August 08, 2016

Us Girls Around London pt.1



Pada hari kedua kami di London Pak Teddy dan Aidan pergi ke Liverpool mengejar matchday. Mereka menginap semalam di sana, jadi saya dan Aira punya waktu 2 hari untuk jalan-jalan berdua. Berhubung aman, nih, gak ada Aidan yang mudah bosan, sengaja saya pilih tempat-tempat tujuan yang kurang diminati Aidan.

Setelah Aidan & Pak Teddy berangkat, saya dan Aira santai-santai dulu di apartemen. Langit abu-abu dan gerimis di luar emang agak bikin mager. Kemudian Rendy, yang hari itu berulang tahun, ngajak kami makan bagel dulu di Shoreditch. Pas banget lah, bagel untuk lunch, baru kemudian jalan-jalan.


Selesai menikmati surga dunia berwujud bagel itu, kami berjalan menuju Liverpool Street. Di stasiun tube saya dan Aira berpisah dengan Rendy dan menuju Trafalgar Square. Terakhir kali kami di London anak-anak memang gak ikut waktu saya dan Pak Teddy 'menyasarkan diri' sampai ke Trafalgar Square. Suasana kali ini tentu lebih ramai dan festive. 4th Plinth yang pada summer 2014 diisi ayam raksasa berwarna indigo blue kali ini diisi patung tulang rangka kuda. Pohon natal besar berdiri berdampingan dengan manorah besar untuk merayakan Hanukkah. Selain street performance yang biasanya ada disana, kali ini ada sekelompok orang caroling di tangga besar depan National Gallery.








Sehubungan dengan Paris attack yang baru terjadi, museum-museum di London jadi lebih ketat pemeriksaannya. Kalau biasanya kita tinggal masuk saja, kali ini ada pemeriksaan tas dulu di pintu. Saya dan Aira menghabiskan waktu lumayan lama di dalam National Gallery. Sepertinya sih memng keputusan yang tepat untuk pergi kesana berdua Aira saja. Aidan bisa belingsatan kalau harus menunggui kami melihat-lihat lukisan di sana. 

Awalnya kami hanya menyusuri hall demi hall, melihat-lihat koleksi lukisan yang ada. Terbengong-bengong melihat segala lukisan era medieval dan renaissance dari yang frame kecil sampai yang memenuhi dinding. Terus terang saya sih gak ngerti-ngerti amat soal lukisan, tapi kalau lukisan impresionis masih lebih mending dibanding kontemporer yang saya cuma bisa ngangguk-ngangguk sok paham liatnya (maapin deeeh). Plus saya pembaca historical romance kan yaaa.. jadi saya cukup menikmati, bisa mengenali tokoh-tokoh yang ada dalam lukisan-lukisan ini, atau sedikit tau tentang sejarah si lukisan.




Tapiiii... ternyata National Gallery ini besaaaar sekali. Belok mana menuju kemana saya lama-lama gak inget. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat website resmi untuk mengetahui letak lukisan-lukisan tertentu. Seperti Rembrandt, Van Gogh, Monet, Raphael, Da Vinci, Michaelangelo, And I am so in love with Monet.





Yang terakhir kami kunjungi adalah The Virgin of the Rocks - Leonardo da Vinci di Sainsbury Wing, sebelum akhirnya kami keluar dari National Gallery. Langit sudah mulai gelap walau sebenarnya belum sore-sore amat. Tapi karena masih menyesuaikan diri dengan cuaca musim dingin (alasan aja sih), perut rasanya mulai minta diisi. Akhirnya kami berjalan menuju The National Portrait Gallery di dekat situ, turun ke cafe di lantai basement dan menikmati sandwich dan teh sebelum mulai menjelajah.



Seperti juga kebanyakan museum atau gallery lain di Inggris, tidak ada biaya untuk masuk ke National Portrait Gallery, paling tersedia kotak untuk donation. Sesuai dengan namanya, koleksi galeri ini adalah portrait, lukisan maupun foto, mulai dari abad ke-16 sampai sekarang. Kami mulai menjelajah dari lantai dua. Sempat celingak-celinguk sebentar bingung mau mulai dari mana dan kemudian disapa salah satu ibu-ibu petugas galeri yang menjelaskan pembagian tiap ruang, kemudian memutuskan untuk mulai dari early Tudors lanjut ke era Elizabeth I, mengingat saya penoton Tudors dan penggemar film Elizabeth-nya Cate Blanchett kan yaaa...

Untuk melihat semua koleksi kita harus keluar masuk banyak ruangan, karena koleksi di lantai ini basically mencakup sejarah British Royalty dan government sampai dengan abad ke-19. Termasuk disini terdapat lukisan Duke of Cambridge bersama Prince Harry.





Di lantai satu yang memuat segala koleksi berkaitan dengan era Victoria, ratu yang masa berkuaanya baru saja dilampaui oleh Elizabeth II. Tapi era ini era favorit saya, lagi-lagi akibat kebanyakan baca historical romance, Bronte, dan nonton Young Victoria entah berapa kali. Walau tentunya Victoria yang aseli jauh lebih gemuk dan ekspresinya hampir selalu tampak bosan ,jauh dari Emily Blunt yang kece itu. Di lantai ini juga terdapat lukisan Paul McCartney, Diana Princess of Wales, dan Queen Elizabeth II.

Nah, saat sedang menjelajah lantai dasar yang menyimpan berbagai koleksi kontemporer, termasuk lukisan Ian McKellen, J.K. Rowling, foto Judy Dench, dan foto-foto behind the scene Specter, saya menemukan 4 lukisan personil Blur, Damon Albarn - Graham Coxon - Alex James - Dave Rowntree, karya Julian Opie yang mega kece itu, yang dijadikan cover album Blur: The Best Of di ruang 37. Padahal udah liat gambar ini dimana-mana, tapi tetep aja girang banget liat yang benerannya. :))


Saat kaki yang belum terbiasa diajak jalan kaki terus-terusan mulai menjerit dan idung yang belum beradaptasi dengan udara dingin mulai ingusan, saya dan Aira memutuskan untuk pulang saja. Padahal tadinya masih mau jalan ke Covent Garden, tapi mata yang liat langit gelap padahal belum malam-malam amat keburu kasih informasi ke bagian tubuh yang lain, ngajak untuk istirahat di apartemen aja. Maka kami kembali menuju tube station, turun di Hammersmith dan mampir di Tesco Express sebentar untuk beli bahan makan malam dan sarapan besok. 

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...