August 16, 2011

The Jakarta Explorer, pt. 2


Penjelajah Jakarta beraksi lagi! Sudah cukup lama sebenarnya, bulan April yang lalu. Tapi karena saya menjanjikan cerita ini untuk jadi artikel di satu majalah, jadi saya tidak akan memasukkannya kesini sampai si majalah terbit. Majalah sudah terbit bulan Juni, tapi karena lalalalala akhirnya baru sempat saya post sekarang. Siap-siap saja, tulisan yang ini cukup panjang. :p

Tanggal 21 April, pada hari Kartini, saya ajak Aira menyapa Jakarta lagi. Kali ini yang jadi tujuan adalah Kota Tua Jakarta. Tur museum tepatnya. Sempat dapat tweet dari Syarin di perjalanan berangkat pagi itu:
RT @louielouie_: sukses ya tur museumnya sama kakak Aira. 2 perempuan, 2 generasi, keliling Jakarta mandiri. Kartini would be so proud. ;D

Semua Bisa Dijangkau dengan Naik Transjakarta

Pilihan tujuan saya jatuh pada daerah Kota Tua Jakarta bukan tanpa alasan. Pertimbangannya, rute yang tidak sulit untuk menuju kesana dengan menggunakan Transjakarta, dan bahwa disana ada berbagai Museum yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Jakarta adalah kota seribu museum. Sungguh, ada banyak sekali museum di kota ini, dan wilayah Kota Tua adalah segitiga emasnya.



Pagi itu Aira sudah sibuk menyiapkan ‘peralatan perang’ untuk keliling Jakarta. Baju dan sepatu yang nyaman karena tentunya kami akan banyak berjalan kaki, juga topi, mengingat matahari Jakarta yang sepertinya akan lumayan terik hari itu. Selain itu, di dalam tas ransel Aira juga saya masukkan baju ganti, handuk kecil, botol air minum dan kamera plastik. Kamera plastik ini masih diisi film analog dan nantinya akan digunakan Aira untuk foto-foto di sepanjang perjalanan. Aira baru sekali itu melihat kamera yang bukan digital, dia senang sekali, katanya nanti hasil fotonya hendak dibuat semacam scrap book.






Pagi itu Aira sudah sibuk menyiapkan ‘peralatan perang’ untuk keliling Jakarta. Baju dan sepatu yang nyaman karena tentunya kami akan banyak berjalan kaki, juga topi, mengingat matahari Jakarta yang sepertinya akan lumayan terik hari itu. Selain itu, di dalam tas ransel Aira juga saya masukkan baju ganti, handuk kecil, botol air minum dan kamera plastik. Kamera plastik ini masih diisi film analog dan nantinya akan digunakan Aira untuk foto-foto di sepanjang perjalanan. Aira baru sekali itu melihat kamera yang bukan digital, dia senang sekali, katanya nanti hasil fotonya hendak dibuat semacam scrap book.

Penjelajahan kami dimulai dari shelter Transjakarta di Ragunan. Sekitar jam 9 pagi, didalam bis lengang karena arus orang-orang bekerja sudah lewat. Sekitar 20 menit saja bis sudah sampai ke halte Dukuh Atas dan disini kami menyusuri jembatan penyebrangan yang panjang untuk berganti bis Transjakarta yang menuju ke arah Kota. Kali ini bis yang kami naiki sedikit lebih padat, tapi beruntung, selalu ada yang berbaik hati menawari anak-anak duduk, jadi Aira duduk manis menyempil diantara dua orang ibu. Saya sempat khawatir bis yang penuh akan membuat Aira bete, tapi ternyata dia senang-senang saja, sibuk melihat keluar jendela. Sesekali berkomentar, seperti  ketika dia baru tahu bahwa Bundaran HI adalah singkatan dari Bundaran Hotel Indonesia.






Tak lama kami sampai di halte terakhir yang juga menjadi tujuan kami, halte Kota. Melewati terowongan penyeberangan, kami menuju pemberhentian pertama kami, Museum Bank Mandiri yang letaknya tepat di seberang halte Transjakarta. Setelah membayar karcis masuk yang hanya Rp. 2000,- dan menitipkan tas, kami pun masuk ke dalam.



Museum ini didesain untuk menggambarkan bagaimana wujud perbankan tempo dulu. Bangunan yang bersejarah ini dipertahankan eksterior maupun interiornya. Sentuhan arsitektur kuno sangat terasa, saya terpukau melihat lantai mozaik warna warni yang terawat baik sementara Aira terkagum-kagum melihat koleksi barang-barang perbankan kuno yang dipamerkan di sana. Aira sibuk berkeliling, ia terbelalak melihat buku keuangan yang super tebal atau mesin ketik kuno yang sangat besar. Ia mengintip ke dalam ruang penyimpanan dan lift kuno, meneliti alat cetak uang kuno dan berfoto sambil pura-pura antri di belakang patung nyonya Belanda. Kami juga naik ke lantai dua, dimana terdapat Ruang Rapat Besar yang memang besar sekali ukurannya, juga ruang yang menggambarkan sejarah bank-bank yang kemudian bergabung menjadi Bank Mandiri.














Pemberhentian yang kedua adalah Museum Bank Indonesia, yang letaknya tepat di sebelah Museum Bank Mandiri. Meskipun sama-sama bertema ‘Bank’ dan menggunakan bangunan bersejarah yang merupakan aset nasional, suasana di kedua museum ini sangat berbeda. Museum Bank Indonesia pada dasarkan bertujuan untuk menggambarkan perekonomian bangsa Indonesia sepanjang masa. Museum ini, yang kemudian menjadi favorit Aira dalam penjelajahan kami, bagi saya merupakan museum paling keren yang pernah saya lihat di Indonesia.







Walaupun bangunannya kuno, begitu memasuki pintu langsung terasa nuansa modern dalam penyajian museum ini. Sekali lagi, kami menitipkan tas lalu  menghampiri meja tiket, hanya untuk mengisi buku tamu dan menerima tiket, karena tidak perlu membayar untuk masuk kesini, alias gratis. Petugas yang ramah itu juga menjelaskan kalau nanti kami tinggal berjalan mengikuti alur ruang pamer yang mengelilingi seluruh gedung sampai akhirnya kembali ke pintu keluar. Di dalam meskipun diizinkan memotret, tetapi di beberapa ruangan akan dilarang menggunakan blitz. 



Pertama, kami memasuki lorong kecil yang terdapat layar besar di sisinya. Di lorong ini kami seakan 'mandi uang' karena ada proyektor yang memancarkan gambar uang-uang beterbangan. Seru sekali! Setelah melewati lorong tadi, kami pun sampai ke teater kecil yang memutar film tentang BI dan perekonomian Indonesia. Tetapi pada waktu kami disana, belum jadwal pemutarannya, jadi kami tidak sempat menyaksikan. Kami meneruskan menuju ruang pamer.

Baru di ruang pertama saja Aira sudah terkagum-kagum. Display yang ada menggambarkan begaimana bangsa Portugis dengan kapal laut sampai di Indonesia untuk mengumpulkan rempah-rempah. Display dibuat dengan detil, mulai dari peta kuno daratan Asia dalam ukuran besar di dinding sampai ke sound system yang mengeluarkan suara lautan. Impressive.










Ruang-ruang pamer ini dibagi menjadi beberapa bagian, mulai dari ruang sejarah pra-BI, kemudian berkembang sampai terbentuk BI dan setiap periode perekonomian Indonesia, sampai ke masa sekarang. Semua display digarap secara baik dan menarik sehingga tidak sedetikpun selama kami disana Aira merasa bosan. Berbagai informasi disampaikan melalui display visual berupa gambar, patung, foto atau benda sesungguhnya, seperti contoh rempah-rempah, kompas kuno, atau seragam tentara Belanda, Jepang, maupun Indonesia. Selain itu juga banyak terdapat banyak monitor interaksi dengan touch screen yang menyajikan berbagai informasi. Setiap monitor berisi informasi yang berbeda.
















Ketika menuju ruang Numismatik, kami baru menyadari kalau ternyata bangunan ini berbentuk segi empat mengelilingin ruang terbuka di bagian tengahnya, seperti kebanyakan bangunan jaman dahulu kala. Aira sibuk foto-foto disini, bukan dia yang difoto, tapi dia mangambil foto bangunan, yang menurutnya seperti istana itu. Nah, ruang Numismatik sendiri adalah ruang pamer koleksi uang mulai dari zaman kerajaan sampai zaman sekarang. Display koleksi uang yang disimpan dalam kotak kaca dilengkapi kaca pembesar yang bisa digeser-geser sehingga kita bisa melihat detil uang dengan jelas. Selain itu juga ada deretan lemari-lemari yang bisa ditarik, yang isinya menyimpan uang dari berbagai negara di dunia.















Banyak yang bisa dilihat dan dipelajari di Museum Bank Indonesia, jadi sebaiknya luangkan waktu yang cukup jika hendak kesini, agar tidak terburu-buru. Dan sabar saja jika anak dengan semangat mau melihat semua monitor interaksi dan mengintip setiap keping dan lembar koleksi uang yang ada. Museum Bank Indonesia paling juara! :D

Mengintip Jakarta melalui Wilayah Kota Tua Jakarta

Setelah keluar meninggalkan kesejukan di dalam Museum BI, saya dan Aira kembali disapa oleh teriknya matahari Jakarta. Berhubung saya tidak begitu menguasai daerah pusat Jakarta itu, saya bertanya pada satpam yang ada bagaimana cara menuju Taman Fatahillah, yang ternyata memang dekat sekali letaknya dari tempat kami saat itu.



Baru saja memasuki wilayah yang dikenal sebagai pusat Kota Tua Jakarta tersebut, sudah ada beberapa hal yang menarik, penjualan kerak telor dan es potong. Tadinya saya hendak membeli kerak telor yang wanginya sudah memanggil-manggil, tapi karena harus mengantri beberapa orang, akhirnya saya batal membeli. Aira belum pernah makan es potong, ia bertanya, “Kenapa namanya es potong?” Saya pun menyuruh Aira membeli sebuah untuk mendapatkan jawabannya. Aira memilih rasa coklat dan ia terbengong-bengong waktu melihat si abang penjual kemudian mengeluarkan sepotong panjang es rasa coklat, memotongnya dan menusukkan sepotong kayu kecil sebagai gagangnya. “Oooh, karena es-nya beneran di potong!”  seru Aira sambil tertawa.Kasihan anak mall ini, baru kenal es potong. ;D




Saya dan Aira yang sedang menikmati es potongnya melanjutkan berjalan menuju Taman Fatahillah yang ada di tengah-tengah area itu. Sudah lama sekali sejak saya berkunjung kesana, ternyata sekarang Taman Fatahillah sudah ditata dengan menarik, yang temanya difokuskan pada nuansa Kota Tua Jakarta. Selain penjual makanan dan minuman, ada ratusan sepeda onthel warna-warni yang berjajar disana. Ternyata sepeda-sepeda tersebut disewakan untuk pengunjung, lengkap dengan topi noni atau tuan Belanda. Tapi saya memutuskan untuk mengunjungi museum-museum yang ada terlebih dahulu. Jadi pemberhentian ketiga kami adalah Museum Sejarah Jakarta atau terkenal sebagai Museum Fatahillah.



Kami membayar tiket di pintu masuk, Rp. 2000,- untuk saya, Rp. 600,- untuk Aira (what??). Kemudian kami mulai berkeliling. Museum Sejarah Jakarta berisi benda-benda yang melukiskan sejarah kota Jakarta, seperti prasasti dari jaman prasejarah, benda-benda yang mewakili budaya Betawi, dan barang-barang peninggalan kolonial ketika menduduki kota Jakarta. Juga ada di museum ini adalah lukisan Gubernur Jendral VOC dan meriam Si Jagur yang terkenal. Tapi yang paling menarik bagi Aira justru patung Hermes yang ada di halaman belakang museum. Aira memang senang membaca mitologi Yunani, jadi ketika saya bilang disana ada patung Dewa Hermes, ia semangat sekali hendak melihat.










Hari itu, seperti juga hari-hari lainnya, Museum Sejarah Jakarta penuh pengunjung, bahkan Kafe Museum yang ada disana juga nyaris penuh. Rupanya museum itu adalah yang paling populer diantara museum-museum yang ada disana. Banyak orang-orang yang sibuk foto-foto tanpa memperhatikan barang pamer. Maksudnya, mereka berfoto dengan benda-benda kuno yang dipamerkan, bahkan terkadang menaiki prasasti yang ada, meskipun jelas-jelas ada tulisan yang melarang hal tersebut. Tidak ada petugas yang memberi informasi maupun menjaga, dan kebanyakan barang pamer hanya dibatasi dengan tali saja. Setelah puas berkeliling, saya dan Aira pun keluar untuk mengunjungi museum berikutnya. Sorry to say, but in my honest opinion, beside the pretty building & the hermes statue, Museum Sejarah Jakarta was a mess, just like the city it represented.








Museum Wayang terletak di sebelah kiri Museum Sejarah Jakarta. Ukurannya tidak begitu besar, seperti menyatu dengan bangunan-bangunan kuno yang ada di sekeliling Taman Fatahillah. Untuk masuk kami membayar Rp. 2000,- untuk dewasa dan Rp. 600,- untuk anak-anak (sekali lagi, whatt??).



Seperti nama museum-nya, yang dipamerkan disini adalah berbagai wayang dari seluruh wilayah Indonesia, sepert wayang golek dari Jawa Barat dan wayang kulit dari Jawa Tengah. Selain it juga ada wayang-wayang yang lebih modern, seperti wayang boneka dan wayang mainan. Di sini Aira berkenalan juga dengan boneka unyil. Haha. Yang menarik, di Museum Wayang juga terdapat teater untuk kecil untuk menonton film wayang dengan format 3D. Tetapi karena sedang banyak pengunjung studi wisata dari berbagai sekolah, kami harus mengantri cukup lama, sehingga Aira akhirnya tidak keberatan harus melewatkan pertunjukan tersebut.








Di dekat pintu keluar terdapat tempat penjualan suvenir yang bertema wayang. Dengan membayar Rp. 5000,- Aira mendapatkan pembatas buku dari kulit bergambar wayang yang kemudian dituliskan namanya oleh petugas penjual. Selain itu ia juga membeli beberapa pensil dengan hiasan wayang yang harganya tidak mahal.




Berikutnya kami melintasi Taman Fatahillah, menuju sisi kanan untuk mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik. Dari semua museum yang telah kami datangi hari itu, ini merupakan yang bangunannya terasa paling teduh, dan juga pada hari itu tidak banyak orang yang mengunjungi museum tersebut. Kami membayar karcis dengan harga yang sama seperti saat memasuki Museum Wayang (pasrah sambil berharap harga tiket masuk segitu cukup untuk mengurus lukisan & keramik berharga di dalam museum, wishful thinking sepertinya), tapi kali ini kami diberi pesan untuk sama sekali tidak boleh memotret di dalam ruang pamer. Berhubung Aira anak yang tertib sekali, dia langsung melotot kalau melihat saya mengeluarkan kamera. Jadi maaf, tidak ada foto di dalam ruang pamer Museum Seni Rupa & Keramik.






Bagian kiri dan kanan dari museum tersebut merupakan ruang pamer keramik. Disini terdapat tangga besi kuno yang melingkar, menuju ruang pamer keramik juga di lantai 2, yang bentuknya menyerupai loteng dengan jendela-jendela kayu yang terbuka. Baru di bagian belakang bangunan tua berpilar megah ini terdapat ruang pamer lukisan. Cukup banyak lukisan yang dipamerkan disini, termasuk lukisan karya Antonio Blanco dan replika lukisan Raden Saleh. Sambil melihat-lihat saya menceritakan kepada Aira tentang beberapa pelukis yang saya ketahui.

Kami tidak terlalu lama mengelilingi Museum Seni Rupa dan Keramik, karena Aira sudah tidak sabar ingin bermain di Taman Fatahillah. Di sekitar taman banyak orang menjual pita krep warna-warni yang ditempelkan pada batang kayu. Harganya cukup murah, maka Aira pun membeli sebuah. Sambil berjalan menuju tempat penyewaan sepeda onthel, Aira dengan senangnya memutar-mutar pita tersebut sehingga membentuk berbagai bentuk yang lucu. Permainan yang sederhana sebenarnya, tapi ternyata cukup untuk membuat Aira senang. Sayangnya semua pohon penuh dipakai orang berteduh, jadi saya terpaksa ikutan panas-panasan menunggui Aira main. Siang itu matahari Jakarta ada tujuh rasanya.





Sepeda onthel disewakan dengan harga Rp. 10.000,- untuk 30 menit. Ada berbagai warna dan setiap sepeda dilengkapi topi dengan warna yang sama dengan sepeda-nya. Saya memilih sepeda onthel warna hijau, tapi si kakak menolak memakai topi hijau yang tersedia, karena dia sudah bawa topi sendiri. Saya juga menolak, membayangkan topi itu sudah dipakai siapa saja sebelumnya. Hehe. Kemudian saya pun mulai menggoes sepeda mengelilingi area taman yang luas dengan Aira duduk manis di belakang saya, meskipun sebenarnya ada juga sepeda anak-anak yang disewakan. “Dibonceng Bunda aja, lebih seru,” kata Aira. Walaupun matahari teriknya minta ampun, tetapi memang bersepeda berdua si kakak seperti itu seru sekali.







Menengok si Gajah yang Terkenal dan Es Krim Paling Enak

Setelah puas dan mengembalikan sepeda, kami pun mulai berjalan meninggalkan area kota tua menuju daerah Asemka, untuk makan siang. Asemka bisa dijangkau dengan berjalan kaki, dekat sekali dengan Museum Bank Mandiri. Rencananya kami hendak makan siang Soto Betawi yang konon enak sekali disana. Tapi begitu kami tiba disana, ternyata hari itu restoran Soto Betawi tutup. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Aira makan siang di Ragusa saja. Maka kami pun berjalan kembali ke arah halte Transjakarta. Tiba-tiba Aira tergoda pemandangan kios penjual aneka peralatan sekolah yang memang bertebaran di daerah Asemka. Menuruti si kakak, saya membiarkan dia membeli beberapa barang yang ia inginkan. Aira kesenangan mendapat berbagai alat tulis lucu dengan harga yang murah. Di dekat halte Transjakarta perjalanan kami kembali berhenti sejenak, karena melihat pedagang mainan berupa ikan dan buaya dari palstik yang bisa bergerak tangannya dan berenang di air. Kami pun membeli sebuah, sebagai oleh-oleh untuk si adik yang ditinggal di rumah.




Kami menaiki bis dengan tujuan Blok M, kemudian turun di halte yang menurut perkiraan saya paling dekat dengan Ragusa, yaitu halte Monas. Setelah kami turun, saya baru menyadari bahwa halte tersebut letaknya tepat di depan Museum Nasional alias Museum Gajah. Mengingat Aira belum makan siang saya tadinya hanya mau mengajak Aira foto-foto di depan museum saja, tetapi Aira ngotot mengajak masuk, dengan alasan tadi sambil jalan menuju Asemka sudah memakan camilan roti yang kami bawa dari rumah.




Akhirnya kami pun masuk, setelah membayar karcis Rp. 5000,- untuk saya dan Rp. 2000,- untuk Aira. Sudah naik rupanya, dari waktu saya terakhir kesitu. Baguslah. Ada berbagai koleksi disini, termasuk koleksi prasejarah, koleksi arkeologi, koleksi keramik, koleksi numismatik, koleksi etnografi, koleksi geografi, dan koleksi sejarah. Museum ini memang besar sekali, apalagi setelah dibangun sayap baru di sebelahnya. Saya dan Aira tidak sempat memasuki  setiap ruang, tetapi kami sengaja menyempatkan diri memasuki ruang penyimpanan berbagai harta kerajaan jaman dahulu di lantai atas, melihat berbagai arca dan prasasti, juga kain-kain nusantara. Aira cukup lama melihat-lihat berbagai arca, karena baru saja ia mempelajari soal arca dalam pelajaran Sosial di sekolah, dan sekarang ia bisa melihat arca yang sesungguhnya.















Dari Museum Nasional saya benar-benar buta arah, akhirnya kami memilih naik taksi saja untuk menuju Ragusa yang letaknya di samping Masjid Istqlal. Siapa yang tidak tau Ragusa berarti belum mengenal Jakarta. Restoran penjual es krim Italia di Jalan Veteran ini sudah berdiri sejak tahun 1932 dan sampai sekarang mempertahankan nuansa tempoe doeloe bahkan masih menggunakan mesin kuno untuk proses pembuatan es krim-nya. Waktu keliling Jakarta sebelum ini kami juga mengakhiri perjalanan di Ragusa.





Tanpa harus melihat menu saya sudah tau apa yang akan saya pesan, es krim nougat, tidak pernah berubah sejak saya masih kecil, sementara Aira memesan es krim coklat. Pelayan tua yang sepertinya juga tidak berubah sejak saya kecil pun mencatat pesanan kami. Saya memesan seporsi sate ayam untuk Aira dan rujak juhi untuk saya. Bukan dari dalam restoran, tapi di penjual-penjual yang memang selalu ada di depan pintu masuk Ragusa. Sebenarnya saya juga tergoda untuk memesan otak-otak dan asinan, tapi tentunya hanya lapar mata saja.


Setelah kenyang makan berat dan menikmati es krim yang enak luar biasa, kami pun meneruskan perjalanan lagi, demi menghindari arus jam orang pulang bekerja. Sekali lagi kami naik taksi, kembali ke halte Monas, menaiki bis yang menuju Blok M dan turun di halte Dukuh Atas. Di halte ini sudah mulai ramai, tapi belum terlalu padat, terlambat sedikit saja kami pasti akan berdesak-desakan. Dari Dukuh Atas kami menaiki bis yang menuju Ragunan. Karena letih, Aira tertidur di bis sambil bersandar ke saya.

Sesampainya di Ragunan sudah hampir jam 4 sore. Kami menunggu sebentar di kios penjual minuman, seperti sebelumnya juga, menunggu si ayah yang akan menjemput. Ketika mencium anak perempuannya yang asem dan agak keling terkena sinar matahari, si ayah bertanya, “Capek, kak, jalan-jalannya?” yang dijawab Aira dengan, “Capek lah, tapi aku liat macem-macem dan semuanya super seru!”

It had been a great day. Just us girls, our dirty Converse sneakers, Kota Tua Jakarta, and the seven suns in the sky.

The Jakarta Explorer part 2: done! ;)

Please kindly click here for The Jakarta Explorer, pt. 1.

2 comments:

isyana said...

puan.. sekali lagi kamu membuat saya iri.. you raised good kids... bisa betah ya anak seumur aira ke musium berdua sama ibunya aja... hebat! semoga aku bisa sama sali.. :)

Puan Dinar said...

Sali juga beruntung punya ibu kreatif seperti kamuuu.. pasti bisa Yana.. :D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...