May 02, 2012

Jelantah Peda

Ini nenek saya, kami memanggilnya Maktok, dari Mak Datuk atau Mak Tuo saya tidak tau pasti. Maktok saya ini galak. Galak sama anak-anaknya jaman mereka kecil dulu, dan galak sama cucu-cucunya, jaman kami kecil dulu. Anaknya ada 9, cucunya ada 24, cicitnya ada 11, gak heran dia galak. Baik hati tentunya, tapi galak. 



Maktok usianya 88 tahun sekarang. Semakin tua tentunya galaknya berkurang, tapi gak hilang. Terutama ketika yang berkunjung ke rumahnya cicit-cicitnya yang gak bisa diem. Aidan salah satunya,  Maktok punya sebutan khusus untuk cicit-cicitnya yang jenis gak bisa diem ini. Jelantah peda.

Pertama kali dengar kata-kata ini, saya gak ngerti sama sekali. Waktu itu Aidan lari-larian di dalam rumah Maktok. Kursi beroda Maktok didorong-dorong keliling rumah jadi becak. Lalu Maktok bilang, "Idang! (Maktok kewalahan dengan nama-nama cicitnya yang 'kekinian', Aidan berakhir jadi Idang) Jelantah peda! Sini dulu kau, salam sama Maktok!" Tante saya yang dengar kata-kata ini langsung ketawa, saya bengong.

Jadi begini penjelasannya soal si jelantah peda tadi. Tau ikan peda kan? Nah, ikan peda ini, kalau digoreng kan minyaknya bermuncratan, habis digoreng, walaupun si peda udah diangkat dari minyaknya, sisa minyak di dalam wajan alias jelantahnya masih tetap muncrat-muncrat kemana-mana. Bandel nan pecicilan. Macam si Idang cicitnya ini, dimata Maktok. xD

Tapi Idang alias Aidan ini sayang sama Maktok. Maktok juga sayang sama si jelantah peda. Kalau berkunjung ke rumah Maktok, habis diteriakin jelantah peda, si Idang selalu dibagi makanan apa pun yang lagi ada di meja Maktok, juga dibagi Yakult yang gak pernah absen dari lemari es Maktok. Makanya Idang rajin main ke rumah Maktok. x)
















No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...