabel Karmell (I copy and post it below). It wasn't exactly Goods Diner's Coffee Rub Burger, but the result was pretty good.



You will need:
1 red onion
1 tbsp olive oil
4 tsp soft light brown sugar
1 tbsp balsamic vinegar
4 sprigs thyme
200 g lean minced beef
40 g fresh breadcrumbs
1 egg yolk
2 tbsp milk
1 tsp soy sauce
salt dan pepper
sunflower oil for frying

How:
1. Peel and chop the onion into small pieces. Heat the oil and gently cook the onion for 8 minutes or until it's soft. Stir in the sugar and balsamic vinegar.
2. Turn up the heat and cook, stirring, for 2 minutes until onion caramelizes (the sugar on it turns light brown). Stir in the thyme. Then transfer the mixture to a bowl and leave to cool.
3. Add the beef, breadcrumbs, egg yolk, milk, soy sauce, salt and pepper, mix everything together lightly so the burgers stay soft and moist when they cook.
4. Divide the beef mixture into four servings. Roll each one into a ball, then flatten slightly into a burger shape. Cover and chill in the fridge.
5. Oil a frying pan lightly, and cook the burgers over a low heat for 4 to 5 minutes each side.

November 30, 2011

Art Display

Waktu berkunjung ke Ikea beberapa bulan yang lalu, saya sempat membeli beberapa benda yang akan saya gunakan bukan untuk fungsinya yang sebenarnya. Misalnya Bygel rail dan Bygel container plastik warna-warni yang saya pasang di dekat cermin di kamar untuk menyimpan asesoris saya, dan saya pasang lagi di dekat meja belajar Aira untuk menyimpan pensil, spidol, dan alat tulis lainnya.

Saya juga membeli Deka curtain wire & clips yang kemudian saya gunakan sebagai art display. Hasil karya Aira & Aidan tentunya. Sudah agak lama saya mencari ide untuk memajang karya-karya mereka. Karya Aira di tempat les gambar memang bisa di bingkai, tapi tentu tidak semuanya, belum lagi hasil karyanya yang lain, yang bukan berupa gambar atau lukisan. Hasil pekerjaan Aidan di sekolah juga banyak, yang sayang kalau hanya menumpuk di dalam kotak. Mulai dari softboard sampai papan akrilik yang dipasang di dinding sempat jadi alternatif cara, tapi kemudian saya melihat Deka curtain wire di katalog Ikea dan kemudian membeli sebuah.

Sekarang karya-karya Aira & Aidan sudah berjejer rapih tergantung di curtain wire macam jemuran. Aira & Aidan senang sekali bisa pamer karya kalau ada yang berkunjung. Terkadang juga ada kartu ucapan buatan Aira ketika saya ulang tahun atau waktu lebaran kemarin. :)

November 14, 2011

Organizing Art Supply

I love cute & colorful storage stuff that meant to help you organize things in your house. I bought lots of them, you would think I'm a neat person. Wrong. I tend to pile things around the house. In my mind I piled them for later storage, but the truth is, I would let them piled for weeks before I finally did the actual organizing.

I love art supply. I have lots of them. Mine & the kids'. Well, mostly it was mine & Aira's. I bought boxes to keep them too, but somehow they still cluttered around the house. I keep some in my room, some in Aira's room, & some in the living room, so I still need to check around the house if I'm looking for something. So I've been thinking to turn our never-been-properly-use-because-it-was-too-small-for-our-car garage as an art & craft area. Where we can do all our art & craft project, or my (hopefully, soon enough, I'm crossing my fingers) sewing project. And of course, where I can storage our art & craft supply.

It will be a long term project, I know. But me being me, I had started browsing for art supply organizing ideas & I stumbled upon some cool stuff. Check them out! :D






pic 1 taken from http://katherinemaries.com/
pic 2 & 5 taken from http://www.ohdeedoh.com/
pic 3 taken from http://familyfun.go.com/

October 28, 2010

Come to My Home

originally posted on facebook, July 31, 2009

Dulu, di rumah Opa-Oma saya di jalan Setiabudi Bandung ada foto sebuah rumah bergaya pedesaan Eropa. Di gambar rumah tersebut tertera tulisan yang kira-kira (karena saya lupa kalimat tepatnya gimana) intinya begini : It takes hands to build a house, but only hearts can build a home. Gambar itu sudah ada disana seumur-umur saya berkunjung ke rumah Setiabudi. Tapi saya baru bisa membaca tulisannya setelah saya bisa membaca, mengerti apa arti tulisannya setelah saya bisa bahasa inggris, dan memahami maksudnya bertahun-tahun kemudian.

Ini rumah saya. Dari segi desain bangunan jauh dari tipe ideal saya. Dan berhubung dibeli dari developer (yang kurang meyakinkan), kualitas bangunan dan pembagian ruang juga masih jauh dari ideal. Tapi saya dan si ayah sebisa-bisanya membuat rumah ini nyaman buat kami sekeluarga. Diisinya pelan-pelan. Pelaaaaan-pelaaaaan bangeeeet malah. Ditambah berhubung kualitas yang tidak ideal itu tadi, pengisian rumah jadi terhambat karena ada kebutuhan untuk benerin hal-hal kecil yang rasanya muncul melulu. Ada aja yang harus dibenerin. Sigh.

Tapi rumah ini lokasinya oke. Lokasi ini yang sebenarnya jadi faktor utama dibelinya rumah ini. Tidak di pinggir jalan, tapi gak jauh juga kalo harus keluar jalan kaki untuk cari angkutan umum. Masih di Jakarta Selatan, kalau menolak disebut sudah masuk teritori Depok. Hehehe.. Daerah Pondok Labu, tapi belum sampe Cinere, jadi belom kena macet gila-gilaan disana. Akses keluar masuk masih tergolong mudah, walaupun harus ngelewatin Pasar Pondok Labu yang macetnya gak bisa ditebak waktunya, tapi masih ada beberapa jalan alternatif.

Rumah saya ini ada di kompleks Town House wannabe yang namanya Pangkalan Jati Residence. Hanya ada 16 rumah disini. Penghuninya berusia kira-kira sama (walaupun saya dan si Ayah masih tetep yang paling ‘kecil’) dan punya anak-anak yang sepantaran juga. Disini saya tenang membiarkan Aira & Aidan main di jalanan dalam kompleks. Karena tertutup pagar kompleks dan ada satpam juga.

Ada satu yang istimewa dari rumah saya (atau komplek saya) ini. Disini saya punya tetangga. Dari kecil saya gak pernah punya tetangga. Maksudnya yang sepantar dan bisa diajak main. Jadi saya buahagia banget waktu disini Aira bisa dateng ke saya dan bilang kalo dia mau main ke ‘rumah tetangga’. Hahaha.

Bukan itu aja, tetangga disini juga istimewa. Kita sering bikin barbeque di kompleks (biasanya kalo si Ayah pulang dari Papua bawa ikan & udang). Waktu barbeque ini anak-anak bisa main & lari-larian di jalan sampe jam 12 malem (bapak-bapaknya bisa jauh lebih lama lagi – nongkrong, bukan lari-lari pastinya). Barbeque nya di pinggir jalan kompleks, bukan di rumah. Disini si Ayah juga bisa ngobrol di rumah tetangga sambil ngopi sampe pagi. Saya tenang, karena walaupun gak di rumah, tinggal teriak dari balkon, si Ayah udah nyaut. Disini juga saya bisa nemuin tetangga yang waktu liat saya dan si ayah mau jajan karena lagi gak masak, maka si tetangga akan nawarin untuk makan malem di rumahnya aja. Udah jarang kan ketemu yang kayak gitu di Jakarta? Disini juga, kita warga sekompleks suka janjian untuk pergi bareng-bareng, terutama untuk kegiatan anak-anak. Sepanjang liburan kemarin aja entah berapa kali Aira janjian sama tetangga, nonton, holiday program, ke museum, naik kuda, ke kampung maen, belom lagi yang sekedar main layangan di kompleks atau ritual berkunjung ke rumah tetangga setiap malem selama liburan (saya menyebut kegiatan jalan-jalan rame-rame ini PRJ kidsclub Big Day Out, yamg jadi EO adalah ibunya, bergantian). Saya juga bisa dengan tenang nitipin Aira untuk les gambar sama si ibu tetangga dan rencananya malah mau sama-sama les berenang sama anak-anak kompleks. Malahan kalau kebetulan lagi keluar kota ke tempat yang sama, saya dan si Ayah suka janjian ketemu untuk makan atau sekedar ngopi.



Adik Aidan paling betah di rumah. Kalau si kakak bisa nginep berhari-hari di rumah kakek-nenek, adik Aidan jangankan nginep, main seharian aja kadang-kadang udah nangis minta pulang. Dia punya ‘geng bayi’ sendiri disini. Yang kalo pagi-pagi masih dijemur dan sore-sore di dorong keliling kompleks pake stroller atau tricycle. Kalau kakak Aira, sumber kebahagiaan dia di rumah ini adalah punya kamar sendiri. Sejak hari pertama pindah dia udah langsung tidur sendiri di kamar, tanpa ditemani. Aira juga seneng banget baca buku di kursi balkon kamar saya pagi-pagi kalau lagi libur.

Kalau saya? Saya senang membuka jendela di pagi hari. Saya senang mencium bau seprai yang baru diganti dan bau rumah yang bersih karena baru dipel. Saya senang mencium bau makanan yang sedang dimasak. Saya senang mendengar salam si kakak waktu dia pulang dari sekolah. Saya senang menyiram adik Aidan dengan selang di halaman belakang. Saya senang disambut si kakak dan si adik di pintu rumah kalau saya pulang kuliah. Saya senang mengantar si ayah dan kakak berangkat di pagi hari. Saya senang mendengar kunci rumah dibuka waktu si ayah pulang. Saya senang membuka pintu rumah lalu menghirup nafas dalam-dalam mencium bau rumah saya dan mengucapkan salam setelah pergi beberapa hari. Saya senang melihat wajah si ayah waktu dia tidur di bantalnya sendiri, di tempat tidurnya, di kamarnya, di rumahnya sendiri setelah pergi dinas berhari-hari. Saya senang punya rumah sendiri.

Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun saya paham makna tulisan di gambar di rumah Opa-Oma saya. Saya paham kalau as a house this building has many flaws, kalau rumah saya ini sebagai ‘house’ dan didasari ego saya maka rasanya masih jauh dari ideal. But as a home I couldn’t possibly ask for more. It’s just perfect.

Home, the spot of earth supremely blessed,
A dearer, sweeter spot than all the rest.

~Robert Montgomery


Every house where love abides

And friendship is a guest,
Is surely home, and home sweet home
For there the heart can rest.
~Henry Van Dyke


There is a magic in that little world, home; it is a mystic circle that surrounds comforts & virtues never known beyond its hallowed limits

~Robert Southey

P.S: Toss buat all the great neighbours of PJR! Let's have more fun! :D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...