December 12, 2009

To enter a pre-school or not, that is the question

(originally posted on facebook April 28, 2009)

Alkisah, saya mulai mencari preschool untuk si bungsu Aidan. Berdasarkan pengalaman anak pertama dimana saya - sekali lagi - SAYA terlalu bersemangat ingin anaknya sekolah, memasukkan Aira di kelas bayi-bayi Cikal mulai usia 11 bulan. Yang ternyata memang kepuasannya hanya untuk si ibu yang bisa jalan-jalan dengan tameng mengantar anak sekolah. Hehehe...

Maka kali ini pertimbangan saya lebih difokuskan pada kebutuhan si bungsu ini. Saya sempat school-shopping & melihat beberapa option yang menurut saya programnya sesuai dengan apa yang saya anggap baik dan bermanfaat untuk perkembangan anak usia dini. Tapi sekali lagi, sepertinya saya masih terpengaruh dengan pengalaman si anak sulung, dimana dia dulu bisa lumayan mudah mengikuti aktivitas circle time, art, bernyanyi atau apapun yang dilakukan di dalam ruang kelas & perlu waktu ekstra untuk mengembangkan kemampuan emosional. Dan ternyata si bungsu ini memang beda sekali dengan kakaknya. Dia lebih tertarik dengan kegiatan motorik kasar dan lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain.

Berdasarkan diskusi dengan si ayah, maka gugurlah beberapa sekolah yang program Taman Beramainnya menyediakan kelas untuk anak usia 2 th, bukan karena kualitas yang tidak memenuhi standar saya - karena kedua sekolah pilihan saya itu benar-benar apa yang saya cari, tetapi karena saya anggap belum sesuai dengan kebutuhan Aidan. Saya pun memutuskan untuk memasukkan Aidan ke Taman Bermain di usia yang memang seharusnya, 3 tahun. Sementara ini tugas memilih satu diantara kedua sekolah pilihan saya itu tertunda sampai tahun depan.

Tapi, ada sedikit perasaan bersalah karena si kakak dulu sudah sibuk beraktivitas sejak usia 1 tahun, kok sepertinya mentang-mentang anak kedua jadi gak semangat lagi ibunya. Sekali lagi, ini SAYA yang berperasaan. Maka, saya memutuskan untuk memberi Aidan aktivitas layaknya di pre-school, dilakukan oleh saya, di rumah, seperti yang selama ini sudah saya coba lakukan tetapi dengan program yang saya susun sendiri. Haha! Memanfaatkan ilmu pada anak sendiri! Tapi untuk masalah sosialisasi tadi? Dan kebutuhan motorik-kinestetik yang tidak bisa saya penuhi di rumah? Kecuali dengan cara Aidan manjat-manjat kursi dan senderan sofa atau rak buku yang selalu bikin saya senewen? Akhirnya, sebagai jalan tengah saya memilih mencari aktivitas tambahan pengganti pre-school. Pilihan saya jatuh pada Tumbletots.

Kenapa? Fokusnya pada kegiatan motorik kasar, masih ada sesi circle time meskipun tidak lama, Aidan bisa bertemu anak lain, durasi pertemuan hanya 1 jam (masih dalam rentang minat si bungsu yang super rusuh ini), jumlah pertemuan dalam seminggu bisa dipilih, kalau tidak masuk bisa ganti hari, lokasi tidak jauh dari rumah, daaaaaan.... membership fee yang jauh lebih murah dibanding uang pangkal Taman Bermain! Jadi saya bisa menabung untuk jenjang sekolah yang memang sudah seharusnya diikuti.

Itu teorinya. Untuk membuktikan apakah memang sesuai untuk Aidan, maka saya pun mendaftar untuk trial. Apa yang terjadi waktu trial, silahkan baca notes saya berikutnya.. :)

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...