May 11, 2015

Getting Lost in London


Kedua kalinya kalimat "So, this is London," muncul segera saat kami mengikuti Santi berjalan dengan cepat menuju bagian underground station di Euston. Pas banget lagi rush hour pulang kantor, dan saya sempet panik melihat eskalator panjang penuh manusia yang harus saya lalui sambil menggeret koper dan menggandeng dua anak. Padahal sudah diingat-ingat kalau di Inggris kita berdiri di esklator harus di bagian kanan, karena bagian kiri untuk orang-orang yang perlu terburu-buru, berbeda dengan kebiasaan negara lain yang umumnya kita berdiri di sisi kiri eskalator. Sempet ribet dengan koper sehingga menutupi lajur kiri dan Pakted buru-buru geser-geser koper ke kanan. Selama perjalanan di Inggris, sepertinya itu kali pertama saya lihat Pakted mukanya agak panik. Hehehe.. kami sepertinya agak overwhelmed dengan 'kerusuhan' London setelah sebelumnya dari Leeds dan Liverpool yang relatif tenang.

Di bawah kami mengurus Oyster Card untuk mempermudah transportasi kami selama di London baru kemudian memasuki lorong-lorong underground station menuju peron tube yang akan kami tumpangi menuju rumah Santi di Colindale. Lorong-lorong berlangit-langit pendek, dengan tegel putih, ditambah beberapa lorong atau entrance yang langit-langitnya melengkung, jauh banget berbeda dengan MRT Station di Singapore yang serba mengkilap dan modern. "So, this is London," yang kemudian muncul kali ini diikuti senyuman kecil, dan membuat saya teringat satu scene di film About Time.

Tidak ada dinding atau kaca penutup yang membatasi peron dengan rel tube, jadi setiap ada tube yang datang dan pergi kita bisa mendengar jelas suaranya dan merasakan hembusan angin yang menyertainya. Santi menjelaskan, untuk menuju rumahnya, kami harus naik tube Northern Line yang tujuan akhirnya Edgeware, lalu turun di Colindale. Berarti 9 station dari Euston tempat kami berapa saat itu. Setelah masuk tube, yang untungnya gak sepadat bayangan saya, dan duduk manis, baru rasanya saya bisa menarik napas. Hahaha. Yes, London Underground can be overwhelming.


Colindale Station letaknya di atas, keluar dari underground tunnel. Stasiunnya mungil dan sepi, dengan bata merah dan rangka besi yang dicat hijau, island platform, mirip salah satu stasiunnya Thomas. Hehe.. Dari stasiun kami tinggal belok dan menyusuri jalan di samping stasiun ke area yang kuldesak yang berisi beberapa kompleks apartemen baru. Jalanannya lengang dan jelas terlihat bahwa daerah itu merupakan daerah hunian baru. Hampir mendekati ujung jalan, di bagian kanan adalah gedung apartemen Santi. Karena Santi berbaik hari nawarin untuk 'ngangon' anak-anak di apartemen, dan karena Aidan sepertinya langsung pengen main sama Ruyi, Aira juga pengen santai-santai saja, saya dan Pakted jadi bisa segera kembali ke pusat kota untuk menikmati London. Oh, God bless you, Tante Santi! ;*

Beruntungnya ke Inggris di saat memasuki summer, yaitu langit yang masih terang benderang walaupun saat saya melihat jam sudah pukul setengah 7 malam. Sebelum mulai jalan, mengikuti saran Santi, kami mengunduh aplikasi City Mapper untuk memudahkan kami mencari rute dan transportasi yang sesuai untuk tempat tujuan kami. Lalu kami naik tube ke central London, tanpa tujuan yang pasti, ready to get lost in London. Kami sengaja gak mencari tujuan-tujuan yang pasti, karena waktu kami juga gak banyak dan tujuan hanya akan membuat kami terburu-buru. Belum lagi kalau nyasar saat mencari tempat tujuan, pasti jadi kesal. Nah, karena kami gak punya tujuan pasti, getting lost would be fun, just walk and see where we ended up. 

Kami turun di Oxford Circus Station, dan begitu melangkah ke Oxford Street langsung disambut ramainya manusia yang lalu lalang di jalanan tersebut. Sekali lagi "So, this is London," muncul di kepala saya, melihat jalanan yang dipenuhi segala macam toko yang mengisi bangunan-bangunan tua yang cantik. Bendera Union Jack yang digantung melintang di sepanjan jalan, double decker merah dan black cab yang lalu lalang di jalanan yang ramai, dan persimpangan Oxford Street dan Regent Street yang dipenuhi manusia.




Karena toh toko-toko akan tutup jam 8, setelah memasuki dua toko kami memutuskan untuk jalan-jalan saja. Kami berbelok di ke arah Regent Street, melintasi Hemley's sambil membuat mental note untuk mengajak Aidan kesana. Terus terang saya gak ingat rute yang kami lalui, dan gak tau juga apa yang akan kami temui. Tapi saya ingat bagaimana kami tak terburu-buru, atau takut salah memilih jalan. Kami hanya berjalan dengan santai menikmati London. Saya ingat kami sampai ke Picadilly Circus lalu berbelok melintasi Crimean War Memorial di dekat Pall Mall, melalui Her Majesty's Theater dan Theater Royal Haymarket, lalu The National Gallery, dan berakhir di Trafalgar Square.





London malam itu cerah sekali, dan rasaya Trafalgar Square adalah tempat yang tepat untuk mengakhiri hari kami dan perkenalan pertama kami dengan London. Bersama turis dan warga London lainnya, kami duduk-duduk di tepian fountain dengan The National Gallery di belakang kami dan Fouth Plinth yang pada waktu itu dihuni patung ayam raksasa berwana biru indigo di salah satu sisinya, dan Nelson's Column di hadapan kami, dengan keempat singa raksasa yang menjaganya tampak seperti Aslan yang dinaiki anak-anak kecil. Melewati Charing Cross dikejauhan, untuk pertama kali Big Ben terlihat oleh kami, menyembul diantara bangunan tua yang megah dan pepohonan hijau, dengan latar belakang langit musim panas yang kebiruan. So, this is London. I kinda always know I would like London. And I was right.













No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...