December 17, 2012

Nostalgia Pasar Seni

Dulu, waktu saya masih kecil, saya ikrib banget sama Pasar Seni Ancol. Mulai dari berbacai acara lomba anak-anak yang diadakan disana, sampai yang sekedar jalan-jalan saja di akhir pekan sama Mama dan Aweng. Memang dulu itu kayaknya hits banget bikin acara anak-anak di Pasar Seni, yang paling sering sih yang diadakan oleh sanggar yang saya ikuti, Sanggar Kreatifitas Bobo. Tapi diluar acara-acara tadi, Pasar Seni juga jadi tempat tujuan (rutin) keluarga kami. Dulu ada beberapa teman Aweng yang punya kios disana, salah satu yang saya (mudah-mudahan gak salah) inget adalah kios keramik milik Oom Indros. Waktu itu kan belum kayak sekarang ini dimana kelas art & craft banyak dimana-mana, sementara saya senang sekali membentuk-bentuk tanah liat. Jadilah kalau kami ke Pasar Seni, saya hampir selalu ditinggal di kios keramik tadi, dengan seonggok tanah liat yang bebas saya bentuk-bentuk, sementara Mama dan Aweng jalan-jalan. Nanti hasil karya saya ditinggal disana untuk dibakar, lalu kami ambil lagi saat kunjungan berikutnya. Saya senang sekali. Saya selalu menikmati kunjungan-kunjungan kami ke Pasar Seni Ancol, tampat tersebut selalu berkesan teduh dan santai di ingatan saya. Lalu Ancol bertambah padat, begitupula jalanan Jakarta yang semakin tidak ramah. Maka kunjungan ke Pasar Seni pun semakin berkurang, sampai akhirnya belum tentu dalam 2-3 tahun kami kesana.

Nah, tahun lalu, Creative Art Studio tempat Aira menggambar, ikut serta dalam Ancol Artfest. Setiap anggota Studio boleh ikut memamerkan karyanya. Aira, Alee, dan Gaia ikut memamerkan karya mereka. Setiap karya diberi judul dan boleh diberi harga jika memang ingin dijual. Maka di hari Minggu saat Artfest masih berlangsung keluarga B1 dan C1 pun berkunjung ke Pasar Seni Ancol. Waktu kami sampai sana masih belum terlalu siang dan Pasar Seni masih lengang. Kami pun langsung mengunjungi kios yang digunakan oleh Creative Art Studio dan melihat-lihat. Children's art always always always fascinated me. Saya senang sekali melihat warna-warni dan imajinasi yang memenuhi setiap sudut kios tadi. Sementara Aira foto-foto dengan bangga di samping karyanya dan melihat-lihat karya anak-anak lain, Mister Aidan kenalan dengan beruang-beruang recycle karya Kak Nasya. x)

















Tentunya kami tidak lalu langsung pulang, kami berkeliling Pasar Seni dulu. Sebenarnya memang ada yang saya cari, seniman silhouette Pak Priadji. Saya punya silhouette saya kecil karya Pak Priadji dan saya ingin membuat untuk Aira dan Aidan, tapi saya tidak ingat lokasi kios beliau. Untungnya ternyata kios Pak Priadji lokasinya mudah, kami melewatinya ketika kami mulai berkeliling. Langsung saya meminta beliau membuatkan silhouette Aira dan Aidan. Agak lupa berapa biayanya, sekitar 100-125 ribu sebuah kalau tidak salah, sudah diberi bingkai. Aira bisa duduk manis selama Pak Priadji menggunting kertas hitam menjadi siluet, sementara Aidan harus dipangku saya dan diumpani dengan games di tablet. Hahaha.. Pastinya mereka terkagum-kagum melihat hasil akhir siluet karya Pak Priadji.









Gaia, Alee, dan Aldo pun tertarik, tapi hanya Gaia yang dibuat siluet-nya, sementara Alee dan Aldo minta dibuatkan gambar karikatur mereka. Kami jadi lama duduk-duduk di kios Pak Priadji, sementara hari mulai tambah siang. Beruntung ternyata sedang ada festival kuliner Jogja juga disana. Akhirnya sambil  menunggu kami makan siang kuliner Jogja, mencicipi sate klathak khas Imogiri yang ditusuk dengan jeruji besi. Enak luar biasa. Anak-anak yang kemudian sudah selesai berpose untuk Pak Priadji dan selesai makan siang pun mulai gak bisa diem. Saat kami masih bolak-balik mencoba berbagai kuliner Jogja yang lain, mereka mulai lari-larian di area kosong di tengah Pasar Seni, lalu main petak umpet, padahal di bagian tengah itu kan tidak ada pohonnya dan gak perduli matahari yang tambah kinclong. 







Setelah semua kenyang, puas lari-larian dan membawa karya Pak Priadji, kami pun perlahan berjalan menuju parkiran, sambil tetap melihat-lihat kios-kios atau pameran yang kami lalui. Setelah entah berapa tahun gak ke Taman Seni, ternyata saya tetap menikmati kunjungan ke tempat itu. Walau matahari terik, pohon-pohon yang rindang tetap membuat Pasar Seni terasa teduh dan suasana disana rasanya tetap sama seperti dulu, tidak banyak yang berubah, santai. :)







2 comments:

isyana said...

udah lama ga ke pasar seni.. dulu jaman SMA, pernah charter metromini barengan ekskul sekolah ke pasar seni puan, trus disana ngobrol ngobrol sama para pelukis.. hihihi.. seru juga, pembimbing ekskulnya dulu rada nyentrik.. jadi pingin kesan lagi liat ini

Puan Dinar said...

gak banyak yg berubah, kayaknya ini bagian dari ancol yang paling laid back. bawaannya santaaaiiii banget rasanya kalau kesini. hehe.. :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...