November 04, 2012

Tentang Belajar Membaca, part uno.



Saya selalu percaya kalau belajar membaca itu tidak perlu diburu-buru, kalau masa peka anak sudah tiba, pasti akan mudah belajar membaca. Okay, that was a lie. Waktu Aira kecil, saya pernah membaca di satu buku yang mengaitkan soal golden age anak dengan belajar membaca, yang disimpulkan dengan kalimat: jadi cepat, sebelum anak anda berusia 5 tahun, ajari ia baca segera! Jadi saya, si ibu pemula yang over-eager, langsung belanja berbagai buku belajar membaca untuk anak balita, dan mulai ngajarin Aira yang waktu itu umur 4 tahun untuk belajar membaca. Gimana hasilnya? Total failure. Aira gak tertarik sama sekali, harus dibujuk setengah dipaksa. Saya yang memang dasarnya gak sabaran jadi kesal, ujungnya marah. Jadi beberapa sesi belajar membaca yang kami lakukan biasanya diakhiri dengan tangisan. Jadi saya berhenti. Saya ingat jaman saya kecil belajar membaca sama Mama saya, saya bawaannya stress, jadi bukannya bisa, malah tambah salah yang dibaca. Rasanya gak enak, jadi pasti Aira juga ngerasa gak enak.

Untungnya saya memang orang yang selalu merasa gak perlu untuk ngikutin anak les baca. Aira pun akhirnya gak belajar membaca sepanjang TK A itu. Hanya saja saya memang selalu membelikan buku cerita dan membacakan untuk Aira. Saya lebih sering membelikan Aira buku cerita dibanding mainan. Jalan-jalan ke toko buku selalu jadi salah satu rekreasi kami. Saya 'pelit' membelikan mainan (bukannya gak dibelikan sama sekali loh), tapi gak begitu soal buku. Waktu itu saya gak mencari tahu lebih banyak soal mengajari anak membaca, saya hanya keukeuh soal gak ikut les baca dikala teman-teman disekolahnya diikutkan les membaca sama orangtuanya. Nah, di kelas TK B akhir disekolah Aira mulai diberi pengenalan membaca, untuk persiapan masuk SD, pertimbangannya sekolah gak bisa tutup mata soal banyaknya SD yang menuntut anak sudah bisa membaca ketika masuk SD. Dibanding teman-temannya, apalagi yang ikut les membaca, Aira memang termasuk yang ketinggalan soal bisa membaca. Tapi saya yakin anak pasti bisa membaca kok, jadi saya gak terlalu khawatir. Di kelas tiap anak punya list buku yang sudah dibaca, dipasang di dinding. Yang sudah lancar membaca pasti panjang daftar buku di list-nya. Punya Aira sampai mendekati akhir tahun ajaran masih pendek, hanya beberapa judul buku. Ya sudahlah ya, memang masih belajar kok anaknya.

Lalu, entah mulai kapan, Aira bisa membaca. Anak ini memang outopilot. Di SD Aira gak mengalami kesulitan sama sekali. Nilainya bagus.Saya gak perlu men-drill atau dikte soal-soal ketika ia mau ulangan, Aira baca sendiri bahan-bahannya di buku. Tidak ada pressure ketika belajar, tambah tinggi tingkat kelasnya, tambah baik nilai Aira. Aira suka membaca, ini yang memudahkan dia dalam belajar. Dia gak keberatan atau kesulitan ketika membaca buku cetak atau catatan, atau mengerjakan tugas.



Iya, anak saya ini, yang ketinggalan belajar membacanya dibanding anak lain, suka membaca. Suka sekali. Mulai dari buku cerita anak-anak yang tipis, diikuti dengan novel-novel fairy bahasa Inggris yang tipis-tipis dan mudah bahasanya, terus tambah tebal, dan terus tambah kompleks kosa-kata dan ceritanya. Dan Aira itu rapid reader, dia bisa membaca dengan cepat, paham isi bacaannya. Dari buku-buku bahasa Inggris ini juga Aira jadi mudah sekali belajar bahasa Inggris. Sekarang ini Aira gak nyaman membaca buku terjemahan. Maksudnya, jika penulis buku itu memang orang Indonesia, maka buku bahasa Indonesia ya gak papa, tapi jika aslinya bahasa Inggris, dia lebih senang membaca versi aslinya dibanding terjemahan. Harry Potter paling tebal dalam bahasa Inggris bisa selesai dibaca dalam 3-4 hari. Kalau lihat tebalnya buku bacaan Aira rasanya udah pusing duluan. Ensiklopedia anak-anak dan umum juga dia baca, begitu juga buku-buku National Geographic.Beli buku di Periplus, belum sampai rumah sudah habis dibaca setengahnya. Untungnya dia suka membaca ulang buku-bukunya. Untuk mensiasati, perpustakaan jadi alternatif yang tepat untuk memenuhi reading-appetite Aira. Sementara saya dan si ayah bahagia luar biasa melihat si Little Ace dengan buku-bukunya.


Jika dilihat, saya tidak menyamaratakan ya, beberapa temannya yang dulu lebih dulu bisa baca atau yang diikutkan les membaca, tidak sampai seperti Aira kesenangannya dalam membaca. Ada satu yang malah tidak senang membaca dan ibunya selalu kesulitan mempersiapkan si anak ketika mau ulangan. Jadi, kesimpulan sememntara saya, lebih dini anak bisa membaca gak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan mereka. Saya merasa membuat keputusan yang tepat untuk gak memaksa Aira belajar membaca. Walaupun memang tidak disengaja, sepertinya stimulus yang diberikan ke Aira melalui buku-buku pada waktu itu cukup tepat. Memang kemudian setelah saya banyak diskusi dan mendengar dari yang ahli soal perkembangan anak, mengajari anak membaca itu gak salah, yang penting caranya sesuai, dan masa peka anak sudah muncul. Tentunya si masa peka ini bisa distimulus agar muncul, lagi-lagi caranya harus sesuai. Jika masa peka sudah muncul, maka belajar membaca bagi anak adalah hal yang mudah karena si anak memang sudah siap. Ini kemudian saya buktikan pada Aidan.

Untuk membaca Tentang Belajar Membaca, part deux. klik disini.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...