March 21, 2012

The Daughter Reality


Sering orang bilang kalau anak perempuan itu dekat dengan ayahnya sementara anak laki-laki dekat dengan ibunya. Saya menolak untuk mempercayai hal ini. Saya punya dua-duanya, si sulung yang perempuan dan adiknya yang laki-laki. Saya ingin kedua anak ini, perempuan maupun laki-laki, dekat dengan bunda DAN ayahnya.

Tapi sekarang saya belum akan membicarakan si adik. Sekarang ini saya akan membicarakan di kakak perempuan. Yang sudah berumue 10 tahun. Kelas 5 SD. Iya, kelas LIMA! SD-nya sudah lewat setengah. Sebentar lagi teenager. Sebentar lagi SMP. Sebentar lagi mulai jalan-jalan di mall sama teman-temanya. Sebentar lagi abege. Sebentar lagi ditelpon dan didatangi anak laki-laki. Aaaarrggh!

Anak saya ini tidak bongsor macam teman-temannya, masih suka nonton kartun, dan menurut gurunya masih lebih kekanak-kanakan dibanding kebanyakan temanntya - yang dalam hati saya syukuri, karena saya ingin dia menikmati masa anak-anak sepuas-puasnya. Memang saya sering lupa kalau sebentar lagi dia sudah bukan anak SD lagi. Si ayah sepertinya malah lebih clueless lagi, Aira sepertinya akan selalu jadi little princessdi mata ayahnya.

Tapi beberapa waktu yang lalu Aira mengatakan sesuatu yang membuat saya rasanya dilempar dari dunia pastel warna-warni yang selama ini saya bayangkan kalau melihat Aira, saya dilempar ke kenyataan. Kenyataan bahwa anak ini tidak akan selamanya jadi kecil. Ini dia kalimatnya: "Bun, temen aku di sekolah udah ada yang M loh." Yak, perut saya mules seketika. Saya tidak tau siapa temannya yang sudah M alias menstruasi itu, tapi sumpah detik itu juga perut saya yang mules. Karena kalimat itu mengingatkan saya kalau pada waktunya nanti Aira juga akan menstruasi, akan menjadi remaja dan kemudian perempuan dewasa.

Saya tidak tau pastinya kapan itu akan terjadi, yang pasti saya rasanya belum siap. Dan rasanya tikan akan pernah jadi siap.Bukan hanya soal menstruasinya, tapi juga soal perkembangan sosial-emosional anak usia remaja dengan segala perubahan hormon dan mood-nya. Saat itu juga di kepala saya langsung mengevaluasi hubungan saya dengan Aira selama ini. Karena saya tahu pasti di usia remaja anak cenderung menarik diri dari orangtuanya, dan ini yang ingin saya minimalisir. Saya ingin jadi temannya, dalam kapasitas yang tepat. Bukan bunda sok asik yang bikin dia malu. Hehehe.. Saya ingin dia merasa kalau dia bisa cerita apa saja kepada saya atau ayahnya.

Si auah memang yang lebih dulu merasakan dampak dari anak perempuannya tsudah hampir abege, ketika pada suatu hari dia bercerita pada saya dengan muka patah hati kalau Aira menolak di rangkul di depan teman-temannya ketika dijemput di sekolah. Hal-hal seperti ini mungkin memang akan ada masanya, dan mungkin tidak akan selamanya, tapi si ayah lumayan merasa ditampar. Kasihaaaan.. x)

Akhirnya kami sebagai orang tua hanya bisa berbesar hati kalau masa itu sudah tiba. Ketika anak diminta untuk belajar mandiri, maka orang tua juga harus belajar, belajar untuk 'melepas'. Berat memang, tapi akan terjadi dan lebih baik terjadi. Ingat film Failure To Launch? Sudah tua masih nempel terus sama orang tua juga gak lucu kan?

Jadi, ini yang akhirnya kami lakukan. Kami melanjutkan obrol-obrol kami bersama Aira. Ayah dalam perjalanan ke sekolah, atau saat bermalas-malsan waktu akhir pekan di rumah. Aira biasanya cerita apa saja tentang sekolah dan teman-teman kepada ayah. Waktu ngobrol sama bunda sebelum tidur. Atau saat kami girls day out berdua keliling Jakarta, ke mall atau ke salon. Saya ingat dulu pertama kali creambath berdua dengan mama saya, dan saya lakukan itu bersama Aira. Jalan0jalan ke mall bukan lagi sekedar liat-liat mainan atau belu buku, tapi pilih-pilih dan beli baju atau sepatu, lalu ngopi-ngopi atau makan siang sambil ngobrol. Topik dibuka seluas-luasnya. Termasuk soal menstruasi yang sudah waktunya dibicarakan oleh ibu dan anak perempuannya. Saya memperbanya membaca soal bagaimana menghadapi anak remaja, fisiologis dan psikologis. Saya tahu kadang-kadang sebanyak apapun yang saya baca, ketika waktunya tiba insting yang akan lebih banyak berperan. Tapi saya tidak mau clueless. Saya tidak mau Aira clueless, makanya ketika ada sesuatu yang ingin dia  ketahui, saya ingin dia bisa bertanya kepada saya atau ayahnya, dan kami bisa memberikan jawaban yang baik.



No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...