August 25, 2012

Talk The Talk

Bagi yang belum tau, iya, saya orang Batak. Dari pihak ayah, atau sebagaimana saya memanggilnya, dari pihak Aweng (more about this Aweng term later). Tapi keluarga kami bukan Batak biasa. Ayah saya, si Aweng ini, dan semua kakak-adiknya, lahir dan tumbuh besar di Madiun. Kemudian pindah ke Bandung, terus sampai kuliah. Tiga diantaranya kemudian pindah ke Jakarta setelah menikah atau bekerja, yang lain tetap di Bandung.

Jadi kalau lebaran saya mudiknya ke Bandung. Di acara keluarga kami yang terdengar adalah bahasa Sunda. Atau Jawa. Aweng fasih bicara bahasa Jawa, termasuk Jawa halus, dan Sunda pastinya. Kakaknya, Wak Sandi saya memanggilnya, yang istrinya orang Sunda (harap ingat, ini berarti pasangan Batak-Sunda) akan sering terdengar berbicara dengan bahasa Jawa. Sisanya Sunda. Dalam keluarga Batak anomali ini juga hampir tidak ada yang bicara meletup-letup macam orang Batak pada umumnya. Haha. Tapi ada satu kebiasaan atau tradisi yang diterapkan Opa saya, yang mendorong kita untuk  mengutarakan apa yang kita pikirkan atau membagi apa yang kita rasakan dan alami.

Tahu adat Batak dalam upacara menyambut pernikahan, dimana setiap anggota keluarga boleh memberikan semacam wejangan atau nasihat atau doa untuk orang yang akan menikah? Yang mengingat orang Batak senang sekali berbicara, acara ini bisa makan waktu berjam-jam. Nah, di keluarga kami, setiap hari raya Idul Fitri sebelum bersalam-salaman, kami akan duduk bersama, melingkar di karpet, dan setiap anggota keluarga dimulai dari yang paling kecil (ini berarti adik bungsu Aweng dan keluarganya), akan mengucapkan selamat hari raya dan berbicara. Maksudnya bukan hanya mohon maaf lahir batin, tapi boleh bicara apa saja. Misalnya achievement yang dicapai, keinginan, kejadian berkesan, dam sebagainya. Terus sampai yang paling tua.

Waktu saya kecil, acara ini tidak begitu berkesan untuk saya. Anak-anak biasanya boleh tidak bicara, atau hanya sekedar mengucapkan selamat lebaran. Tambah besar saya suka panik menghadapi acara ini, berhubung saya paling gak bisa ngomong, apalagi di depan orang banyak. Jadi saya lebih sering hanya mengucapkan selamat dari raya dan mohon maaf. Tapi saya selalu senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh anggota keluarga yang lain, yang terkadang membuat terharu atau bahkan tertawa. Setelah dewasa saya baru menyadari bahwa saya beruntung di keluarga saya ada tradisi seperti ini, bukan sekedar sungkeman dengan wejangan dari yang tua dibisikkan di telinga kita. Dengan tradisi seperti ini kita bisa tahu lebih banyak tentang apa yang dialami saudara yang jarang bertemu. Walaupun setelah menikah saya jarang bisa hadir bertepatan dengan acara ini, karena harus berbagi jadwal dengan keluarga Pak Teddy di Cicalengka. Tapi bisa bertemu saja, mengobrol hal-hal gak penting sambil makan  santai sudah sangat saya syukuri. :)



No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...