February 01, 2016

Go Someplace You've Never Been, Katanya



Kata Dalai Lama, once a year go some place you've never been before. Tapi magnet yang menarik hati ini untuk kembali ke tempat yang sudah pernah dikunjungi ternyata kuat sekali. Iya, hati saya kan kemarin itu tercecer di jalanan kota London tuuuh, jadi tentu harus kembali lagi untuk dipungutin kan?

Sungguh deh, 4 hari di London waktu itu seakan seperti unfinished business yang perlu diselesaikan sebelum bisa move on ke tempat lain, dan rupanya bukan hanya bagi saya tetapi juga bagi Pak Teddy. Jadi, begitu kami alhamdulillah berjodoh dengan tiket murah dari Garuda Indonesia, dan Rendy sudah selesai sekolah kemudian kerja di St. Albans, dan keluarga Ikhlas yang masih tinggal di London bersedia menampung kami, tentunya dengan riang gembira kami kembali lagi ke Inggris, tak menggubris komentar orang-orang yang bilang kenapa gak ke Eropa aja, Inggris kan udah pernah. Gimana soal kata-kata Dalai Lama tadi? Duh, unfinished business saya bukan hanya sama kota London, tapi sama Inggris Raya. Masih banyaaak tempat-tempat di sana yang belum saya kunjungi. Jadi masih masuk kriteria some place you've never been kan? :D




Kali ini kami sudah lebih pintar, mengurus visa sendiri tanpa agent. Dan memang lebih mudah dan murah. Memang proses paling ribetnya adalah mengisi formulir online dan menyiapkan dokumen. Tapi sisanya alhamdulillah mudah dan lancar, walau tentunya disertai mules-mules dikit nunggu visa keluar.

Soal pesawat, terus terang saya lebih suka perjalanan kali ini yang menggunakan Garuda Indonesia dibanding waktu pakai Etihad. Pertama, space tempat duduk lebih lega, makanan oke walau pilihan minuman dan snack di Etihad lebih beragam, dan flight attendant yang gak kalah ramah. Nah, ternyata buat saya penerbangan belasan jam sampai Amsterdam ditambah 45 menit lagi sampai Gatwick lebih nyaman dibanding 9 jam sampai Abu Dhabi dan masih ditambah 7 jam lagi sampai Inggris. Plus jadwal landing di Schiphol yang pagi hari, airport yang jauh lebih lengang, bersih, dan nyaman dibanding Abu Dhabi juga bikin perjalanan less tiring buat kami semua.

Waktu itu Garuda masih mendarat di Gatwick, saya sempat agak khawatir soal bagasi dan imigrasi akan lebih ribet dibanding waktu kami landing di Manchester dulu. Tetapi ternyata sama saja santainya. Yang agak rusuh adalah karena Gatwick jaraknya agak jauh dari London, jadi dari sana kami harus naik kereta lagi utuk sampai ke London. Gatwick Express adalah pilihan yang paling cepat, yaitu sekitar 30 menit sampai ke stasiun Victoria. Nah, antrian untuk beli tiketnya bisa cukup panjang, tapi untungnya keretanya ada banyak jadi kami gak dikejar-kejar jadwal kereta.

Urusan transpotasi kami udah agak sombong kali ini, karena udah lumayan ngerti, jadi gak planga-plongo lagi. Yang kerasa beda adalah kali ini kami cukup banyak pakai Uber. Karena ternyata ketika kita bepergian dengan jumlah orang yang agak banyak, tube, kereta, atau bis gak selalu lebih murah. Jadi kami selalu membandingkan dulu perhitungan harganya, kalau Uber lebih murah atau selisih sedikit saja ya mendingan pakai Uber, yang jelas lebih nyaman.

Anyway, jadi kemarin ini kami pergi di bulan Desember akhir untuk menjelajah London, Wales, dan tentunya kembali ke Liverpool. Selain karena harus ngikutin jadwal libur anak-anak, juga ceritanya biar ngerasain winter. Tapi ternyata tahun ini adalah winter terhangat Inggris sejak entah kapan. Jadi winternya agak rasa summer, deh. Memang akhirnya kota yang dikunjungi gak sebanyak sebelumnya, karena meski winternya hangat, tetep aja jam 4 sore udah gelap. Tapi rencana awal kami memang sengaja berlama-lama di London harapannya supaya hutangnya lunas dan kemudian bisa move on ke negara lain yang belum pernah dikunjungi. Semoga. :)



No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...