December 29, 2012

Kampung 99 Pepohonan Lagi



Gara-gara menulis tentang kunjungan Aira ke Kampung 99 Pepohonan bersama keluarga B1 beberapa tahun lalu, saya jadi terpikir untuk ngajak anak-anak main kesana lagi di liburan akhir tahun ini. Kali ini sudah bisa mengajak Aidan pastinya. Setelah dibicarakan dengan Bunda Santi, akhirnya kami setuju untuk main kesana lagi hari Jumat yang lalu. Selain keluarga C1 dan B1 (minus Ayah dan Abi), rombongan kecil kami juga diramaikan oleh Farrel, Anara - teman sekolah Aidan, dan keluarga Sarodja (Tante Samia, Nussa, Denisa, dan Denasa). Keluarga Sarodja ini juga keluaran TKAI. Nussa dan Denisa lulusan TKAI (Denisa dulu teman sekelas Gaia), sementara Denasa masih sama-sama Aidan kelas TK B di TKAI. Jadilah ada trio bangor nan cerewat - Aidan Anara Denasa - di rombongan kami hari itu.

Pagi itu langit mendung waktu kami menuju Kampung 99 Pepohonan dari PJR. Kampung yang satu ini jaraknya hanya 20 menit dari rumah kami, jalan masuknya tepat di seberang Mesjid Kubah Emas, tinggal mengikuti papan petunjuk. Sesampainya disana kami langsung pilih-pilih kegiatan. Selain kegiatan yang berhubungan dengan peternakan dan pertanian, ternyata disana juga bisa melakukan outbond. Rencana awalnya kami mau ambil paket seharga Rp. 135.000,- peranak, untuk 4 kegiatan yang kita pilih dan paket makan siang lengkap. Tapi ternyata paket ini preferably diambil setelah kita menghubungi terlebih dahulu. Jadinya kami memilih untuk ambil beberapa kegiatan lepasan saja, dan kemudian pesan makan siang. Kegiatan yang kami pilih adalah memerah susu kambing, menyusui bayi kambing, mencukur domba, menangkap ikan, main futsal di lumpur, dan membuat cincau. Aidan yang tadinya ingin naik sampan terpaksa gagal karena 2 hari yang lalu tanggul disana jebol akibat hujan besar, sehingga sungai kecil yang biasanya dipakai untuk naik sampan airnya jadi surut sekali. Main futsal di lumpur juga dibatalkan karena kami datang dadakan, sementara perlu waktu cukup lama untuk menyiapkan lumpurnya. Kegiatan ini diganti dengan aktivitas ice breaking sambil main permainan bola yang disebut 'Dragon Ball' di lapangan, dipimpin oleh guide kami hari itu, Ibu Santi. Walaupun aturan permainan awalnya sulit diingat anak-anak, tapi setelah mereka paham jadinya seru sekali. Anak-anak main sampai nambah beberapa 'ronde' dari yang direncanakan.









Setelah selesai bermain, kami mulai berjalan menyusuri Kampung 99 Pepohonan menuju kandang kambing tempat kebanyakan kegiatan kami akan dilakukan. Sepanjang jalan Ibu Santi yang juga tinggal disana menjelaskan tentang asal mula dibuatnya Kampung 99 Pepohonan, bercerita kalau ada 24 kepala keluarga yang tinggal disana dan semua bersaudara. Mereka hidup dalam kebersamaan dan dekat dengan alam. Contohnya dengan memilih tinggal di rumah-rumah yang ekbanyakan model rumah panggung, yang terbuat drai kayu. Kemudian setiap rumah punya tugas masing-masing, misalnya 1 rumah yang kami lewati bertugas mencuci pakaian, berarti semua pakaian dari 24 keluarga di cuci di rumah tersebut. 1 rumah lainnya tugas memasak. Ini berarti mereka tidak perlu menggunakan 24 mesin cuci, misalnya, tetapi cukup 2 sampai 3 mesin cuci saja. Begitu juga dengan penggunaan kompor dan tabung gas, dan hal-hal lainnya.



Kami melewati kandang sapi sebelum sampai ke kandang kambing. Ada banyak jenis sapi disini.Biasanya ada yang mencapai 1 ton, tetapi waktu kami kesana si sapi 1 ton sudah dibeli waktu Lebaran Idul Adha yang lalu. Disini Aidan dan Anara sudah mulai pasang ancang-ancang tutup hidung, apalagi semakin mendekat ke kandang kambing. Di kandang kambing yang di depan, anak-anak diperlihatkan macam-macam jenis kambing, ada yang dari Swiss, Afrika, termasuk juga kambing Etawa yang beken itu. Kemudian kami menuju kandang yang dibelakang. Nah untuk sampai kesini tanpa memutar, kamu harus melewati kolong rumah panggung, dan di kolong itu ada deretan kandang kambing di kiri dan kanan. Jadilah Mister Aidan melewati lorong yang harum nan semerbak itu sambil lari dan tutup hidung. x)






Di kandang kambing yang kami tuju ada sapi juga. Sambil nunggu pekerja yang akan membantu kami, anak-anak bebas memberi makan sapi, kambing, maupun domba yang ada disana. Kandang-kandang berderet-deret rapi. Anak-anak senang sekali. Hanya Mister Aidan yang masih kelihatan menderita, berusaha menghilangkan bau tak sedap, termasuk sambil menutupi lubang hidungnya dengan botol minum sampai pesek. Setelah beberapa lama baru dia mau ikutan Anara dan Denasa kasih makan kambing dan domba. Gak lama mereka sudah tambah rusuh lari-lari, 3 anak kota di kandang kambing.










Setelah pak petugas datang mebawa kambing yang akan diperah susunya, anak-anak bergantian mencuci tangan dan melumurinya dengan margarin, agar si kambing tidak kesakitan waktu diperah. Lalu mereka mengantri dengan rapih, mendengarkan instruksi pak petugas, katanya yang penting tidak boleh takut, kalau kita takut si kambing akan jadi gugup juga. Acara memerah susu berjalan lancar, semua mencoba. Mereka juga boleh mencicipi susu hasil perahannya, kata mereka sih rasanya biasa saja, seperti susu di rumah. Nah, kemudian kerusuhan dimulai ketika 3 botol susu sudah disiapkan dan pak petugas menggiring 3 anak kambing keluar dari kandang. Berhubung ini kambing, mereka tidak duduk manis macam bayi manusia waktu minum susu. Mereka lari-lari dan loncat loncat mengejar susu. Aidan dan Anara sempat panik, mengira mereka dikejar. Tapi setelah dibantu kakak-kakak besar dan Ibu Santi, mereka akhirnya berani juga menyusui anak-anak kambing tadi. Sementara Aira tetap dengan metode lama, memberi susu sambil bersandar ke tiang, agar tidak terdorong-dorong. x)

Terakhir pak petugas mengeluarkan seekor domba yang akan dicukur bulunya. Kalau di Indonesia, berbeda dengan doma di New Zealand misalnya yang bulunya dicukur rapih untuk kemudian bisa dijualan dalam bentuk lembaran, domba dicukur biasa dengan gunting. Tujuannya hanya supaya mereka tidak kepanasan, dan mereka makin gemuk, kalau gak salah. Kegiatan ini akhirnya hanya dilakukan kakak-kakak yang sudah besar, Aldo Alee Aira, karena agak sulit. Di kandang kambing ini kami juga sempat melihat kambing yang baru melahirkan pagi itu, bayinya masih berdarah-darah melingkar di dekat induknya. Ini punjadi pengalaman baru bagi anak-anak. Kata Ibu Santi, umumnya kambing melahirkan 1 ekor anak kambing saja, walaupun pernah juga disana ada yang melahirkan sampai 4 ekor, tapi kasihan induknya karena kemudian harus mengurus dan menyusui 4 ekor anak kambing. Untuk kasus semacam ini biasanya kemudian susu kambing dibantu disusui dengan dot agar mencukupi, kemudian setelah mereka sudah lebih kuat baru diberi tambahan susu sapi dengan dot.












Di jalan kembali dari kandang kambing, kami melewati rumah besar yang ada ayunan ban tergantung di pohon besar. Di kunjungan sebelumnya anak-anak sempat main disini, kali ini pun mereka ingin main lagi, dan diperbolehkan oleh Ibu Santi. Jadi lah anak-anak kota ini gantian main ayunan ban. Disini Ibu Santi menawarkan untuk melihat dapur tempat pengolahan susu kambingdan sapi, termasuk yang diolah menjadi yogurt. Kami juga bisa belanja susu dan yogurt disini. Akhirnya anak-anak masing-masing mencicipi susu sapi atau kambing, yang sudah diberi perisa pandan atau coklat baru kembali ke area utama Kampung 99 Pepohonan. Kemudian hujan turun, memang tidak sampai deras sekali, tapi tidak gerimis juga. Anak-anak yang menemukan pohon talas di pinggir jalan menggunakan daunnya yang lebar untuk menutupi kepala, lengkap lah pengalaman main di kampung.






Setelah hujan reda, baru kami menuju kolam tempat akan menangkap ikan. Anara tidak mau masuk sama sekali, katanya dia lebih suka kolam yang airnya putih. Aidan juga tidak lama-lama, karena takut digigit ikan hiu. Hahahahahaha. Sementara anak yang lainya  puas main basah-basahan disini. Hanya saja mereka tidak dapat ikan, kolam sedang minim ikan rupanya. Maka mereka pun segera mandi karena sudah kelaparan, kecuali Aldo dan Alee. Rupanya kesabaran membuahkan hasil, mereka sempat memandikan kerbau sementara kolam kemudian di-refill ikannya jadi banyak sekali, mereka dapat 20 ekor ikan yang kemudian dibawa pulang.





Setelah mandi dan ganti baju bersih, anak-anak yang kelaparan makan siang dengan ayam kampung goreng dan sayur sop, rekues khusus Aidan dengan sayur asem. Kemudian sebelum pulang kami melakukan kegiatan terakhir, membuat cincau. Cincau yang dibuat adalah cincau hijau yang bisa langsung diminum. Cincau ini dihasilkan dari daun cincau, memang kandungan agarnya tidak terlalu kuat seperti rumput laut, tetapi mengandung banyak klorofil, dan banyak manfaatnya. Pertama, daun cincau dirobek-robek kecil, dibuang tulang daunnya. Kemudian ditambahkan air dan diremas-remas sampai keluar 'agar'-nya yang licin dan kehijauan. Terus diremas sampai berbusa. Lalu disaring agar terpisah dari daunnya, bentuknya menyerupai slime hijau tua. Kemudian ditambahkan perasan jeruk nipis, gula cair, dan es. Kami semua mencicipi, dan rasanya segar sekali.













Hari sudah semakin sore dan sudah waktunya kami pulang, kembali ke 'kota' dengan membawa ikan mas, cincau hasil buatan sendiri, beberapa liter susu sapi, dan berkantong-kantong kecil yogurt rasa buah-buahan. Terima kasih ya Ibu Santi dan Kampung 99 Pepohonan. Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat hari ini bisa membuat anak-anak makin dekat dan bersahabat dengan alam. :)


Kampung 99 Pepohonan

Jl. KH. Muhasan II
Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo
Depok 16515
021-99955610, 021-77883623

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...