February 21, 2012

Visiting Candi Borobudur



Kembali ke cerita liburan kami ke Jogja. Hari kedua disana kami pergi ke arah Magelang, mengunjungi Candi Borobudur. Setelah semua kenyang sarapan di hotel, amunisi camilan dan minum untuk di mobil sudah siap, dan berbekal GPS di smartphone, dua keluarga kami menuju Borobudur dengan menggunakan dua mobil.

Kira-kira 1 setengah jam setelah meninggalkan hotel pun kami sampai di Borobudur. Dan tepat seperti yang saya ingat dari kunjungan saya kesana jaman dahulu kala, cuaca panas terik terang benderang. Yang pertama menghampiri kami tentunya ibu-ibu penjual topi atau menyewakan payung. Saya gak jual mahal, langsung sewa payung, daripada nyesel di dalem kepanasan. Harga sewanya pun gak mahal, 5000 rupiah saja, tidak seperti di tempat wisata umumnya yang suka nembak harga tinggi untuk wisatawan. Lalu kami berjalan menuju loket untuk membeli tiket masuk. Nah, ternyata semakin dekat ke pintu masuk, harga sewa payung jadi tambah murah, 3000 rupiah. Tapi seperti yang saya bilang tadi, 5000 pun masih reasonable, jadi saya gak merasa sebal juga.

Satu hal yang sangat saya syukuri, pengelolaan dan perawatan Candi Borobudur diawasi dan dibantu oleh UNESCO, seperti waktu bencana gunung Merapi yang lalu, Borobudur langsung ditutupi dan kemudian dibersihkan dengan seksama, baru kemudian boleh dikunjungi lagi. Yang pertama menarik perhatian saya, tiket masuk ke dalam Taman Wisata Candi Borobudur adalah 30.000 rupiah untuk orang dewasa. Jauh lebih tinggi dari objek-objek wisata lainnya yang biasanya dikelola oleh Pemda. Ini memberi saya harapan soal perawatan Borobudur, mengingat saya selalu bertanya-tanya bagaimana koleksi yang ada di dalam Museum-museum di Jakarta bisa dirawat dengan tiket masuk yang hanya 3000 rupiah itu. Dan perkiraan saya juga terbukti, dengan harga yang 30.000 itu Borobudur masih sangat ramai dikunjungi orang kok.

Kedua, sebelum masuk kedalam kita harus mengantri untuk pemeriksaan tas. Dilarang membawa makanan, dan petugas yang memeriksa juga tegas untuk soal ini. Begitu kita masuk ke dalam taman juga sudah tidak terlihat pedagang makanan dan minuman asongan, kalau pun ada yang menjual minuman pasti di kios yang memang disediakan. Semua bersih dan rapih.



Orang dewasa diminta memakai sarung batik, yang sudah disediakan disana. Dipinjamkan tanpa membayar lagi. Sepertinya tidak ada hubungan dengan keagamaan atau adat istiadat, hanya karena batik sebagai ikon Jawa atau Indonesia saja. Ketika kami sedang sibuk kebingungan bagaimana memakai kain batik, ada petugas yang menghampiri, menawarkan untuk menunjukkan caranya. Semua petugas disana berpakaian rapih dengan kemeja batik. Yang satu ini juga begitu, lalu ia menawarkan menjadi guide untuk kami. Kami sempat liat-liatan, suka skeptis dengan jasa guide yang tiba-tiba nanti kasih tarif tinggi. Tapi sekali lagi tidak, begitu ditanya tarif-nya, si petugas bilang sukarela saja. Akhirnya jadi lah kami mendapat guide. Seru juga, karena ada 3 anak SD dan 1 anak SMP di rombongan kami. Mereka jadi mendapat berbagai informasi dan cerita dari mas guide, yang saya lupa namanya siapa, itu. Mereka juga jadi bisa bertanya macam-macam. Si mas guide pun membantu kami foto, dan menunjukkan lokasi yang oke kalau mau berfoto dengan Borobudur sebagai latar belakan. Makanya foto di Borobudur ini adalah satu-satunya foto yang ada kami semua lengkap. 


Nah, kembali ke cuaca hari itu yang panas terik, maka bisa diduga akan ada satu anak gendut yang jadi lumayan rewel. Siapa lagi kalau bukan Mister Aidan. Dia sampai menolak melihat kamera ketika berfoto. Jadi foto yang saya bilang lengkap itu tadi, hanya lengkap personilnya, tapi gak lengkap mukanya (oh well). Karena si rewel ini pula lah hari itu saya gagal naik sampai ke puncak. Aidan yang selama naik tangga pertama sudah sibuk jerit-jerit capek (dan disana ada petugas jasa gendong anak! serius!) cuma mau naik sampai pelataran saja.. Akhirnya ketika rombongan naik ke Borobudur, saya menemani Aidan di halaman pelataran, berteduh di bangku batu di bawah pohon. -_____-'






Ketika sudah mulai nyaman karena gak terlalu kepanasan lagi, Aidan mulai main kesana kemari. Foto-foto dengan iPod atau kamera saya. Karena kami cuma berdua, foto-fotonya harus diambil sendiri atau kami saling foto saja. Sampai akhirnya ada ibu-ibu yang baik hati menawarkan untuk mengambilkan foto kami. Nah lalu Mister Aidan mengeluarkan kalimat berikut ini , "Bunda, aku mau pup." Ooooooh nooooooo! dimana mau cari toilet di halaman Borobudur coba? Belum lagi kebayang wujud toilet di tempat umum seperti itu. Tapi Aidan mulai gelisah, goyang kiri kanan. Setelah saya tanya sekali lagi dan dia yakin seyakin-yakinnya kalau dia mau pup, akhirnya kami menuruni tangga keluar tinggi, keluar dari pelataran Borobudur. Saya mengembalikan sarung di dekat tangga tadi lalu bertanya dimana toilet yang paling dekat. Ternyata di area Museum Borobudur, menuju pintu keluar. Berjalanlah kami kesana, melawati lapangan kecil yang dipenuhi pedagang asongan. Ini adalah untuk pertama kalinya kami menemui pedagang asongan di dalam Taman Wisata Borobudur. Sepertinya mereka memang diakomodir untuk tetap dapat berjualan, tetapi hanya di tempat yang diizinkan saja. Ada batas yang jelas untuk para pedagang ini, mereka hanya boleh berada di area lapangan itu saja, jadi wisatawan tidak terganggu, taman wisata tetap rapih, tetapi para pedagang juga terakomodir. Akhirnya saya membeli beberapa t-shirt untuk oleh-oleh si mbak di rumah, gantungan kunci untuk teman-teman Aira, dan Aidan membeli sebuah gasing bambu. Sejenak pup dilupakan karena senang dapat gasing. x)

FYI, toilet disini gak buruk seperti yang saya bayangkan. Letaknya memang nyempil di bagian belakang museum, dan kuno (tengki airnya masih yang diatas dan ditarik rantainya untuk flush) tapi bersih, dan yang penting ada sabun cair. Dan seperti petugas lainnya di dalam Taman Wisata Borobudur, petugas di sini pun rapih mengenakan kemeja batik.

Setelah urusan panggilan alam Aidan selesai, saya menelpon si Ayah. Rombongan yang naik ke puncak Borobudur rupanya baru mau turun, dan mereka masih mau mengunjungi museum aneh tapi nyata yang juga berada di dalam Taman Wisata, sebelum Museum Borobudur. Akhirnya saya dan Aidan ngadem saja di pendopo luas di bagian belakang museum yang teduh. Mendengarkan alunan gamelan yang dimainkan di pendopo yang lebih di depan. Angin siwir-siwir dan bunyi burung perkutut yang sangkarnya di gantung di sekeliling pendopo, rasanya saya nyaris ketiduran. Untung tak lama rombongan kami datang, dan kami melanjutkan berjalan menuju pintu keluar.


Ingat payung yang saya sewa tadi? Di pagar keluar ada seorang ibu yang berdiri mengumpulkan semua payung sewaan. Ternyata mereka semua satu kelompok, jadi kita tidak perlu repot-repot mencari dan mengembalikan payung pada orang yang tadi menyewakannya. Tidak diserahkan di pintu keluar. :D

Ternyata perjalanan menuju tempat parkir masih panjang dari sini, karena kembali untuk tujuan mengakomodir sekaligus menertibkan para pedagang, sebelum sampai kembali ke parkiran, pengunjungi melewati rute memutari deretan kios-kios pedagang. Memang agak jauh, tapi setidaknya para pedagang ini tetap dapat menjajakan jualannya tanpa mengotori bagian dalam Taman Wisata Borobudur. Disini saya dan Santi tidak dapat menahan diri untuk tidak membeli satu benda, ulekan! Mengingat ulekan yang di beli di Jakarta biasanya terbuat dari semen, sementara yang disini batu sungguhan. Dengan membayar 70.000 rupiah kami mendapatkan 2 cobek besar, lengkap dengan 2 ulekan, dan 2 cobek kecil untuk sambal diatas meja. Lumayaaan.

Nah, untuk soal apa saja yang dilihat dan diceritakan oleh guide diatas Borobudur, saya tidak bisa cerita panjang lebar, karena menemani Aidan dibawah tadi. Jadi ini foto-fotonya, berikut foto bukit yang bisa dilihat dari puncak Borobudur, yang konon bentuknya seperti Budha yang sedang tidur.








Sebelum kembali ke Jogja, kami mampir ke Magelang yang sejuk. Mengunjungi sekolah Pak Teddy, Taruna Nusantara. Hanya berkeliling naik mobil ke dalam sih, dan berfoto di luar. Sayangnya Mister Aidan tidur, jadi hanya Aira yang foto sana Ayah. Kunjungan singkat dan cerita-cerita Pak Teddy tentang sekolahnya ternyata cukup membuat Aldo, yang sudah kelas 2 SMP, naksir berat sama Taruna Nusantara. Hahaha.






Di Magelang kami juga makan siang. Apalagi kalau bukan Kupat tahu magelang. Semua berdesakan di dalam kios kecil penjual Kupat tahu, makan jajan pasar yang tersaji di meja dan menikmati kupat tahu Magelang di kota asalnya. Bahkan Gaia dan Aidan sebagai peserta paling kecil makan dengan lahap. Setelah itu kami belanja getuk Eco dan oleh-oleh lainnya, sebelum akhirnya kembali ke Jogja. Kami masih ada jadwal makan sate klathak, sate kambing paling enak dengan tusukan jeruji besi, di Pasar Imogiri nanti malam. x)

for more pics please click here.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...