July 11, 2015

Yorkshire Road Trip


Kami sudah naik pesawat, naik bis, dan naik kereta. Sekarang waktunya menyusuri jalanan di Inggris dengan mobil! Yup, kami akan road trip dari Leeds ke Edinburgh, melewati York dan menginap di Whitby.

Setelah memasukkan barang-barang, perbekalan, dan nyumpelin 5 dewasa dan 2 anak ke dalam mobil 7 seaters yang kami sewa, kami pun meninggalkan Leeds, memulai road trip dengan mobil menuju Edinburgh dari Leeds.
Jarak antara Leeds ke Edinburgh kurang lebih seperti dari Jakarta ke Semarang, tapi bisa ditempuh selama 4-5 jam dengan mobil, karena jalanan yang lurus, tidak macet, dan pengendara yang teratur. Pemberhentian pertama kami adalah York, kota tua yang dipenuhi berbagai bangunan cantik. Perjalanan ke York dengan mobil hanya sekitar 45 menit - 1 jam. Jadi gak lama di dalam mobil kami sudah memasuki York, yang sama seperti Leeds dipenuhi dekorasi warna kuning dan sepeda-sepeda untuk menyambut Tour de France yang akan melalui kota itu. Karena tidak menginap di sini, kami sengaja tidak mengunjungi banyak tempat di York. Hanya National Railway Museum dan berjalan berkeliling pusat kota tua York. Setelah parkir di tempat parkir umum, kami turun dan jalan kaki ke National Railway Museum. Museum ini menyenangkan sekali, bukan cuma untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa.



Dari depan National Railway Museum, ada kereta kecil yang bisa mengangkut pengunjung sampai ke dekat York Minster dengan biaya £2 untuk dewasa dan £1 untuk anak-anak. Untuk menghibur Aidan yang sepertinya sudah mulai rewel diajak jalan kaki, kami pun naik kereta tersebut dan turun di depan York Minster, katedral gothic yang cantik banget. Baru sekilas saja, langsung terlihat apa yang menyebabkan York menarik sekali. Ini kalimat yang dipakai oleh Lonely Planet untuk memperkenalkan York:

Nowhere in northern England says 'medieval' quite like York, a city of extraordinary cultural and historical wealth that has lost little of its pre-industrial lustre. A magnificent circuit of 13th-century walls enclose a medieval spider's web of narrow streets. At its heart lies the immense, awe-inspiring York Minster, one of the most beautiful Gothic cathedrals in the world. York's long history and rich heritage is woven into virtually every brick and beam, and the modern, tourist-oriented city – with its myriad museums, restaurants, cafes and traditional pubs – is a carefully maintained heir to that heritage. Try to avoid the inevitable confusion by remembering that around these parts, gate means street and bar means gate.








Setelah pitstop es krim di depan gereja (Aidan hampir selalu berhenti kalau liat tukang es krim), sekarang waktunya kami menjelajah pusat kota York, menyusuri lorong-lorong sempit dengan jalanan cobble stones yang dipenuhi deretan bangunan dengan rangka kayu yang beberapa di antaranya sudah berdiri sejak abad ke-14. Lorong-lorong ini disebut The Shambles, an old medieval street often called Europe's best preserved. Jalanan disini seperti maze, sempit, berkelok-kelok dan bercabang. Waktu saya bertanya arah tujuan kami ke Rendy, dijawab dengan, "Belok ke mana aja, Mbak. Semuanya bagus." Dan ternyata memang benar. Berjalan-jalan disini, di tengah kerumunan turis, melewati bangunan-bangunan tudor yang bagian atasnya menjorok ke jalanan, rasanya seperti berada di Diagon Alley. 

Jadi ke mana tujuan berikutnya? Tidak ada yang pasti, kami hanya ingin menikmati jalan-jalan kecil di sekitar York Minster yang dipenuhi toko-toko dan tea house kecil itu. Saking cantiknya, rasanya semua ingin kami masuki.













Nama The Shambles sendiri berasal dari kata Saxon yaitu shamel yang berarti slaughterhouse. Memang dulunya, sekitar abad 18, di tempat itu terdapat banyak rumah jagal dan toko daging. Sekarang toko daging udah gak keliatan di sini, yang terlihat hanya toko-toko souvenir, toko-toko kecil yang cantik, cafe, tea house, dan pub. Tapi katanya sih di beberapa bagian masih ada pengait asli yang dulunya dipakai untuk menggantung daging di bagian depan toko.

Kami melewati beberapa tempat yang menjual Yorkshire pudding, tapi antriannya panjang. Mungkin karena akhir pekan dan York memang kota tujuan turis, jadi tempat-tempat semacam itu jadi ekstra ramai. Tea house kecil yang lucu-lucu juga dipenuhi pengunjung, termasuk tea house besar yang konon favoritnya Princess Diana, orang-orang mengantri sampai panjang sekali.










Siang itu cuaca cerah, dan karena akhir pekan jalan-jalan sempit tadi dipenuhi pengunjung. Akhir pekan di musim panas adalah waktunya digelar berbagai fair dan hari itu sedang ada food fair di salah satu square yang kami lewati. Walau perut kenyang karena habis makan siang, kami tetap sengaja melewati area bazaar untuk lihat-lihat. Ya ampun rasanya pengen dicoba semua. Supaya gak penasaran akhirnya saya beli juga beberapa makanan yang bisa dibungkus, termasuk shortbread dan beberapa cookies, dan strawberry segar yang gendut-gendut. Cake, keju, dan makanan lain terpaksa dilihat saja, karena susah dibawa atau mengandung babi.











Nah, setelah melewati jalan-jalan medieval di York, kami harus kembali ke masa kini ketika dihadapi dengan Disney Store. Berhubung sudah janji sama si Aidun kalau dia boleh beli crossbow Hawkeye yang dia lihat di London tapi belum dibeli karena susah bawanya dari London ke Leeds, jadilah kami melipir dulu beli si crossbow sebelum kembali memenuhi mobil dan melanjutkan perjalanan. Meninggalkan York yang cantik dengan tujuan kota cantik berikutnya, Whitby.






*action cam pics coustesy of oom Rendy

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...