Pages

Showing posts with label aira. Show all posts
Showing posts with label aira. Show all posts

October 26, 2013

First Day at School



Tahun ini Aira dan Aidan masuk sekolah baru. Aira di SMP Al-Izhar (iyaaa... si bayi perempuan udah kelas 1 SMP), Aidan di SD Gemala Ananda. Hari pertama sekolah jatuh bertepatan dengan ulang tahun Aidan yang ke-6, jadi pagi-pagi kami serah terima kadi seperti biasa, lalu kesibukan hari pertama pun dimulai.

Aira, tentunya sudah tidak mau dan tidak perlu diantar ke kelas barunya. Si anak gadis turun sendiri dari mobil, dengan seragam barunya yang kece dan masuk ke sekolah barunya. Dari cerita yang kemudian saya dapat sih, hari-hari awal sekolah menyenangkan untuk Aira. Masa orientasi pun benar-benar pengenalan sekolah baru, lingkungan, program, teman-teman seangkatan, dan kakak-kakak kelas.




Nah, untuk Aidan tentu beda lagi. Pada hari pertama sekolah, orangtua wajib menemani si anak sampai kira-kira jam 10, untuk membantu transisi anak di lingkungan baru. Gemala Ananda tidak punya TK, jadi semua siswa kelas 1 adalah siswa baru. Orangtua dan anak terlibat kegiatan bersama (termasuk menari dan bernyanyi bersama), dimana salah satunya anak diminta menuliskan cita-citanya di secarik kertas kecil berbentuk bintang, kemudian mengatakannya ke kepada orangtua dan orangtua membalas dengan ucapan yang encouraging dan supporting. Kemudian gambar bintang tadi ditempelkan di dinding bersama bintang-bintang teman lainnya. Beberapa kegiatan yang dilakukan berkelompok (kelompok akan berganti-ganti dengan tujuan anak berkenalan dengan teman-temannya) mendorong anak untuk bekerjasama dan sebagainya.





Kegiatan berikutnya adalah berkenalan dnegan guru-guru dan staff sekolah. Anak-anak mendapat lembaran yang berisi fotokopi foto-foto para guru dan staff, termasuk Kepala Sekolah segala. Tugas mereka adalah berkeliling mencari orang yang bersangkutan, bertanya siapa nama mereka, apa tugas mereka dan menuliskannya. Tentu saja karena anak kelas 1 dianggap belum bisa menulis, sudah disiapkan kertas dengan nama dan tugas, sehingga anak-anak tinggal meniru. Pasa guru dan staff ini menunggu anak-anak di 'tempat tugas' mereka masing-masing. Salah satu yang membuat saya terkesan, Bu Jasmin - Kepala Sekolah - ingat persis nama-nama anak-anak baru ini.



Setelah itu, orangtua diminta berpamitan pada anaknya, memeluk dan berkata akan menjemput kembali pada jam pulang sekolah, dan meninggalkan anak-anak untuk melanjutkan kegiatan di kelas bersama Bu Guru. Pada hari itu memang hanya anak kelas 1 yang masuk, jadi anak-anak baru ini pun tidak 'kaget' dengan suasana ramai yang tentu berbeda dengan sewaktu mereka di TK.

So far so good untuk Aidan, dan juga untuk saya. Saya senang sekali dengan cara SGA membantu transisi dan adaptasi anak (dan juga orangtua) memasuki lingkungan sekolah yang baru. Semoga seterunya juga terbukti bahwa kami sudah memilih sekolah yang tepat. Aamiin.

Selamat menikmati masa SMP Kakak Aira! Selamat berpetualang di sekolah baru, Mister Aidan! Be happy! :)

November 06, 2012

Pretty Princess



Kata orang saya putih. Keluarga ibu saya berasal dari Palembang, jadi mungkin turunannya memang begitu. Lain halnya dengan Pak Teddy, yang lebih gelap dari saya. Lumayan lah lebih gelapnya. Hahaha.. Nah makanya gak heran kalau Aira gak seputih saya. Gelap kayak ayah juga enggak, hanya saja gak seputih saya. Kalau di keluarga Pak Teddy Aira termasuk putih, kalau di keluarga saya baru dia kelihatan gelap. 

Orang yang melihat kami juga suka refleks berkomentar, "Gak putih kayak Bundanya ya?" atau "Wah, yang ini sih kayak Ayah ya," Hal ini dulu suka bikin saya khawatir, khawatir Aira jadi gak pede atau merasa kalau gak putih itu gak cantik. Jadi kalau ada yang komentar seperti tadi saya suka bilang, "Gak kayak Bunda lah, kan lebih cantik dari Bunda," atau semacam itu. Tapi sepertinya saya tidak perlu terlalu khawatir, Aira cukup nyaman dengan dirinya, karena ternyata dia suka kesal kalau dibilang kayak ayah bukan masalah warna kulit, tapi karena dia anak perempuan, ya masak dibilang kayak bapak-bapak. Hehehe.. 

Kemudian juga Aira seperti anak perempuan lainnya, senang sekali sama film-film Disney, khususnya yang dengan tokoh princess. Nah, siapa favorit Aira? Pocahontas. Iya, Pocahontas, dengan kulit gelap, rambut hitam, tanpa gaun dan sepatu. Sampai-sampai waktu ulang tahun, Mama Ella nawarin Aira kado boneka princess yang ukurannya lumayan besar, bukan yang sebesar Barbie, pilihan Aira ya si Pocahontas. Bukannya dia gak suka sama princess lainnya, hanya saja sepertinya si Pocahontas yang dianggap paling juara sama Aira. Sepertinya saya perlu sedikit berterima kasih sama Pocahontas yang sedikit banyak membantu Aira mengenal 'cantik' diluar warna kulit yang putih dan stereotype princess umumnya. Setelah Pocahontas, princess yang Aira suka adalah Mulan dan Ariel. Stubborn and adventurous. x) 

By the way, mine was Princess Aurora and Princess Jasmine. I wonder what did that did that say about me .



Pocahontas pic taken from here.

November 04, 2012

Tentang Belajar Membaca, part uno.



Saya selalu percaya kalau belajar membaca itu tidak perlu diburu-buru, kalau masa peka anak sudah tiba, pasti akan mudah belajar membaca. Okay, that was a lie. Waktu Aira kecil, saya pernah membaca di satu buku yang mengaitkan soal golden age anak dengan belajar membaca, yang disimpulkan dengan kalimat: jadi cepat, sebelum anak anda berusia 5 tahun, ajari ia baca segera! Jadi saya, si ibu pemula yang over-eager, langsung belanja berbagai buku belajar membaca untuk anak balita, dan mulai ngajarin Aira yang waktu itu umur 4 tahun untuk belajar membaca. Gimana hasilnya? Total failure. Aira gak tertarik sama sekali, harus dibujuk setengah dipaksa. Saya yang memang dasarnya gak sabaran jadi kesal, ujungnya marah. Jadi beberapa sesi belajar membaca yang kami lakukan biasanya diakhiri dengan tangisan. Jadi saya berhenti. Saya ingat jaman saya kecil belajar membaca sama Mama saya, saya bawaannya stress, jadi bukannya bisa, malah tambah salah yang dibaca. Rasanya gak enak, jadi pasti Aira juga ngerasa gak enak.

Untungnya saya memang orang yang selalu merasa gak perlu untuk ngikutin anak les baca. Aira pun akhirnya gak belajar membaca sepanjang TK A itu. Hanya saja saya memang selalu membelikan buku cerita dan membacakan untuk Aira. Saya lebih sering membelikan Aira buku cerita dibanding mainan. Jalan-jalan ke toko buku selalu jadi salah satu rekreasi kami. Saya 'pelit' membelikan mainan (bukannya gak dibelikan sama sekali loh), tapi gak begitu soal buku. Waktu itu saya gak mencari tahu lebih banyak soal mengajari anak membaca, saya hanya keukeuh soal gak ikut les baca dikala teman-teman disekolahnya diikutkan les membaca sama orangtuanya. Nah, di kelas TK B akhir disekolah Aira mulai diberi pengenalan membaca, untuk persiapan masuk SD, pertimbangannya sekolah gak bisa tutup mata soal banyaknya SD yang menuntut anak sudah bisa membaca ketika masuk SD. Dibanding teman-temannya, apalagi yang ikut les membaca, Aira memang termasuk yang ketinggalan soal bisa membaca. Tapi saya yakin anak pasti bisa membaca kok, jadi saya gak terlalu khawatir. Di kelas tiap anak punya list buku yang sudah dibaca, dipasang di dinding. Yang sudah lancar membaca pasti panjang daftar buku di list-nya. Punya Aira sampai mendekati akhir tahun ajaran masih pendek, hanya beberapa judul buku. Ya sudahlah ya, memang masih belajar kok anaknya.

Lalu, entah mulai kapan, Aira bisa membaca. Anak ini memang outopilot. Di SD Aira gak mengalami kesulitan sama sekali. Nilainya bagus.Saya gak perlu men-drill atau dikte soal-soal ketika ia mau ulangan, Aira baca sendiri bahan-bahannya di buku. Tidak ada pressure ketika belajar, tambah tinggi tingkat kelasnya, tambah baik nilai Aira. Aira suka membaca, ini yang memudahkan dia dalam belajar. Dia gak keberatan atau kesulitan ketika membaca buku cetak atau catatan, atau mengerjakan tugas.



Iya, anak saya ini, yang ketinggalan belajar membacanya dibanding anak lain, suka membaca. Suka sekali. Mulai dari buku cerita anak-anak yang tipis, diikuti dengan novel-novel fairy bahasa Inggris yang tipis-tipis dan mudah bahasanya, terus tambah tebal, dan terus tambah kompleks kosa-kata dan ceritanya. Dan Aira itu rapid reader, dia bisa membaca dengan cepat, paham isi bacaannya. Dari buku-buku bahasa Inggris ini juga Aira jadi mudah sekali belajar bahasa Inggris. Sekarang ini Aira gak nyaman membaca buku terjemahan. Maksudnya, jika penulis buku itu memang orang Indonesia, maka buku bahasa Indonesia ya gak papa, tapi jika aslinya bahasa Inggris, dia lebih senang membaca versi aslinya dibanding terjemahan. Harry Potter paling tebal dalam bahasa Inggris bisa selesai dibaca dalam 3-4 hari. Kalau lihat tebalnya buku bacaan Aira rasanya udah pusing duluan. Ensiklopedia anak-anak dan umum juga dia baca, begitu juga buku-buku National Geographic.Beli buku di Periplus, belum sampai rumah sudah habis dibaca setengahnya. Untungnya dia suka membaca ulang buku-bukunya. Untuk mensiasati, perpustakaan jadi alternatif yang tepat untuk memenuhi reading-appetite Aira. Sementara saya dan si ayah bahagia luar biasa melihat si Little Ace dengan buku-bukunya.


Jika dilihat, saya tidak menyamaratakan ya, beberapa temannya yang dulu lebih dulu bisa baca atau yang diikutkan les membaca, tidak sampai seperti Aira kesenangannya dalam membaca. Ada satu yang malah tidak senang membaca dan ibunya selalu kesulitan mempersiapkan si anak ketika mau ulangan. Jadi, kesimpulan sememntara saya, lebih dini anak bisa membaca gak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan mereka. Saya merasa membuat keputusan yang tepat untuk gak memaksa Aira belajar membaca. Walaupun memang tidak disengaja, sepertinya stimulus yang diberikan ke Aira melalui buku-buku pada waktu itu cukup tepat. Memang kemudian setelah saya banyak diskusi dan mendengar dari yang ahli soal perkembangan anak, mengajari anak membaca itu gak salah, yang penting caranya sesuai, dan masa peka anak sudah muncul. Tentunya si masa peka ini bisa distimulus agar muncul, lagi-lagi caranya harus sesuai. Jika masa peka sudah muncul, maka belajar membaca bagi anak adalah hal yang mudah karena si anak memang sudah siap. Ini kemudian saya buktikan pada Aidan.

Untuk membaca Tentang Belajar Membaca, part deux. klik disini.

August 08, 2012

Workshop In A Box : Simple Silhouette



Last Sunday we (Aira & I) joined the Workshop In A Box, a craft workshop held by the ever creative dreamesh and sewmanics. Every box that we given to us was filled with fun stuff to make simple silhouette. We then made silhouette decorated cards & pendant, printing silhouette using freezer paper and then print it on a tote bag. We also printed the silhouette on fabrics and framed it using embroidery hoops, something I've been wanted to learn to do in a while now. We had so much fun, Aira even got to tried to sew using a real sewing machine for the first time.

















The workshop was held at 1/15 Coffee in Gandaria, and I just love the place. By the way, until August 15th Kopi Keliling is holding a charity exhibition called ACT at 1/15 Coffee. So we look around a bit too while we were there.



pic of Aira & me was taken from Quick Click.

July 09, 2012

How Do You Doodle?























Ingat waktu saya bilang rencana awal tema ulang tahun Aira adalah doodle? Nah, dari awal itu saya udah punya bayangan soal goodie bag-nya akan seperti apa. Notebook untuk dooling tentunya, dan pensil serta marker. Sederhana saja. Dari awal saya juga sudah tau pasti saya mau pesan dari mana. k.e.d. Indonesia.

Saya pertama kali kenalan dengan k.e.d. di Tobucil Crafty Days tahun lalu. Saya beli pensil dengan tulisan, dan naksir benda2 lainnya buatan k.e.d. Sejak itu saya sering ngintip blog-nya k.e.d. Mendekati ulang tahun Aira, saya kirim email ke k.e.d., tapi cukup lama gak dibalas. Berhubung mulai panik, akhirnya saya pergi ke Dia.Lo.Gue di Kemang, untuk mencari benda k.e.d. yang saya inginkan. Notebook yang saya mau sudah habis, hanya ada pensil. Akhirnya si pensil saya beli dulu, berikut notebook buatan Koola Stuffa, untuk jaga-jaga kalau saya gak berhasil menghubungi k.e.d. Beruntung email saya kemudian diabalas oleh mbak Angki dari k.e.d dan kemudian semuanya lancar. :)





Saya jelaskan ke mbak Angki yang saya mau, akhirnya disepakati mbak Angki akan membuatkan goodie bag berisi notebook How Do You Doodle, pensil dengan tulisan yang sama, stiker dengan tema doodle, ditambah marker atau pensil warna. Semua benda ini kemudian dimasukkan kedalam pouch dari belacu yang di personalized dengan diberi stamp nama masing-masing anak. Tentunya akhirnya saya tetap menyelipkan notebook kecil Koola Stuffa yang sudah saya beli.

Waktu paket kiriman dari k.e.d. tiba, isinya tidak mengecewakan. Aira dan saya senang sekali. Bahkan si notebook milik Aira sekarang sudah dihiasi berbagai hasil doodling. Belum lagi ternyata mbak Angki menyelipkan 12 Month Journal k.e.d. sebagai kado untuk Aira. Si eneng nyaris ABG tentunya senang sekali. Terima kasih banyak-banyak-banyak ya! :D




May 29, 2012

We Heart Photo Booth!



We love love love photo booth! And the props too! It was such a fun addition to Aira's birthday party. Aira loved it, especially because she could use her new iPod touch with all the photography applications to took the pictures.




I made all the props myself, the moustache, the lips, the glasses, bubble words, & the garland too (because I so so love garlands!). I used a kites printed fabric as the background. I had a blast preparing this photo booth. Even more fun when using it at our photo booth & watching the kids (and everyone) had fun with it. :D














LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...