January 12, 2010

Vintage Reading, pt.1 : Enid Blyton

originally posted on facebook, July 31, 2009

Belum lama ini saya membuka koper yang menjadi tempat tinggal buku-buku masa kecil saya selama bertahun-tahun. Maksudnya mau saya 'wariskan' pada Aira, mengingat dulu saya mulai membaca buku-buku tersebut mulai usia 7-8 tahun. Aira sekarang 8 tahun dan menunjukkan ketertarikan yang luar biasa (dan membahagiakan) terhadap buku. Ternyata bukan hanya Aira, saya juga senang sekali berjumpa buku-buku tersebut. Saya lihat-lihat dan saya baca-baca lagi. Di notes ini adalah penulis yang buku-bukunya gak bisa dilepaskan dari masa kecil saya. Enid Blyton.

Si Babi Ungu. Ini buku Enid Blyton pertama saya, sekaligus ‘novel’ pertama saya. Harganya 1500, ada 8 buku dalam seri ini. Setelah tamat dengan seri ini, saya berlanjut membaca buku Semester Pertama di Malory Towers. Umur saya 8 tahun, duduk di kelas 2 SD. Saya senang sekali dengan tokoh Darrell Rivers, apalagi dia digambarkan berambut pendek, sama seperti saya. Saya membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikan buku Malory Towers pertama ini. Saya baca di mana-mana, termasuk di kamar mandi. Hasilnya buku ini keriting karena kecemplung di bak mandi. Ibu saya menyampul buku ini, wujudnya jadi sedikit lebih baik, dan akhirnya ibu menyampul semua buku saya ketika baru dibeli, bukan waktu sudah terlanjur keriting. Tetap saja, karena kebiasaan saya yang senang baca buku dimana2, semua buku enid blyton saya keriting.

Enid Blyton adalah kunci masuk saya ke dunia buku. Tidak seperti orang-orang seumuran saya yang waktu kecilnya membaca buku Enid Blyton, saya gak pernah baca buku Lima Sekawan. Gak pernah sama sekali. Saya lebih senang membaca dunia ‘enchanted’ yang diciptakan Enid Blyton dan cerita-cerita tentang sekolah. Seperti Malory Towers, St. Claire’s, dan seri The Naughtiest Girl in School. Saya selalu membayangkan senangnya tinggal di asrama di pedesaan Inggris, dengan seragam sekolah yang bagus-bagus.

Belum lagi penggambaran makanan-makananya. Seperti roti lapis, kue coklat, kue selai, limun dingin, bir jahe, dll. Yang kemudian setelah saya besar baru saya tahu kalau roti lapis adalah terjemahan dari sandwich dan bir jahe adalah ginger ale (dan tokoh Pak Coklat sesugguhnya bernama Mr. Brown). Belum lagi ritual minum the yang selalu ada di cerita Enid Blyton, berhubung dia penulis Inggris, dan ritual ini identik dengan bangsa tersebut. Waktu kecil saya bahkan pernah membuat jamuan minum teh dengan sepupu-sepupu saya. Meja makan kecil di rumah yang terbuat dari kayu diberi taplak cantik dan menggunakan satu set teko dan cangkir gambar bunga-bunga. Ibu saya berbaik hati menyiapkan teh dan kue-kue kecil, dihias dengan rangkaian bunga kecil, juga kartu nama yang ditulis tangan untuk diletakkan di meja bagi setiap ‘tamu’. Di kepala saya tentunya saya adalah salah satu tokoh dari buku Enid Blyton.


Dari ketiga serial tentang sekolah berasrama, menurut saya Malory Towers adalah yang paling ‘righteous’. St. Claire’s lebih santai penggambaran tokohnya, mereka juga lebih nakal. Kalau sekolah Whyteleafe dengan tokoh Elizabeth Allen-nya dari judulnya saja udah jelas, the naughtiest girl. Saya suku tokoh ini, menurut saya dia paling banyak flaws-nya sehingga rasanya dia lebih manusiawi. Kemudian saya berkenalan dengan Jimmy Brown di serial Sirkus Galliano yang kemudian bisa dibilang serial favorit saya, walau hanya terdiri dari tiga buku. Gara-gara serial ini saya terobsesi sama konsep karavan dan ngotot mengajak ayah saya untuk nginep di karavan-nya Taman Safari begitu hotel karavan ini di launching. Tapi kemudian batal, karena saya kecewa mendapati karavannya tidak seperti yang di bayangan saya, terbuat dari kayu dan di cat warna-warni dengan perabot ala gipsy. Haha.


Untuk seri petualngan saya membaca Sapta Siaga atau Secret Seven dan serial ‘Secret’ yang semua judulnya ada kata ‘Rahasia’-nya. Pulau Rahasia, Rahasia Lorong Spiggy, Rahasia Pegunungan Killimooin, dll. Saya juga membaca hampir semua cerita lepasan Enid Blyton yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Misalnya Anak-anak Liar, Rumah Beratap Merah, Ben si Penyelundup, Kericuhan di St. Rollo, Liburan di Peternakan Cherry, dll. Belum lagi cerita-cerita ‘enchanted’ yang saya sebutkan tadi, seperti cerita-cerita tentang kurcaci dan peri, juga Faraway Tree dan Wishing Chair. Yang terakhir saya sebut ini dulu bukunya ukurannya besar dan tebal, harganya 15ribu. Mengingat rata-rata harga novel yang 2500-3000an, saya harus menunggu dapat rangking yang bagus di kelas untuk berani minta dibelikan buku ini oleh ayah saya. Kalau soal Lima Sekawan, kenapa saya tidak membaca serial ini, sepertinya penyebabnya adalah sebagai pembaca buku saya sepertinya agak obsesif kompulsif. Kalau baca serial, saya harus mulai dari nomer satu, dibaca berurutan sampai nomer terakhir. Dan saya harus punya semuanya. Seingat saya, Lima Sekawan ini banyak sekali jumlah serinya, dan sepertinya saya waktu itu agak kesulitan menemukan buku-buku nomer awal. Jadi akhirnya saya tidak pernah membaca satu pun buku serial ini.

Kalau dibaca lagi sekarang, tulisan Enid Blyton yang ditulis tahun 20-40an memang jelas terlihat hitam-putihnya. Mana yang baik mana yang buruk. Mana yang benar mana yang salah. Dan semuanya pasti ada konsekuensinya. Tapi bagaimana pun juga, buku-buku ini emang sesuai untuk anak-anak dan saya akan bahagia sekali kalau versi bahasa Indonesia-nya masih dicetak ulang. Semuanya. ;D


"Dear heart and soul of a child, Sing on!"
~Enid Blyton

http://www.enidblytonsociety.co.uk/

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...