July 21, 2012

Off To Belitung We Go


Setelah planning berbulan-bulan, mostly via emails & whatsapp, pagi itu 3 keluarga dari PJR (B1, C1, C3) dan keluarga Bu Asti (dahulu C2) bertemu di Terminal 1 Soekarno Hatta. Kami akan naik Sriwijaya Air, satu dari dua airlines yang melayani penerbangan ke Tanjung Pandan. Senangnya ada Ani dari C3 yang ikut, pagi-pagi di airport kami sudah disuguhi makaroni. Ternyata eh ternyata, pesawat kami delay sampai 2 jam. Untungnya beramai-ramai, jadi setelah perut anak-anak diganjal, mengingat jadwal tur kami yang tadinya akan diawali dengan makan siang juga pasti akan ikut berantakan, mereka gak begitu rewel, karena banyak temannya. Memang akhirnya lebih lama kami menunggu di airport dibanding penerbangan menuju Tanjung Pandan yang hanya 50 menit itu. Sebagai informasi, landasan di Tanjung Pandan pendek dan agak bergelombang, jadi untuk first timer macam saya, proses landingnya lumayan bikit kaget. Hehehe.





Turun dari pesawat, kami langsung disambut matahari Belitung yang cerah ceria. Di airport Tanjung Pandan ini kami dijemput oleh tour leader kami, yang dipanggil dengan sebutan Cikgu, karena ia seorang guru SD honorer yang bekerja mengantar tur jika sedang tidak mengajar. Cikgu ini yang nantinya mengantar kami setiap hari selama kami di Belitung, juga berbagi cerita & info tentang berbagai hal yang kami lihat & kunjungi.

Dari airport kami check in dulu di hotel yang jaraknya kira-kira 30 menit perjalanan. Jarak 30 menit di Belitung tentunya berbeda dengan di Jakarta, karena jalan-jalan di Belitung panjang, mulus, dan.. kosong. Saya mungkin akan bahagia sekali nyetir di Belitung. Sepanjang jalan kami banyak melihat rumah-rumah penduduk, ada yang sudah modern, tapi banyak pula yang masih tradisional, dari kayu dengan jendela terbuka lebar dan tirai melambai-lambai. Rumah-rumah ini terlihat tua, tetapi banyak diantaranya yang masih cantik.

Setelah selesai urusan check in & ganti baju yang lebih nyaman, kami langsung menuju tujuan pertama kami, Tanjung Tinggi. Seharusnya kami makan siang disana, tapi karena jadwal pesawat yang delay, jadi agak kurang jelas itu makan apa. Orang dewasa sih makan dengan lahap karena kelaparan. Siapa yang bisa menolak sajian seafood yang dimasak khas Belitung dan kelapa muda segar? Tapi anak-anak pastinya udah gak konsen ketika disuruh makan, karena pantai sudah di depan mata. Akhirnya mereka pun lari duluan menuju pantai dan langsung nyemplung ke laut.







Waktu saya bilang pantai & laut, jangan bayangkan pantai panjang penuh orang dan laut dengan ombak bergulungan. Bayangkan saja kolam renang, versi raksasa. Iya, di Tanjung Tinggi lautnya dangkal dan tidak berombak. Hanya ada sedikit bagian yang ada ombaknya, itu pun ombak malu-malu. Pasirnya putih, halus macam tepung dan airnya jernih. Dengan batu-batu raksasa, bukan hanya di tepian sekitar pantai, tapi juga bertebaran di tengah-tengah laut. Anak-anak langsung menggila, berenang dan memanjati batu-batu yang ada, batu di tepi pantai maupun batu di tengah-tengah yang dengan mudah bisa mereka capai. Aduh, saya bisa kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa indah dan menyenangkannya tempat ini.

Sore itu kami berpindah-pindah mendatangi 3 spot di Tanjung Tinggi, semuanya berdekatan, bisa dicapai dengan jalan kaki. Yang pertama di dekat tempat makan kami, tertutup batu-batu besar, tidak ada ombak sama sekali, sehingga spot ini jadi seperti private pool kami, tidak ada siapa-siapa lagi disana. Lalu spot kedua, di bagian tengah, yang paling menyerupai pantai dengan ombak malu-malu. Spot ini banyak dikunjungi orang (tetapi tetap jangan bayangkan ramai macam di Kuta ya). Ada penyewaan ban dan perahu karet disini.






Spot yang ketiga adalah tempat shooting film Laskar Pelangi. Batu-batunya lebih besar-besar lagi. Ada semacam teluk kecil disini, jadi anak-anak yang lebih kecil seperti Aidan, Kira, Fino, & Lana bisa bebas main pasir dan berenang-renang. Aidan yang waktu terakhir kami ke Bali masih jerit-jerit kalau kakinya masuk ke air laut, kali ini sudah sangat berbeda, dia nyaman sekali main di laut. Anak-anak yang lebih besar seperti Aldo, Alee, Aira, Bumi, Gaia, Farrel bisa berenang lebih jauh lagi. Air lautnya tidak tinggi, jadi anak-anak pede luar biasa berenang-renang disini. Sementara para orangtua bisa memanjati batu-batu besar, menunggu saat sunset, yang makjaaaaan cantiknya. x)








Perlu usaha keras untuk mengajak diri sendiri, apalagi anak-anak, untuk beranjak dari sini. Akhirnya setelah memandangi langit yang warna kemerahannya berubah-ubah setiap detiknya sampai akhirnya matahari benar-benar tenggelam dan langit semakin gelap, baru kami pergi meninggalkan Tanjung Tinggi. Kami kembali ke hotel, makan malam, lalu istirahat. Masih ada banyak pantai yang menanti kami besok. :)

all pics courtesy of keluarga B1, C1, C3.

1 comment:

Riska said...

pantainya bener-bener cantik! jadi kepikiran untuk menjadikan belitung destinasi wisata :D

plus, asik banget bisa liburan bareng-bareng tetangga. kayanya enak banget jadi tetangga Puan hehehe.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...