December 02, 2015

Soapy Mess, Happy Mess


Di sekolah Aidan saya banyak berkenalan dengan banyak ibu yang kreatif. Salah satu yang truly inspiring bagi saya adalah Ibu Anti (https://www.instagram.com/sabun_ti_anti/). Mulai dari segala home cooking yang serba sehat, organik, bahkan raw, Bu Anti bisa bikin sendiri. Ternyata gak berhenti di menu yang tak hanya sehat tapi juga tampak kece, Anti mulai mengerjakan sesuatu yang waktu itu tampak gak mungkin bagi saya: handmade all natural soap. Tiap liat foto-foto sabun buatan Anti, rasanya pengen saya gigit.

Nah, kemudian suatu hari Aira dapat project sekolah untuk membuat paper mengenai produk yang bisa membantu melestarikan lingkungan. Di dalam paper harus dibahas 5 produk, dan salah satunya harus dibuat beneran. Supaya gak biasa, maka saya mengusulkan ke Aira untuk bikin sabun saja sama Ibu Anti. Pertimbangannya kenapa sabun ini bisa bermanfaat untuk melestarikan lingkungan adalah bahan-bahan yang digunakan natural sehingga limbahnya lebih tidak berbahaya, busanya lebih mudah larut, tidak menggunakan deterjen dan tidak menggunakan minyak kelapa sawit. Cetakan yang digunakan pun bisa dari barang-barang bekas.

Di hari Aira berkunjung ke rumah Ibu Anti sekaligus pertama kalinya Anti ngajarin orang lain untuk bikin sabun dipenuhi momen-momen seru. Mulai dari wadah plastik yang gak tahan panas, stok bahan siap pakai yang muncul dari balik meja secara ajaib, sampai tingkah ibu guru yang pecicilan sementara si murid kalem-kalem aja. x)




Anyway, tugas paper Aira dan presentasi tentang handmade soap sukses berat. Sampai-sampai salah satu sabun dibawa oleh gurunya dan ditunjukkan di kelas-kelas lain. Happy banget juga si Kakak. Nah, saya pun iri, pengen ikutan bisa bikin sabun. Lalu Anti buka kelas Soap Making for Begginers bareng Kutakatik Art Class, punya Raya (https://www.instagram.com/mymisspiggybox/) dan Kyra. 2 kali kelas sabun diadain, saya gagal ikutan terus. Akhirnya yang ketiga kalinya saya berhasil ikutan. Pesertanya saya, Anti sepupu saya, dan Mine teman SMA saya. FYI, dulu saya dan Mine ini kerjaannya dengerin Fugazi, Sex Pistols, Rancid bersama. Sekarang kami bikin sabun bersama.










Di kelas sabun beginner ini saya bikin sabun pertama saya. Kemudian sempet lama gak bikin-bikin dengan alasan mau ngumpulin perlengkapannya dulu. Segala timbangan digital, hand blender, aneka oil, dan sebagainya. Akhirnya saya baru mulai bikin sendiri hampir dua bulan setelah ikut workshop. Tapi kemudian gak bisa berhenti. Saya suka sekali. Maksudnya, saya sempat ikut workshop weaving juga, dan senang, tapi berapa banyak sih hasil weaving yang bisa saya gantung di rumah. Nah, kalau sabun kan bisa dipakai terus. Satu lagi, sabun kalau gagal masih bisa diaklin. Paling jadi gak cantik aja, tapi tetep bisa dipakai. Hehehe..

Kemudian saya ikut kelas intermediate, sama Anti juga, di Kutakatik juga. Kali ini belajar main warna dan beberapa metode swirling. Juga belajar pakai soap calculator. Dan kalau biasanya meja bikin sabu udah awut-awutan, kalau main warna tambah berarakan lagi. Tapi si anak visual ini seneng banget liat sabun dengan warna-warna kece.








Saya juga punya hobi baru, browsing website soap making dan nontonin video orang bikin sabun. Kalau lagi nonton rasanya layar laptop pengen diendus-endus. Iya, saya seneng banget bikin sabun. Saat ini bikin sabun adalah kegiatan therapeutic saya. Pusing deadline? Bikin sabun aja! Pusingnya nanti lagi aja. Paling nambah. Alasan saya bikin sabun ternyata gak heroik macam isi tugas melestarikan lingkungan Aira. Alasannya karena saya senang. Dan karena ternyata sabunnya lebih natural dan aman, tentu tambah bikin saya senang.





Jadi so far saya sudah mengalami sabun gak tracing, rebatch-ing sabun yang gagal, trace yang terlalu cepat, sabun gak keras-keras, over heat, crack, gelling, warna gak sesuai keinginan, fragrance oil tumplek, sabun keluar minyak, dan segala macem momen "yah.. yaah.. yaaaaaah..." lainnya. Tapi tentu ada moment rewarding-nya juga, saat motong sabun dan ngeliat warna yang sesuai dengan yang saya mau, lalu endus-endus sabun yang udah keras (entering the chocolate peppermint soap, my pride and joy). Kemudian setelah si sabun dipandang-pandang, difoto-foto, disusun di keranjang, lalu ditaro di rak. Buat apa? Buat nunggu curing 4 minggu sebelum akhirnya bisa dipakai. Lama ajaaaa.... xD





Ditulis kheuseus untuk teman-teman sepersabunan yang hobi dikejar trace. Untuk Anti yang sudah menginspirasi dan sabun-sabunnya selalu pengen saya curi, nuhun pisaaan! Soap on, people! :))

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...