November 24, 2014

Destination UK



Oke, jadi perjalanan ini sebenarnya impulsif tapi enggak. Dengan alasan mau nengokin Rendy, adiknya Teddy yang sedang sekolah di Leeds, kami (kami sekeluarga dan mama-papa mertua) mengunjungi travel fair pada suatu Minggu siang. Kan liat-liat aja, begitu ceritanya. Eh, lalu nemu tiket promo ke Manchester. Eh, harga bersahabat. Eh, cicilan nol persen. Eh, di-booking deh. *lap keringet*

Tiket beres, drama berikutnya visa UK. Berhubung tiket promo, kan berarti gak bis refund, jadi kalo sampe gak dapet visa, ya tinggal meweknya aja. Karena sebelumnya mama dan papa mertua pake agent untuk urus visa, akhirnya kami nurut pakai agent yang sama. Pakted agak skeptis, karena selama ini dia selalu urus sendiri, dan gak ribet. Bener aja, pakai agent malah jadi ribet dan bikin senewen, dokumen jadi ekstra banyak yang sebenernya kalau liat di website untuk urus sendiri gak diperluin. Alhamdulillah setelah mules selama 3 minggu (karena visa UK yang selama ini di-issue di Bangkok dipindah ke Manila karena Bangkok lagi rusuh) akhirnya visa kami keluar juga. Mega relief!

Drama selanjutnya adalah menyusun itinerary dan booking penginapan dan transport. Tapi yang ini drama menyenangkan, tentunya. Itinerary disusun berdasarkan diiskusi dengan Rendy yang sudah sempet jalan-jalan ke banyak kota di Inggris. Untungnya lagi, pilihan kota yang dikunjungi Rendy tidak melulu yang umum dikunjungi turis. Liverpool dan London sudah pasti, sisanya kami akan road trip dari Leeds menuju Edinburgh, via York dan Whitby. 




Itinerary beres, tinggal urusan penginapan dan transport. Saya dan Pakted emang seneng banget bagian browsing penginapan kalau mau traveling. Kali ini, syarat pilihan kami adalah apartemen dan sejenisnya, ada dapur, dan yang paling penting ada mesin cuci! Akhirnya kami dapat aparthotel di Leeds, serviced apartement di Liverpool, rumah teman di London, apartement di Whitby dan Edinburgh. Kereta dan bis sudah di-booking online juga, tinggal menyewa mobil untuk road trip disana nanti.




Nah, kemudian masalah pakaian. Ini drama, setidaknya buat saya, sih. Karena saya yang harus packing buat 3 orang. Jadi, kami akan pergi di pertengahan bulan Juni, yang harusnya sih udah mulai masuk summer. Tapiiii.. ini kan Inggris, yang sampai seminggu sebelum keberangkatan suhunya masih belas-belas digit bawah, kadang-kadang 9 derajat celcius. Takut bawa jaket tebel taunya kepanasan, tapi gak bawa nanti kedinginan. Ini berpengaruh sama berat koper solanya, kan? Ya, kan? Ya, kan? Akhirnya setelah obrol-obrol dengan Santi, yang rumahnya kami inapi di London, diputuskan untuk bawa baju biasa saja, jaket biasa preferably yang ada capuchon-nya dan tahan air. Yang harus diantisipasi memang hujan. Kalau gaya sih, saya udah pasrah. Ini jalan-jalan sama anak-anak, sneakers dan backpack sudah pasti!



Jalan-jalan dengan anak-anak memang sudah pasti berbeda semuanya. Mulai dari apa yang dibawa, sampai itinerary. Buku Lonely Planet Great Britain memang jadi panduan, tapi kami memilih untuk tidak memaksa mengunjungi semua tempat hanya karena tempat-tempat tadi ada di daftar 'must visit' bagi turis. Kami ingin menikmati Inggris dengan kecepatan kami dan tidak 'menyeret-nyeret' anak-anak ke tempat yang tidak mereka nikmati.


Jadi, setelah segala persiapan dan kesenewenan, setelah penerbangan sekitar 19 jam via Abu Dhabi (yang ternyata Aira dan Aidan anteng-anteng aja), kami mendarat juga di Manchester Airport. Disambut oleh cuaca yang Inggris banget, udara dingin, langit abu-abu, dan gerimis, serta Rendy yang senang dikunjungi keluarga serta makanan Indonesia sekoper. 

Woohooo! Let the adventure begin! :))




No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...