May 23, 2011

Project Obento #1

Okay, this is how I started my Project Obento. Aira, was & still is a picky eater. Waktu kecil, urusan makan Aira selalu bikin saya senewen. Sekarang sih memang sudah tidak lagi, dan secara kuantitas memang porsi makannya tidak kurang, tetapi variasi-nya itu yang minim sekali. Beda dengan Aidan yang kalau disodori makanan yang penting mangap dulu, urusan suka gak suka belakangan, kalau Aira sulit sekali disuruh mencoba makanan yang baru, plus buat dia appearance dari makanan juga faktor yang mempengaruhi. 

Urusan bekal sekolah sering jadi masalh buat saya. Waktu Kelompok Bermain dan TK, bekal yang jadi pilihan Aira yang itu-itu saja, sebatas sereal atau roti. Mungkin juga karena waktu makan yang tidak panjang, dan menu itu yang menurut dia paling praktis. Memang praktis juga buat bunda, tapi ya kok kasian amat ini anak menunya itu-itu saja.

Begitu Aira masuk SD, selama di kelas awal, manu bekal masih serupa dengan waktu di TK, hanya porsi-nya lebih banyak dan sering ditambah biskuit atau pudding. Dan sejak SD sisa-nya semakin sedikit, mungkin karena jam sekolah yang mulai panjang jadi dia mulai merasa lapar. Nanti setelah pulang sekolah Aira akan makan siang di rumah, bekal di sekolah hanya sekedar camilan untuk mengganjal.

Nah, begitu Aira duduk di kelas 3 SD, saya mulai kesulitan. Aira pulang sekolah jam 2 siang, yang berarti tidak mungkin makan siang di rumah, harus membawa bekal makan siang dari rumah untuk dimakan di sekolah. Istirahat ada dua kali, biasanya anak-anak makan siang pada jam 12 saat istirahat yang kedua, setelah selesai sholat Dzuhur. Dulu, memang ada program catering di sekolah, tapi entah kenapa sei, jadi sekarang sudah tidak ada lagi, jadi orangtua harus menyiapkan makanan sendiri. Aira memang sudah mulai dikasih uang jajan, tetapi tujuan pemberian uang jajan ini bukan untuk memenuhi kebutuhan makannya di sekolah, melainkan untuk belajar mengatur uang. Aira mendapat 30 ribu  rupiah untuk seminggu di kelas 3, naik jadi 40 ribu sewaktu di kelas 4. Tentunya tidak cukup untuk beli makan siang di kantin setiap hari. Jadi, bekal saya bawakan dari rumah, dibawa dari pagi. Nah, karena dibawa dari pagi, pilihan menu jadi sebatas variasi makan beku seperti nugget, sosis, dan kawan-kawan, atau makanan yang mudah dimasak pagi-pagi seperti nasi goreng, mi, capcay, ayam goreng, dan lainnya. Menu makanan juga biasanya terpaksa yang 'kering' saja. Tentunya menu yang itu-itu saja akhirnya membuat Aira bosan. Ditambah si bekal yang harus dibawa dari pagi dan baru akan dimakan jam 12 siang tentunya sudah tidak mengundang selera lagi.

Setelah mendekati kenaikan kelas 4, saya akhirnya mencari cara lain supaya bekal makan Aira tidak perlu dibawa dari pagi. Bekal akan diantar ke sekolan mendekati waktu makan siang. Ternyata benyak orangtua murid yang melakukan hal ini, sehingga di dekat pintu masuk sekolah, sudah tersedia meja yang pada siang hari akan dipenuhi kotak-kotak bekal anak-anak yang baru diantar. Ketika jam istirahat tiba, si anak tinggal mengambil kotak bekal masing-masing. Biansanya kotak bekal sudah dimasukkan ke dalam tas kecil dan diberi name tag, agar tidak tertukar. Dengan cara ini, menu makan menjadi lebih bervariasi karena mengikuti menu makan siang di rumah, dan karena baru dimasak juga masih hangat. Sementara untuk mengantar bekal sekolah saya memanfaatkan jasa pak ojek langganan.

Tapi ternyata urusan makan siang belum beres juga. Akhir-akhir ini bekal makan siang aira makin sering banyak sisanya, sampai akhirnya setiap ada sisa kan saya suruh habiskan dulu begitu dia sampai di rumah, khawatir porsi yang dimakan tidak cukup. Lagi-lagi masalah bosan. Saya putar-putar otak cari cara agak bekal makan jadi lebih menyenangkan, dan pilihan saya jatuh pada obento. Iyes, si kotak bekal ala Jepang yang super lucu seperti yang ada di komik-komik. Awalnya saya pikir seperti hal-hal lain yang dilakukan orang Jepang, membuat bento juga sesuatu yang mustahil untuk dilakukan selain orang-orang yang berasal dari negara penuh anomali tersebut. Siapa yang kepikiran untuk bikin bekal super rumit di pagi buta selain ibu-ibu Jepang? 

Saya salah, sangat mungkin untuk membuat bento sendiri. Pertama, browsing saja, maka akan ditemukan banyak sekali blog berisi berbagai bentuk bento mulai dari yang sederhana sampai yang super rumit, termasuk banyak sekali yang dibuat orang Indonesia. Bento buatan mereka-mereka ini canggih luar biasa, sampai cenderung intimidatif saat pertama kali melihat. Hehe. Kedua, alat-alat membuat bento sudah banyak sekali dijual disini, baik di online shop maupun di supermarket-supermarket, cari saja konter yang menjual barang-barang produk Jepang, pasti bisa ditemukan macam-macam bento stuff. Ketiga, buku resep bento bisa dicari di toko buku import, atau lagi-lagi, online shop. :)




Jadi itulah yang saya lakukan, mencoba mulai membuat bento untuk bekal Aira. Awalnya saya hanya membeli 1-2 bento stuff, seperti rice mold atau cutter berbagai bentuk. Bento pertama yang saya buat, saya menyebutnya BSS atau bento sangat sederhana, isinya hanya pasta yang dimasak dengan tomat dan daging asap plus wortel, lalu dihias keju slice bentuk bintang, 'sushi' isi furikake dan dilapis nori, lalu sebotol Yakult. Sederhana, tapi hadis bersih dimakan Aira. Hari kedua, masih BSS, nasi yang dibentuk dan ditaburi furikake, chicken teriyaki, cap cay, dan salad buah. Habis lagi. Hari ketiga, berdasarkan pesanan bento berupa pasta seperti yang pertama, telur puyuh yang dicetak gambar kelinci, roti gulung isi keju dan tuna, dan pudding coklat. Daaan... habis lagi! Lalalalala! :D




Sekarang ini, saya masih kena bento fever, entah sampai kapan. Belanja berbagai peralatan bento tiap ke Food Hall atau Daiso, order more bento stuff di online shop, dan beli buku bento. So far, menurut saya, wujud bento saya semakin membaik, walaupun belum canggih-canggih amat. Untungnya bekal Aira diantar sekitar jam 11, jadi saya gak perlu bikin bento pagi-pagi buta, masih ada waktu untuk menyiapkan peralatan perang, maklum masih pemula. So far (lagi), sejak bekal-nya bento hampir selalu tidak bersisa, dan jajan di sekolah juga berkurang. Rupanya karena wujudnya yang memang menggugah selera, bento yang lucu juga jadi perhatian teman-teman. Dia jadi bangga sama bekal yang dia bawa. Biasanya adik Aidan juga suka request untuk bekal sekolahnya, bukan bento lengkap memang, hanya onigiri dengan bentuk sesuai pesanannya, seperti si Johnny, onigiri kodok yang dibuat dari nasi campur potongan bayam. :)

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...