March 29, 2011

The Twilight Confession #2

Ada alasannya mengapa saya membuat tulisan soal buku-buku Twilight setelah sekian lama mereka diterbitkan. Karena saya hendak menulis tentang film-nya. Soal buku saya hanya bisa menulis sebatas yang saya ingat saja berhubung sudah cukup lama dan tidak tuntas pula dibacanya, tapi soal film-nya saya ingat cukup banyak.

Ya, mungkin saya lebih bodoh dari keledai, karena dengan sukarela dua kali jatuh ke dalam lubang yang sama. Saya menonton film layar lebar Twilight, di bioskop. Awalnya begitu saya dengar Robert Pattinson akan memerankan Edward, saya pikir ini pasti film yang oke-oke saja, mengingat Pattinson yang memerankan Cedric Diggory di film Harry Potter & The Goblet of Fire, dan ya, dia sesuai memerankan Cedric yang ceritanya tampan & pandai. Maka pergilah saya ke bioskop untuk menonton Twilight bersama hubby.


Seperti juga bukunya, film Twilight juga biasa-biasa saja. Another love story, seperti yang sudah saya tau. Tapi yang saya tidak tau adalah bahwa ketika disebutkan vampir memiliki  'kulit yang pucat', Catherine Hardwicke sang sutradara akan mengartikannya sebagai 'kulit putih seperti habis tertimpa sebaskom tepung'. Yes, saya bahkan tak bisa menahan tawa waktu Carlisle Cullen pertama kali muncul dengan make-up super putih dan rambut yang seperti habis disemprot pewarna rambut murahan. Dan mana saya tau kalau si vampir Rosalie yang di buku digambarkan sebagai mahluk paling cantik sedunia nyatanya berpantat besar dan wajahnya biasa-biasa saja, plus memiliki selera berpakaian yang pas-pasan. Kaus kaki panjang garis-garis hitam putih untuk main baseball? Ya ampun. Mana saya tau kalau kalau vampir yang 'sparkling under the sun light' itu maksudnya berkulit glittery seperti drag queen? Seharusnya Summit Entertainment sebagai produsen film mengeluarkan budget lebih banyak untuk membayar make-up artist dan wardrobe yang lebih layak, mengingat film ini sudah pasti akan sukses hanya berdasarkan jumlah penggemar bukunya, atau (yang ternyata) disebut twihard. 

Untuk soal akting, dengan sopan saya akan menyebut akting pemainnya biasa-biasa saja. Walaupun sebagai gadis yang sedang jatuh cinta Bella tidak pernah sekali juga terlihat bahagia. Apa Edward ternyata bau seperti orang tua? Mengingat umurnya yang sudah 100 tahun, mungkin saja kan? Tapi kesalahan terbesar saya adalah menonton film ini di bioskop pada awal-awal masa penayangannya. Dimana bioskop masih dipenuhi ABG twihard yang akan mendesah setiap kali Edward muncul di layar atau mengatakan maupun melakukan adegan yang romantis. Keluar dari bioskop hubby terlihat cukup tersiksa, sementara saya merasa tua sekali. Entah saya yang memang sudah gak mempan dikasih adegan romantis, atau memang film tadi yang terlalu cheesy.


Setelah menonton Twilight, saya, Syarin, & Ade beberapa kali membahas (dan mentertawakan) film ini dan hal-hal yang kami anggap bodoh di dalamnya. Akhirnya, diputuskan kalau kami akan menonton seri-seri berikutnya bersama-sama, karena toh hubby juga sudah berpesan supaya saya cari teman nonton lain saja kalau masih ingin nonton New Moon, Eclipse, & Breaking Dawn. Tentu saja saya (dan Syarin, Ade kami paksa ikut) mau nonton, kami ingin tahu hal apa lagi yang bisa kami tertawakan di film-film berikutnya. Jadi saya sudah lebih siap (baca: menurunkan ekspektasi) ketika pergi ke bioskop untuk menonton New Moon bersama Syarin & Arian. Ade absen.

Kami sengaja menonton belakangan, demi menghindari gerombolan twihard. Tapi ternyata saya tidak selamat, tepat di sebelah saya ada seorang ibu yang menonton bersama anak laki-lakinya yang kira-kira berusia 8-9 tahun. Pertama, menurut saya film ini tidak layak untuk anak seusia itu, kedua, si anak terus bertanya pada ibunya sepanjang film, ketiga, si ibu sibuk membuka bungkus camilan dan mengunyah dengan suara berisik plus ber-bbm-an dari awal sampai akhir film. Ya ampun.

Nah, untuk filmnya, secara kualitas gambar dan efek memang sudah lebih baik dari yang pertama, tapi sisa-nya sama saja. Wig Jacob masih seperti wig di film silat cina, bahkan waktu pertama kali ia muncul, wig-nya miring. Serius! Bella masih memperlihatkan ekspresi wajah yang sama sepanjang film, apakah itu sedang senang, sedih, marah, atau jatuh cinta. Dan Edward masih mengucapkan kata-kata romantis cheesy berulang ulang. Maksud saya kalimat seperti, "Bella, the only thing that can hurt me is you," atau "I couldn't live in the world where you don't exist," atau "You're everything to me." Gaah!

Belum lagi adegan paling konyol dimana Bella jatuh dari motor dan melukai kepalanya, lalu Jacob berlari menghampiri. Apa yang dilakukan Jacob ketika melihat dahi Bella berdarah-darah? Dia buka baju dan memperlihatkan abs-nya. Iya, buka baju untuk melap darah Bella dengan bajunya. Emang gak bisa pinjem baju Bella saja (Bella pakai baru rangkap dua) apa? Terdengar helaan napas beberapa twihard yang ada di bioskop, sementara kami bertiga mendengus menahan tawa. Juga adegan Edward bertelanjang dada di siang bolong. Mungkin bukan salah si pembuat film, karena Stephenie Meyer yang menuliskannya demikian. Tapi masa Edward tidak bisa cari cara yang lebih keren untuk menarik perhatian Volturi supaya ia bisa mati? Seperti menyerang manusia di depan umum misalnya? Apa sajalah, asal bukan memperlihatkan ke seluruh dunia kalau ia berbadan glittery seperti Barbie. Setidaknya beri Edward sedikit harga diri sebelum ia mati.

Yang pasti, entah mengapa menonton New Moon rasanya melelahkan sekali. Syarin bahkan menobatkan Bella Swan sebagai perempuan paling menyusahkan di dunia. Syarin mengutarakan kalau nanti menonton Eclipse, Ade harus ikut juga, agar setelah itu kami bisa membahasnya lagi bersama-sama, yang mendapat komentar dari Arian, "Apa? Masih mau nonton lagi?"


Hubby sudah menyerah di Twilight, dan Arian berhenti di New Moon, tapi saya, Syarin, dan Ade melangkah pasti ke bioskop untuk menonton Eclipse. Kali ini kami juga nonton belakangan, sudah tidak banyak anak ABG, tapi kami duduk di tengah-tengah, diapit serombongan ibu-ibu atau tante-tante yang tampak bersemangat sekali untuk melihat kisah cinta Edward-Bella-Jacob. Dan kemudian terbukti, mereka sama parahnya dengan anak ABG. Mereka mendesah tiap melihat Edward, dan kesenangan melihat Jacob bertelanjang dada. Sekali lagi, ya ampun.

Ada cerita apa di Eclipse? Pada dasarnya Eclipse adalah film yang menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang dimaksud dengan Ababil atau ABG labil. Bella Swan adalah the ultimate definition of that phase. Bingung memilih antara dua laki-laki, seperti tidak ada urusan yang lebih penting di dunia. Sayangnya juga Edward menjadi vampire di usia 17 tahun, yang berarti menjadikannya the eternal ababil. Walaupun bagus juga Bella akhirnya memilih Edward, karena ternyata Edward masih lebih pintar dari Jacob. Kenapa? Di satu adagan, ketika tangan Bella berdarah-darah, Edward cukup pintar untuk tidak membuka bajunya seperti Jacob, tetapi hanya merobek bagian bawah baju luaran Bella untuk membersihkan darah tadi. Di film ini juga, Bella Swan si gadis paling menyusahkan sedunia masih menyusahkan semua orang, seperti di film-film pendahulunya. Bella juga masih hanya punya satu ekspresi saja, Jacob masih terlalu banyak omong seperti perempuan dan kemana-mana bertelanjang dada, sementara Edward masih selalu terlihat seperti sedang sembelit. Ini siapa yang salah, saya juga tidak tau, karena Robert Pattinson di film Remember Me menurut saya aktingnya lumayan. Apalagi yang bisa kita ketahui dari Eclipse? Vampire dan rombongan werewolf suka berdiri berjejer-jejer. Tiap the Cullens atau para werewolf berwujud manusia muncul, mereka akan membuat formasi berdiri berjejer. Oh, dan satu lagi, laki-laki di film ini suka curhat seperti perempuan. Lihat saja adegan percakapan Edward-Jacob di dalam tenda.

Pastinya, kami bertiga terhibur oleh film ini, kalau definisi terhibur adalah berapa kali kami tertawa di sepanjang film. Sampai-sampai para ibu dan tante melirik sebal ke arah kami, dan kami harus menahan tawa hingga yang terdengar hanya dengusan keras. Atau menggeleng-geleng keras menahan diri untuk tidak garuk-garuk layar bioskop. Sampai dengan adegan dimana Jacob hendak menghangatkan tubuh Bella dan ditolak Edward dan kemudian Jacob berkata, "Let's face it, I'm hotter that you." Dan dengusan pun meledak menjadi tawa. Mungkin kalimat itu menjadi puncak dari kalimat-kalimat cheesy nan corny yang harus kami dengar di sepanjang film, sehingga bagi kami, entah kenapa satu kalimat itu bisa membuat kami tertawa keras.

Seperti yang saya bilang di awal, apa kami sudah terlalu tua untuk Twilight Saga? Tapi bukankah para ibu dan tante di samping kami menelan kalimat-kalimat romantis dengan desahan dan wajah menerawang membayangkan mereka yang menjadi Bella? Atau memang kami yang terlalu sarkastis? Yang pasti, kami akan kembali lagi ke bioskop, untuk Breaking Dawn, untuk menyiksa diri, untuk tertawa-tawa, entahlah. Mungkin pada saat itu kami akhirnya bisa memahami kenapa cerita Stephenie Meyer ini bisa begitu digila-gilai. Mungkin.

5 comments:

Kencana said...

Lol. Postingan ini ngebuat saya ketawa terus. Say aja nyerah nonton Twilight pertama. New Moon lewat mah....

neverland said...

Saya juga ketawa, waktu nonton film-nya. Entah saya yang senang menyiksa diri, atau bodoh seperti keledai. Tapi jangan-jangan film ini jadi laku gara2 orang2 seperti saya ya. Hehehe...

louielouie. said...

hahaha.. mudah2an segala krisis film ini segera berakhir supaya kita tetap bisa ntn lanjutannya di bioskop bersama para ABG dan tante2 ababil! YEAH! xD

neverland said...

YEAH! Apa jadinya Edward-Bella-Jacob tanpa layar lebar? Sensasinya gak poooll..! xD

lukmanrika said...

Lets face it. its the hotest review about those films...

btw,may i know ur name?

*ahahaaa..hope it isn't the cheesy one :p

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...