September 03, 2015

Up North to Edinburgh



Sekarang, waktunya kami menyeberangi ‘perbatasan’ memasuki wilayah Skotlandia yang masih termasuk dalam Kerajaan Inggris Raya. Jika suatu saat kalian ke sana naik mobil, perhatikan batas wilayah Inggris dan Skotlandia yang ditandai bendera Inggris di satu sisi dan bendera Skotlandia di sisi lainnya. Kami melihat batas wilayah ini tentunya, tapi baru terlontar kalimat, "Wah seharusnya kita foto yaa..." setelah si borderline baru aja kelewatan dan kita gak bisa puter balik. Oh, well.

Pusat kota Edinburgh, di mana kami menginap selama 2 malam, terbagi menjadi 2 bagian, yakni Old Town dan New Town. Sesuai namanya, Old Town dipenuhi bangunan-bangunan tua bersejarah, termasuk Edinburgh Castle, sementara New Town dipenuhi pertokoan modern. Apartemen tempat kami menginap kali ini jaraknya hanya 10 menit jalan kaki dari Old Town. Sore itu, segera setelah sampai dan berhasil masuk ke apartemen, kami gak mau melewatkan waktu dan langsung keluar lagi untuk jalan-jalan di Old Town, walaupun semua tempat wisata sudah tutup. Harap maklum sama muka kucel kami, berhubung baru melewati 4 jam perjalanan dengan mobil. ;)






Hanya 200 meter dari apartemen kami sudah sampai di patung Bobby yang terkenal di depan pemakaman Greyfriars Kirkyard, semacam Hachiko-nya orang Skotlandia, Si Bobby ini adalah anjing Skye Terrier yang selama 14 tahun setelah pemiliknya meninggal setiap hari ngejaga makam si pemiliknya itu, sampai dia sendiri mati tahun 1872 dan dimakamin di dekat pintu masuk Greyfriars Kirkyard. Patung Bobby ini dibuat sama dengan ukuran aslinya dan hidungnya kerap diusap pengunjung, untuk good luck, katanya.












Dari sana kami mengambil jalan menurun di depan pintu pemakaman ke arah Grassmarket, di sana ada berbagai coffee shop, restaurant, dan pub lokal. Kami menyusuri Grassmarket menuju gerbang masuk Edinburgh Castle yang kosong melompong karena sudah tutup. Jalanan menurun dari situ menuju High Street kerasa banget nuansa 'Old Town'-nya karena gak dipenuhi turis. Kami terus menyebrangi jalan memasuki Royal Mile - High Street dan disambut oleh patung filsuf ternama asal Ediburgh, David Hume, duduk dengan wajah berpikir ala filsuf-nya, dengan satu kaki terjulur ke depan, memperlihatkan jempol kaki yang paling sering disentuh orang sejagad raya. Iya, karena konon katanya menyentuh jempol si Hume ini bisa menularkan kebijakannya, maka banyak orang yang melakukannya sampai si jempol ini mengkilap. Oke, you Scottish, jadi hidung Bobby bikin beruntung, dan jempol Hume bikin bijak. Apa kata kalian, lah. x)





Tepat di seberang patung Pak Hume dan jempol emasnya, ada St. Giles' Cathedral. Berhubung jalanan kosong, si Aidun seenak-enaknya lari-lari dan lompat-lompatan di pelatarannya. Kami juga sempat lihat 2 rombongan Ghost Tour yang berkumpul di sana untuk memulai turnya. Kenapa orang-orang mau bayar untuk tur semacam itu, sepertinya saya yang penakut ini gak akan pernah paham. Tur tadi dipimpin oleh laki-laki dan perempuan dengan kostum (yang kalau saya gak salah) baju jaman Victoria, alaupun yang perempuan rambutnya ada highligh pink dan pakai combat boots.










Kami menghabiskan malam itu di High Street yang lengang. Sambil ngunyah shortbread dan apalagi kalau bukan Subway demi nurutin maunya Aidan. Langit abu-abu dan angin lumayan kencang, tapi si Aidun dan celana pendeknya asik lari-lari aja. Setelah perutnya kenyang, baru dia mau diajak kembali ke apartemen.











Di jalan kembali ke apartemen kami melewati toko merchandise Edinburgh Fringe Festival yang diadakan di bulan Agustus. Tokonya terlihat stand out, warna-warni seru diantara bangunan-bangunan tua. Kami juga mampir di kios gelato, gak peduli angin yang tambah dingin. Dan melewati The Elephant House, cafe yang merupakan tempat J.K. Rowling mulai menulis Harry Potter. In a glimpse, Edinburgh terlihat seperti perpaduan seru dari masa lampau dan pop culture masa kini. Oke deh Edinburgh, sampai jumpa lagi besok!







No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...