October 28, 2010

Come to My Home

originally posted on facebook, July 31, 2009

Dulu, di rumah Opa-Oma saya di jalan Setiabudi Bandung ada foto sebuah rumah bergaya pedesaan Eropa. Di gambar rumah tersebut tertera tulisan yang kira-kira (karena saya lupa kalimat tepatnya gimana) intinya begini : It takes hands to build a house, but only hearts can build a home. Gambar itu sudah ada disana seumur-umur saya berkunjung ke rumah Setiabudi. Tapi saya baru bisa membaca tulisannya setelah saya bisa membaca, mengerti apa arti tulisannya setelah saya bisa bahasa inggris, dan memahami maksudnya bertahun-tahun kemudian.

Ini rumah saya. Dari segi desain bangunan jauh dari tipe ideal saya. Dan berhubung dibeli dari developer (yang kurang meyakinkan), kualitas bangunan dan pembagian ruang juga masih jauh dari ideal. Tapi saya dan si ayah sebisa-bisanya membuat rumah ini nyaman buat kami sekeluarga. Diisinya pelan-pelan. Pelaaaaan-pelaaaaan bangeeeet malah. Ditambah berhubung kualitas yang tidak ideal itu tadi, pengisian rumah jadi terhambat karena ada kebutuhan untuk benerin hal-hal kecil yang rasanya muncul melulu. Ada aja yang harus dibenerin. Sigh.

Tapi rumah ini lokasinya oke. Lokasi ini yang sebenarnya jadi faktor utama dibelinya rumah ini. Tidak di pinggir jalan, tapi gak jauh juga kalo harus keluar jalan kaki untuk cari angkutan umum. Masih di Jakarta Selatan, kalau menolak disebut sudah masuk teritori Depok. Hehehe.. Daerah Pondok Labu, tapi belum sampe Cinere, jadi belom kena macet gila-gilaan disana. Akses keluar masuk masih tergolong mudah, walaupun harus ngelewatin Pasar Pondok Labu yang macetnya gak bisa ditebak waktunya, tapi masih ada beberapa jalan alternatif.

Rumah saya ini ada di kompleks Town House wannabe yang namanya Pangkalan Jati Residence. Hanya ada 16 rumah disini. Penghuninya berusia kira-kira sama (walaupun saya dan si Ayah masih tetep yang paling ‘kecil’) dan punya anak-anak yang sepantaran juga. Disini saya tenang membiarkan Aira & Aidan main di jalanan dalam kompleks. Karena tertutup pagar kompleks dan ada satpam juga.

Ada satu yang istimewa dari rumah saya (atau komplek saya) ini. Disini saya punya tetangga. Dari kecil saya gak pernah punya tetangga. Maksudnya yang sepantar dan bisa diajak main. Jadi saya buahagia banget waktu disini Aira bisa dateng ke saya dan bilang kalo dia mau main ke ‘rumah tetangga’. Hahaha.

Bukan itu aja, tetangga disini juga istimewa. Kita sering bikin barbeque di kompleks (biasanya kalo si Ayah pulang dari Papua bawa ikan & udang). Waktu barbeque ini anak-anak bisa main & lari-larian di jalan sampe jam 12 malem (bapak-bapaknya bisa jauh lebih lama lagi – nongkrong, bukan lari-lari pastinya). Barbeque nya di pinggir jalan kompleks, bukan di rumah. Disini si Ayah juga bisa ngobrol di rumah tetangga sambil ngopi sampe pagi. Saya tenang, karena walaupun gak di rumah, tinggal teriak dari balkon, si Ayah udah nyaut. Disini juga saya bisa nemuin tetangga yang waktu liat saya dan si ayah mau jajan karena lagi gak masak, maka si tetangga akan nawarin untuk makan malem di rumahnya aja. Udah jarang kan ketemu yang kayak gitu di Jakarta? Disini juga, kita warga sekompleks suka janjian untuk pergi bareng-bareng, terutama untuk kegiatan anak-anak. Sepanjang liburan kemarin aja entah berapa kali Aira janjian sama tetangga, nonton, holiday program, ke museum, naik kuda, ke kampung maen, belom lagi yang sekedar main layangan di kompleks atau ritual berkunjung ke rumah tetangga setiap malem selama liburan (saya menyebut kegiatan jalan-jalan rame-rame ini PRJ kidsclub Big Day Out, yamg jadi EO adalah ibunya, bergantian). Saya juga bisa dengan tenang nitipin Aira untuk les gambar sama si ibu tetangga dan rencananya malah mau sama-sama les berenang sama anak-anak kompleks. Malahan kalau kebetulan lagi keluar kota ke tempat yang sama, saya dan si Ayah suka janjian ketemu untuk makan atau sekedar ngopi.



Adik Aidan paling betah di rumah. Kalau si kakak bisa nginep berhari-hari di rumah kakek-nenek, adik Aidan jangankan nginep, main seharian aja kadang-kadang udah nangis minta pulang. Dia punya ‘geng bayi’ sendiri disini. Yang kalo pagi-pagi masih dijemur dan sore-sore di dorong keliling kompleks pake stroller atau tricycle. Kalau kakak Aira, sumber kebahagiaan dia di rumah ini adalah punya kamar sendiri. Sejak hari pertama pindah dia udah langsung tidur sendiri di kamar, tanpa ditemani. Aira juga seneng banget baca buku di kursi balkon kamar saya pagi-pagi kalau lagi libur.

Kalau saya? Saya senang membuka jendela di pagi hari. Saya senang mencium bau seprai yang baru diganti dan bau rumah yang bersih karena baru dipel. Saya senang mencium bau makanan yang sedang dimasak. Saya senang mendengar salam si kakak waktu dia pulang dari sekolah. Saya senang menyiram adik Aidan dengan selang di halaman belakang. Saya senang disambut si kakak dan si adik di pintu rumah kalau saya pulang kuliah. Saya senang mengantar si ayah dan kakak berangkat di pagi hari. Saya senang mendengar kunci rumah dibuka waktu si ayah pulang. Saya senang membuka pintu rumah lalu menghirup nafas dalam-dalam mencium bau rumah saya dan mengucapkan salam setelah pergi beberapa hari. Saya senang melihat wajah si ayah waktu dia tidur di bantalnya sendiri, di tempat tidurnya, di kamarnya, di rumahnya sendiri setelah pergi dinas berhari-hari. Saya senang punya rumah sendiri.

Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun saya paham makna tulisan di gambar di rumah Opa-Oma saya. Saya paham kalau as a house this building has many flaws, kalau rumah saya ini sebagai ‘house’ dan didasari ego saya maka rasanya masih jauh dari ideal. But as a home I couldn’t possibly ask for more. It’s just perfect.

Home, the spot of earth supremely blessed,
A dearer, sweeter spot than all the rest.

~Robert Montgomery


Every house where love abides

And friendship is a guest,
Is surely home, and home sweet home
For there the heart can rest.
~Henry Van Dyke


There is a magic in that little world, home; it is a mystic circle that surrounds comforts & virtues never known beyond its hallowed limits

~Robert Southey

P.S: Toss buat all the great neighbours of PJR! Let's have more fun! :D

2 comments:

irmaevayanti said...

Hii..salam kenal ya...nice blog..saya suka tulisan ttg rumahnya..
kebetulan kami juga sedang mencoba membangun rumah...

neverland said...

Hai, salam kenal juga. Semoga rumahnya jadi 'home' untuk mbak Irma sekeluarga. :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...