September 28, 2015

This is Edinburgh

There was nothing better than waking up in (rather) cold Edinburgh to the smell of hot fluffy nasi putih and rawon. Yep, that was the perks of traveling with my mother in law. Nasi putih dan lauk Indonesia hangat selalu tersedia. Soto ayam, rawon, rendang, you name it.


Jadi, setelah semua perut terisi, kami siap keliling Edinburgh lagi. Kali ini semua ikut. Pagi itu pelataran Kastil dipenuhi pengunjung. Plus Royal Military Tattoo yang setiap tahun digelar di pelataran Kastil pada musim panas sudah dekat. Jadi tribun untuk kursi penonton sudah siap, membuat pelataran makin sesak dan padat. Kastil yang penuh jadi tampak kurang appealing, bahka untuk sekedar berfoto di depannya. Aidan yang hari itu pakai baju kiper LFC kebanggaannya cuma mau berfoto menghadap belakang, supaya tulisan Aidan 70-nye keliatan. Baiklaaaah Aidaaaan...









Kastil ini ada di bagian ‘puncak’ Old Town. Dari sana, kita tinggal menyusuri jalan High Street yang menurun, melewati Camera Obscura’s Tower, Gladstone’s Land, St. Giles Cathedral, dan Scottish Parliament. Selain tempat-tempat ini, masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di Old Town. Ada yang gratis, tetapi ada juga yang harus bayar dan tidak murah juga. Mengingat kami mengajak anak-anak dan salah satunya berusia 6 tahun, kami memilih untuk tidak memaksa mengunjungi semua tempat-tempat tadi yang sebenarnya termasuk di dalam daftar kunjungan wajib turis. Bagaimana pun, kami ingin menikmati Edinburgh dengan kecepatan kami dan tidak ‘menyeret-nyeret’ anak-anak ke tempat yang tidak mereka nikmati.




Kami pun berjalan santai dari kastil menyusuri Old Town, keluar masuk toko souvenir membeli oleh-oleh dengan gambar Nessie si monster Loch Ness, Scottish Terrier, atau motif kotak-kotak tartan khas Skotlandia. Harga-harga souvenir di Edinburgh cukup mahal, seperti di London. Saya harus membayar £10 untuk tiga buah magnet lemari es. Kami juga mencicipi baked potato yang terkenal, namanya benar-benar The Baked Potato Shop, seharga £4.40 untuk kentang ukuran kecil dan 1 macam filling yang bisa kita pilih. Tapi ketika saya memesan ukurang kecil ini plus 1 extra filling, karena saya pikir harganya juga tidak murah, yang saya dapat adalah dua buah kentang ukuran besar dan filling yang berlimpah. Tidak terbayang yang ukuran besarnya seperti apa. Dari sana kami duduk sejenak di tepian sisi timur Prince's Street Garden, di dekat stasiun Edinburgh Waverley, sambil menikmati baked potato hangat. Aira minta ijin untuk menyusuri taman sebentar, sementara Aidan lari-larian gak karuan, seneng banget liat rumput luas. Sampai pada satu bagian segerombolan burung terbang rendah dari arah berlawanan. Aidan langsung balik badan dan lari sambil jerit-jerit. Padahal sih burungnya cuma mau mendarat, gak ngejar dia. x)














You take a plane to Edinburgh airport, or a train to Waverley Station - 
where the wind taks you up Waverly steps directly to - Princes Street. 
- M. Sasek in This is Edinburgh


Kami menyusuri sisi Princes Street yang berdampingan dengan Princes Street Gardens. Sementara sisi satunya, yang dikenal dengan New Town, dipenuhi deretan toko-toko besar. Princes Street Garden di musim penas tetap cantik, walaupun sudah tidak full bloom seperti di musim semi. Kami melewati Scott Monument, sebuah memorial megah bagi penulis kelahiran Edinburgh, Sir Walter Scott. Kemudian kami sampai di The Mound. The Mound ini yang membelah Princes Street Garden menjadi dua sisi. Posisi Princes Street Garden memang lebih rendah dari jalanan karena lokasinya yang di antara lembah. The Mounds ini dibuat dengan 'membuang' tanah (konon sekitar 2 juta gerobak berisi tanah) hasil galian untuk membuat fondasi New Town di lokasi ini untuk membuat jalan sambungan melintasi lembah dari New Town menuju Old Town. Dari atas The Mounds kita bisa menikmati pemandangan taman di sisi timur yang terhampar di bawah. Pemandangan taman dari atas sini cantik banget, meski langit Edinburgh mulai gelap. Edinburgh seemed so determined to show her grey wet yer gorgeous self to us visitors. Grey over lusty green, the view was just so lovely. Di sini juga merupakan lokasi Royal Scottish Academy dan Scottish National Gallery. Kami masuk dan melihat-lihat koleksi lukisan di sini sejenak, sebelum kembali menyusuri jalan-jalan Edinburgh.













Saat tengah melewati jalan dan tangga sempit di Lawnmarket, hujan mulai turun. Akhirnya diputuskan kami akan kembali ke apartemen dulu, supaya kakek nenek bis istirahat. Tapi kemudian 'tersempil' di salah satu lorong, di antara bangunan-bangunan tua yang cantik, kami menemukan The Writer's Museum. Aira menatap pintu museum dengan wajah kepingin. Ahahaha.. Maka Pak Teddy kasih instruksi supaya saya dan Aira masuk saja ke dalam, sementara rombongan kembali ke apartemen. Nanti dia akan menyusul kami. The Writer's Museum ini adalah museum yang didedikasikan bagi 3 penulis Scotland ternama, Sir Walter Scott, Robert Burns, dan Robert Louis Stevenson. Koleksinya termasuk beragam benda pribadi para penulis ini, seperti meja kerja, buku, manuskrip, alat cetak, first edition novel, lukisan, dan sebagainya. Dan karena museum ini berada di sebuah rumah (the historic Lady Stair's house) jadi rasanya seperti menjelajah rumah seseoang, naik turun tangga dan memasuki ruang-ruang kecil untuk melihat berbagaia koleksi. Bagi pecinta buku, museum ini tentu wajib dikunjungi, karena koleksi dan sejarahnya dan karena toko museum yang menjual berbagai buku dan benda yang berhubungan dengan litertur. Dan bagi mereka yang bukan 'pembaca' museum ini tetap seru untuk dikunjungi, kok.













Saat saya dan Aira keluar dari museum hujan sudah berhenti, jadi kami bisa menghabiskan waktu sejenak membaca quotes-quotes yang diukir di batu-batu di pelataran museum. Kemudian kami kembali menyusuri tangga-tangga batu menuju high street. Kemudian kami melewati National Library of Scotland. Ternyata, bagian anak-anak dari perpustakan ini berada terpisah di bangunan seberang perpustakaan. Dan kami berada tepat di depannya. Mengintip ke dalam dari kaca dan melihat deretan buku dan dekorasi yang menarik dan terlihat nyaman, saya gak kuasa untuk menyeret Aira masuk dan bertanya apakah si perpustakaan ini open fr public. Dan ternyata ya. Si pustakawati yang ramah mempersilahkan kami masuk. Kami menghabiskan satu jam di sini, sebelum dengan berat hati kemudian kami keluar karena masih ingin melihat-lihat Edinburgh.



Kemarin, saat melewati jalanan menuju apartemen saya sempat melihat sebuah kafe yang menjual berbagai pastry dan menawarkan paket 'tea for two' seharga 7 pounds, dan karena salah satu wishlist Aira (dan saya) adalah menikmati teh sore ala Inggris, maka kami pun mampir ke kafe tersebut. Saat pelayan datang menghidangkan teh kami, saya gak menyesal saa sekali membayar si 7 pounds tadi. Kami masing-masing mendapat 1 poci teh, dengan secangkir kecil susu. Kemudian si pelayan kembali lagi dengan cake tiers berisi scones. Crumbly, warm English scones. Dan tentunya dilengkapi dengan clotted cream, butter, dan aneka selai. Heeaaveeeen :))







Pak Teddy kemudian datang menyusl kami di kafe ini. Setelah menikmati teh kami, kami pun mulai jaan-jalan tanpa arah dan tujuan pasti. Kami menjelajah New Town, sempat juga mencari taman berharap masih ada acara putar film karena harusnya ada Edinburgh Movie Festival yang memutar berbagai film di beberapa lokasi indoor maupun outdoor. Tapi ternyata acara tersebut sudah selesai hari Minggu kemarinnya.










Akhirnya langkah kami berhenti di Prince’s Street Garden lagi. Kali ini di sisi Barat. Memang ada banyak taman di London, tapi tak ada yang menyamai Princes Street Garden yang sekan membelah Old Town dan New Town. Dari sini kami bisa melihat Edinburgh Castle di atas bukit. Jika ingin berfoto dengan kastil sebagai latar belakang sementara pintu masuk kastil terlalu penuh oleh pengunjung, di sini adalah lokasi yang tepat. Kami juga sempat melewati panggung yang sedang digunakan untuk acara dansa tradisional Scotland. Walau kebanyakan pesertanya orang tua, tapi banyak juga yang masih muda-muda. Dan beberapa di antaranya mengenakan kilt. Sepulanya kami dari taman nanti, kami kembali melewati panggung ini, dan Aidan sempat ngobrol dengan bapak yang menjaga pintu. Entah apa yang diobrolin anak dengan bahasa Inggris sotoy-nya itu. x)







Kami kemudian berhenti di sisi yang tepat, di dekat Ross Fountain. Mengapa? Karena selain hamparan rumput hijau, pohon-pohon rindang, dan bunga-bunga, National War Museum dan Edinburgh Castle di atas bukit menjadi latar belakang lokasi duduk-duduk kami siang itu. Di bagian paling ujung taman, dekat tempat kami duduk-duduk di rumput terdapat playground kecil. Saya pun minta Pak Teddy menelpon Oom Rendy untuk mengajak Aidan menyusul kami. Gak lama di kejauhan kelihatan si anak bulat berbaju keeper ungu berlari ke arah kami. Begitu melihat playground tadi, Aidan langsung lari dan asik main di sana. Bahkan Aira juga. Mereka bisa puas bermain panjat-panjatan, ayunan, perosotan dan lainnya. Sementara itu, saya dan si ayah, juga Oom Rendy bisa ngobrol atau tidur-tiduran di rumput sambil membaca buku. Benar-benar ‘playground with a view’.

















Edinburgh adalah tujuan terakhir kami sebelum besok kembali ke Leeds dan menghabiskan satu hari penuh lagi di sana dan kemudian pulang ke tanah air. Dan, rasanya kami sudah membuat pilihan yang tepat menjadikan kota tua yang cantik ini sebagai penutup perjalanan kami di Utara Inggris. Senang rasanya bisa melihat anak-anak menikmati petualangan mereka di negeri yang tidak mereka kenal sebelumnya, melihat Aira memenuhi rasa ingin tahunya dan melahap berbagai informasi dari museum-museum yang kami kunjungi, melihat Aidan berbinar-binar mengunjungi stadion bola tim kesayangannya, bersenang-senang, dan melihat mereka bergulingan di rumput di taman cantik Edinburg. Life is good, God is great. Alhamdulillah. :)



Few cities in the world have real skylines. Edinburgh has a very lovely one.
- M. Sasek in This is Edinburgh


No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...