November 10, 2010

Little Farmers.

Minggu terakhir liburan sekolah yang lalu, atau tepatnya minggu keempat staycation, kami sekeluarga pergi ke Bandung. Kami memang cukup sering ke Bandung, mengingat banyak saudara dekat yang memang tinggal di Bandung dan jarak tempuh ke kota tersebut yang tidak jauh. Karenanya, agar Aira dan Aidan tidak bosan, saya mencari ide kegiatan yang belum pernah kami lakukan disana. Dari hasil browsing dan obrol-obrol, saya memutuskan mengajak anak-anak ke Little Farmers, di daerah Lembang. Sebenarnya Little Farmers sudah ada cukup lama, tapi sebelum ini Aidan masih terlalu kecil dan pastinya kurang seru kalau si kakak Aira hanya sendirian. Untungnya tidak perlu datang dengan rombongan untuk dapat beraktivitas di Little Farmers. Biayanya juga tidak mahal, mulai dari Rp.20.000,- sampai Rp.50.000,- tergantung paket kegiatan yang kita ambil. Di Little Farmers anak-anak akan diajari dan diajak menjadi petani dan peternak, dengan didampingi seorang pembimbing, dan memanen yang hasilnya boleh dibawa pulang tanpa membayar lagi. Anak-anak juga dipinjami caping, supaya seperti petani sungguhan. Di akhir pekan ada penyewaan sepatu bot karet, jadi jika datang kesana di hari biasa boleh juga membawa sepatu bot sendiri.

Little Farmers, Lembang
Jaga lingkungan kita ya.
Ada tanaman obat juga.
Kebun wortel siap panen.
Anak Jakarta, belum pernah main kentongan.


Pertama-tama, kita jadi petani dulu, ditemani pendamping bernama Kak Budi. Lengkap dengan caping Aira dan Aidan diajari cara mencangkul dan menebar benih wortel yang benar. Mencangkul yang benar kakinya harus dibuka, kata Kak Budi, agar kaki tidak luka kena cangkul. Benih wortel juga harus ditebar, jangan dituang di satu tempat saja. Kak Budi memberi bekal benih wortel, kalau-kalau mau mencoba bertani wortel di Jakarta. x)

Belajar nyangkul, Ayah juga ikut.
Eits, hampir copot capingnya.
Ini Kak Budi namanya, memperlihatkan benih wortel.
Benihnya ditebar seperti ini.


Bukan hanya cara mencangkul dan menebar benih, Kak Budi juga mengajak anak-anak berkeliling lahan yang ada. Ada cukup banyak jenis tanaman di Little Farmers, mulai yang untuk dikonsumsi sampai tanaman obat. Semua tanaman dijelaskan cukup detil, benar-benar semua tanaman yang ada, bahkan bunga yang saya pikir hanya ditanam untuk hiasan saja. Kak Budi juga sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dari awal dia memang berpesan untuk jangan takut salah untuk menjawab, karena toh mereka ada disana untuk belajar. Baik juga Kak Budi. Tapi rupanya Aidan gak ingat nama Kak Budi. Waktu tertinggal 'rombongan' dia teriak-teriak, "Hey, Pak Tani! Tunggu aku!" ;D

Kalau mau jadi petani handal, harus dengar apa kata Kak Budi. ;D
Kakak Aira, petani serius.
Adik Aidan, pak tani super repot. :p
Yang ini ditutup plastik, biar gak diserang rumput liar.
Aidan: Ini tiang-tiang buat apa ya?
Aidan: Mungkin buat caping.
Aidan: Seperti ini.
Aidan: Kakak! Liat! Ini gantungan caping! x)
"Hey, Pak Tani! Tunggu aku!" kata Aidan.
"Mana Pak Tani tadi?"
Semua tanaman ada keterangannya.

Sekarang waktunya panen! Anak-anak boleh memetik dan membawa pulang apa saja yang saat itu sedang bisa dipanen. Pada saat kami berkunjung yang siap panen adalah wortel dan selada. Panen juga wortel dan selada juga ada cara-caranya ternyata. Memegang di pangkal daun, agar lebih mudah ditarik. Kalau ternyata dapat wortel yang kecil, ditinggal saja, nanti ada pak tani sugguhan yang akan mengumpulkan untuk jadi makanan kelinci. Daun selada yang ada terkadang berlubang-lubang, karena di Little Farmers tidak menggunakan pestisida.

Panen wortel. Tarik terussss!
Dapet wortelnya!
Kakak dapet banyak wortel
Wortelnya nanti mau dibikin sop.
Sekarang panen selada.
Banyak selada!

Sekarang bagian kesukaan Aidan, jadi peternak. Aidan sedang keranjingan Shaun the Sheep, yang entah kenapa dia menyebutnya Osamisi. Makanya sejak panen selada yang semangat hanya kakak Aira, karena Aidan sudah gak sabar mau ketemu Osamisi, walaupun sebenarnya disana adanya kambing, bukan domba. Pertama-tama yang diberi makan adalah 3 kambing dan 2 ekor anak sapi. Aidan senang sekali, kakak Aira juga. Aidan bahkan mau mengelus-elus moncong di anak sapi. Kalau dituruti, Aidan gak mau beranjak dari situ. Berikutnya yang diberi makan adalah kelinci dan marmut. Anehnya, Aidan malah agak takut (atau geli mungkin) sama kedua hewan kecil ini, sementara Aira kesenangan mengelus-elus kelinci dan marmut. Ada juga ayam dan soang, tapi yang berikutnya diberi makan adalah 4 ekor sapi perah besar-besar. Aidan takjub, melihat versi sungguhan dari gambar sapi di karton susu. Aira tidak senang sama bau-nya, jadi setelah sebentar memberi makan, dia kembali ke kandang kelinci. Aidan sepertinya memang lebih tertarik pada hewan-hewan yang ukurannya besar ini. Selain memberi makan, si sapi juga diajak ngobrol sama Aidan, ditanya namanya siapa. xD

"Ayo makan sapiii.... Aaaaaa!"
Elus-elus anak sapi.
"Osamisi (baca: Shaun the Sheep) ayo makaaan!"
Sekarang kasih makan kelinci.
Marmut juga ada. Kakak Aira pengen bawa marmut pulang. :p
Kasih makan sapi! Kakak Aira gak suka baunya. ;D
"Hai sapi, apa kau punya nama? Aku Aidan." xD
Sapi-sapi perah.

Sapi-sapi ini diperah sehari dua kali, jadi kalau anak-anak mau belajar memerah sapi, bisa datang diwaktu mereka akan diperah susunya, yaitu pagi hari dan sore hari. Nah, selain susunya, kotoran sapi ternyata juga bermanfaat. Disini anak-anak diperlihatkan bagaimana kotoran sapi diolah menjadi biogas. Biogas ini selain bermanfaat menjaga lingkungan karena menrubah limbah kotoran sapi menjadi sesuatu yang bermanfaat, juga aman, karena kalau bocor tidak berbahaya hanya bau-nya saja mungkin yang bisa bikin pingsan. Hehe. Kata Kak Budi di beberapa desa di sekitar situ, warga sudah ada yang membuat instalasi biogas di rumah masing-masing, jadi mereka gak perlu beli gas elpiji lagi. Hebat ya.

Tempat pengolahan biogas.
Manfaat biogas.
Biogas untuk menyalakan kompor

Di Little Farmers juga ada fasilitas kegiatan yang lainnya, seperti flying fox, berkuda, tangkap ikan, mini arung jeram, ATV, dll. Sebagai penutup Aira, Aidan, Ayah, dan Bunda berkeliling lahan Little Farmers yang ternyata luas sekali dengan naik ATV. Sempat juga berhenti sebentar untuk melihat air terjun curug Cimahi dari kejauhan. Menurut pak supir ATV baru-baru ini ada bagian yang longsor disana karena hujan deras, makanya curug Cimahi sedang ditutup untuk pengunjung. Oh ya, bagian dari paket Little Farmers adalah kegiatan yang diakhiri dengan beristirahat di saung sambil menikmati suguhan teh dan rangginang. Setelah itu, waktunya kembali ke Bandung, dengan membawa beberapa kantong berisi wortel dan selada. Semua senang.

Naik ATV.
Lihat curug Cimahi, dari jauh.
Curug Cimahi, habis longsor karena hujan besar, jadi gak bisa kesana.


*semua percakapan dengan tanda kutip di caption foto benar-benar terjadi. x)
*GPS membantu dalam mencari lokasi Little Farmers.

Little Farmers
Jl. Kolonel Masturi no. 339
Bandung Barat

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...