August 25, 2012

Meet The Siregars

Anyway, tulisan saya yang sebelum ini agak ngalor-ngidul sebenernya. Haha. Awalnya hanya mau berbagi momen lebaran di Bandung tahun ini. Tapi tiba-tiba jadi ingin bercerita tentang keluarga Batak anomali saya. Akhirnya jadi ke tradisi lebaran yang saya ceritakan tadi. x)

Oma saya meninggal tahun lalu. Perlu satu tulisan sendiri untuk bercerita tentang Oma saya. Untuk saat ini cukup sebagai informasi bahwa Oma saya meninggal tahun lalu. Tahun lalu kami masih berlebaran di rumah Oma di Cijerokaso, walaupun terus terang buat saya sedih sekali berlebaran disana tanpa Oma. Karena rumah yang di Cijerokaso itu identik dengan Oma, sementara rumah Setiabudi lain lagi ceritanya (soal kedua rumah ini juga one day akan saya ceritakan). Nah, tahun ini ada yang baru saat lebaran, kami berkumpul di rumah kakak tertua Aweng, Wak Sandi, di daerah Ciumbuleuit. Untungnya di hari ketiga, saya bisa lebih santai karena urusan di keluarga Cicalengka Pak Teddy sudah beres.




Dan hari itu rasanya benar-benar santai. Kami berkumpul (atau bertebaran) di ruang tengah, leyeh-leyeh di karpet, di teras belakang, dan di halaman belakang. Makanan yang lebih berat disajikan di ruang tengah, sementara minuman, siomay, dan sushi di meja-meja yang dipasang di halaman belakang. Iya, ada sushi. Bou Mei, tante saya demo membuat sushi dan siapa saja boleh ikutan membuat. Aira makan sushi tak henti-henti, saya dan Pak Teddy makan semuanya tak henti-henti.













Oh, dan kami bernyanyi. Iya, serius, kami bernyanyi. Harap diingat, kami keluarga Batak anomali yang tidak bisa bernyanyi. Bermain musik iya, tapi tidak bernyanyi. Tapi hari itu Luthfan sepupu saya memainkan keyboard, dan kami bernyanyi - seperti Aira dan sushi, tak henti-henti. Kang Agus, yang kemudian mengunggah foto-foto di Facebook, menggambarkan suasana bernyanyi bersama ini dengan sangat tepat. 

Medley lagu Lemon Tree-Hey Jude-Bintang Kecil-Selamat Ulang Tahun-Obladi Oblada dan sekitar 1407 lagu lainnya. Masih medley, penonton ikut sing-a-long, lagu ke 1299. 

Masih masih medley, penonton masih semagat, pemain keyboard sudah tambah jari 2 buah, lagu ke 1374.

Lalu setelah benar-benar kehabisan lagu (Garuda Pancasila, 17 Agustus juga sudah dinyanyikan), sushi shudah tandas, mulai lah acara foto-foto bersama. Mulai dari sepupus The Siregars (beneran) lalu yang versi plus-plus, plus wajah-wajah Jawa dan Sunda. Yang versi kece dan yang versi kurang kece.








Kemudian versi ninis & akis. Alias yang sudah (lebih) senior, kalau tidak mau dikatakan sepuh. Tapi versi yang manapun, ada satu kesamaan, sepeda. Entah kenapa si sepeda diikutsertakan, padahal menambah nilai estetis pun tidak. Haha.




Tapi ada satu cerita tentang sepeda. Waktu Bou Mei dan Bou Vivi berfoto boncengan dengan si sepeda, (ceritanya) bernostalgia jaman dulu boncengan berdua ke sekolah di Madiun, ternyata ada ceritanya. Dan saya tertawa sejadinya waktu dengar cerita ini. Ini dia cerita Bou Vivi, in her own words: pada suatu hari dimasa lalu ketika remaja, aku pernah dibonceng sepeda olehnya di Madiun, lalu aku turun ngebenerin baju ketika lampu merah, dan dia teru melaju meninggalkanku sendirian. xD


Lalu tiba waktunya sebagian kami pulang. Tapi belum puas foto-foto tampaknya. Akhirnya acara foto pindah ke pagar depan rumah, dengan tripod dan timer agar semua bisa ikut foto.Gaya manis, gara cherrybelle,  gaya tegap lurus, gaya miring, dan gaya-kaget-motor-lewat-di-depan-kamera-pas-timer-nyala. Ternyata bukan hanya sushi dan nyanyi yang tak henti-henti, foto-foto pun tak kunjung usai. x)





Meett the Siregars, keluarga saya yang riang gembira. :)


Pictures courtesy of Kang Agus Soeriaatmadja, Mama Ella, & my phone.
Pictures & captions of sing-a-long session courtesy of Kang Agus.
Story of the bicycle incident courtesy of Bou Vivera Siregar http://ikutikatahatimu.blogspot.com/

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...