August 15, 2011

A Movie We'll Remember



Sebelum masuk bulan puasa, Syarin sempat berkunjung ke rumah saya. Setelah lama absen, malam itu kami kembali ber-nothingness. Saya buat salad buah, kami pesan Domino's Pizza, ngutak ngatik aplikasi iPod, ngobrol gak jelas kemana-mana.

Anak-anak sudah tidur, dan Pak Teddy belum pulang, kami pun bergeser dari meja makan ke kamar saya. TV dinyalakan, lalu mulai cari-cari acara yang menarik untuk ditonton. Pencarian dihentikan saat A Walk To Remember, an ultimate girl movie,  muncul di layar TV. Film yang setiap kali muncul di TV akan kami tonton. Film ini cheesy sebenarnya, tapi sejak saat pertama kali menontonnya waktu jaman kuliah, A Walk To Remember sudah sukses membuat semua laki-laki terlihat jelek jika dibandingkan dengan Landon Carter. Pertama kali menonton kami termehek-mehek dengan sosok Landon Carter. Semakin bertambahnya pengalaman (dan usia juga) reaksi kami sedikit bergeser. Kalau dulu kalimat yang terlontar adalah, "Gak ada laki-laki yang lebih baik dari Landon Carter!" dengan nada kagum setengah mengkhayal akan berjumpa dengan laki-laki semacam dia, kalau sekarang kalimatnya menjadi, "Mana ada laki-laki kayak Landon Carter!" dengan nada skeptis sambil mendengus kesal. Tapi tetap melanjutkan nonton film-nya.

I guess we girls do love to dream, of a knight in shining armor, on a white horse, whatever. Maybe deep down we dream of our own Landon Carter. But in Syarin's words, Landon Carter is a myth. So no need to cross your fingers. You might find a Noah Calhoun, a Romeo Montague, or even an Edward Cullen, but no, not a Landon Carter. Because Landon Carter is a myth. And there we were, me & Syarin, in my room, watching the myth do his magic all over again. Girls will be girls. Sigh.



2 comments:

louielouie. said...

Landon Carter is a myth, just like Unicorn. :p

Puan Dinar said...

Damn right he is. x)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...