March 26, 2011

The Twilight Confession #1

Hari ini saya akan buat pengakuan. Mungkin sudah basi topiknya, tapi biar saja. Saya membaca Twilight. Ya, Twilight yang ceritanya tentang gadis bernama Bella Swan yang jatuh cinta pada Edward Cullen si vampir yang konon berwujud dan bersuara bak malaikat, yang kemudian ditaksir oleh (Bella maksudnya, bukan Edward) serigala jadi-jadian bernama Jacob Black. Iya, Twilight yang konon akan menyingkirkan serial Harry Potter-nya J.K. Rowling.

Jadi begini, saya punya 2 kelemahan kalau soal buku. Pertama, saya mudah tergoda cover buku yang menarik, dan saya suka sekali sama cover buku Twilight, those pale hands holding a shiny red apple, just pretty. Kedua, ada masanya saya ingin membaca, tapi malas, jadi saya akan memilih buku-buku yang ringan dan menghibur. Nah, waktu itu, tahun 2008, diumur 28 tahun dan sudah punya 2 anak, saya terkena cacar air. Ini berarti 2 minggu di karantina di dalam rumah, lebih spesifik lagi: di kamar kakak Aira, tidak boleh ketemu siapa-siapa. Jadi hiburan saya hanya buku dan koneksi internet. Hubby berbaik hati membelikan buku titipan saya, dan pilihan saya jatuh ke Twilight. Kenapa? Karena saya ingin bacaan yang ringan dan mengibur & cover buku ini terlihat menarik di deretan buku yang ada di situs Goodreads. Maksud saya, di situs tersebut Twilight masuk dalam kelompok best book ever, best young adult books, best book of the decade, dan seterusnya. Walaupun setelah itu baru saya perhatikan kalau Twilight dan seri-seri berikutnya juga masuk dalam kelompok the worst books of all time, books I regret reading, & popular books that annoy you. 

Jadilah saya membaca Twilight. Terus terang saya tidak bisa bilang kalau saya tidak terhibur oleh buku ini, walaupun saya juga tidak bisa bilang kalau ceritanya brilian. Buat saya Twilight hanya another love story. Maka karena itu saya kaget juga begitu tau ternyata buku ini dianggap fenomenal di dunia, khususnya Amerika dan bahkan di sampul belakang buku Breaking Dawn yang merupakan seri terakhir dari Twilight Saga ada quotes dari USA Today yang bunyinya, "Move over, Harry Potter," Lalu, terutama setelah film-nya keluar, bagi saya Twilight jadi semakin overrated. Terutama soal dibanding-bandingkan dengan Harry Potter. Seriously, people? Apa yang mau dibandingin? 

Ada satu review Twilight di Goodreads yang menurut saya cukup tepat untuk menggambarkan isi buku ini:

Save your time: here's the entirety of Twilight in 20 dialogue snippets & wiggedy-wack intermission.

First 200 pages:
"I like you, Edward!"
"You shouldn't! I'm dangerous!"
"I like you, Edward!"
"But I'm dangerous!"

Next 50 pages:
"I'm a vampire!"
"I like you, Edward!"
"But I'm a vampire! I'm a dangerous!"
"I like you, Edward!"

Next 100 pages:
"I like you, Edward!"
"You smell good, Bella. I'm dangerous!"
"I like you, Edward!"
"Damn, you smell good."
"I like you, Edward!"
"Also, I glow in sunlight."

Next 50 pages:
A. VAMPIRE. BASEBALL. GAME.
(I wish I was kidding)

Last 100 pages:
"Help me, Edward! I',m being chased!"
"I'll save you!"
"Help me, Edward! I'm scared!"
"I'll save you!"
"Oh, Edward!"
"You smell good."

Yah, begitu kira-kira inti dari Twilight. Pertama kali wujud Edward dilukiskan sebagai angelic atau godlike, mungkin masih terdengar romantis, tapi tidak lagi ketika diulang-ulang terus di sepanjang buku. Seperti juga perdebatan soal siapa yang lebih cinta pada siapa. Gah. Buku selanjutnya juga gak jauh-jauh dari ini, bahkan (in my opinion) semakin mengada-ada. Entah itu dalam hal alur cerita maupun fakta-fakta mengenai vampire dan werewolf. Jika di beberapa bagian buku pertama bisa ditemukan hal-hal ajaib, seperti soal vampir yang berkilau jika terkena sinar matahari, maka di buku-buku berikutnya, New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn, akan semakin banyak bermunculan hal-hal yang membuat saya mengernyit ketika membacanya. Iya, saya membaca New Moon, pembelaan saya adalah saya masih terkarantina akibat cacar dan berharap New Moon juga akan menghibur saya (sebagai love story, bukan sebagai epic saga). Iya, saya masih menyiksa diri dengan membaca Eclipse, yang baru selesai dibaca 6 bulan kemudian karena saya mulai bosan dan prosesnya disela dengan membaca buku lain. Tapi saya benar-benar tidak mampu membaca Breaking Dawn. Saya berhenti di bab kedua. Review yang kurang lebih sesuai dengan pendapat saya ada disini. Vampir bisa punya anak? Saya ulang, seriously, people? Seriously, Stephenie Meyer? Sudah cukup vampir dibuat sparkling di siang bolong, tak bertaring, dan bermata emas, tapi bisa punya anak juga? Tampaknya Stephenie Meyer ingin Bella mendapatkan semuanya, mulai dari mas vampir yang ganteng sampai si bayi vampir, tapi juga tidak kehilangan Jacob si serigala jadi-jadian. Dan ternyata Bella juga punya kekuatan super yang bisa mengalahkan kelompok vampir yang seharusnya paling kuat sedunia. Senang sekali jadi Bella.

Mungkin saya tidak akan terlalu memperhatikan kekonyolan Twilight dan sekuel-sekuelnya kalau saja orang-orang tidak membanding-bandingkannya dengan Harry Potter (Yes, I'm a die hard Potter fan). Dan lagi, vampir adalah salah satu karakter fantasi supernatural yang sejak kecil saya gemari ceritanya. Oh, how I miss the old melt in the sun, stake to the heart, sleeping in the coffin kind of Vampire. The old Anne Rice's Interview With The Vampire, the classic Bram Stoker's Dracula. Vampires are supposed to be all dark & bad-ass, not a sparkling glittery guy.


1 comment:

Kencana said...

"Save your time: here's the entirety of Twilight in 20 dialogue snippets & wiggedy-wack intermission."

Thanks. Ini bikin ngakak.
Saya mah bosen baca novel pertamanya. Baru separuh saya baca, udah didrop.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...