July 21, 2012

Warung Kopi dan Belitung Timur



Hari ketiga, tujuan kami adalah Belitung Timur. Kota Manggar tepatnya. Hari ini juga Pak Teddy akan pulang duluan ke Jakarta setelah makan siang karena ada meeting. Seperti biasa pagi itu anak-anak kami jejali sarapan dulu di hotel. Lalu kami menuju pemberhentian pertama masih di Tanjung Pandan, sebelum kemudian menuju Manggar. Kami mengunjungu warung kopi Ake.

Manggar memang disebut-sebut sebagai kota 1001 warung kopi, tapi sepertinya akan sulit mengajak anak-anak mampir ke warung kopi siang nanti, maka warung kopi Ake yang sudah dijalani oleh 3 generasi ini menjadi pilihan kami. Iya, warung kopi ini sudah tua, konin yang tertua di Tanjung Pandan. Bangunannya sendiri sudah berdiri sejak 1922, kalau saya tidak salah ingat obrolan dengan pak pemilik warung. Bahkan si ketel yang digunakan sudah berumur 100 tahun. Di warung kopi ini waktu rasanya seperti berhenti. Bangku-bangku dan meja tua yang tidak seragam, tentara dan warga lokal yang duduk bercampur di satu meja, menikmati segelas kopi panas atau telur setengah matang, sambil mengobrol dengan santai. Yang sedihnya, ada kabar bahwa bangunan tua tempat warung kopi ini akan dihancurkan tahun depan, untuk pelebaran jalan. Mudah-mudahan tidak sampai terjadi.









Pagi itu saya memesan kopi, yang seperti juga di daerah dengan latar budaya melayu berarti by default kopi saya datang dengan dicampur susu kental manis. Saya juga memesan telur setengah matang. Enaknya. Pak Teddy, Abi Temi, dan Aki memesan Kopi O, atau kopi hitam. Sementara sisanya termasuk anak-anak memesan teh susu. Setelah puas mengobrol dengan Pak Ake yang ramah dan perut sudah terisi minuman hangat, kami pun memulai perjalanan 1,5 jam menuju Manggar.

Perjalanan di elf menuju Manggar ini salah satu yang paling membosankan bagi anak-anak. Anak-anak yang besar memang bisa duduk dengan tenang sambil mendengarkan musik dari iPod, atau kemudian tertidur. Anak-anak yang lebih kecil ini yang perlu dihibur, supaya mereka tidak bosan dan rewel. Untungnya setelah 1 jam akhirnya kebanyakan dari mereka pun ikut tidur. Di sepanjang perjalanan kami banyak melihat sisa-sisa tambang terbuka yang dibiarkan begitu saja, membentuk lubang-lubang raksasa atau gundukan-gundukan, atau terisi air hujan menjadi danau kecil.  Berbeda dengan pantai indah yang kami lihat kemarin, sisi lain dari Belitung ini terlihat terbengkalai begitu saja.

Tujuan pertama kami adalah Vihara Dewi Kwan Im di daerah Burung Mandi. Lalu kami mengintip pantai Burung Mandi. Pantai ini selayaknya pantai-pantai yang umumnya kita kenal, berombak. Tapi tentunya dalam versi yang belum tercemar, pasir putih dan laut biru. Dengan beralasan ombak yang sedang tinggi dan angin yang kuat, kami berhasil mencegah anak-anak berenang di laut. Jadi mereka hanya bermain-main saja di sekitar pantai. Setelah itu baru kami memasuki pusat kota Manggar untuk makan siang. Ternyata memang tepat jika Manggar disebut sebagai kota 1001 warung kopi. Disini warung kopi bertebaran di sepanjang jalan.















Setelah kami makan siang Cikgu mengantar Pak Teddy kembali ke Airport Tanjung Pandan untuk kembali ke Jakarta. Sementara itu sisa rombongan melanjutkan perjalanan melihat Bukit Samak dan replika SD Laskar Pelangi. Dari atas Bukit Samak yang tinggi kita bisa melihat langsung ke laut yang ada di bawahnya, yang kemudian kami singgahi sejenak sebelum menuju replika SD Laskar Pelangi.

Berkah dari tetralogi novel karya Andrea Hirtata terutama buku yang pertama, Laskar Pelangi, adalah banyak orang yang diperkenalkan kepada Belitung melalui buku-buku tersebut. Apalagi setelah buku Laskar Pelangi dijadikan film dan kemudian juga pertunjukan musikal. Replik SD Muhammadiyah Gantong atau SD Laskar Pelangi ini dibangun untuk keperluan pembuatan film Laskar Pelangi. Letaknya yang diatas bukit berpasir dengan pohon-pohon di sisi-sisinya dan langit biru berawan sebagai latar belakang memang membuatnya menjadi tempat yang ideal untuk foto-foto.





Anak-anak senang berkunjung ke replika SD yang terkenal ini, terutama mereka yang sudah membaca bukunya, menonton film dan musikalnya, seperti Aira, Aldo, Alee. Mereka asik berpura-pura menjadi Laskar Pelangi duduk di dalam kelas, menebak-nebak apakah sepeda rusak yang ada disana ceritanya milik Pak Harfan, pohon yang mana yang merupakan 'pohonnya Mahar'. Sementara anak-anak yang lebih kecil sibuk menelitikakus bohongan yang ada di bagian belakang bangunan. x)








Sekembalinya kami ke hotel rasanya lelah sekali. Tapi malam itu, seperti mlam-malam lainnya, kami dijemput untuk makan malam. Dan tentunya seperti malam-malam lainnya menunya seafood, hanya saja malam ini agak istimewa, rajungan yang dimasak khas Belitung. Siapa yang bisa menolak? Jadi perjalan kami mengunjungi warung kopi, kota manggar, dan SD Laskar Pelangi ditutup dengan berpiring-piring rajungan dan otak-otak ala Belitung.


all pics courtesy og Keluarga B1, C1, C3.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...