July 18, 2011

For the love of books.

Saya bisa nangis guling-guling kalau sampai anak saya gak suka baca buku. Serius. Bukan berarti saya ingin anak saya jadi kutu buku, baca buku-buku ilmiah dan buku sastra yang berat-berat. Saya cuma ingin anak saya suka membaca. Apa saja, asal yang baik.

Saya besar dengan buku. Mama saya rajin sekali membelikan saya buku cerita sejak saya kecil, bahkan sejak saya belum bisa membaca. Semua buku yang tipis-tipis itu diberi label nama saya, dikumpulkan sesuai serinya dan dijilid rapih. Banyak diantaranya yang selamat dari proses pindahan rumah yang masih ada sampai sekarang dan saya wariskan ke Aira, buku Tini diantaranya. Kalaupun ada yang sudah tidak ada bukan karena dibuang atau dijual atau diberikan ke orang lain. Biasanya dipinjam salah satu sepupu saya dan akhirnya tidak kembali lagi.

Si mama akan membacakan buku-buku itu ke saya, sebelum tidur biasanya. Atau adik mama saya yang dulu tinggal serumah dengan kami, Mama Ina saya memanggilnya, yang membacakan buku untuk saya. Tante-tante saya juga rajin memberi buku ke saya. Yang saya ingat betul sering memberi buku adalah Mama Ina dan adik ayah saya, Bou Mei. Bou Mei akan menuliskan pesan di halaman depan buku yang diberikannya kepada saya. Beberapa buku seri Mallory Towers karya Enid Blyton dan seri Pippi Si Kaus Kaki Panjang karya Astrid Lindgrend diantara buku-buku pemberian Bou Mei.

Terus terang dulu saya merasa tersiksa waktu belajar membaca. Mama saya galak ngajarinnya, rasanya semua huruf jadi lompat-lompat dan huruf yang seharusnya saya tau jadi lupa lagi. Tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi kesukaan saya terhadap buku. Begitu saya bisa membaca, saya semakin jatuh cinta terhadap buku, buku cerita khususnya. Kelas 1 SD saya berkenalan dengan Enid Blyton lewat buku-buku kecil seri Si Babi Ungu yang penuh petuah dan nasihat. Kelas 2 saya membaca 'novel' pertama saya, Semester Pertama di Mallory Towers, yang dilanjutkan dengan seri-seri lainnya. Hampir seluruh buku Blyton yang diterbitkan di Indonesia saya baca. Ketika Enid Blyton terasa terlalu 'righteous' saya berkenalan dengan karakter-karakter yang lebih nakal dari dunianya Astrid Lindgrend, Pippi, Lotta, Madita, Lisbet, Emil, dan lainnya. Pastinya saya juga membaca dan memecahkan kasus dua detektif cilik Amy Adams dan Hawkeye Collins, dengan kunci jawaban yang harus dibaca di kaca karena dicetak  terbalik. Entah kenapa saya selalu tertarik dengan karya penulis buku anak-anak dari Eropa, macam Erich Kastner dari Jerman dan Editih Unnerstad dari Swedia. 

Satu lagi yang membuat saya jatuh hati adalah Roald Dahl. Saya berkenalan dengan Roald Dahl melalui buku Matilda, lalu non stop saya mengumpulkan buku-buku karyanya. Pada saat itu bahasa Inggris saya sudah semakin baik, jadi saya tidak lagi tergantung pada buku-buku edisi terjemahan. Jika kebetulan berlibur ke luar negeri, koper saya akan dipenuhi buku-buku. Saat itulah saya mengenal Judy Blume, Anne Fine, dan Terry Pratchett. Duh sepertinya banyak penulis yang imajinasinya menemani saya sehari-hari sejak kecil yang masih terlewat. Laura Ingalls Wilder! Frances Hodgson Burnett! Tuh kan masih banyak. Belum lagi yang saya kenal kemudian, seperti seri Harry Potter yang mega terkenal karya J.K. Rowling, The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis, dan The Lord of The Rings karya J.R.R. Tolkien. Plus penulis buku lainnya yang tidak melulu tentang fantasi atau ber-genre anak-anak.

Saya masih membaca buku cerita sampai sekarang. Terus terang saya adalah pembaca buku cerita, yang sesekali membaca buku yang lebih berat. Berat dalam arti buku-buku yang kalau di toko buku ada di rak dengan papan nama 'Sastra', bukan 'Fiksi'. Selain membeli saya juga mengoleksi buku, saya tidak bisa hanya membaca buku, saya harus punya. Apalagi untuk penulis-penulis yang saya sukai. Juga untuk buku yang sampulnya bagus, yang akan terlihat bagus kalau berjejer di rak buku saya. Hehehe.

Begitu punya anak saya semakin menggila mengumpulkan buku. I like all books, but my true love will always be children books. Buku cerita maupun buku pengetahuan. Apalagi buku-buku impor semakin bertebaran dan buku-buku anak-anak terbitan lokal juga semakin bagus-bagus, sebut saja buku anak-anak karya Clara Ng. Kalau dulu buku anak-anak lokal pasti jauh berbeda kualitas cetakan dan ilustrasinya, sekarang sudah tidak ada bedanya dengan buku-buku karya penulis luar. Buku impor yang diterjemahkan juga semakin banyak. 

Terus terang saya lebih sering membelikan anak-anak saya buku daripada mainan. Saya lebih sering mengajak anak-anak saya mampir ke toko buku daripada ke toko mainan. Mungkin karena dulu waktu kecil saya juga begitu. Kunjungan ke toko buku adalah harus. Kalau ibu saya belanja di supermarket Metro di Melawai Plaza, saya akan ditinggal dan menunggu dengan tenang di toko buku-nya satu lantai di bawah supermarket. Hadiah uang 10 ribu kalau ulang tahun waktu kecil berarti setumpuk buku cerita baru. Kunjungan ke toko buku bersama Mama, berati dibelikan 1 atau 2 buku. Kunjungan ke toko buku bersama Aweng (ayah saya, FYI) berati boleh memilih buku berapapun dan pasti akan dibelikan. Sekarang pun saya akan mikir 10 kali (dan belum tentu jadi membeli) jika melihat high heels atau perlengkapan make-up yang sebetulnya saya butuhkan. Tapi tidak akan pikir lama-lama untuk membeli buku impor dengan darga yang sama, yang sebenernya bisa dibeli nanti-nanti. Saya bisa melotot kalau Aira minta, let's say, Barbie seharga 200rb tapi akan dengan senang hati membelikan jika ia minta novel Artemis Fowl dengan harga yang sama.

Membaca, tidak perlu saya bahas panjang lebar karena sudah banyak dibahas oleh mereka yang lebih kompeten untuk membahasnya, tentunya memiliki banyak manfaat positif. Buat saya membaca, atau buku, bukan hanya sumber informasi, tapi juga sumber imajinasi dan hiburan. Karenanya, senang sekali rasanya suka membaca. Senang sekali rasanya bisa masuk ke imajinasi penulis dan menggabungkannya dengan imajinasi saya sendiri. Senang sekali melihat tumpukan dan deretan buku di rak. Senang sekali rasanya mencium bau buku baru. Senang sekali rasanya melihat Aira mambawa-bawa  buku kemana, dan bisa membaca buku di suasana seperti apapun. Senang sekali rasanya melihat Aidan duduk manis dipangku Ayah dibacakan buku, sambil sesekali mengucapkan kalimat dalam bukunya yang ia sudah hapal luar kepala. Jadi, kebayang kan gimana saya gak nangis guling-guling kalau sampai anak saya tidak suka membaca?



Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere."
~Albert Einstein~

Where is human nature so weak as in the bookstore?
~Henry Ward Beecher~


No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...