February 26, 2011

Mister Aidan di kampus Bunda

Bunda harus ke kampus, perpanjangan skripsi untuk yang kedua kalinya. Perpanjangan ini sudah diperkirakan akan terjadi sejak tahun 2005, yaitu saat pertama kali bunda mulai kuliah lagi. Jadi, pada hari Jumat kemarin sepulang sekolah Aidan, saya dan Aidan langsung meluncur naik taksi ke kampus saya, Universitas Al-Azhar Indonesia, di kompleks Masjid Agung Jakarta. 

Aidan selalu senang diajak ke kampus, begitu juga kali ini. Awalnya dia kira akan diajak ke UI Depok, jadi Aidan sudah sibuk minta diajak naik bis kuning. Waktu tau ternyata yang dituju adalah kampus yang satu lagi, Aidan berubah haluan, sibuk minta diajak pulang naik Transjakarta. Bunda setuju, walaupun rute-nya agak memutar, asal si mister senang.

Di kampus, tempat pertama yang dituju adalah biro akademik, untuk menyelesaikan urusan bayar membayar dan mengambil KRS. Disana juga kami janjian bertemu teman kuliah saya, si pengantin baru - Neng Rika. Baru setelah itu menuju Fakultas Psikologi & Pendidikan, untuk mengisi KRS dan minta tanda tangan PA dan Kaprodi.. Apa daya, sampai sana ruangan kosong, Pak Dekan (yang juga PA saya) dan Pak Kaprodi lagi rapat, baru kembali mendekati waktu sholat Jumat, sementara saat itu baru jam setengah 11. Akhirnya kami harus menunggu. Aidan mulai mencari hiburan, mulai dari main game di iPod sampai foto-foto sama tante Rika, yang pada awalnya dia panggil sebagai 'temennya Bunda'. Tante Rika yang jadi model, Aidan jadi fotografer-nya. Sampai akhirnya tante Rika nawarin coklat ke Aidan, iPod yang tadinya gak mau dilepas, langsung tergeletak di meja dan coklat langsung disamber. Satu Aidan saja cukup untuk buat kebisingan di ruang fakultas saya.


Mendekati sholat Jumat, bapak-bapak yang ditunggu muncul juga. Saya menemui Pak Dekan dengan deg-degan, pertama dia dekan, kedua dia pembimbing skripsi saya dan saya sudah MIA dalam urusan skripsi beberapa bulan terakhir. Tapi rupanya lain halnya dengan Aidan. Begitu masuk ruangan Pak Dekan, dia langsung ngajak salaman sambil bilang, "Hey pak guru-nya Bunda, namanya siapa? Aku Aidan" dan berikutnya mereka mengobrol. Aidan pamer sertifikat dari Taman Lalu Linta yang baru dia terima dari sekolah, yang berlogo polisi asli, dan dia sebut sebagai 'surat dari polisi'. Pak Dekan betanaya Aidan cita-citanya apa, yang dijawab dengan, "Aku mau jadi penyetir mobil rumah sakit, kalo ada orang sakit, aku yang anter." Aidan senang, saya selamat. x)

Bukan hanya Pak Dekan, Aidan juga ngobrol sama Guru Besar Psikologi Islam di kampus saya yang bertanya apa Aidan bisa main sepak bola dan dijawab, "Aku bisanya tendang bola kayak Gerrard, tapi aku suka Liverpool kayak Ayah," yang konteksnya kurang jelas sebenernya. Haha. Juga ibu-ibu dosen dan ibu-ibu meja sebelah waktu kami menunggu sholat Jumat usai sambil makan bakso. Terakhir adalah Kaprodi saya, yang ditodong nyanyi sama Aidan.

Aidan : Pak Guru bisa nyanyi gak? Nyanyi dong, aku dengerin.
Pak Kaprodi : Bisa dong, Lagu Apple. Tau gak, lagu Apple?
Aidan : Gak tau.
Pak Kaprodi : Apple-langi-pelangi alangkah indahmuuu... *harap maklum*
Aidan: Itu lagu pelangi-pelangi tau!

Tapi korban paling pol memang Tante Rika, yang semoga setelah ini gak kapok ketemu Aidan. Mulai dari dipanggil sambil teriak-teriak, disuruh jadi model, disuruh ngeliatin adik bayi yang katanya ada di dalam perut, sampe membuat topeng kertas dari kertas bukti pengisian KRS yang merupakan hasil dari nunggu di kampus berjam-jam. Jadi, atas kesabarannya saya dan Aidan mengucapkan banyak terima kasih untuk Tante Rika. :D




Jam 2 kurang selesai juga urusan di kampus, saya dan Aidan pun menuju halte Transjakarta untuk pulang. Tapi ketika melewati kolam air mancur yang ada di depan kampus, topeng kertas Aidan terbang terbawa angin dan masuk ke kolam. Masih bisa diselamatkan sebenarnya, tapi tentunya sekarang si topeng jadi basah. Ini sempat mengakibatkan pemandangan berupa seorang anak gendut duduk di pinggir kolam sambil meratapi topengnya yang basah. 




Aidan baru berhenti menangis setelah perhatiannya teralihkan kepada hydrant merah menyala yang ada di dekat situ. Setelah hydrant selesai dipelajari, kami melanjutkan berjalan menuju halte.


Saya sempat merayu Aidan untuk naik taksi saja, berhubung udara lumayan panas, tapi ditolak si pak boss. Jadilah kami mengantri di halte yang penuh untuk naik Transjakarta menuju halte transit Dukuh Atas. Rute ini dipilih agar perjalanan di dalam bis lebih panjang, atas permintaan Aidan. Bis yang mienuju Ragunan tidak penuh, Aidan bisa duduk di paling depan dan dia senang sekali. Kami turun di halte Departemen Pertanian dan disini saya sekali lagi menawarkan Aidan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan naik taksi, dan sekali lagi ditolak, Aidan mau naik angkot. Jadilah perjalanan panas diteruskan lagi, kali ini di dalam angkot 61 jurusan Cinere. Sampai di tempat yang terdekat dengan rumah, kami turun. Kalau saya sedang sendirian, biasanya saya jalan kaki, karena jaraknya tidak jauh, tapi karena Aidan udah tambah ngantuk, saya menawarkan naik ojek saja, dan ditolak, Aidan mau naik becak. Maka pada hari itu, kami menggunakan hampir semua transportasi umum yang ada di jakarta, taksi, Transjakarta, angkot, dan terakhir becak.



Bisa dipastikan sampai di rumah kantuk Aidan sudah hilang. Selesai mandi dan makan sore, dia sudah heboh keliling-keliling kompleks dengan sepeda. Tidak masalah buat saya, karena pada jam 6 sore, Aidan sudah bersih-bersih, masuk ke kamar, dan semua kebawelan hari ini terhenti. Begitu kepalanya menyentuh bantal, Aidan langsung tertidur. Semoga mimpi indah Aidan. :)


No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...